OBAT KESEMBILAN BELAS:
Risalah Orang-Orang Sakit · hlm. 17
Seluruh nama Yang Mahaindah lagi Pemilik Keagungan menunjukkan — melalui ungkapan Samadani "al-asma'ul-husna" — bahwa nama-nama itu indah. Dan di antara segala yang maujud, cermin Kesamadan (Samadiyet) yang paling halus, paling indah, dan paling menyeluruh adalah kehidupan. Cermin bagi Yang Mahaindah adalah indah. Cermin yang memperlihatkan keindahan-keindahan Yang Mahaindah menjadi indah. Sebagaimana apa pun yang datang dari Yang Mahaindah kepada cermin itu adalah indah, demikian pula apa pun yang menimpa kehidupan, dari sudut hakikat, adalah indah. Sebab ia memperlihatkan ukiran-ukiran indah dari al-asma'ul-husna yang indah itu. Jika kehidupan senantiasa berjalan monoton dalam kesehatan dan kebugaran, ia menjadi cermin yang kurang sempurna. Bahkan dari satu sisi ia menimbulkan kesan ketiadaan dan kehampaan sehingga memberikan kesempitan. Ia menurunkan nilai kehidupan. Ia mengubah kenikmatan umur menjadi kesempitan. Karena ingin cepat melewatkan waktunya, akibat kesempitan itu ia menjerumuskan diri entah kepada foya-foya (sefahet) atau kepada hiburan. Bagaikan masa pemenjaraan, ia memusuhi umurnya yang berharga dan ingin cepat-cepat mematikan serta melewatkannya. Akan tetapi, kehidupan yang berputar dalam perubahan, gerak, dan berbagai keadaan yang berbeda-beda menimbulkan kesan akan nilainya, serta menyampaikan pentingnya dan kenikmatan umur. Sekalipun dalam kesukaran dan musibah, ia tidak menginginkan umurnya berlalu. Ia tidak berkeluh kesah "aduh! aduh!" karena kesempitan seraya berkata, "Aduh, matahari belum juga terbenam, atau malam belum juga berakhir." Ya, tanyakanlah kepada seorang tuan yang sangat kaya dan menganggur, yang berbaring di atas kasur istirahat dengan segala sesuatu yang serba sempurna, "Bagaimana keadaanmu?" Tentu engkau akan mendengar darinya ucapan-ucapan penuh derita seperti, "Aduh, waktu tidak juga berlalu, mari kita bermain dadu, atau mari kita cari hiburan untuk melewatkan waktu.." atau engkau akan mendengar keluhan-keluhan yang timbul dari angan-angan panjang (thul-i emel), seperti, "Ini kurang bagiku, andai aku melakukan pekerjaan itu." Tanyakanlah kepada seorang yang tertimpa musibah, atau seorang pekerja, atau seorang fakir yang berada dalam keadaan susah payah, "Bagaimana keadaanmu?" Jika ia berakal sehat, ia akan berkata: "Segala puji bagi Tuhanku, aku baik-baik saja, aku sedang bekerja. Andai matahari tidak cepat berlalu, agar aku dapat menyelesaikan pekerjaan ini pula. Waktu berlalu dengan cepat, umur tidak berhenti, ia terus pergi. Memang aku menanggung kesukaran, tetapi ini pun akan berlalu, segala sesuatu berlalu secepat ini." Dengan demikian, secara maknawi ia menyampaikan betapa berharganya umur melalui penyesalannya atas berlalunya umur itu. Artinya, dengan kesukaran dan bekerja, ia memahami kenikmatan umur dan nilai kehidupan. Sedangkan istirahat dan kesehatan justru memahitkan umur sehingga ia mendambakan agar umur itu berlalu.
Wahai saudara yang sakit! Ketahuilah bahwa — sebagaimana telah dibuktikan secara pasti dan terperinci dalam risalah-risalah lain — asal dan ragi (mayah) dari musibah, keburukan, bahkan dosa adalah ketiadaan (adam). Sedangkan ketiadaan adalah keburukan, adalah kegelapan. Keadaan-keadaan seperti istirahat yang monoton, diam, ketenangan yang pasif, dan berhenti — karena kedekatannya kepada ketiadaan dan kehampaan — menimbulkan kesan akan kegelapan dalam ketiadaan sehingga memberikan kesempitan. Sedangkan gerak dan perubahan adalah wujud, dan menimbulkan kesan akan wujud. Adapun wujud adalah kebaikan murni, adalah cahaya. Karena hakikatnya demikian, maka penyakit yang ada padamu telah dikirimkan sebagai tamu ke dalam tubuhmu untuk banyak tugas — seperti menjernihkan, menguatkan, dan meningkatkan kehidupanmu yang berharga, mengarahkan perangkat-perangkat kemanusiaan lainnya dalam tubuhmu untuk membantu di sekitar anggota tubuh yang sakit itu, serta memperlihatkan ukiran-ukiran dari berbagai nama Sang Pencipta Yang Mahabijaksana. Insya Allah ia akan segera menyelesaikan tugasnya lalu pergi. Dan ia berkata kepada kebugaran: "Datanglah engkau, tinggallah secara tetap di tempatku, lakukanlah tugasmu, rumah ini milikmu, tinggallah dengan sejahtera."