Ringkasan Masalah Kedua
Risalah Buah · hlm. 3
Seperti dijelaskan dengan baik oleh Panduan Pemuda (Gençlik Rehberi) dari Risale-i Nur, kematian itu begitu pasti dan begitu jelas; sama seperti malam pasti datang sesudah hari ini, dan musim dingin pasti datang sesudah musim gugur ini, begitu juga kematian pasti datang menimpa kita. Penjara ini, seperti halnya rumah singgah sementara bagi orang-orang yang terus-menerus keluar dan masuk. Begitu juga: muka bumi ini pun adalah sebuah penginapan, tempat rombongan-rombongan yang bergerak cepat singgah semalam lalu pergi lagi di tengah perjalanan mereka. Kematian yang mengosongkan setiap kota ke kuburan seratus kali, sudah pasti punya satu maksud yang lebih besar daripada kehidupan ini. Nah, teka-teki dari hakikat yang mengerikan ini sudah dipecahkan dan disingkap oleh Risale-i Nur. Ringkasan singkatnya begini
Karena kematian tidak bisa dibunuh dan pintu kubur tidak bisa ditutup; sudah pasti, kalau ada cara untuk lepas dari tangan algojo ajal ini dan dari kurungan sendirian di alam kubur, maka itulah kekhawatiran dan urusan manusia yang paling besar, yang ada di atas segala-galanya. Ya, caranya ada — dan Risale-i Nur, dengan rahasia Al-Qur'an, sudah membuktikan cara itu secara pasti, sepasti dua kali dua sama dengan empat. Ringkasan singkatnya begini:
Kematian itu, kalau bukan i'dam-ı ebedî (hukuman mati selamanya) — yaitu tiang gantungan yang akan menggantung orang itu sekaligus semua sahabat dan kerabatnya — maka ia adalah surat izin pulang untuk pergi ke alam kekal yang lain dan untuk masuk ke istana kebahagiaan dengan membawa surat keterangan iman. Dan kubur itu, kalau bukan kurungan sendirian yang gelap dan sumur tanpa dasar, maka ia adalah pintu yang terbuka dari penjara dunia ini menuju sebuah tempat jamuan yang kekal dan bercahaya, serta menuju sebuah taman.
Hakikat ini sudah dibuktikan oleh Panduan Pemuda lewat sebuah perumpamaan. Misalnya: di halaman penjara ini dipasang tiang-tiang gantungan untuk menggantung orang, dan di balik tembok tempat tiang-tiang itu bersandar didirikan sebuah kantor lotre yang sangat besar, yang diikuti oleh seluruh dunia.
Kita lima ratus orang di penjara ini, sudah pasti tidak ada satu pun yang dikecualikan dan tidak mungkin lolos; satu per satu kita akan dipanggil ke lapangan itu. Di mana-mana diumumkan: Entah "Ayo, ambil pengumuman hukuman matimu, naiklah ke tiang gantungan," atau "Peganglah surat kurungan sendirian selamanya ini, masuklah ke pintu yang terbuka itu," atau "Kabar gembira untukmu! Tiket jutaan keping emas keluar atas namamu, ayo ambil."
Dan kita pun melihat dengan mata kepala sendiri: satu demi satu mereka naik ke tiang-tiang gantungan itu. Sebagian kita saksikan benar-benar digantung. Sebagian lagi menjadikan tiang gantungan itu sebagai anak tangga, lalu masuk ke kantor lotre di balik tembok tadi; dan lewat kabar pasti dari para petugas yang besar dan serius, hal itu kita ketahui seolah-olah melihatnya sendiri. Di saat seperti itulah, ke penjara kita ini masuklah dua rombongan.
Rombongan pertama, di tangan mereka ada alat-alat musik, minuman keras, dan — sepintas tampak — manisan halwa serta baklava yang sangat manis. Mereka berusaha menyuapkannya kepada kita. Tapi manisan itu beracun; setan-setan dari golongan manusia sudah memasukkan racun ke dalamnya.
Rombongan yang kedua, di tangan mereka ada lembar-lembar pembinaan, makanan-makanan halal, dan minuman-minuman yang berkah. Mereka memberi kita hadiah, dan dengan sepakat bersama, dengan sangat serius dan pasti mereka berkata: "Kalau hadiah-hadiah dari rombongan pertama tadi — yang diberikan untuk menguji kalian — kalian terima dan kalian makan; maka kalian akan digantung di tiang-tiang gantungan di depan mata kita ini, seperti orang-orang lain yang sudah kalian lihat. Tapi kalau hadiah-hadiah yang kami bawa dengan titah Penguasa negeri ini kalian terima sebagai ganti hadiah yang pertama, lalu kalian baca doa-doa dan wirid-wirid yang ada di lembar-lembar pembinaan itu, maka kalian akan selamat dari hukuman gantung itu. Dan yakinlah seterang siang hari, seolah melihat sendiri, bahwa di kantor lotre itu masing-masing kalian akan menerima tiket jutaan keping emas sebagai anugerah agung. Tapi kalau manisan yang haram, syubhat, dan beracun itu kalian makan, maka sampai saat kalian dibawa ke tiang gantungan pun, kalian akan terus merasakan nyeri racun itu — ini, kami dan titah-titah ini, sampaikan kepada kalian dengan pasti dan sepakat."
Nah, persis seperti perumpamaan ini: di balik tiang gantungan ajal yang setiap saat kita lihat, dari lotre takdir umat manusia, bagi ahli iman dan ahli ketaatan — dengan syarat husnul khatimah — akan keluar tiket sebuah khazanah yang kekal dan tak pernah habis; sementara bagi mereka yang terus dalam kemaksiatan, keharaman, ketiadaan keyakinan, dan kefasikan — dengan syarat tidak bertobat — dengan kemungkinan seratus persen akan keluar i'dam-ı ebedî (bagi yang tidak percaya akhirat), atau kurungan sendirian yang gelap dan selamanya (bagi yang percaya keabadian ruh tapi tetap hidup dalam kemaksiatan), beserta vonis kesengsaraan yang abadi.
Kabar ini disampaikan secara pasti — dengan kemungkinan sembilan puluh sembilan persen — oleh seratus dua puluh empat ribu nabi yang di tangan mereka ada mukjizat tak terhitung sebagai tanda pembenaran; lalu dibenarkan dan ditandatangani, dengan kasyaf (penyingkapan mata batin) dan dengan nikmat, oleh lebih dari seratus dua puluh empat juta wali (kaddasallahu asrarahum — semoga Allah جل جلاله menyucikan rahasia mereka) yang melihat jejak dan bayang-bayang kabar para nabi itu seakan di layar sinema; lalu dibuktikan secara meyakinkan — dengan dalil-dalil akal yang pasti dan hujjah-hujjah yang kuat, secara pikiran dan logika — lalu dibenarkan dan ditandatangani oleh miliaran ahli tahkik (peneliti sejati) yang datang silih berganti,(1) para mujtahid, dan para shiddiqin.
Begitulah, dengan ijmak (kesepakatan bulat) dan secara mutawatir (lewat jalur yang begitu banyak sehingga mustahil berdusta), ketiga jamaah besar ini — matahari, bulan, dan bintang-bintangnya umat manusia — ketiga golongan ahli hakikat ini, ketiga rombongan agung dan tinggi yang menjadi komandan suci umat manusia ini, lewat titah mereka menyampaikan kabar tadi. Maka orang yang tidak mau mendengar kabar mereka, yang tidak menempuh sırat-ı müstakim (jalan lurus) yang mereka tunjukkan menuju kebahagiaan abadi, yang tidak memperhitungkan kemungkinan sembilan puluh sembilan persen bahaya yang mengerikan itu — padahal di dunia, kalau ada satu saja pembawa kabar yang bilang "ada bahaya di jalan ini," ia langsung meninggalkan jalan itu dan menempuh jalan lain yang panjang — sungguh, keadaan orang itu adalah begini:
Dari dua jalan — yang lewat kabar pasti dari para pembawa kabar yang tak terhitung — ia meninggalkan jalan yang paling pendek dan paling mudah, yang seratus persen mengantar ke Surga dan kebahagiaan abadi; lalu ia malah memilih jalan yang paling penuh kesulitan, paling panjang, paling menyesakkan, yang sembilan puluh sembilan persen berujung pada penjara Neraka dan kesengsaraan yang kekal. Padahal di dunia, dari dua jalan, ia justru meninggalkan jalan pendek yang cuma punya satu persen kemungkinan bahaya dan kemungkinan dipenjara satu bulan — hanya gara-gara satu pembawa kabar yang bisa jadi bohong — lalu ia memilih jalan panjang yang tak ada untungnya, semata-mata karena dianggap tidak berbahaya. Orang malang seperti ini persis seperti orang mabuk yang gila: naga-naga mengerikan yang tampak di kejauhan dan yang siap menerkamnya tidak ia pedulikan, malah ia sibuk dengan lalat-lalat dan hanya itu yang ia anggap penting — sampai sebegitu jauh ia sudah kehilangan akal, hati, ruh, dan kemanusiaannya.
Karena keadaan yang sebenarnya memang begini.. maka kita para tahanan, untuk benar-benar membalas musibah penjara ini, harus menerima hadiah-hadiah dari rombongan kedua yang penuh berkah itu. Maksudnya: seperti halnya — gara-gara kenikmatan balas dendam yang cuma semenit, dan kenikmatan foya-foya yang cuma beberapa menit atau satu-dua jam — musibah ini sudah memasukkan kita ke penjara ini selama lima belas, lima, sepuluh, dua-tiga tahun, dan menjadikan dunia ini penjara bagi kita; maka kita pun, justru untuk melawan musibah ini, harus membalasnya sepenuhnya begini: satu-dua jam dari masa penjara kita jadikan satu-dua hari ibadah; hukuman dua-tiga tahun kita — dengan hadiah-hadiah dari rombongan yang penuh berkah itu — kita jadikan umur kekal dua puluh-tiga puluh tahun; dan hukuman sepuluh-dua puluh tahun di penjara kita jadikan sebab diampuninya kita dari penjara Neraka yang jutaan tahun — sehingga, melawan tangisan dunia kita yang fana, kita buat tertawa kehidupan kita yang kekal. Dan kita harus menjadikan penjara ini tempat pembinaan, lalu berusaha menjadi orang-orang yang terbina, aman, dan bermanfaat bagi tanah air dan bangsa kita. Dan biarlah para petugas, kepala, dan pengelola penjara pun melihat orang-orang yang mereka kira penjahat, perampok, gelandangan, pembunuh, pelaku maksiat, dan pembahaya negara itu, kini menjadi murid-murid yang belajar di sebuah ruang belajar yang penuh berkah — dan dengan bangga, biarlah mereka bersyukur kepada Allah جل جلاله.
(1) Salah satu dari para ahli tahkik itu adalah Risale-i Nur. Sudah dua puluh tahun, bagian-bagiannya yang membungkam para filsuf paling keras kepala dan para zindik (penentang agama) yang membangkang itu terpampang nyata. Siapa pun bisa membacanya, dan tak seorang pun membantah.