Risale-i NurRisalah Buah

Masalah Ketiga

Risalah Buah · hlm. 7

Ringkasan sebuah peristiwa penuh pelajaran yang dijelaskan dalam Panduan Pemuda adalah begini:

Suatu kali, di sebuah hari raya republik, aku sedang duduk di jendela penjara Eskişehir. Di seberang, para gadis remaja dari sekolah menengah sedang menari sambil tertawa-tawa di halaman sekolah itu. Tiba-tiba, lewat sebuah sinema maknawi, keadaan mereka lima puluh tahun kemudian tampak kepadaku. Dan aku melihat: dari lima puluh-enam puluh gadis dan murid itu, empat puluh-lima puluh orang sudah menjadi tanah di dalam kubur, sedang menanggung azab. Dan sepuluh orang lagi, di usia tujuh puluh-delapan puluh tahun sudah menjadi buruk rupa; karena di masa muda mereka tidak menjaga kehormatan diri, kini mereka justru dibenci oleh pandangan-pandangan yang dulu mereka harap akan mencintai mereka.. semua itu kusaksikan dengan pasti. Aku menangisi keadaan mereka yang menyedihkan itu. Sebagian teman di penjara mendengar aku menangis. Mereka datang dan bertanya. Aku berkata: Sekarang biarkanlah aku sendiri, pergilah kalian.

Ya, yang kulihat itu hakikat, bukan khayalan. Seperti halnya akhir dari musim panas dan musim gugur ini adalah musim dingin. Begitu juga, di belakang musim panas kemudaan dan musim gugur ketuaan ada musim dingin kubur dan alam barzakh. Seperti peristiwa-peristiwa lima puluh tahun lalu dari masa lampau bisa ditampilkan sekarang lewat sinema, andai ada pula sebuah sinema yang menampilkan peristiwa-peristiwa lima puluh tahun ke depan dari masa mendatang, lalu keadaan ahli kesesatan dan ahli foya-foya lima puluh-enam puluh tahun kemudian itu ditampilkan kepada mereka, pasti mereka akan menangis dengan penuh kebencian dan kepedihan atas tawa mereka sekarang dan atas kesenangan-kesenangan mereka yang tidak halal itu.

Ketika aku sedang sibuk dengan penyaksian di penjara Eskişehir itu, sesosok pribadi maknawi (şahs-ı manevî) yang menyokong foya-foya dan kesesatan berdiri di hadapanku bagaikan setan dari golongan manusia, lalu berkata: "Kami ingin mencicipi dan mencicipkan setiap macam kelezatan dan kesenangan hidup; jangan ikut campur urusan kami."

Aku pun menjawab: Karena demi kelezatan dan kenikmatan kamu tidak mau mengingat kematian, lalu kamu terjun ke kesesatan dan foya-foya, ketahuilah dengan pasti: menurut hukum kesesatanmu, seluruh masa lampau yang sudah berlalu itu mati dan tiada, dan ia adalah sebuah kuburan yang menyeramkan, yang di dalamnya jenazah-jenazah sudah membusuk. Karena kamu masih punya ikatan kemanusiaan, dan lewat jalan kesesatan, ke kepalamu — dan kalau hatimu masih ada dan belum mati, juga ke hatimu — datanglah derita dari perpisahan-perpisahan yang tak terhitung itu dan dari kematian abadi sahabat-sahabatmu yang tak terhingga; derita itu memusnahkan kelezatan kecilmu yang mabuk dan yang cuma sekejap ini. Begitu juga, masa depan yang akan datang pun, dari sisi ketiadaan keyakinanmu, lagi-lagi adalah tempat liar yang tiada, gelap, mati, dan mengerikan. Dan karena kepala orang-orang malang yang muncul dari sana, yang menjulurkan kepala mereka ke alam wujud lalu singgah di masa kini, dipenggal oleh golok algojo ajal lalu dilempar ke ketiadaan, maka — lewat ikatan akal — terus-menerus tercurah ke kepalamu yang tak beriman itu kekhawatiran-kekhawatiran pedih yang tak terhitung. Semua itu memporak-porandakan kelezatan kecilmu yang penuh foya-foya itu.

Tapi kalau kamu tinggalkan kesesatan dan foya-foya, lalu masuk ke wilayah iman tahkiki (iman yang mendalam dan kokoh) dan istikamah, dengan cahaya iman kamu akan melihat bahwa: masa lampau yang sudah berlalu itu bukan sebuah kuburan yang tiada dan membusukkan segala sesuatu, tapi justru sebuah alam yang bercahaya, yang ada dan yang berubah menjadi masa depan; dan karena ia tampak sebagai ruang tunggu bagi ruh-ruh yang kekal untuk masuk ke istana-istana kebahagiaan mereka di masa depan, maka — sesuai kekuatan iman — ia bukan mendatangkan derita, tapi justru mencicipkan semacam kelezatan maknawi Surga bahkan di dunia ini. Begitu juga masa depan yang akan datang, bukan tempat liar dan gelap, tapi — terlihat dengan mata iman — bahwa di istana-istana kebahagiaan abadi telah digelar jamuan-jamuan dari Ar-Rahman-ı Rahîm-i Zülcelali Ve'l-ikram (Sang Maha Pengasih dan Penyayang, Pemilik Keagungan dan Kemuliaan), yang rahmat dan kemurahan-Nya tak terhingga, yang menjadikan setiap musim semi dan musim panas sebagai hidangan dan memenuhinya dengan nikmat; dan pameran-pameran anugerah-Nya telah dibuka, dan ke sanalah ada pengiriman. Karena hal itu disaksikan lewat sinema iman, maka sesuai derajatnya seseorang bisa merasakan semacam kelezatan alam yang kekal. Artinya, kelezatan sejati yang tanpa derita itu hanya ada di dalam iman dan dengan iman.

Dari ribuan manfaat dan hasil yang diberikan iman bahkan di dunia ini, hanya satu saja manfaat dan kelezatannya yang akan kami jelaskan lewat sebuah perumpamaan — yang ditulis sebagai catatan kaki dalam Panduan Pemuda berkaitan dengan pembahasan kita ini. Begini:

Misalnya, ketika satu-satunya anakmu yang sangat kamu cintai sedang sekarat hampir mati, dan kamu dengan penuh putus asa memikirkan perpisahan abadi yang pedih dengannya; tiba-tiba datang seorang dokter bagaikan Nabi Khidir dan Al-Hakîm-i Lokman (Luqman Sang Ahli Hikmah), lalu meminumkan semacam ramuan penawar. Anakmu yang manis dan rupawan itu pun membuka matanya, selamat dari kematian. Kamu pasti paham betapa besar suka cita dan kelegaan yang diberikannya. Nah, begitulah: jutaan insan yang kamu cintai seperti anak itu dan yang sungguh kamu pedulikan, yang menurut pandanganmu hampir membusuk dan binasa di dalam kuburan masa lampau itu; tiba-tiba hakikat iman, bagaikan Al-Hakîm-i Lokman, memberi setitik cahaya dari jendela hati ke kuburan besar yang dikira rumah eksekusi mati itu. Dengan cahaya itu, semua yang mati hidup kembali dari ujung ke ujung. Dan dengan lisan keadaan mereka, mereka berkata: "Kami tidak mati dan tidak akan mati; kami akan berjumpa lagi dengan kalian" — dari ucapan itu kamu meraih suka cita dan kelegaan yang tak terhingga. Iman memberikan semua ini bahkan di dunia ini, dan dengan itu terbukti bahwa: hakikat iman adalah sebuah benih yang, andai ia menjelma, akan keluar darinya sebuah surga khusus; benih itu menjadi pohon tuba miliknya — begitu kataku.

Si keras kepala itu berbalik dan berkata: "Setidaknya, biar hidup kami berlalu dengan kesenangan dan kelezatan seperti binatang; kami akan hidup dengan foya-foya dan hiburan, tanpa memikirkan hal-hal rumit ini."

Aku menjawab: "Kamu tidak bisa menjadi seperti binatang. Sebab binatang tidak punya masa lalu dan masa depan. Ia tidak menerima derita dan penyesalan dari masa lalu, dan tidak pula didatangi kekhawatiran serta ketakutan dari masa depan. Ia menikmati kelezatannya secara penuh. Ia hidup dengan tenang, tidur dengan tenang. Ia bersyukur kepada Khalik-nya. Bahkan seekor binatang yang dibaringkan untuk disembelih pun tidak merasakan apa-apa. Ia hanya ingin merasakan saat pisau memotong, tapi rasa itu pun lenyap. Ia bahkan terlepas dari derita itu. Artinya, sebuah rahmat yang paling besar, sebuah kasih sayang Ilahi, adalah dengan tidak memberitahukan hal gaib dan dengan menutupi hal-hal yang akan menimpa. Khususnya bagi binatang-binatang yang tak berdosa, hal ini lebih sempurna lagi. Tapi wahai manusia, karena masa lalu dan masa depanmu — lewat akal — sedikit keluar dari kegaiban, kamu sama sekali tidak mendapat istirahat yang didapat binatang dari tertutupnya yang gaib. Penyesalan-penyesalan yang muncul dari masa lalu, perpisahan-perpisahan yang pedih, serta ketakutan dan kekhawatiran yang datang dari masa depan; semua itu menjadikan kelezatan kecilmu tak berarti apa-apa. Dari sisi kelezatan, semua itu menjatuhkanmu seratus derajat lebih rendah daripada binatang. Karena hakikatnya begini: entah kamu cabut akalmu lalu buang, jadilah binatang dan selamat — atau kamu pakai akalmu bersama iman, dengarkanlah Al-Qur'an. Raihlah kelezatan-kelezatan murni bahkan di dunia yang fana ini, seratus derajat lebih tinggi daripada binatang!.." Demikianlah aku membungkamnya.

Sekali lagi sosok yang membangkang itu berbalik dan berkata: "Setidaknya, kami akan hidup seperti orang-orang asing yang tak beragama."

Aku menjawab: "Seperti orang asing yang tak beragama pun kamu tidak bisa. Sebab kalau mereka mengingkari satu nabi, mereka masih bisa percaya kepada nabi-nabi yang lain. Kalaupun tidak mengenal para nabi, mereka masih bisa percaya kepada Allah جل جلاله. Kalau ini pun tidak mereka ketahui, mungkin masih ada pada mereka sebagian watak baik yang menjadi sumber kesempurnaan. Tapi seorang muslim, kalau ia mengingkari Nabi Akhir Zaman 'alaihishshalatu wassalam — yang paling akhir, paling agung, yang agama dan dakwahnya bersifat umum untuk semua — lalu lepas dari rantainya, maka ia tidak lagi menerima nabi mana pun, bahkan tidak menerima Allah جل جلاله. Sebab semua nabi, Allah جل جلاله, dan segala kesempurnaan itu ia kenal lewat beliau. Tanpa beliau, semua itu tidak akan tinggal di hatinya. Itulah sebabnya, sejak dahulu orang-orang dari setiap agama masuk ke dalam Islam. Dan tidak ada seorang muslim pun yang menjadi Yahudi, Majusi, atau Nasrani sejati. Yang ada, ia malah menjadi tak beragama, wataknya rusak; ia masuk ke dalam keadaan yang membahayakan tanah air dan bangsanya." Begitulah aku membuktikannya.

Sosok yang keras kepala dan membangkang itu tidak punya lagi tempat berpegang. Ia pun lenyap, pergi ke Neraka.

Nah, wahai teman-teman belajarku di Madrasah Yusufiyah ini! Karena hakikatnya begini. Dan hakikat ini sudah dibuktikan oleh Risale-i Nur dengan begitu pasti dan seterang matahari, sampai-sampai sudah dua puluh tahun ia mematahkan kekerasan hati para pembangkang dan membawa mereka kepada iman. Maka kita pun harus menempuh jalan iman dan istikamah — yang sepenuhnya bermanfaat, mudah, dan menyelamatkan, baik bagi dunia kita, masa depan kita, akhirat kita, tanah air kita, maupun bangsa kita. Waktu luang kita, alih-alih untuk lamunan yang menyesakkan, kita pakai untuk membaca surah-surah Al-Qur'an yang kita tahu, belajar dari teman-teman yang bisa menjelaskan maknanya, mengqada salat-salat wajib yang sempat tertinggal, dan saling mengambil manfaat dari akhlak baik satu sama lain — sehingga penjara ini kita ubah menjadi sebuah taman penuh berkah yang menumbuhkan tunas-tunas berwatak indah. Dengan amal-amal saleh seperti inilah kita harus berusaha agar para kepala penjara dan pihak terkait bukan menjadi petugas azab bagaikan zabaniyah (malaikat penjaga Neraka) di atas kepala para penjahat dan pembunuh, tapi justru menjadi para guru yang lurus dan pembimbing yang penuh kasih — yang bertugas menumbuhkan manusia menuju Surga di Madrasah Yusufiyah ini dan mengawasi pembinaan mereka.