Risale-i NurRisalah Buah

Masalah Kelima

Risalah Buah · hlm. 13

Seperti dijelaskan dalam Panduan Pemuda; tidak ada keraguan sedikit pun bahwa masa muda pasti akan pergi. Sepasti musim panas memberi tempat kepada musim gugur lalu musim dingin, dan sepasti siang berganti menjadi sore lalu malam, masa muda pun pasti akan berganti menjadi masa tua dan kematian. Kalau masa muda yang fana dan sementara itu dihabiskan dengan menjaga kehormatan diri untuk kebaikan-kebaikan — dalam wilayah istikamah — maka semua titah samawi mengabarkan kabar gembira bahwa dengannya seseorang akan meraih masa muda yang kekal dan abadi.

Tapi kalau dihabiskan untuk foya-foya, maka seperti halnya sebuah pembunuhan gara-gara amarah semenit yang membuat seseorang menanggung hukuman penjara jutaan menit; begitu juga kesenangan dan kelezatan masa muda yang berada di wilayah yang tidak halal. Selain mendatangkan tanggung jawab di akhirat, azab kubur, penyesalan karena lenyapnya kelezatan itu, dosa-dosa, dan hukuman-hukuman duniawi — di dalam kelezatan itu sendiri pun ada derita yang lebih besar daripada kelezatannya; dan setiap pemuda yang berakal akan membenarkan hal ini lewat pengalaman.

Misalnya, dalam cinta yang haram ada derita cemburu, derita perpisahan, dan derita karena cinta itu tidak terbalas — dengan banyak gangguan seperti ini, kelezatan kecil itu berubah menjadi madu beracun. Dan kalau kamu ingin tahu bahwa karena penyalahgunaan masa muda itu mereka akan jatuh ke rumah sakit lewat penyakit, ke penjara lewat tindakan ugal-ugalan, dan ke kedai-kedai minuman, tempat-tempat foya-foya, atau ke kuburan lewat kesusahan yang lahir dari laparnya dan tak bertugasnya hati dan ruh — maka pergilah, dan tanyakanlah kepada rumah sakit, penjara, kedai minuman, dan pekuburan. Sudah pasti, kebanyakannya kamu akan mendengar keluh "aduh", tangisan, dan penyesalan akibat tamparan-tamparan yang datang sebagai hukuman atas penyalahgunaan masa muda para pemuda, tindakan ugal-ugalan mereka, dan kesenangan-kesenangan yang tidak halal.

Tapi kalau masa muda dijalani dalam wilayah istikamah, ia menjadi sebuah nikmat Ilahi yang sangat manis dan indah, serta sarana kebaikan yang manis dan kuat — dan semua kitab dan titah samawi, terutama Al-Qur'an dengan ayat-ayatnya yang sangat pasti, mengabarkan dan memberi kabar gembira bahwa ia akan berbuah masa muda yang sangat cemerlang dan kekal di akhirat. Karena hakikatnya begini. Dan karena wilayah yang halal sudah cukup untuk kesenangan. Dan karena satu jam kelezatan di wilayah yang haram kadang membuat seseorang menanggung hukuman penjara satu tahun bahkan sepuluh tahun. Maka sudah pasti, sebagai syukur atas nikmat masa muda, nikmat yang manis itu harus dan wajib dihabiskan dalam menjaga kehormatan diri dan dalam istikamah.

(*) Catatan dalam tanda kurung ini berasal dari tahun 1946.