Risale-i NurRisalah Buah

Poin Kedua

Risalah Buah · hlm. 43

Adanya Neraka dan azabnya yang keras tidak bertentangan dengan rahmat yang tak terhingga, keadilan yang sejati, dan hikmah yang tertimbang tanpa pemborosan. Tapi justru, rahmat, keadilan, dan hikmah menghendaki adanya Neraka. Sebab, seperti halnya menghukum seorang zalim yang menginjak-injak hak seribu orang tak berdosa, dan membunuh seekor binatang buas yang mencabik-cabik seratus hewan teraniaya, adalah seribu rahmat bagi yang teraniaya di dalam keadilan; sementara memaafkan zalim itu dan membebaskan binatang buas itu adalah ratusan ketiadaan belas kasih bagi ratusan orang malang, sebagai ganti sebuah belas kasih yang keliru. Persis begitu juga: orang kafir mutlak yang masuk penjara Neraka, dengan kekufurannya: melanggar hak nama-nama Ilahi dengan mengingkarinya; melanggar hak makhluk-makhluk yang bersaksi atas nama-nama itu dengan mendustakan kesaksian mereka; melanggar hak makhluk dengan mengingkari tugas-tugas tinggi mereka yang bertasbih kepada nama-nama itu; dan — dari sisi mendustakan ibadah serta pencerminan makhluk terhadap tampaknya rububiyah Ilahi, yang merupakan tujuan penciptaan alam semesta dan sebab keberadaan serta kelangsungannya — melakukan semacam pelanggaran terhadap hak-Nya. Dengan semua ini, kekufuran itu adalah sebuah kejahatan dan kezaliman yang begitu besar, sampai tidak lagi punya kelayakan untuk diampuni. Ia menjadi layak menerima ancaman ayat اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُشْرَكَ بِه۪. Tidak melemparkannya ke Neraka, sebagai ganti sebuah belas kasih yang tak pada tempatnya, akan menjadi ratusan ketiadaan belas kasih bagi para penuntut tak terhitung yang hak-haknya dilanggar. Nah, seperti para penuntut itu menghendaki adanya Neraka, keizzahan keagungan dan kesempurnaan yang agung pun dengan pasti menghendakinya.

Ya, seperti halnya seorang pemberontak liar yang menyerang rakyat, kalau ia berkata kepada penguasa negeri yang penuh izzah itu: "Kamu tak bisa memenjarakanku dan tak akan bisa," lalu menyinggung keizzahannya; maka sudah pasti — sekalipun di kota itu tak ada penjara — demi orang kurang ajar itu, sang penguasa akan membuat sebuah penjara lalu melemparkannya ke dalamnya. Persis begitu juga: orang kafir mutlak, dengan kekufurannya, menyinggung keras keizzahan keagungan-Nya. Dan dengan pengingkaran, ia menyentuh keagungan kekuasaan-Nya. Dan dengan pelanggarannya, ia mengusik kesempurnaan rububiyah-Nya. Maka sudah pasti — sekalipun Neraka tak punya banyak sebab yang mewajibkan dan banyak hikmah keberadaan untuk banyak tugas — menciptakan sebuah Neraka bagi orang-orang kafir seperti itu dan melemparkan mereka ke dalamnya adalah tuntutan keizzahan dan keagungan itu.

Dan hakikat kekufuran itu sendiri pun menunjukkan Neraka. Ya, seperti halnya hakikat iman, andai ia menjelma, bisa berbentuk sebuah surga khusus dengan kelezatan-kelezatannya, lalu dari sisi ini secara tersembunyi mengabarkan Surga. Persis begitu juga — seperti sudah dibuktikan dengan dalil-dalilnya di Risale-i Nur dan diisyaratkan pula di masalah-masalah awal tadi — kekufuran, terutama kekufuran mutlak, kemunafikan, dan kemurtadan, punya derita gelap dan dahsyat serta azab maknawi sedemikian rupa.. sampai-sampai andai ia menjelma, ia akan menjadi sebuah neraka khusus bagi orang murtad itu. Dan dari sisi ini, ia secara tersembunyi mengabarkan Neraka yang besar. Dan dari sisi bahwa hakikat-hakikat kecil di ladang dunia pembibitan ini akan memberi bulir-bulir di akhirat, benih beracun ini mengisyaratkan pohon zaqqum itu. Ia berkata: "Aku adalah salah satu bibitnya. Dan bagi orang celaka yang membawaku di dalam hatinya, buahku menjadi sebuah contoh khusus dari pohon zaqqum itu."

Karena kekufuran adalah pelanggaran terhadap hak yang tak terhitung, maka sudah pasti ia sebuah kejahatan yang tak terhitung. Kalau begitu, ia membuat pelakunya layak menerima azab yang tak terhitung. Karena keadilan manusia menerima — dan menganggapnya sesuai dengan kemaslahatan serta hak umum — bahwa pembunuhan satu menit membuat pelakunya menanggung azab penjara lima belas tahun (hampir delapan juta menit); maka sudah pasti, dari sisi bahwa satu kekufuran itu seperti seribu pembunuhan, kekufuran mutlak satu menit membuat pelakunya menanggung azab hampir delapan miliar menit — dan itu sesuai dengan hukum keadilan tadi. Orang yang menghabiskan setahun umurnya dalam kekufuran itu menjadi layak menerima azab hampir dua triliun delapan ratus delapan puluh miliar menit, lalu menjadi tempat tampaknya rahasia خَالِد۪ينَ ف۪يهَٓا اَبَدًا. Apa pun itu...

Penjelasan Al-Qur'an al-Hakîm yang penuh mukjizat tentang Surga dan Neraka, tafsir Al-Qur'an, serta bukti-bukti Risale-i Nur yang lahir darinya tentang adanya Surga dan Neraka, sudah tidak menyisakan kebutuhan untuk penjelasan lain.

Banyak ayat seperti وَيَتَفَكَّرُونَ ف۪ى خَلْقِ السَّمٰوَاتِ وَالْاَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ٭ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ اِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا ٭ اِنَّهَا سَٓاءَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا, serta doa Rasul Ekrem (Rasul Termulia) 'alaihishshalâtu wassalâm, semua nabi, dan para ahli hakikat yang setiap saat paling sering memohon dalam doa mereka: اَجِرْنَا مِنَ النَّارِ ٭ نَجِّنَا مِنَ النَّارِ ٭ خَلِّصْنَا مِنَ النَّارِ — dan permohonan mereka "lindungilah kami dari Neraka" yang bagi mereka mencapai kepastian berdasarkan wahyu dan penyaksian — semua ini menunjukkan bahwa: persoalan terbesar umat manusia adalah selamat dari Neraka. Dan sebuah hakikat alam semesta yang sangat penting, agung, dan dahsyat adalah Neraka; sebagian ahli penyaksian, kasyaf (penyingkapan mata batin), dan tahkik menyaksikannya. Dan sebagian melihat rembesan dan bayang-bayangnya, lalu menjerit karena kedahsyatannya. Mereka berkata: "Selamatkanlah kami darinya."

Ya, di alam semesta ini, saling berhadapan dan saling masuknya kebaikan–keburukan, kelezatan–derita, cahaya–kegelapan, panas–dingin, keindahan–keburukan, dan hidayah–kesesatan adalah demi sebuah hikmah yang sangat besar. Sebab kalau keburukan tidak ada, kebaikan tidak dikenal. Kalau derita tidak ada, kelezatan tidak dipahami. Cahaya tanpa kegelapan tidak punya arti. Dengan dingin, derajat-derajat panas menjadi nyata. Dengan keburukan, satu saja hakikat keindahan menjadi seribu hakikat dan ribuan macam tingkat keindahan. Banyak kelezatan Surga tinggal tersembunyi tanpa Neraka. Dengan menganalogikan kepada ini, segala sesuatu dari satu sisi bisa dikenal lewat lawannya. Dan satu saja hakikat, dengan memberi bulir, menjadi banyak hakikat. Karena makhluk-makhluk yang bercampur ini mengalir dari negeri yang fana menuju negeri yang kekal; maka sudah pasti — seperti halnya kebaikan, kelezatan, cahaya, keindahan, dan iman mengalir ke Surga — begitu juga keburukan, derita, kegelapan, dan kekufuran, sebagai zat-zat yang berbahaya, tercurah ke Neraka. Dan aliran-aliran alam semesta yang terus bergejolak ini masuk ke dua kolam itu, lalu berhenti. Dengan menyerahkannya kepada poin-poin isyarat di akhir Kalimat Kedua Puluh Sembilan (Yirmidokuzuncu Söz) yang penuh keramat, kita ringkaskan saja.

Wahai teman-teman belajarku di Madrasah Yusufiyah ini! Cara dan jalan mudah untuk selamat dari penjara abadi yang dahsyat ini: dengan memanfaatkan pemenjaraan duniawi kita ini — di mana kita, karena terpaksa, terlepas dari banyak dosa yang tak terjangkau tangan kita — sekaligus bertobat dari dosa-dosa lama, menunaikan kewajiban-kewajiban kita, lalu mengubah setiap jam umur kita di penjara ini menjadi seperti ibadah satu hari; inilah kesempatan terbaik untuk keselamatan kita dari penjara abadi itu dan untuk masuknya kita ke Surga yang bercahaya itu. Kalau kita menyia-nyiakan kesempatan ini, maka seperti dunia kita menangis, akhirat kita pun akan menangis. Kita akan menerima tamparan خَسِرَ الدُّنْيَا وَ الْاٰخِرَةَ.

Ketika bagian ini ditulis, datanglah Hari Raya Kurban. Dengan seruan "Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar", seperlima umat manusia — tiga ratus juta orang — dibuat mengucap "Allahu Akbar" serentak; dan bola bumi yang besar, sebesar dirinya, seolah memperdengarkan kalimat suci "Allahu Akbar" itu kepada teman-teman planetnya di langit. Lebih dari dua puluh ribu jemaah haji mengucap "ALLAHU AKBAR" bersama-sama serentak di Arafah dan di hari raya. Aku membayangkan, merasakan, dan meyakini bahwa itu adalah semacam gema dari kalimat "ALLAHU AKBAR" yang diucapkan dan diperintahkan Rasul Ekrem 'alaihishshalâtu wassalâm bersama keluarga dan para sahabat beliau seribu tiga ratus tahun yang lalu — sebuah sambutan lewat ibadah yang luas dan menyeluruh terhadap tampaknya rububiyah Ilahi secara menyeluruh dengan gelar keagungan "Rabbul-Ardhi wa Rabbul-'Âlamîn".

Sesudah itu, aku teringat: kira-kira, adakah hubungan kalimat suci ini dengan persoalan kita juga? Seketika terlintas di hati bahwa — dimulai dari kalimat ini — banyak kalimat syiar yang menyandang nama bâkiyâtush-shâlihât (amal-amal kekal yang saleh), seperti "Subhanallah", "Alhamdulillah", dan "Lâ ilâha illallah", mengingatkan persoalan kita yang kecil maupun yang menyeluruh, lalu mengisyaratkan terwujudnya. Misalnya, salah satu sisi makna "Allahu Akbar": kekuasaan dan ilmu Cenâb-ı Hak (Allah جل جلاله Yang Maha Tinggi) lebih besar di atas segala sesuatu; tak ada satu pun yang bisa keluar dari lingkaran ilmu-Nya, tak ada yang bisa lari dan lolos dari pengaturan kekuasaan-Nya. Dan Dia lebih besar daripada hal-hal terbesar yang kita takuti. Artinya, Dia lebih besar daripada sekadar mendatangkan kebangkitan, menyelamatkan kita dari ketiadaan, dan memberi kebahagiaan abadi. Dia lebih besar daripada segala sesuatu yang menakjubkan dan di luar jangkauan akal — sampai-sampai, dengan kejelasan pasti dari ayat مَا خَلْقُكُمْ وَلَا بَعْثُكُمْ اِلَّا كَنَفْسٍ وَاحِدَةٍ, kebangkitan dan pembentangan umat manusia terasa semudah menciptakan satu jiwa saja bagi kekuasaan itu. Justru dari sisi makna inilah, seperti sebuah peribahasa, di hadapan musibah besar dan maksud besar, setiap orang berkata "Allah جل جلاله Maha Besar, Allah جل جلاله Maha Besar".. lalu menjadikannya penghibur, kekuatan, dan titik sandaran bagi dirinya.

Ya, seperti halnya di Kalimat Kesembilan (Dokuzuncu Söz), kalimat ini bersama dua temannya — sebagai benih, ringkasan, dan penguat makna salat yang merupakan daftar isi semua ibadah — memberi jawaban yang sangat kuat: tiga hakikat agung "Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar" menjawab pertanyaan-pertanyaan manusia yang lahir dari keheranan, kelezatan, dan kegentaran atas banyak hal luar biasa, menakjubkan, indah, dan besar yang ia lihat di alam semesta — sumber keheranan, syukur, keagungan, dan kebesaran. Dan seperti dijelaskan di akhir Kalimat Keenam Belas (Onaltıncı Söz): seperti seorang prajurit, di hari raya, masuk ke hadirat raja bersama seorang panglima; di waktu lain ia mengenal raja lewat kedudukan perwiranya. Persis begitu juga; di ibadah haji, setiap orang mulai mengenal Cenâb-ı Hak dengan gelar "Rabbul-Ardhi wa Rabbul-'Âlamîn", sampai derajat para wali. Dan setiap kali derajat-derajat kebesaran itu terbuka di hatinya, ia menjawab semua pertanyaan keheranan yang berulang dan hangat yang memenuhi ruhnya — lagi-lagi dengan mengulang "Allahu Akbar". Dan seperti dijelaskan di akhir Kilau Ketiga Belas (Onüçüncü Lem'a): yang memotong tipu daya setan yang paling penting sampai ke akarnya dan memberi jawaban pasti juga "Allahu Akbar". Begitu juga, sebagaimana ia menjawab pertanyaan kita tentang akhirat dengan jawaban singkat tapi kuat, kalimat "Alhamdulillah" pun mengingatkan dan menghendaki kebangkitan. Ia berkata kepada kita: "Maknaku tidak mungkin tanpa akhirat. Sebab, karena aku mengungkapkan bahwa dari azali sampai abadi, dari siapa pun dan kepada siapa pun, semua pujian dan syukur adalah milik-Nya; maka satu-satunya yang bisa menjadi kepala semua nikmat, yang menjadikan nikmat sebagai nikmat sejati, dan yang menyelamatkan semua makhluk berakal dari musibah ketiadaan yang tak terhingga, hanyalah kebahagiaan abadi. Dan itulah yang menyambut makna menyeluruhku."

Ya, setiap mukmin, setiap hari sesudah salat, sekurang-kurangnya mengucap "Alhamdulillah, Alhamdulillah" lebih dari seratus lima puluh kali sesuai syariat; dan maknanya mengungkapkan sebuah pujian dan syukur yang luas tak terhingga dari azali sampai abadi. Ini hanya dan hanya sebuah harga tunai dan bayaran di muka bagi kebahagiaan abadi dan Surga. Dan ia bukan terbatas pada nikmat dunia yang pendek dan bercampur derita yang fana, tapi memandang nikmat-nikmat itu pun sebagai wasilah menuju nikmat-nikmat abadi, lalu bersyukur.

Sementara kalimat suci "Subhanallah" — dengan makna menyucikan dan membersihkan Cenâb-ı Hak dari sekutu, cacat, kekurangan, kezaliman, kelemahan, ketiadaan belas kasih, kebutuhan, penipuan, dan semua cela yang bertentangan dengan kesempurnaan, keindahan, serta keagungan-Nya — mengingatkan, menunjukkan, dan mengisyaratkan kebahagiaan abadi dan negeri akhirat serta Surga di dalamnya, yang menjadi sumber bagi keagungan kerajaan, keagungan, dan keindahan-Nya. Kalau tidak — seperti sudah dibuktikan tadi — andai kebahagiaan abadi tidak ada, maka kerajaan-Nya, kesempurnaan-Nya, keagungan-Nya, keindahan-Nya, dan rahmat-Nya akan ternoda oleh noda cacat dan kekurangan.

Nah, seperti tiga kalimat suci ini, "Bismillah", "Lâ ilâha illallah", dan kalimat-kalimat berkah yang lain — masing-masing adalah sebuah benih dari rukun-rukun iman. Seperti ekstrak daging dan ekstrak gula yang ditemukan di zaman ini, mereka adalah ringkasan rukun iman sekaligus ringkasan hakikat Al-Qur'an. Dan seperti tiga kalimat ini adalah benih salat, mereka juga benih Al-Qur'an — yang di awal sebagian surah yang cemerlang tampak bagai berlian — dan sekaligus tambang serta dasar sejati Risale-i Nur, yang banyak ilhamnya bermula dengan tasbih. Dan dari sisi kewalian Ahmadiyah dan ibadah Muhammadiyah ('alaihishshalâtu wassalâm), dalam sebuah lingkaran zikir seperti itu, pada tasbih sesudah salat, mereka adalah wirid sebuah tarekat Muhammadiyah 'alaihishshalâtu wassalâm: di setiap waktu salat, lebih dari seratus juta mukmin bersama-sama, dalam lingkaran zikir terbesar itu, dengan tasbih di tangan, mengulang "Subhanallah" tiga puluh tiga kali, "Alhamdulillah" tiga puluh tiga kali, dan "Allahu Akbar" tiga puluh tiga kali.

Nah, dalam sebuah lingkaran zikir yang begitu agung, kalian pasti sudah paham betapa berharga dan berpahalanya membaca tiga kalimat berkah itu — yang, seperti kita jelaskan tadi, merupakan ringkasan dan benih Al-Qur'an, iman, sekaligus salat — sebanyak tiga puluh tiga kali sesudah salat.

Seperti Masalah Pertama di awal risalah ini adalah sebuah pelajaran indah tentang salat; begitu juga — padahal sama sekali tak kupikirkan sebelumnya, seolah tanpa kusengaja — akhirnya pun menjadi sebuah pelajaran penting tentang tasbih sesudah salat.

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلٰى اِنْعَامِه۪ سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَٓا اِلَّا مَا عَلَّمْتَنَٓا اِنَّكَ اَنْتَ الْعَل۪يمُ الْحَك۪يمُ