Risale-i NurRisalah Buah

Catatan Kedua

Risalah Buah · hlm. 67

Sesudah pembebasan kami dari penjara Denizli, aku duduk di lantai atas Hotel Kota (Şehir Oteli) yang terkenal. Di hadapanku, di kebun-kebun yang indah, banyak pohon poplar — bagai sebuah lingkaran zikir — dengan cara yang sangat lembut dan manis: baik pohon-pohonnya, dahannya, maupun daunnya, karena sentuhan angin, menari dengan gerak yang penuh gairah dan pikat. Semua itu menyentuh hatiku yang sedih dan berduka karena perpisahan dengan saudara-saudaraku dan karena aku tinggal sendirian. Tiba-tiba teringatlah musim gugur dan musim dingin, lalu sebuah kelalaian menekanku. Aku begitu mengasihani pohon-pohon poplar yang halus dan makhluk-makhluk hidup yang bergoyang penuh suka cita itu, sampai mataku berlinang air mata. Dengan teringat serta terasanya ketiadaan dan perpisahan di balik tabir alam semesta yang berhias, kesedihan perpisahan dan kelenyapan sepenuh alam semesta pun berkumpul di kepalaku. Tiba-tiba, cahaya yang dibawa hakikat Muhammadiyah ('alaihishshalâtu wassalâm) datang menolong. Ia mengubah kesedihan dan duka yang tak terhingga itu menjadi suka cita. Bahkan, atas pertolongan dan penghiburan dari cahaya itu — yang hanya di saat itu, dalam keadaan itu, menyentuhku dari sejuta karunianya, seperti pada setiap orang dan setiap ahli iman — aku berterima kasih untuk selamanya kepada Dzat Muhammadiyah ('alaihishshalâtu wassalâm). Begini:

Pandangan kelalaian itu menampilkan makhluk-makhluk halus yang berkah itu seolah muncul tanpa tugas, tanpa hasil, dalam satu musim saja; dan menampilkan gerak mereka bukan dari kegembiraan, tapi seolah dari ketiadaan dan perpisahan, bergetar lalu jatuh ke kehampaan. Hal itu begitu menyentuh urat-uratku yang menjadi sumber cinta pada kekekalan, cinta pada keindahan, cinta pada keberadaan, kasih sesama jenis, dan keterikatan pada kehidupan — seperti pada setiap orang — sampai-sampai ia mengubah dunia menjadi semacam neraka maknawi dan akal menjadi alat penyiksa. Di saat itulah, cahaya yang dibawa Muhammad 'alaihishshalâtu wassalâm sebagai hadiah bagi manusia menyingkap tabir; lalu di tempat hukuman mati, ketiadaan, kehampaan, ketiadaan tugas, kesia-siaan, perpisahan, dan kefanaan, ia menunjukkan bahwa setiap pohon poplar itu — sebanyak jumlah daunnya — punya hikmah, makna, serta hasil dan tugas yang, seperti dibuktikan di Risale-i Nur, terbagi menjadi tiga bagian:

Hasil bagian pertama mengarah kepada nama-nama As-Sâni'-i Zülcelal (Sang Pencipta Pemilik Keagungan). Misalnya: seperti halnya seorang tukang membuat sebuah mesin yang luar biasa; semua orang yang mengagumi mesin itu bertepuk tangan sambil berkata kepada sang tukang, "Mâsyâallah, Bârakallah." Begitu juga: mesin itu pun, dengan menampilkan hasil-hasil yang dimaksud darinya dengan tepat, lewat lisan keadaannya memberi selamat dan bertepuk tangan kepada tukangnya. Setiap makhluk hidup dan setiap benda adalah mesin seperti itu, yang bertepuk tangan memberi selamat kepada tukangnya.

Adapun hikmah bagian kedua mengarah kepada pandangan makhluk hidup dan makhluk berakal. Ia menjadi bahan renungan yang manis, sebuah kitab makrifat bagi mereka. Ia meninggalkan makna-maknanya di dalam benak makhluk berakal, dan bentuk-bentuknya di dalam daya ingat mereka, di papan-papan misal, dan di buku-buku alam gaib — di dalam lingkaran keberadaan; lalu meninggalkan alam syahadah, menarik diri ke alam gaib. Artinya, ia meninggalkan sebuah wujud lahir, lalu meraih banyak wujud maknawi, gaib, dan ilmi. Ya, karena Allah جل جلاله ada dan ilmu-Nya meliputi segala sesuatu; maka sudah pasti ketiadaan, hukuman mati, kehampaan, kepunahan, dan kefanaan — dari sisi hakikat — tidak ada di dunia ahli iman; sementara dunia para pengingkar yang kafir penuh dengan ketiadaan, perpisahan, kehampaan, dan kefanaan. Nah, sebuah peribahasa yang beredar di lisan semua orang mengajarkan hakikat ini, katanya: "Bagi siapa yang ada Allah جل جلاله, baginya segala sesuatu ada; dan bagi siapa yang tak ada Allah جل جلاله, baginya segala sesuatu tak ada, hampa."

Kesimpulannya: seperti halnya iman menyelamatkan manusia dari hukuman mati selamanya di saat kematian; begitu juga ia menyelamatkan dunia khusus setiap orang dari hukuman mati dan dari gelapnya kehampaan. Sementara kekufuran, terutama kalau ia kekufuran mutlak; menghukum mati manusia itu sekaligus dunia khususnya dengan kematian, lalu melemparkannya ke dalam gelapnya neraka maknawi. Ia mengubah kelezatan hidupnya menjadi racun-racun pahit. Semoga telinga orang-orang yang lebih memilih kehidupan dunia daripada akhiratnya berdenging! Datanglah, carilah sebuah jalan keluar untuk ini, atau masuklah ke dalam iman. Selamatkanlah diri kalian dari kerugian yang dahsyat ini!

سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَٓا اِلَّا مَا عَلَّمْتَنَٓا اِنَّكَ اَنْتَ الْعَل۪يمُ الْحَك۪يمُ

Saudaramu yang sangat membutuhkan doa kalian dan sangat merindukan kalian Said Nursî