Masalah Kesepuluh
Risalah Buah · hlm. 55
Bunga Emirdağ Sebuah jawaban yang sangat kuat terhadap keberatan-keberatan atas pengulangan yang ada di Al-Qur'an.
Saudara-saudaraku yang mulia dan setia!
Memang, masalah ini menjadi kusut dan kurang indah karena keadaanku yang berantakan. Tapi di balik ungkapan yang kusut itu, aku dengan pasti mengetahui adanya semacam kemukjizatan yang sangat berharga. Sayangnya, aku tak mampu mengungkapkannya. Sekalipun ungkapannya redup, karena ia berkaitan dengan Al-Qur'an, ia sekaligus sebuah ibadah tafakur dan sebuah wadah bagi permata yang suci, tinggi, dan cemerlang. Janganlah dilihat pakaiannya yang koyak, tapi lihatlah berlian di tangannya. Kalau cocok, jadikanlah ia "Masalah Kesepuluh"; kalau tidak, terimalah ia sebagai sebuah surat balasan atas surat-surat ucapan selamat kalian. Aku menulisnya dalam keadaan sangat sakit, berantakan, dan kekurangan gizi, dalam satu-dua hari di bulan Ramadan, karena terpaksa, dengan sangat padat dan singkat — memasukkan banyak sekali hakikat dan beberapa bukti ke dalam satu kalimat. Harap maklum.(1)
Saudara-saudaraku yang mulia dan setia!
Ketika membaca Al-Qur'an Mu'cizü'l-Beyan di bulan Ramadan yang mulia, setiap kali datang salah satu dari tiga puluh tiga ayat yang isyaratnya kepada Risale-i Nur dijelaskan di Cahaya Pertama (Birinci Şuâ), aku memperhatikan bahwa: halaman, lembar, dan kisah ayat itu pun, dari sisi mengambil pelajaran dari sebuah kisah, sampai derajat tertentu mengarah kepada Risale-i Nur dan murid-muridnya. Khususnya ayatun-nur dari Surah An-Nur — seperti ia menunjuk Risale-i Nur dengan sepuluh jari, ayat kegelapan (ayat-ı zulümat) di belakangnya pun menunjuk tepat kepada para penentangnya dan memberi pelajaran yang lebih. Seolah-olah kedudukan itu keluar dari sifat khusus lalu menjadi menyeluruh, dan aku merasakan bahwa di abad ini, salah satu wujud utuh dari yang menyeluruh itu adalah Risale-i Nur dan murid-muridnya.
Ya, seruan Al-Qur'an — dengan keluasan, ketinggian, dan keliputan yang ia ambil: pertama, dari kedudukan luas rububiyah umum Mütekellim-i Ezelî (Sang Maha Berfirman Yang Azali); dan dari kedudukan luas Dzat (Nabi) yang menjadi lawan bicara atas nama umat manusia, bahkan atas nama alam semesta; dan dari kedudukan yang sangat luas dalam membimbing seluruh umat manusia di segala abad; dan dari kedudukan luas penjelasan yang sangat tinggi dan meliputi tentang hukum-hukum Ilahi mengenai rububiyah Khalik Alam Semesta atas dunia dan akhirat, bumi dan langit, azali dan abadi, serta pengaturan semua makhluk — seruan itu menunjukkan sebuah kemukjizatan dan keluasan yang begitu tinggi, sampai-sampai derajat lahir dan sederhananya, yang membelai pemahaman sederhana golongan awam — golongan paling banyak di antara pendengar pelajaran Al-Qur'an — pun tetap membuat golongan yang paling tinggi ikut sepenuhnya mengambil bagian. Seolah-olah ia bukan sekadar sebuah pelajaran dari sebuah kisah dan sebuah ibrah dari sebuah cerita sejarah, tapi justru — sebagai wujud-wujud dari sebuah prinsip menyeluruh — ia turun segar dengan menyapa setiap abad dan setiap golongan. Dan khususnya, dengan banyak mengulang اَلظَّالِم۪ينَ اَلظَّالِم۪ينَ, dengan keras menjelaskan ancaman serta musibah langit dan bumi sebagai hukuman kezaliman mereka, ia membuat kezaliman abad ini yang tak ada bandingnya dipandang lewat azab yang menimpa kaum 'Âd, Tsamud, dan Fir'aun; dan memberi penghiburan kepada ahli iman yang teraniaya lewat keselamatan para nabi seperti Ibrahim ('alaihissalam) dan Musa ('alaihissalam).
Ya, seluruh masa lampau, kurun, dan abad yang sudah mati — yang dalam pandangan kelalaian dan kesesatan tampak sebagai sebuah negeri ketiadaan yang liar dan dahsyat, sebuah kuburan yang pedih dan binasa — Al-Qur'an Mu'cizü'l-Beyan menampilkannya sebagai lembar-lembar ibrah yang hidup dan sebuah alam menakjubkan yang penuh ruh dari ujung ke ujung, sebuah negeri Rabbani yang ada dan berhubungan dengan kita; lalu, bagai layar sinema, kadang membawa kita ke masa-masa itu, kadang membawa masa-masa itu ke sisi kita, lalu menampilkannya kepada setiap abad dan setiap golongan serta memberi pelajaran dengan kemukjizatan yang tinggi. Dengan kemukjizatan yang sama pula, alam semesta ini — yang dalam pandangan kesesatan tampak beku, berantakan, mati, sebuah belantara liar tak terhingga yang berguling dalam perpisahan dan kelenyapan — Al-Qur'an menampilkannya sebagai sebuah kitab Samadani, sebuah kota Ar-Rahmani, sebuah galeri karya seni Rabbani; lalu menghidupkan benda-benda mati itu, membuat mereka saling berbicara dalam rupa petugas, membuat mereka saling berlari menolong satu sama lain, dan memberi pelajaran hikmah yang sejati, bercahaya, dan penuh kelezatan kepada manusia, jin, serta malaikat. Al-Qur'an Yang Agung ini sudah pasti meraih keistimewaan-keistimewaan suci seperti: adanya sepuluh, seratus, kadang seribu, bahkan ribuan pahala di setiap hurufnya; ketidakmampuan seluruh jin dan manusia — andai berkumpul — untuk mendatangkan tandingannya; percakapannya yang tepat pada tempatnya dengan seluruh umat manusia dan alam semesta; tertulisnya ia dengan penuh kelezatan di hati jutaan penghafal setiap zaman; tidak membosankannya ia meski dibaca berulang-ulang dan berkali-kali; tertanamnya ia dengan sempurna di kepala anak-anak yang halus dan sederhana meski banyak tempat serta kalimat yang mirip; dan terdengar enak bagai air zamzam di telinga orang sakit, orang yang mudah tersentuh oleh sedikit kata, dan orang yang sedang sekarat. Dan ia membuat murid-muridnya meraih kebahagiaan dua alam. Dan dengan rahasia menjaga sepenuhnya derajat ummi (buta huruf) sang penerjemahnya (Nabi), tanpa memberi peluang bagi kepura-puraan, kepalsuan, dan pamer sedikit pun — dengan hikmah menunjukkan kefasihan fitrinya dan bahwa ia datang langsung dari langit, serta membelai pemahaman sederhana golongan awam yang paling banyak itu lewat penurunan gaya bahasa — ia paling banyak membuka lembar-lembar yang paling nyata dan jelas seperti langit dan bumi, lalu mengajarkan mukjizat kekuasaan-Nya yang luar biasa dan baris-baris hikmah-Nya yang sarat makna di balik hal-hal biasa itu; dan dengan begitu ia menunjukkan sebuah kemukjizatan yang indah dalam kelembutan bimbingan.
Dengan rahasia memberitahukan bahwa ia juga sebuah kitab doa dan seruan, zikir dan tauhid — yang menuntut pengulangan — dengan pengulangannya yang indah dan manis, ia menyampaikan banyak makna berbeda dalam satu kalimat dan satu kisah kepada golongan-golongan pendengar yang berbeda-beda. Dan dengan rahasia memberitahukan bahwa hal-hal yang paling kecil dan tak penting pun berada dalam pandangan rahmat serta lingkaran pengaturan dan kehendak-Nya — dalam mendirikan Islam dan menyusun syariat, dengan memperhatikan peristiwa-peristiwa kecil para sahabat pun; sebab di dalamnya ada prinsip-prinsip menyeluruh, dan dalam mendirikan Islam serta syariat yang bersifat umum, peristiwa-peristiwa kecil itu berkedudukan sebagai benih yang memberi banyak buah penting — ia pun menunjukkan semacam kemukjizatannya.
Ya, dengan alasan berulangnya kebutuhan dan perlunya pengulangan; sebagai jawaban atas banyak pertanyaan yang berulang dalam kurun dua puluh tahun; dengan memberi pelajaran kepada golongan-golongan yang berbeda-beda; dan dalam mendirikan sebuah revolusi luar biasa yang tak terhingga, dahsyat, dan luas — yang akan memecah-mecah alam semesta yang besar ini, mengubah bentuknya di hari kiamat, mengangkat dunia lalu mendirikan akhirat yang agung sebagai gantinya; yang akan membuktikan bahwa semua yang kecil dan yang menyeluruh, dari atom sampai bintang, berada dalam genggaman serta pengaturan satu Dzat saja; dan yang akan menunjukkan murka Ilahi terhadap kezaliman umat manusia yang membuat alam semesta, bumi, langit, dan unsur-unsur menjadi marah, demi tujuan penciptaan alam semesta — mengulang beberapa kalimat yang sekuat ribuan kesimpulan, dan sebagian ayat yang merupakan hasil dari dalil-dalil tak terhingga, bukan sebuah cacat, tapi justru sebuah kemukjizatan yang sangat kuat, sebuah balaghah (keindahan dan ketepatan bahasa) yang sangat tinggi, dan sebuah keindahan serta kefasihan bahasa yang sangat sesuai dengan tuntutan keadaan.
Misalnya: kalimat "Bismillâhirrahmânirrahîm" — yang meski satu ayat, terulang seratus empat belas kali — seperti dijelaskan di Kilau Keempat Belas (Ondördüncü Lem'a) Risale-i Nur, adalah sebuah hakikat yang mengikat Arasy dengan bumi, menerangi alam semesta, dan yang setiap menit dibutuhkan setiap orang; sampai-sampai andai diulang jutaan kali pun, kebutuhan kepadanya tetap ada. Ia bukan hanya seperti roti yang dibutuhkan setiap hari, tapi seperti udara dan cahaya yang dibutuhkan dan dirindukan setiap menit.
Dan misalnya: ayat اِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَز۪يزُ الرَّح۪يمُ yang terulang delapan kali di Surah طٰسٓمٓ — dengan mengulang ayat yang sekuat ribuan hakikat itu, demi tujuan penciptaan alam semesta dan atas nama rububiyah umum, tentang keselamatan para nabi serta azab kaum-kaum yang dikisahkan di surah itu — untuk memberi pelajaran bahwa keizzahan Rabbani menuntut azab kaum-kaum zalim itu dan kasih sayang Ilahi menuntut keselamatan para nabi: andai diulang ribuan kali pun, kebutuhan dan kerinduan kepadanya tetap ada, dan ia sebuah balaghah tinggi yang penuh kemukjizatan sekaligus keringkasan.
Dan misalnya: ayat فَبِاَىِّ اٰلَٓاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ yang terulang di Surah Ar-Rahman, dan ayat وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِلْمُكَذِّب۪ينَ di Surah Al-Mursalat — dua ayat ini menyerukan dengan penuh ancaman kepada abad-abad, bumi, dan langit tentang kekufuran, keingkaran, kezaliman jin dan manusia, serta pelanggaran mereka atas hak semua makhluk — kekufuran yang membuat alam semesta marah, bumi dan langit murka, merusak hasil-hasil penciptaan alam, dan menyambut keagungan kerajaan Ilahi dengan pengingkaran serta penghinaan. Dua ayat yang berkaitan dengan ribuan hakikat dan sekuat ribuan persoalan seperti ini, andai diulang ribuan kali pun dalam sebuah pelajaran umum, kebutuhan kepadanya tetap ada, dan ia sebuah kemukjizatan yang penuh keagungan sekaligus sebuah keringkasan balaghah yang penuh keindahan.
Dan misalnya: dalam munajat Nabi bernama Cevşenü'l-Kebir — yang merupakan semacam munajat sejati dan utuh dari Al-Qur'an dan semacam ringkasan yang lahir darinya — kalimat سُبْحَانَكَ يَا لَٓا اِلٰهَ اِلَّٓا اَنْتَ الْاَمَانُ الْاَمَانُ خَلِّصْنَا وَ اَجِرْنَا وَ نَجِّنَا مِنَ النَّارِ yang terulang seratus kali: karena ia mengandung tauhid — hakikat terbesar bagi alam semesta; dan tasbih serta takdis — tugas terpenting dari tiga tugas agung makhluk terhadap rububiyah; dan selamat dari kesengsaraan abadi — persoalan paling dahsyat umat manusia; serta hasil paling perlu dari ibadah dan kelemahan manusia — maka andai diulang ribuan kali pun, itu masih sedikit.
Nah — seperti sebagian ibadah yang pengulangannya disunahkan, misalnya tasbih dalam salat — pengulangan-pengulangan Al-Qur'an pun mengarah pada dasar-dasar kokoh semacam ini. Bahkan kadang dalam satu halaman, karena tuntutan kedudukan, kebutuhan memahamkan, dan balaghah penjelasan, Al-Qur'an mengungkapkan hakikat tauhid dua puluh kali — secara terang maupun tersirat. Ini bukan mendatangkan kebosanan, tapi justru memberi kekuatan, semangat, dan kemanisan. Di Risale-i Nur sudah dijelaskan dengan bukti-bukti betapa pengulangan-pengulangan Al-Qur'an itu tepat pada tempatnya, sesuai, dan diterima dari sisi balaghah.
Rahasia hikmah mengapa surah-surah Makkiyah dan surah-surah Madaniyah Al-Qur'an Mu'cizü'l-Beyan berbeda satu sama lain dari sisi balaghah, kemukjizatan, serta cara memerinci dan meringkas, adalah begini: Karena di Mekah, lawan bicara dan penentang di barisan pertama adalah kaum musyrik Quraisy dan orang-orang buta huruf, maka dari sisi balaghah diperlukan sebuah gaya tinggi yang kuat, dan sebuah ringkasan yang padat, meyakinkan, serta memuaskan, beserta pengulangan untuk meneguhkan. Karena itu, surah-surah Makkiyah pada umumnya mengungkapkan dan mengulang rukun-rukun iman serta tingkat-tingkat tauhid dengan keringkasan yang sangat kuat, tinggi, dan penuh mukjizat; lalu membuktikan permulaan dan tempat kembali (mabda dan maad), Allah جل جلاله dan akhirat — bukan hanya dalam satu halaman, satu ayat, satu kalimat, satu kata; tapi kadang dalam satu huruf, dan dalam susunan seperti mendahulukan–mengakhirkan, memakai bentuk makrifat–nakirah, serta menyebut–menghilangkan — sedemikian kuat, sampai para imam jenius ilmu balaghah pun menyambutnya dengan takjub. Risale-i Nur, dan khususnya Kalimat Kedua Puluh Lima (Yirmibeşinci Söz) — yang membuktikan secara ringkas empat puluh sisi kemukjizatan Al-Qur'an beserta lampiran-lampirannya — serta tafsir "İşaratü'l-İ'caz" dari Risale-i Nur berbahasa Arab — yang menjelaskan dan membuktikan sisi kemukjizatan dalam susunan kata dengan cara yang luar biasa — telah menunjukkan secara nyata bahwa: pada surah dan ayat Makkiyah terdapat gaya balaghah yang paling tinggi dan kemukjizatan keringkasan yang paling tinggi.
Adapun lawan bicara dan penentang di barisan pertama untuk surah dan ayat Madaniyah adalah ahli kitab seperti Yahudi dan Nasrani yang membenarkan adanya Allah جل جلاله. Karena tuntutan balaghah dan bimbingan serta kesesuaian dengan keadaan menuntut demikian, maka dengan gaya yang sederhana, jelas, dan terperinci, yang perlu dijelaskan kepada ahli kitab bukanlah pokok-pokok tinggi agama dan rukun-rukun iman, tapi justru hal-hal kecil yang menjadi asal dan sebab dari syariat, hukum, cabang-cabang, serta undang-undang menyeluruh yang menjadi sumber perselisihan. Karena itu, pada surah dan ayat itu, pada umumnya di tengah penjelasan yang terperinci, jelas, dan bergaya sederhana, dengan sebuah cara penjelasan yang tak ada bandingnya yang khas Al-Qur'an, tiba-tiba di dalam peristiwa cabang yang kecil itu ia menyebutkan sebuah kesimpulan yang tinggi dan kuat, sebuah penutup, sebuah bukti, dan sebuah kalimat tauhid, kalimat asma, serta kalimat ukhrawi yang menjadikan peristiwa syariat yang kecil itu menyeluruh dan menjamin pengamalannya lewat iman billah. Ia menerangi kedudukan itu, meninggikannya, menyeluruhkannya. Betapa tingginya balaghah, keunggulan, keindahan bahasa, dan nukte-nukte yang terdapat dalam kesimpulan dan penutup yang mengungkapkan tauhid atau akhirat — seperti yang sering datang di akhir ayat:اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَد۪يرٌ ٭ اِنَّ اللّٰهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَل۪يمٌ ٭ وَهُوَ الْعَز۪يزُ الرَّح۪يمُ ٭ وَهُوَ الْعَز۪يزُ الْحَك۪يمُ — Risale-i Nur, di Nur Kedua dari Cahaya Kedua (İkinci Şu'lenin İkinci Nuru) pada Kalimat Kedua Puluh Lima, telah menjelaskan sepuluh dari sekian banyak nukte dan keunggulan penutup itu, lalu membuktikan bahkan kepada para pembangkang bahwa dalam ringkasan-ringkasan itu terdapat sebuah mukjizat terbesar.
Ya, di tengah penjelasan cabang-cabang syariat dan undang-undang sosial itu, Al-Qur'an tiba-tiba mengangkat pandangan lawan bicara ke poin-poin yang paling tinggi dan menyeluruh, lalu mengubah gaya sederhana menjadi gaya yang tinggi, dan mengubah pelajaran syariat menjadi pelajaran tauhid. Dengan begitu ia menunjukkan bahwa Al-Qur'an sekaligus sebuah kitab syariat, hukum, dan hikmah, sekaligus sebuah kitab akidah, iman, zikir, pikir, doa, dan seruan; lalu di setiap kedudukan ia memberi pelajaran tentang banyak maksud bimbingan Al-Qur'an. Dengan demikian ia menampakkan sebuah keindahan bahasa yang penuh mukjizat, yang berbeda dan lebih cemerlang daripada gaya balaghah ayat-ayat Makkiyah. Kadang dalam dua kata — misalnya "Rabbul-'Âlamîn" dan "Rabbuke" — dengan sebutan "Rabbuke" ia memberitahukan keesaan pada tiap individu (ahadiyah), dan dengan "Rabbul-'Âlamîn" keesaan pada keseluruhan (wahidiyah). Ia mengungkapkan wahidiyah di dalam ahadiyah. Bahkan dalam satu kalimat: seperti Dia melihat dan menempatkan sebutir atom di dalam biji mata, dengan ayat dan palu yang sama Dia juga menempatkan matahari di dalam biji mata langit, lalu menjadikan langit sebuah mata. Misalnya: sesudah ayat خَلَقَ السَّمٰوَاتِ وَ الْاَرْضَ, menyusul ayat يُولِجُ الَّيْلَ فِى النَّهَارِ وَ يُولِجُ النَّهَارَ فِى الَّيْلِ, lalu Dia berkata وَ هُوَ عَل۪يمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ. Dengan penjelasan bergaya "Dalam keagungan penciptaan bumi dan langit, Dia juga mengetahui dan mengatur lintasan hati" — percakapan sederhana dan kecil yang memperhatikan derajat ummi serta pemahaman awam itu, dengan cara seperti itu berubah menjadi sebuah percakapan yang tinggi, memikat, umum, dan penuh bimbingan.
Sebuah Pertanyaan Penting: "Kadang sebuah hakikat tak terlihat oleh pandangan yang dangkal; dan di sebagian kedudukan, karena tak diketahui kaitan antara sebuah peristiwa kecil dan biasa dengan sebuah kesimpulan tauhid yang tinggi atau sebuah prinsip menyeluruh, disangkalah ada sebuah cacat. Misalnya: dalam kisah 'Nabi Yusuf 'alaihissalam mengambil saudaranya dengan sebuah siasat', disebutnya sebuah prinsip yang sangat tinggi: وَفَوْقَ كُلِّ ذ۪ى عِلْمٍ عَل۪يمٌ — kaitan balaghahnya tak tampak. Apa rahasia dan hikmahnya?"
Jawabannya: Sebagian besar surah panjang dan menengah — yang masing-masing bagai sebuah Al-Qur'an kecil — serta banyak halaman dan kedudukan, tidak hanya mengandung dua-tiga maksud; tapi karena hakikat Al-Qur'an mengandung banyak kitab dan pelajaran yang berbeda-beda — sekaligus sebuah kitab zikir, iman, dan pikir, sekaligus sebuah kitab syariat, hikmah, dan bimbingan — demi mengungkapkan keliputan rububiyah Ilahi atas segala sesuatu dan tampak-Nya yang penuh keagungan; maka Al-Qur'an — yang merupakan semacam bacaan atas kitab besar alam semesta — sudah pasti di setiap kedudukan, bahkan kadang dalam satu halaman, memberi pelajaran tentang makrifatullah, tingkat-tingkat tauhid, dan hakikat-hakikat iman dengan mengejar banyak maksud. Karena itu, di kedudukan lain, misalnya dengan sebuah kaitan yang tampaknya lemah, ia membuka sebuah pelajaran lain; lalu banyak kaitan yang sangat kuat bergabung dengan kaitan yang lemah itu. Ia pun menjadi sangat sesuai dengan kedudukan itu, dan derajat balaghahnya meninggi.
Sebuah Pertanyaan Kedua: "Apa hikmah Al-Qur'an membuktikan dan menampilkan akhirat, tauhid, serta ganjaran dan hukuman manusia ribuan kali — secara terang, tersirat, dan lewat isyarat — dan memberi pelajaran tentangnya di setiap surah, setiap halaman, dan setiap kedudukan?"
Jawabannya: Demi memberi pelajaran tentang persoalan-persoalan yang paling penting, paling besar, dan paling dahsyat — dalam lingkaran kemungkinan, dalam revolusi-revolusi yang menyangkut perjalanan alam semesta, dan tentang tugas umat manusia (yang memikul amanah terbesar dan kekhalifahan bumi) yang menjadi sumber kesengsaraan atau kebahagiaan abadi — dan demi menghilangkan keraguan tak terhingga, mematahkan pengingkaran serta kekerasan hati yang sangat sengit; maka sudah pasti, untuk membuat orang membenarkan revolusi-revolusi dahsyat itu dan menerima persoalan-persoalan yang seagung revolusi itu — persoalan yang paling perlu dan mendesak bagi manusia — andai Al-Qur'an membuat mereka memandangnya bukan ribuan kali, tapi jutaan kali pun, itu tetap bukan pemborosan. Sampai-sampai andai pembahasan itu dibaca dalam Al-Qur'an jutaan kali, ia tidak membosankan, dan kebutuhan kepadanya tidak terputus.
Misalnya: hakikat kabar gembira kebahagiaan abadi yang ditunjukkan ayat اِنَّ الَّذ۪ينَ اٰمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْر۪ى مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهَارُ خَالِد۪ينَ ف۪يهَٓا اَبَدًا — karena ia menyelamatkan manusia malang, dunianya, dan semua orang yang dicintainya dari hukuman mati selamanya oleh hakikat kematian yang setiap menit tampak di depan matanya, lalu memberinya sebuah kerajaan abadi — andai diulang miliaran kali dan diberi bobot sebesar alam semesta pun, ia tetap bukan pemborosan dan tak jatuh nilainya. Nah, Al-Qur'an Mu'cizü'l-Beyan yang memberi pelajaran tentang persoalan-persoalan tak terhingga berharga semacam ini, dan yang berusaha meyakinkan serta membuktikan revolusi-revolusi dahsyat yang mengubah alam semesta bagai sebuah rumah dan merombak bentuknya, sudah pasti — dengan menarik perhatian pada persoalan-persoalan itu ribuan kali, secara terang, tersirat, dan lewat isyarat — bukan sebuah pemborosan, tapi justru memperbarui karunia-Nya, laksana sebuah kebutuhan mendesak seperti roti, obat, udara, dan cahaya.
Dan misalnya: hikmah Al-Qur'an menyebut ayat-ayat ancaman seperti اِنَّ الْكَافِر۪ينَ ف۪ى نَارِ جَهَنَّمَ dan اَلظَّالِم۪ينَ لَهُمْ عَذَابٌ اَل۪يمٌ dengan sangat keras, penuh murka, dan dengan kekuatan serta pengulangan yang besar, adalah — seperti dibuktikan dengan pasti di Risale-i Nur — bahwa kekufuran manusia merupakan pelanggaran atas hak alam semesta dan sebagian besar makhluk sedemikian rupa, sampai membuat langit dan bumi marah, membuat unsur-unsur murka, lalu menampar kaum-kaum zalim itu dengan topan. Dan dengan kejelasan ayat اِذَٓا اُلْقُوا ف۪يهَا سَمِعُوا لَهَا شَه۪يقًا وَهِىَ تَفُورُ ٭ تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ الْغَيْظِ, Neraka begitu murka kepada para pengingkar zalim itu, sampai-sampai karena amarahnya ia hampir terpecah-belah. Nah, terhadap sebuah kejahatan umum dan pelanggaran tak terhingga seperti ini, As-Sultan Alam Semesta — bukan dari sisi kekecilan dan ketidakberartian manusia, tapi terhadap besarnya kejahatan zalim dan dahsyatnya pelanggaran kufurnya — demi menunjukkan pentingnya hak-hak rakyat-Nya serta keburukan tak terhingga dalam kekufuran dan kezaliman para pengingkar itu, andai dalam titah-Nya Dia mengulang kejahatan itu beserta hukumannya dengan sangat murka dan keras bukan seribu kali, tapi jutaan bahkan miliaran kali pun, itu tetap bukan pemborosan dan bukan cacat — sampai-sampai sejak seribu tahun ratusan juta manusia membacanya setiap hari tanpa bosan, dengan penuh kerinduan dan kebutuhan.
Ya, setiap hari, setiap saat, bagi setiap orang sebuah alam berlalu, dan pintu sebuah alam baru terbuka untuknya. Karena itu, demi menerangi setiap alam yang berlalu itu, dengan kebutuhan dan kerinduan ia mengulang kalimat "Lâ ilâha illallâh" ribuan kali, lalu menjadikan sebuah "Lâ ilâha illallâh" sebagai lampu bagi setiap tabir dan alam yang berganti itu. Begitu juga: demi tidak menggelapkan tabir-tabir yang banyak dan berlalu serta alam-alam bergerak yang terus baru itu, demi tidak memburukkan bentuk-bentuk yang terpantul di cermin hidupnya, dan demi tidak membalikkan keadaan-keadaan tamu yang bisa menjadi saksi baginya menjadi saksi yang melawannya — dengan hikmah agar orang selalu teringat, lewat membaca Al-Qur'an, pada hukuman kejahatan itu dan pada ancaman keras Padişah-ı Ezelî (Sang Raja Azali) yang mematahkan kekerasan hati, lalu berusaha lepas dari pembangkangan nafsu — Al-Qur'an mengulangnya dengan sangat penuh mukjizat. Dan dari menyangka ancaman-ancaman Al-Qur'an yang sedemikian kuat, keras, dan berulang itu sebagai tak berhakikat, bahkan setan pun lari. Dan Al-Qur'an menunjukkan bahwa azab Neraka bagi para pengingkar yang tak mendengarkannya adalah keadilan yang murni.
Dan misalnya: dalam banyaknya pengulangan kisah Nabi Musa ('alaihissalam) — yang seperti tongkat Musa punya banyak hikmah dan manfaat — serta kisah para nabi yang lain: dengan hikmah bahwa kebenaran risalah Ahmadiyah ditunjukkan lewat kenabian semua nabi sebagai bukti, sehingga orang yang tak bisa mengingkari mereka semua tak akan bisa mengingkari risalah Dzat ini dari sisi hakikat; dan karena tak setiap orang setiap saat mampu dan sempat membaca seluruh Al-Qur'an, maka demi menjadikan setiap surah panjang dan menengah berkedudukan sebagai sebuah Al-Qur'an kecil, Al-Qur'an mengulang kisah-kisah itu seperti rukun-rukun iman yang penting; ini bukan pemborosan, tapi justru sebuah balaghah yang penuh mukjizat, dan sebuah pelajaran bahwa peristiwa Muhammad صلى الله عليه وسلم adalah peristiwa terbesar seluruh umat manusia dan persoalan teragung alam semesta.
Ya, dengan memberi Dzat Ahmadiyah kedudukan terbesar di dalam Al-Qur'an, dan dengan menempatkan "Muhammadar Rasûlullâh" — yang merangkum empat rukun iman — setara dengan rukun "Lâ ilâha illallâh": bahwa risalah Muhammadiyah adalah hakikat terbesar alam semesta, bahwa Dzat Ahmadiyah adalah yang paling mulia dari semua makhluk, dan bahwa kepribadian maknawi menyeluruh serta kedudukan sucinya — yang disebut hakikat Muhammadiyah — adalah matahari paling cemerlang dua alam, beserta kelayakannya bagi kedudukan luar biasa ini — sudah dibuktikan dengan banyak bukti dan tanda secara pasti di Risale-i Nur. Salah satu dari seribunya begini:
Dengan prinsip اَلسَّبَبُ كَالْفَاعِلِ (sebab itu seperti pelaku) — satu misal dari semua kebaikan yang dikerjakan seluruh umatnya di segala zaman masuk ke buku kebaikan beliau; dan beliau menerangi semua hakikat alam semesta dengan cahaya yang beliau bawa, sehingga bukan hanya jin, manusia, malaikat, dan makhluk hidup, tapi alam semesta, langit, dan bumi berterima kasih kepada beliau; dan dengan kesaksian dikabulkannya secara nyata di depan mata kita doa tumbuhan lewat lisan potensinya dan doa hewan lewat lisan kebutuhan fitrinya — jutaan, bahkan miliaran doa fitri yang tak tertolak; para saleh dari umatnya setiap hari mempersembahkan doa rahmat dengan nama salawat dan salam serta hasil-hasil maknawi mereka pertama-tama kepada Dzat itu; dan karena setiap dari tiga ratus ribu huruf Al-Qur'an yang dibaca seluruh umat memberi sepuluh sampai seratus, sampai seribu kebaikan dan buah, sehingga hanya dari sisi membaca Al-Qur'an saja buku amal beliau dimasuki cahaya tak terhingga — dari sisi ini, Allâmul-Ghuyûb (Yang Maha Mengetahui yang gaib) telah mengetahui dan melihat bahwa kepribadian maknawi beliau, yaitu hakikat Muhammadiyah, di masa depan akan berkedudukan sebagai sebuah pohon tuba Surga. Sesuai kedudukan itu, Dia memberinya bobot yang agung di dalam Al-Qur'an-Nya; dan dalam titah-Nya, Dia menunjukkan bahwa meraih syafaat beliau lewat mengikuti dan menaati sunahnya adalah persoalan kemanusiaan yang paling penting; lalu sesekali Dia memandang kepada kepribadian kemanusiaan beliau — yang merupakan sebutir benih dari pohon tuba yang agung itu — serta keadaan kemanusiaannya di masa awal.
Nah, karena hakikat-hakikat Al-Qur'an yang diulang bernilai sedemikian rupa, fitrah yang sehat bersaksi bahwa dalam pengulangannya terdapat sebuah mukjizat maknawi yang kuat dan luas. Kecuali kalau seseorang tertimpa wabah materialisme, penyakit hati, dan penyakit hati nurani.. maka ia masuk ke dalam kaidah: قَدْ يُنْكِرُ الْمَرْءُ ضَوْءَ الشَّمْسِ مِنْ رَمَدٍ ٭ وَ يُنْكِرُ الْفَمُ طَعْمَ الْمَٓاءِ مِنْ سَقَمٍ
Dua Catatan sebagai Penutup Masalah Kesepuluh Ini
Pertama: Dua belas tahun yang lalu aku mendengar bahwa seorang zindik (penentang agama) yang paling dahsyat dan paling keras kepala mulai melancarkan makar terhadap Al-Qur'an lewat terjemahannya, dan berkata: "Biar Al-Qur'an diterjemahkan, supaya ketahuan seperti apa ia sebenarnya." Maksudnya, ia memutar sebuah rencana dahsyat: supaya semua orang melihat pengulangan yang dianggapnya tak perlu, dan supaya terjemahannya dibaca menggantikan Al-Qur'an. Tapi bukti-bukti Risale-i Nur yang tak terbantahkan telah membuktikan dengan pasti bahwa: terjemahan Al-Qur'an yang sejati itu mustahil; dan bahasa lain tak bisa menjaga keunggulan serta nukte-nukte (poin-poin makna yang halus) Al-Qur'an di tempat bahasa Arab yang merupakan bahasa nahwi; dan terjemahan manusia yang biasa serta kecil tak bisa menggantikan ungkapan Al-Qur'an yang penuh mukjizat dan padat — yang setiap hurufnya memberi sepuluh sampai seribu pahala — sehingga ia tak bisa dibaca di masjid-masjid menggantikan Al-Qur'an. Dengan tersebarnya Risale-i Nur di mana-mana, rencana dahsyat itu pun gagal. Tapi kaum munafik yang berguru pada zindik itu, lagi-lagi atas nama setan, berusaha memadamkan matahari Al-Qur'an dengan meniupnya — seperti anak-anak bodoh, secara tolol dan gila. Dengan hikmah itu, aku memperkirakan Masalah Kesepuluh ini didiktekan kepadaku dalam sebuah keadaan yang sangat sempit, menyesakkan, dan penuh tekanan. Karena aku tak bisa berjumpa dengan orang lain, aku tak tahu keadaan yang sebenarnya.