Risale-i NurRisalah Buah

Poin Pertama

Risalah Buah · hlm. 50

Iman billah (iman kepada Allah جل جلاله), dengan bukti-buktinya, membuktikan rukun-rukun yang lain sekaligus iman kepada akhirat — sebagaimana sudah ditunjukkan dengan indah di Masalah Ketujuh Risalah Buah. Ya, sebuah kerajaan rububiyah yang azali dan kekal, dan sebuah kekuasaan uluhiyah yang abadi dan tetap — yang mengatur alam semesta yang tak terhingga ini beserta semua kelengkapannya seperti sebuah istana, sebuah kota, sebuah negeri; yang memutarnya dalam lingkaran timbangan dan keteraturan; yang mengubahnya dengan hikmah-hikmah; yang memperlengkapi dan mengatur atom-atom, planet-planet, lalat-lalat, dan bintang-bintang bersama-sama bagai pasukan yang teratur; dan yang, dalam lingkaran perintah serta kehendak-Nya, terus-menerus membawa makhluk kepada aktivitas, perjalanan, dan semacam pawai ibadah yang megah, lewat latihan dan penugasan dalam sebuah manuver yang tinggi — kira-kira mungkinkah, dan bisakah akal menerima, adakah satu kemungkinan pun bahwa kerajaan yang abadi, kekal, dan tetap itu tidak punya negeri akhirat sebagai tempat menetapnya yang kekal, sumbernya yang tetap, dan tempat tampaknya yang abadi? Seribu kali hâsyâ (Maha Suci Allah جل جلاله dari itu)!

Artinya, kerajaan rububiyah Cenâb-ı Hak, dan — seperti dijelaskan di Masalah Ketujuh — sebagian besar nama-Nya serta bukti-bukti keharusan wujud-Nya (wajibul wujud), bersaksi dan menghendaki akhirat. Dan lihatlah, ketahuilah, dan berimanlah seakan melihat sendiri betapa kuat titik sandaran yang dimiliki kutub iman ini.

Dan seperti halnya iman billah tidak mungkin tanpa akhirat, begitu juga — seperti dijelaskan dengan isyarat singkat di Kalimat Kesepuluh (Onuncu Söz) — mungkinkah dari sisi mana pun, dan bisakah akal menerima, bahwa: seorang Allah جل جلاله, seorang Sembahan Yang Hak (Al-Mabud-u Bilhak) — yang, demi tampaknya uluhiyah dan kelayakan disembah, menciptakan alam semesta ini sebagai sebuah kitab Samadani yang berwujud, yang setiap halamannya mengungkapkan makna sebanyak sebuah kitab dan setiap barisnya sebanyak sebuah halaman; dan sebagai sebuah Al-Qur'an Subhani yang berjasad, yang setiap ayat penciptaannya, setiap katanya, bahkan setiap titiknya dan setiap hurufnya berkedudukan sebagai sebuah mukjizat; dan sebagai sebuah masjid Ar-Rahmani yang begitu megah, yang dihiasi dengan ayat-ayat tak terhingga dan ukiran-ukiran sarat makna, di mana di setiap sudutnya sebuah golongan menyibukkan diri dengan semacam ibadah fitri — justru tidak mengutus para ustaz sebagai utusan untuk mengajarkan makna kitab besar itu.. dan para mufasir untuk menafsirkan ayat-ayat Al-Qur'an Samadani itu.. dan tidak menetapkan para imam bagi mereka yang beribadah dalam cara yang tak terhitung di masjid terbesar itu.. dan tidak memberi titah-titah kepada para ustaz, mufasir, dan imam itu? Hâsyâ, seratus ribu hâsyâ!

Dan seorang As-Sâni'-i Rahîm ve Al-Kerim (Sang Pencipta Yang Maha Penyayang lagi Maha Mulia) — yang, demi menunjukkan keindahan rahmat-Nya, keelokan kasih-Nya, dan kesempurnaan rububiyah-Nya kepada makhluk berakal, lalu menggiring mereka kepada syukur dan pujian, menciptakan alam semesta ini sebagai sebuah tempat jamuan, sebuah tempat pameran, dan sebuah taman rekreasi, yang tersusun dengan nikmat-nikmat lezat yang tak terhitung ragamnya dan karya-karya seni antik yang luar biasa tak terhingga — kira-kira mungkinkah, dan bisakah akal menerima, bahwa Dia tidak berbicara dengan makhluk-makhluk berakal di tempat jamuan itu, dan tidak memberitahukan kepada mereka — lewat para utusan-Nya — tugas berterima kasih sebagai imbalan nikmat-nikmat itu, serta tugas ibadah sebagai sambutan terhadap tampaknya rahmat-Nya dan upaya-Nya membuat diri-Nya dicintai? Hâsyâ, ribuan hâsyâ!

Dan mungkinkah: seorang pencipta mencintai karyanya, ingin karyanya disukai; bahkan — dengan bukti bahwa Dia memperhatikan seribu macam selera lidah — Dia ingin disambut dengan penghargaan dan pujian, dan dengan setiap karya-Nya Dia ingin mengenalkan diri-Nya, membuat diri-Nya dicintai, sekaligus menunjukkan semacam keindahan maknawi-Nya; padahal Dia menghias alam semesta ini dengan karya-karya seni antik dalam cara seperti itu — justru Dia tidak berbicara dan tidak mengutus utusan kepada sebagian tokoh besar manusia, yang merupakan komandan para makhluk hidup di alam semesta? Sehingga karya-karya indah-Nya tinggal tanpa penghargaan, nama-nama-Nya yang luar biasa indah tinggal tanpa pujian, dan upaya-Nya mengenalkan serta membuat diri-Nya dicintai tinggal tanpa sambutan? Hâsyâ, seratus ribu hâsyâ!

Dan seorang Mütekellim-i Alîm (Sang Maha Berfirman lagi Maha Mengetahui) — yang, terhadap doa semua makhluk hidup untuk kebutuhan fitrinya, dan terhadap semua permohonan serta keinginan yang diucapkan lewat lisan keadaan, berbicara secara nyata dan terang — tepat pada waktunya, dalam cara yang menunjukkan kesengajaan, pilihan, dan kehendak — lewat pemberian-pemberian-Nya yang tak terhitung dan karunia-karunia-Nya yang tak terhingga; kira-kira mungkinkah, dan bisakah akal menerima, bahwa Dia berbicara secara nyata dengan makhluk hidup yang paling kecil, mendengar keluhannya lewat karunia yang tepat menjadi obat deritanya, melihat serta mengetahui kebutuhannya — tapi justru tidak berjumpa dengan para pemimpin maknawi manusia, yang merupakan hasil paling terpilih dari seluruh alam semesta, khalifah bumi, dan komandan sebagian besar makhluk bumi? Bahwa Dia tidak berbicara dengan mereka lewat ucapan dan firman — seperti Dia berbicara secara nyata dengan mereka, bahkan dengan setiap makhluk hidup — dan tidak mengirim kepada mereka titah, lembaran, serta kitab? Hâsyâ, hâsyâ yang tak terhingga!

Artinya, iman billah, dengan kepastian dan bukti-buktinya yang tak terhitung, membuktikan "wa bikütübihî wa rusülihî" — yaitu iman kepada para nabi dan kitab-kitab suci.

Dan adakah satu sisi kemungkinan pun, dan bisakah akal menerima, bahwa: terhadap Dzat yang lewat semua ciptaan-Nya mengenalkan dan membuat diri-Nya dicintai serta menghendaki syukur secara nyata — justru Muhammad 'alaihishshalâtu wassalâm bukanlah makhluk yang paling terpilih, utusan yang paling sempurna, dan rasul yang paling besar? Padahal beliau — dengan hakikat Al-Qur'an yang menggemparkan alam semesta — mengenal, mengenalkan, mencintai, membuat dicintai, berterima kasih, dan membuat berterima kasih kepada Sang Seniman Yang Penuh Keagungan itu dengan cara yang paling sempurna; dan dengan seruan "Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar" membuat bola bumi berbicara sampai terdengar oleh langit, dan dalam keadaan yang membuat daratan serta lautan tergerak; lalu dalam kurun seribu tiga ratus tahun, membawa di belakangnya seperlima umat manusia secara jumlah dan separuhnya secara kualitas dan kemanusiaan; dan menyambut seluruh tampaknya rububiyah Khalik itu dengan sebuah ibadah yang luas dan menyeluruh; dan dengan surah-surah Al-Qur'an berseru kepada alam semesta serta abad-abad terhadap semua maksud Ilahi, memberi pelajaran, dan menjadi penyeru; dan menunjukkan kehormatan, nilai, serta tugas umat manusia; dan dibenarkan dengan seribu mukjizatnya. Hâsyâ dan kallâ! Seratus ribu kali hâsyâ!

Artinya, hakikat "Asyhadu an Lâ ilâha illallâh" — dengan semua buktinya — membuktikan hakikat "Asyhadu anna Muhammadar Rasûlullâh".

Dan adakah satu kemungkinan pun bahwa: Sang Pencipta alam semesta ini membuat makhluk-makhluk-Nya saling berbicara satu sama lain dengan seratus ribu lidah, lalu mendengar dan mengetahui percakapan mereka, tapi Dia sendiri tidak berbicara? Hâsyâ!

Dan bisakah akal menerima bahwa: Dia tidak memberitahukan maksud-maksud Ilahi di alam semesta lewat sebuah titah? Dan tidak mengirim sebuah kitab seperti Al-Qur'an yang akan membuka teka-tekinya dan memberi jawaban sejati atas tiga pertanyaan umum yang dahsyat: dari mana makhluk-makhluk datang, ke mana mereka akan pergi, dan mengapa mereka datang ke sini rombongan demi rombongan, berhenti sebentar, lalu berlalu? Hâsyâ!

Dan adakah satu sisi kemungkinan pun bahwa: Al-Qur'an Mu'cizü'l-Beyan — yang menerangi tiga belas abad; yang setiap jam beredar dengan penuh hormat di seratus juta lidah; yang tertulis dengan kesuciannya di hati jutaan penghafal; yang mengatur sebagian besar umat manusia secara kualitas dengan undang-undangnya; yang mendidik, menyucikan, membersihkan, dan mengajar nafsu, ruh, hati, serta akal mereka; yang empat puluh sisi kemukjizatannya dibuktikan di Risale-i Nur; yang di dalam Surat Kesembilan Belas (Ondokuzuncu Mektub) yang penuh keramat dan luar biasa dijelaskan bahwa ia menunjukkan semacam kemukjizatan terhadap empat puluh golongan serta lapisan manusia dan terhadap setiap lapisan; dan yang dengan pasti dibuktikan sebagai kalamullah yang hak — sebagai salah satu mukjizat Muhammad 'alaihishshalâtu wassalâm di antara seribu mukjizatnya — justru bukan kalam dan titah dari Mütekellim-i Ezelî (Sang Maha Berfirman Yang Azali) dan As-Sâni'-i Sermedî (Sang Pencipta Yang Kekal Abadi) itu? Hâsyâ, seratus ribu kali hâsyâ dan kallâ!

Artinya, iman billah, dengan semua buktinya, membuktikan bahwa Al-Qur'an adalah kalamullah.

Dan mungkinkah: seorang As-Sultan-ı Zülcelal (Sang Raja Pemilik Keagungan) — yang terus-menerus memenuhi dan mengosongkan muka bumi dengan makhluk-makhluk hidup, dan yang meramaikan dunia kita ini dengan makhluk-makhluk berakal demi mengenalkan diri-Nya serta membuat diri-Nya diibadahi dan ditasbihkan — justru membiarkan langit dan bintang-bintang kosong dan hampa? Tidak menciptakan penghuni yang layak bagi mereka lalu menempatkannya di istana-istana samawi itu? Dan membiarkan kerajaan rububiyah-Nya di negeri-Nya yang terbesar tanpa pelayan, tanpa keagungan, tanpa pegawai, tanpa utusan, tanpa ajudan, tanpa pengawas, tanpa penonton, tanpa penyembah, dan tanpa rakyat? Hâsyâ sebanyak jumlah malaikat!

Dan adakah satu sisi kemungkinan pun bahwa: seorang Hâkim-i Hakîm ve Alîm-i Rahîm (Sang Maha Menghukumi lagi Maha Bijaksana, Sang Maha Mengetahui lagi Maha Penyayang) — yang menulis alam semesta ini dalam bentuk sebuah kitab sedemikian rupa, sampai Dia mencatat seluruh riwayat hidup setiap pohon di dalam semua benihnya; menulis seluruh tugas hidup setiap rumput dan bunga di dalam semua bijinya; menuliskan seluruh kisah hidup setiap makhluk berakal dengan sangat sempurna di dalam daya ingatnya yang kecil sebiji sesawi; menyimpan setiap amal dan setiap peristiwa di seluruh kerajaan dan lingkaran pemerintahan-Nya dengan mengambilnya lewat berbagai foto; dan menciptakan Surga serta Neraka yang besar, Sirat, dan timbangan terbesar demi tampak serta terwujudnya keadilan, hikmah, dan rahmat — yang merupakan dasar terpenting rububiyah — justru tidak menuliskan amal-amal manusia yang menyangkut alam semesta? Tidak mencatat perbuatan mereka untuk hukuman dan ganjaran? Dan tidak menulis keburukan serta kebaikan mereka di papan-papan takdir? Hâsyâ sebanyak jumlah huruf yang tertulis di Lauhul Mahfuz takdir!

Artinya, hakikat iman billah, dengan bukti-buktinya, juga membuktikan dengan pasti hakikat iman kepada malaikat sekaligus iman kepada takdir. Seperti matahari menunjukkan siang dan siang menunjukkan matahari, rukun-rukun iman saling membuktikan satu sama lain.