Risale-i NurRisalah Orang-Orang Sakit

OBAT KESEBELAS:

Risalah Orang-Orang Sakit · hlm. 9

Wahai saudara sakit yang tak sabar! Penyakit, di samping memberimu suatu kepedihan yang hadir; ia memberi suatu kelezatan maknawi pada lenyapnya penyakit itu dari penyakitmu yang lalu sampai hari ini, dan suatu kelezatan ruhani pada pahalanya. Pada masa setelah hari ini, bahkan setelah jam ini, tak ada penyakit, sudah pasti tak ada kepedihan dari yang tiada; jika tak ada kepedihan, tak mungkin ada kesedihan. Karena engkau membayangkan secara keliru, datanglah ketidaksabaran. Karena dengan perginya seluruh materi masa penyakit sebelum hari ini, kepedihannya pun ikut pergi; yang tersisa adalah pahala pada dirimu dan kelezatan pada lenyapnya. Padahal seharusnya masa lalu itu memberimu keuntungan dan sukacita, memikirkannya lalu berduka dan tak sabar adalah kegilaan. Hari-hari yang akan datang belum lagi datang. Memikirkannya sejak sekarang, lalu — pada hari yang tiada, dari penyakit yang tiada, dari kepedihan yang tiada — berduka dengan prasangka lalu memperlihatkan ketidaksabaran, dengan memberi warna wujud kepada yang tiada-di-atas-tiada tiga tingkat, jika ini bukan kegilaan, lalu apa? Karena masa-masa penyakit sebelum jam ini memberi sukacita. Dan karena masa setelah jam ini pun tiada, penyakit tiada, kepedihan tiada. Janganlah engkau menyebarkan seluruh kekuatan sabar yang diberikan Allah kepadamu ke kanan dan ke kiri seperti ini; kerahkanlah ia terhadap kepedihan pada jam ini; katakanlah “Yâ Shabûr,” bertahanlah.