OBAT KETUJUH BELAS:
Risalah Orang-Orang Sakit · hlm. 14
Wahai orang sakit yang mengeluh karena tidak dapat beramal kebaikan disebabkan penyakit! Bersyukurlah, karena yang membukakan pintu amal kebaikan yang paling ikhlas untukmu adalah penyakit. Di samping penyakit secara terus-menerus memberikan pahala kepada si sakit dan kepada orang-orang yang merawatnya karena Allah, ia juga merupakan sarana terpenting bagi terkabulnya doa. Ya, merawat orang sakit memiliki pahala yang besar bagi orang-orang beriman. Menanyakan keadaan orang sakit — dengan syarat tidak membuat si sakit merasa terganggu — dan menjenguknya adalah sunnah yang mulia; ia menjadi penghapus dosa (kaffaratudz-dzunub). Dalam hadis disebutkan: "Mintalah doa dari orang-orang sakit, karena doa mereka mustajab." Terlebih lagi jika si sakit termasuk kerabat, khususnya bila ia adalah ayah dan ibu, maka melayani mereka adalah ibadah yang besar dan pahala yang besar. Menyenangkan hati orang sakit dan memberi hiburan (teselli) tergolong dalam hukum sedekah yang besar. Berbahagialah anak yang, pada masa sakit ayah dan ibunya, menyenangkan hati mereka yang mudah tersentuh itu dan memperoleh doa-doa kebaikan mereka. Ya, terhadap lembaran kesetiaan yang memperlihatkan keadaan anak baik yang membalas kasih sayang ayah dan ibunya — suatu hakikat yang paling terhormat dalam kehidupan sosial — dengan penghormatan yang sempurna dan kasih sayang keputraan pada masa sakit mereka, serta memperlihatkan keluhuran kemanusiaan, bahkan para malaikat pun bertepuk tangan seraya berkata "Masya Allah, Barakallah." Ya, pada masa sakit terdapat kenikmatan-kenikmatan yang sangat menyenangkan dan melegakan — yang mampu meniadakan rasa sakit — yang timbul dari kasih sayang, belas kasihan, dan rahmat yang termanifestasi di sekelilingnya.
Terkabulnya doa orang sakit adalah persoalan yang penting. Sejak tiga puluh hingga empat puluh tahun, aku senantiasa berdoa memohon kesembuhan dari suatu penyakit yang disebut kolik (kulunç) pada diriku. Aku memahami bahwa penyakit itu diberikan untuk berdoa. Karena doa tidak menghilangkan doa itu sendiri — yakni doa tidak meniadakan dirinya sendiri — aku memahami bahwa hasil doa itu bersifat ukhrawi;
{(Catatan): Ya, sementara sebagian penyakit merupakan sebab keberadaan doa, apabila doa menjadi sebab ketiadaan penyakit, maka keberadaan doa akan menjadi sebab bagi ketiadaan dirinya sendiri; dan hal ini pun mustahil.}
doa itu sendiri pun merupakan salah satu bentuk ibadah, dan dengan penyakit seseorang menyadari kelemahannya lalu berlindung ke hadirat Ilahi. Karena itu, meskipun selama tiga puluh tahun aku memanjatkan doa kesembuhan sementara doaku secara lahiriah tidak dikabulkan, tidak pernah terlintas di kalbuku untuk meninggalkan doa. Sebab penyakit adalah waktu untuk berdoa; kesembuhan bukanlah hasil doa. Bahkan jika Allah Yang Mahabijaksana lagi Maha Penyayang memberikan kesembuhan, Dia memberikannya dari karunia-Nya. Selain itu, jika doa tidak dikabulkan sesuai cara yang kita inginkan, tidak berarti doa itu tidak diterima. Sang Pencipta Yang Mahabijaksana lebih mengetahui, dan Dia memberikan apa pun yang baik bagi kemaslahatan kita. Terkadang Dia mengalihkan doa-doa kita yang berkaitan dengan dunia menjadi untuk akhirat kita demi kemaslahatan kita, dan menerimanya dengan cara demikian. Bagaimanapun juga... Doa yang memperoleh keikhlasan melalui rahasia penyakit — khususnya yang timbul dari kelemahan, ketidakberdayaan, kerendahan diri, dan kebutuhan — sangat dekat kepada pengabulan. Penyakit merupakan sumber bagi doa yang ikhlas semacam itu. Baik si sakit yang religius maupun orang-orang mukmin yang merawatnya hendaknya memanfaatkan doa ini.