OBAT KEDUA BELAS:
Risalah Orang-Orang Sakit · hlm. 10
Wahai orang sakit yang terhalang dari ibadah dan wiridnya karena penyakit, lalu menyesali kekurangan itu! Ketahuilah bahwa: telah tetap dalam hadis bahwa; seorang mukmin yang bertakwa, pahala wirid tetapnya yang tak dapat ia lakukan karena penyakit, ia peroleh kembali pada masa penyakit. Seorang sakit yang menunaikan yang fardu sedapat mungkin, dengan sabar dan tawakal serta dengan menunaikan yang fardu, pada masa penyakit berat itu penyakit menggantikan kedudukan sunnah-sunnah lain, sekaligus dalam suatu bentuk yang tulus. Dan penyakit membuat manusia merasakan ketidakberdayaan dan kelemahannya. Ia membuat orang berdoa secara keadaan dan ucapan dengan lisan ketidakberdayaan dan lidah kelemahan itu. Allah telah memberi manusia suatu ketidakberdayaan yang tak terhingga dan suatu kelemahan yang tak berkesudahan.. agar ia secara terus-menerus berlindung ke hadirat Ilahi lalu bermunajat, berdoa. Dengan rahasia ayat قُلْ مَا يَعْبَؤُا بِكُمْ رَبّ۪ى لَوْلاَ دُعَٓاؤُكُمْ yakni “Jika tak ada doamu, apa gerangan pentingmu,” karena penyakit merupakan salah satu sebab bagi doa dan munajat tulus yang merupakan hikmah penciptaan dan sebab nilai manusia; maka dari sudut pandang ini perlu bersyukur kepada Allah — bukan mengeluh — dan tidak menutup keran doa yang dibuka penyakit dengan memperoleh keselamatan (kesehatan).