OBAT KEDELAPAN BELAS:
Risalah Orang-Orang Sakit · hlm. 15
Wahai orang sakit yang meninggalkan syukur lalu beralih kepada keluhan! Keluhan itu timbul dari suatu hak. Tidak ada hakmu yang hilang sehingga engkau mengeluh. Bahkan ada banyak syukur yang menjadi kewajiban atasmu, yang belum engkau tunaikan. Tanpa menunaikan hak Allah, engkau mengeluh seolah-olah menuntut hak dengan cara yang tidak berhak. Engkau tidak boleh mengeluh dengan memandang kepada orang-orang sehat yang berada pada derajat lebih tinggi darimu. Sebaliknya, engkau berkewajiban bersyukur dengan memandang kepada orang-orang sakit yang malang, yang berada pada derajat lebih rendah darimu dari segi kesehatan. Jika tanganmu patah, pandanglah tangan-tangan yang terpotong! Jika satu matamu tiada, pandanglah orang-orang buta yang kedua matanya pun tiada! Bersyukurlah kepada Allah. Ya, dalam hal nikmat, tidak seorang pun berhak mengeluh dengan memandang kepada yang di atasnya. Dan dalam hal musibah, hak setiap orang adalah memandang kepada mereka yang lebih berat musibahnya, agar ia bersyukur.
Rahasia ini telah dijelaskan dalam beberapa risalah melalui sebuah perumpamaan. Ringkasannya sebagai berikut: Seseorang menaikkan seorang yang malang ke puncak sebuah menara. Pada setiap anak tangga menara itu, ia memberikan satu per satu suatu karunia dan hadiah. Dan tepat di puncak menara, ia memberikan hadiah yang paling besar. Sementara ia mengharapkan ucapan terima kasih dan rasa terima kasih atas berbagai hadiah itu, orang yang pemarah itu justru melupakan — atau menganggap remeh — semua hadiah yang ia lihat pada setiap anak tangga, tanpa bersyukur, lalu memandang ke atas. Jika ia mulai mengeluh dengan berkata, "Andai menara ini lebih tinggi, andai aku naik lebih tinggi lagi; mengapa ia tidak setinggi gunung itu, atau setinggi menara yang lain," betapa itu merupakan pengingkaran nikmat dan suatu kezaliman. Demikian pula:
Seorang manusia yang muncul menjadi ada dari ketiadaan — tanpa menjadi batu, tanpa menjadi pohon, tanpa tinggal sebagai hewan — lalu menjadi manusia, menjadi seorang muslim, menikmati kesehatan dan kebugaran dalam waktu yang lama, serta memperoleh derajat nikmat yang tinggi; namun ketika karena beberapa gangguan ia mengeluh dan menunjukkan ketidaksabaran — entah karena ia memang tidak layak atas sebagian nikmat seperti kesehatan dan kebugaran, atau karena ia melepaskannya akibat pilihan buruknya (su'-i ihtiyar) atau penyalahgunaannya (su'-i istimal), atau karena tangannya tidak sampai kepadanya — serta mengkritik rububiyah Ilahi seraya berkata, "Aduh, apa yang telah kuperbuat sehingga hal ini menimpaku"; maka keadaan semacam ini adalah penyakit maknawi yang lebih membawa musibah daripada penyakit fisik. Bagaikan berkelahi dengan tangan yang patah, dengan keluhannya ia justru memperparah penyakitnya. Orang yang berakal adalah yang berserah diri dan bersabar dengan rahasia لِكُلِّ مُص۪يبَةٍ اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّٓا اِلَيْهِ رَاجِعُونَ, sehingga penyakit itu menyelesaikan tugasnya lalu pergi.