Masalah Keenam
Risalah Buah · hlm. 15
Ini adalah sebuah isyarat singkat kepada satu saja dari ribuan bukti menyeluruh tentang rukun iman billah (iman kepada Allah جل جلاله) — rukun yang penjelasan dan bukti-buktinya yang pasti dan tak terhitung tersebar di banyak tempat dalam Risale-i Nur.
Di Kastamonu, sebagian murid sekolah menengah datang kepadaku. Mereka berkata: "Kenalkanlah Khalik kami kepada kami; guru-guru kami tidak berbicara tentang Allah جل جلاله." Aku berkata: Setiap ilmu di antara ilmu-ilmu yang kalian pelajari, dengan bahasanya yang khas, terus-menerus berbicara tentang Allah جل جلاله dan mengenalkan Sang Khalik. Bukan guru-gurunya, tapi ilmu-ilmu itulah yang harus kalian dengarkan!
Misalnya: seperti halnya sebuah apotek yang sempurna, yang di setiap toplesnya ada ramuan dan obat penawar yang hidup, yang ditakar dengan timbangan yang menakjubkan dan sangat teliti. Tanpa ragu, apotek itu menunjukkan adanya seorang apoteker yang sangat ahli, seorang kimiawan, lagi bijaksana. Begitu juga, apotek bola bumi: dari sisi ramuan dan obat penawar yang hidup di dalam toples-toples empat ratus ribu jenis tumbuhan dan hewan, sebesar dan sesempurna apa apotek ini melampaui apotek di pasar tadi — sebesar dan sepasti itu pula, dengan ukuran ilmu kedokteran yang kalian pelajari, ia menunjukkan dan mengenalkan Al-Hakîm-i Zülcelal (Sang Maha Bijaksana, Pemilik Keagungan), yaitu apoteker dari apotek raksasa bola bumi ini — bahkan kepada mata yang buta sekalipun.
Dan misalnya: seperti halnya sebuah pabrik menakjubkan yang menenun ribuan macam kain dari satu bahan yang sederhana. Tanpa ragu, ia mengenalkan adanya seorang pemilik pabrik dan seorang masinis yang ahli. Begitu juga, mesin Rabbani yang bergerak — yang disebut bola bumi — yang berkepala ratusan ribu, dan di setiap kepalanya ada ratusan ribu pabrik yang sempurna: sebesar dan sesempurna apa ia melampaui pabrik buatan manusia ini, sebesar itu pula, dengan ukuran ilmu permesinan yang kalian pelajari, ia memberitahukan dan mengenalkan sang perancang dan pemilik bola bumi.
Dan misalnya: seperti halnya sebuah gudang, lumbung perbekalan, dan toko yang sangat sempurna — yang mendatangkan seribu satu macam bahan makanan dari sekitarnya, lalu menyusun dan menyiapkannya dengan rapi di dalamnya — tanpa ragu menunjukkan adanya seorang pemilik, penanggung jawab, dan petugas perbekalan serta bahan makanan yang luar biasa. Begitu juga: lumbung perbekalan Ar-Rahmani yang disebut bola bumi ini — yang dalam satu tahun mengelilingi sebuah orbit sepanjang dua puluh empat ribu tahun dengan teratur, yang menampung ratusan ribu golongan makhluk yang masing-masing meminta perbekalan berbeda-beda, yang dalam perjalanannya singgah di setiap musim, lalu mengisi musim semi bagaikan satu gerbong besar dengan ribuan hidangan yang berbeda-beda, lalu membawanya kepada makhluk-makhluk hidup malang yang kehabisan perbekalan di musim dingin — bahtera Subhani ini, gudang dan toko Rabbani yang mengangkut seribu satu macam perangkat, barang, dan paket-paket makanan kaleng ini: sebesar dan sesempurna apa ia melampaui gudang dan toko tadi, sepasti dan sebesar itu pula, dengan ukuran ilmu perbekalan yang kalian pelajari atau akan pelajari, ia memberitahukan, mengenalkan, dan membuat kita mencintai pemilik, pengatur, dan penata gudang bola bumi ini.
Dan seperti halnya: sebuah pasukan yang terdiri dari empat ratus ribu bangsa, yang setiap bangsanya berbeda perbekalan yang dimintanya, berbeda senjata yang dipakainya, berbeda pakaian yang dikenakannya, berbeda aturannya, dan berbeda pemulangannya; lalu seorang komandan pasukan itu yang penuh mukjizat, seorang diri memberi semua perbekalan yang berbeda-beda dari semua bangsa yang berbeda-beda itu, beserta bermacam senjata, pakaian, dan perangkat mereka — tanpa melupakan satu pun dan tanpa keliru sedikit pun. Pasukan dan markas yang menakjubkan itu, tanpa ragu dan sejelas-jelasnya, menunjukkan komandan luar biasa itu, dan membuatnya dicintai dengan penuh kekaguman. Persis begitu juga: di markas muka bumi, dan di sebuah pasukan Subhani yang baru — yang setiap musim semi kembali dipanggil bertugas — pakaian, perbekalan, senjata, latihan, dan pemulangan yang bermacam-macam dari empat ratus ribu jenis bangsa tumbuhan dan hewan, semuanya diberikan dengan sangat sempurna dan teratur, tanpa melupakan satu pun dan tanpa keliru sedikit pun, oleh satu Komandan Agung saja. Markas musim semi bola bumi ini: sebesar dan sesempurna apa ia melampaui pasukan dan markas manusia tadi, sebesar itu pula, dengan ukuran ilmu kemiliteran yang akan kalian pelajari, kepada orang-orang yang teliti dan berakal ia memberitahukan Hâkim, Rabb, Penata, dan Kumandan-ı Akdes (Komandan Yang Maha Suci) bola bumi ini dengan penuh keheranan dan pengagungan, lalu membuat-Nya dicintai dengan tahmid dan tasbih.
Dan seperti halnya: di sebuah kota menakjubkan, jutaan lampu listrik bergerak mengelilingi setiap tempat, dan bahan bakarnya tidak pernah habis. Lampu-lampu listrik dan pabriknya yang seperti itu, tanpa ragu dan sejelas-jelasnya, mengenalkan — dengan penuh keheranan dan pujian — seorang tukang ahli yang penuh mukjizat dan seorang ahli listrik yang luar biasa kuat, yang mengatur listrik, membuat lampu-lampu yang bergerak itu, mendirikan pabriknya, dan mendatangkan bahan-bahan bakarnya; lalu membuatnya dicintai dengan sorak "hidup!". Persis begitu juga: di kota alam ini, lampu-lampu bintang di atap istana dunia — sebagiannya, kalau menurut kata ilmu kosmografi, seribu kali lebih besar daripada bola bumi dan bergerak tujuh puluh kali lebih cepat daripada peluru meriam — namun begitu, tidak merusak keteraturannya, tidak bertabrakan satu sama lain, tidak padam, dan bahan bakarnya tidak habis. Menurut kata ilmu kosmografi yang kalian pelajari, matahari kita — yang lebih dari satu juta kali lebih besar daripada bola bumi, yang berumur lebih dari satu juta tahun, dan yang hanya menjadi sebuah lampu dan tungku di sebuah penginapan Ar-Rahmani — supaya nyalanya terus berlangsung, setiap hari perlu minyak sebanyak lautan-lautan bola bumi, batu bara sebanyak gunung-gunungnya, atau tumpukan kayu sebanyak seribu bumi, agar ia tidak padam. Dan lampu-lampu listrik serta pengaturan istana dunia di kota alam semesta yang megah ini — yang dengan jari-jari cahaya menunjukkan sebuah kekuasaan dan kerajaan tak terhingga, yang menyalakan matahari itu dan bintang-bintang tinggi semacamnya tanpa minyak, tanpa kayu, tanpa batu bara, lalu tidak memadamkannya, mengelilingkannya bersama-sama dengan cepat, dan tidak menabrakkannya satu sama lain — sebesar dan sesempurna apa ia melampaui contoh tadi, sebesar itu pula, dengan ukuran ilmu kelistrikan yang kalian pelajari atau akan pelajari, ia mengenalkan As-Sultan, Münevvir, Müdebbir, dan As-Sâni' (Sang Raja, Sang Pemberi Cahaya, Sang Penata, Sang Pencipta) dari pameran agung alam semesta ini — dengan menjadikan bintang-bintang yang bercahaya itu sebagai saksi. Lalu, dengan tasbih dan takdis, ia membuat-Nya dicintai dan disembah.
Dan misalnya: seperti halnya andai ditemukan sebuah kitab yang di satu barisnya tertulis sebuah kitab dengan halus, dan di setiap katanya tertulis sebuah surah Al-Qur'an dengan pena yang halus — sebuah himpunan menakjubkan yang sangat sarat makna, yang seluruh persoalannya saling menguatkan, dan yang menunjukkan penyalin serta penulisnya sebagai sosok yang luar biasa ahli dan berkemampuan; tanpa ragu, seterang siang, ia memberitahukan dan mengenalkan penyalin dan pengarangnya beserta segala kesempurnaan dan kepiawaiannya. Ia membuat orang memuji dengan kalimat "Mâsyâallah, Bârakallah". Persis begitu juga: kitab besar alam semesta ini — yang di muka bumi sebagai satu halamannya saja, dan di musim semi sebagai satu lembarnya saja, sebuah pena menuliskan tiga ratus ribu golongan tumbuhan dan hewan yang berkedudukan seperti tiga ratus ribu kitab yang berbeda-beda, bersama-sama, satu di dalam yang lain, tanpa salah, tanpa keliru, tanpa tercampur, tanpa bingung; dengan sempurna dan teratur; dan kadang menuliskan sebuah kasidah di satu kata yang sebesar pohon, lalu menuliskan daftar isi lengkap sebuah kitab di satu titik yang sekecil benih — pena yang bekerja begitu kita lihat dengan mata kepala sendiri. Himpunan alam semesta yang tak terhingga sarat maknanya dan yang di setiap katanya tersimpan banyak hikmah ini, Al-Qur'an Terbesar Alam yang berwujud nyata ini: sebesar, sesempurna, dan sesarat makna apa ia melampaui kitab dalam contoh tadi, sebesar itu pula, ilmu hakikat benda yang kalian pelajari, beserta ilmu membaca dan ilmu menulis yang langsung kalian geluti di sekolah, dengan ukurannya yang luas dan mata teropongnya, mengenalkan sang pelukis dan penulis kitab alam semesta ini beserta kesempurnaan-Nya yang tak terhitung. Ia memberitahukan-Nya dengan kalimat "Allahu Akbar", memperkenalkan-Nya dengan takdis "Subhanallah", dan membuat-Nya dicintai dengan pujian "Alhamdulillah".
Nah, dengan menganalogikan kepada ilmu-ilmu ini, setiap ilmu dari ratusan cabang ilmu — dengan ukurannya yang luas, cerminnya yang khusus, mata teropongnya, dan pandangannya yang penuh pelajaran — memberitahukan Al-Hâlık-ı Zülcelal (Sang Pencipta, Pemilik Keagungan) alam semesta ini beserta nama-nama-Nya; lalu mengenalkan sifat-sifat dan kesempurnaan-Nya.
Nah, justru untuk mengajarkan bukti yang disebut tadi — yang merupakan sebuah bukti keesaan yang megah dan cemerlang — itulah sebabnya Al-Qur'an Mu'cizü'l-Beyan (Al-Qur'an yang penjelasannya penuh mukjizat) dengan banyak pengulangan, paling sering mengenalkan Khalik kami kepada kami lewat ayat-ayat: رَبُّ السَّمٰوَاتِ وَ الْاَرْضِ dan خَلَقَ السَّمٰوَاتِ وَالْاَرْضَ — begitu kataku kepada para pemuda sekolah itu. Mereka pun menerima dan membenarkannya sepenuhnya, lalu berkata: "Syukur tak terhingga kepada Rabb kami, kami telah menerima sebuah pelajaran yang benar-benar suci dan murni hakikat. Semoga Allah جل جلاله meridaimu." Aku pun berkata:
Manusia itu sebuah mesin hidup yang akan tersakiti oleh ribuan macam derita dan akan menikmati ribuan macam kelezatan; ia makhluk malang yang — beserta kelemahannya yang amat sangat — punya musuh lahir dan batin yang tak terhitung, dan — beserta kefakirannya yang tak terhingga — punya kebutuhan lahir dan batin yang tak terhitung, serta terus-menerus menerima tamparan kelenyapan dan perpisahan. Tapi ketika ia tiba-tiba, lewat iman dan ibadah, terhubung kepada Padişah-ı Zülcelal (Sang Raja, Pemilik Keagungan) seperti ini — lalu menemukan satu titik sandaran untuk menghadapi semua musuhnya, dan satu titik tempat memohon pertolongan untuk semua kebutuhannya — maka, seperti setiap orang berbangga dengan kehormatan dan kedudukan tuan yang menaunginya, ia pun, kalau ia beriman dan terhubung kepada raja yang Maha Kuasa lagi Maha Penyayang tak terhingga seperti itu, lalu masuk ke dalam pengabdian kepada-Nya, dan mengubah pengumuman hukuman mati ajal menjadi surat izin pulang bagi dirinya — coba bandingkan, betapa ia bisa berbangga dengan penuh kepuasan, rasa terima kasih, dan rasa syukur.
Seperti yang kukatakan kepada para pemuda sekolah itu, kepada para tahanan yang tertimpa musibah pun aku katakan berulang-ulang: Orang yang mengenal-Nya dan menaati-Nya, sekalipun ada di dalam penjara, ia tetap berbahagia. Orang yang melupakan-Nya, sekalipun ada di dalam istana, ia tetap di dalam penjara, ia celaka. Bahkan seorang teraniaya yang berbahagia, ketika hendak dihukum mati, berkata kepada para zalim yang celaka: "Aku bukan sedang dihukum mati. Tapi aku justru sedang pergi menuju kebahagiaan dengan surat izin pulang. Hanya saja, karena aku melihat kalian terhukum dengan i'dam-ı ebedî (hukuman mati selamanya), aku pun membalas dendam sepenuhnya kepada kalian." Sambil mengucap Lâ ilâha illallâh, ia menyerahkan ruhnya dengan penuh suka cita.
سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَٓا اِلَّا مَا عَلَّمْتَنَٓا اِنَّكَ اَنْتَ الْعَل۪يمُ الْحَك۪يمُ