Risale-i NurRisalah Buah

Poin Kedua

Risalah Buah · hlm. 54

Al-Qur'an sebagai yang utama, semua kitab dan lembaran samawi, dan semua nabi ('alaihimussalam) dengan Muhammad 'alaihishshalâtu wassalâm sebagai yang utama — seluruh dakwah mereka berputar di atas lima-enam dasar. Mereka terus-menerus berusaha mengajarkan dan membuktikan dasar-dasar itu. Semua bukti dan dalil yang bersaksi atas kenabian dan kebenaran mereka pun mengarah pada dasar-dasar itu, lalu menguatkan kebenaran mereka. Adapun dasar-dasar itu adalah iman billah, iman kepada akhirat, dan iman kepada rukun-rukun yang lain. Artinya, keenam rukun iman itu tidak mungkin dipisahkan satu sama lain. Masing-masing membuktikan, menghendaki, dan menuntut keseluruhannya. Enam rukun itu adalah sebuah keutuhan dan keseluruhan sedemikian rupa, sampai tidak menerima pembagian dan tidak mungkin dipecah-pecah. Seperti halnya pohon Tuba yang akarnya di langit.. setiap dahannya, setiap buahnya, setiap daunnya bersandar pada kehidupan pohon besar itu yang menyeluruh dan tak pernah habis. Orang yang tak bisa mengingkari kehidupan yang kuat dan terang bagai matahari itu, tak akan bisa mengingkari kehidupan satu daun saja yang menyatu dengannya. Kalau ia mengingkarinya, maka pohon itu — sebanyak dahan, buah, dan daunnya — akan mendustakan dan membungkam sang pengingkar. Begitu jugalah iman, dengan enam rukunnya, berada dalam keadaan yang sama.

Di awal kedudukan ini, tadinya diniatkan untuk menjelaskan enam rukun iman dalam tiga puluh enam poin — enam poin, dan setiap poin lima nukte (poin makna yang halus). Dan aku bermaksud menjawab pertanyaan dahsyat di awal tadi dengan penjelasan yang rinci. Tapi beberapa halangan tidak memberi kesempatan. Aku memperkirakan, karena poin pertama sudah menjadi tolok ukur yang cukup, maka bagi orang-orang yang lebih cerdas tidak perlu lagi penjelasan yang lebih banyak. Dan sudah dipahami sepenuhnya bahwa: kalau seorang muslim mengingkari satu saja hakikat iman, ia jatuh ke kekufuran mutlak. Sebab, berbeda dengan agama-agama lain yang ringkas, dalam Islam telah diberikan penjelasan yang utuh, dan rukun-rukun saling terangkai bagai rantai. Seorang muslim yang tidak mengenal dan tidak membenarkan Muhammad 'alaihishshalâtu wassalâm, tidak akan lagi mengenal Allah جل جلاله (beserta sifat-sifat-Nya) dan tidak akan tahu akhirat. Iman seorang muslim bersandar pada bukti-bukti yang begitu kuat, tak tergoyahkan, dan tak terhitung, sampai tak ada lagi satu alasan pun untuk mengingkarinya. Akal seakan terpaksa menerimanya.