PEMBAHASAN KEDUA DARI TITIK KEDUA
Panduan Wanita · hlm. 38
Wakil ahli kesesatan, ketika tidak menemukan sesuatu pun untuk dijadikan pegangan dan landasan bagi kesesatannya, serta ketika ia telah terbungkam, berkata demikian:
"Aku, karena memandang kebahagiaan dunia, kelezatan hidup, kemajuan-kemajuan peradaban, dan kesempurnaan seni itu — menurutku — terletak pada tidak memikirkan akhirat, tidak mengenal Allah, mencintai dunia, kebebasan, dan kepercayaan kepada diri sendiri; maka aku telah menggiring dan terus menggiring kebanyakan manusia ke jalan ini dengan bantuan setan."
Jawaban: Kami pun, atas nama al-Qur'an, berkata: Wahai manusia yang malang! Sadarlah! Jangan dengarkan wakil ahli kesesatan itu! Jikalau engkau mendengarkannya, kerugianmu akan sedemikian besar, sehingga ruh, akal, dan kalbu gemetar membayangkannya. Di hadapanmu ada dua jalan:
Yang pertama: Jalan penuh sengsara yang ditunjukkan wakil ahli kesesatan itu.
Yang lainnya: Jalan penuh bahagia yang diterangkan al-Qur'an yang penuh hikmah. Maka pertimbangan-pertimbangan antara kedua jalan itu yang amat banyak telah engkau lihat dan pahami dalam banyak Kalimat, terutama dalam Kelimat-Kelimat Kecil. Sekarang, berkenaan dengan maqam ini, lihat dan pahamilah kembali seperseribu dari pertimbangan-pertimbangan itu. Demikianlah:
Jalan syirik dan kesesatan, kefasikan dan kebejatan, menjatuhkan manusia sampai derajat yang serendah-rendahnya. Di dalam derita yang tak terhingga, jalan itu memikulkan beban berat yang tak berkesudahan ke atas punggungnya yang lemah dan tak berdaya. Sebab manusia, jikalau tidak mengenal Allah dan tidak bertawakal kepada-Nya, maka pada saat itu manusia menjadi laksana seekor hewan fana yang amat tak berdaya dan lemah, amat membutuhkan, papa, terpapar musibah yang tak terhingga, penuh derita dan duka; dengan terus-menerus menanggung derita perpisahan dari segala sesuatu yang ia cintai dan ia terikat dengannya, akhirnya ia meninggalkan seluruh kekasihnya yang masih tinggal di dalam suatu perpisahan yang pedih, lalu pergi sendirian ke kegelapan kubur. Dan sepanjang masa hidupnya, dengan ikhtiar yang amat kecil, kesanggupan yang kecil, hidup yang amat pendek, umur yang sedikit, dan pikiran yang redup, ia bergelut tanpa faedah melawan derita dan angan-angan yang tak berkesudahan; ia bekerja dengan sia-sia, tanpa buah, untuk meraih keinginan-keinginan dan maksud-maksud yang tak terhingga. Dan padahal ia tidak sanggup memikul wujudnya sendiri, ia memikulkan beban dunia yang besar ke atas punggung dan kepalanya yang malang. Sebelum pergi ke neraka pun ia sudah menanggung azab neraka.
Benar, untuk tidak merasakan derita yang pedih ini dan azab maknawi yang dahsyat ini, ahli kesesatan, dengan kemabukan kelalaian yang sejenis pematian rasa, untuk sementara tidak merasakannya. Tetapi pada waktu ia akan merasakannya — yakni ketika ia dekat dengan kubur — ia merasakannya sekaligus. Sebab jikalau ia tidak menjadi hamba yang sejati bagi Allah, ia akan menyangka dirinya menguasai dirinya sendiri. Padahal dengan ikhtiar yang juz'î dan kesanggupan yang kecil itu, ia tidak mampu mengurus wujudnya di dunia yang penuh badai ini. Ia melihat ribuan golongan musuh dalam keadaan menyerbu kehidupannya, mulai dari kuman yang memudaratkan hidupnya sampai kepada gempa bumi. Di dalam kengerian ketakutan yang pedih, ia setiap waktu memandang pintu kubur yang senantiasa tampak mengerikan baginya.
Dan lagi, dalam keadaan ini, karena dari segi kemanusiaannya ia terikat dengan jenis manusia dan dengan dunia, sedangkan ia tidak membayangkan dunia dan manusia berada dalam pengaturan seorang Zat yang Hakîm, Alîm, Qadîr, Rahîm, dan Karîm, melainkan menyerahkan semuanya kepada kebetulan dan alam; maka keadaan-keadaan dunia dan keadaan-keadaan manusia senantiasa menggelisahkannya. Bersama deritanya sendiri, ia menanggung pula derita manusia. Gempa dunia, wabahnya, topannya, kelaparan dan kemahalannya, kefanaan dan kelenyapannya — semuanya menyiksanya dalam bentuk musibah yang amat menggelisahkan dan gelap.
Lagi pula, manusia dalam keadaan seperti ini tidaklah layak mendapat belas kasih dan kasih sayang. Sebab ia sendirilah yang menimpakan keadaan dahsyat ini kepada dirinya. Sebagaimana dikatakan dalam Kelimat Kedelapan pada pertimbangan keadaan dua bersaudara yang masuk ke dalam sumur: seseorang yang berada di sebuah taman yang indah, dalam sebuah perjamuan yang indah, di tengah sahabat-sahabat yang indah, tidak puas dengan kelezatan dan hiburan yang bersih, manis, terhormat, menyenangkan, dan dihalalkan, lalu demi suatu kelezatan yang tidak halal dan kotor ia meminum arak yang buruk dan najis, kemudian mabuk dan membayangkan dirinya berada di tengah musim dingin, di tempat yang kotor, bahkan di tengah binatang-binatang buas, lalu gemetar dan berteriak-teriak — bagaimana ia tidak layak mendapat belas kasih; sebab ia membayangkan sahabat-sahabatnya yang terhormat dan penuh berkah sebagai binatang buas dan menghina mereka. Ia pun membayangkan makanan-makanan lezat dan piring-piring bersih dalam perjamuan itu sebagai batu-batu kotor dan najis, lalu mulai memecahkannya. Dan kitab-kitab terhormat serta surat-surat penuh makna di majelis itu ia bayangkan sebagai ukiran-ukiran tak bermakna dan biasa, lalu merobek-robek dan menginjak-injaknya; dan seterusnya... Orang semacam ini, sebagaimana tidak berhak mendapat belas kasih, justru berhak mendapat tamparan.
Demikian pula: dengan kemabukan kekafiran yang lahir dari keburukan ikhtiarnya sendiri dan dengan kegilaan kesesatan, ia mewahamkan rumah perjamuan dunia milik Sang Sâni' Hakîm ini sebagai mainan kebetulan dan alam; ia membayangkan berpindahnya ciptaan-ciptaan — yang senantiasa memperbarui manifestasi asma Ilahi — ke alam gaib setelah selesai tugasnya dengan berlalunya waktu, sebagai pemusnahan ke dalam ketiadaan; ia mengkhayalkan suara-suara tasbih sebagai raungan kelenyapan dan perpisahan abadi; ia membayangkan lembaran-lembaran maujud yang merupakan surat-surat Samadani ini sebagai sesuatu yang tak bermakna dan kacau-balau; ia membayangkan pintu kubur yang membuka jalan ke alam rahmat sebagai mulut kegelapan ketiadaan; dan ajal — padahal ia adalah undangan pertemuan dengan para kekasih sejati — ia bayangkan sebagai giliran perpisahan dari seluruh kekasih; maka, ia menjerumuskan dirinya ke dalam azab pedih yang dahsyat, dan karena ia mengingkari, melecehkan, serta menghina segala maujud, asma Allah, dan surat-surat-Nya; ia bukan hanya tidak layak mendapat belas kasih dan kasih sayang, bahkan berhak pula mendapat azab yang keras. Sekali-kali, dari segi mana pun, ia tidaklah layak mendapat belas kasih.
Maka wahai ahli kesesatan dan kebejatan yang celaka! Terhadap kejatuhan yang dahsyat ini dan terhadap keputusasaan yang menghancurkan ini, kemajuan kalian yang mana, ilmu-ilmu kalian yang mana, kesempurnaan kalian yang mana, peradaban kalian yang mana, kemajuan-kemajuan kalian yang mana yang dapat menghadapinya? Di mana kalian dapat menemukan penghiburan hakiki yang dibutuhkan ruh manusia dengan kebutuhan yang paling keras?
Dan lagi, alam yang mana yang kalian percayai dan kalian sandari serta kepadanya kalian nisbahkan karya-karya Ilahi dan karunia-karunia Rabbani; sebab-sebab yang mana, sekutu yang mana, penemuan-penemuan kalian yang mana, bangsa kalian yang mana, sesembahan batil kalian yang mana yang dapat menyelamatkan kalian dari kegelapan maut — yang menurut kalian adalah kemusnahan abadi — lalu melintaskan kalian dengan penuh kuasa melewati perbatasan kubur, perbatasan barzakh, perbatasan mahsyar, dan jembatan sirat, serta menyampaikan kalian kepada kebahagiaan abadi? Padahal, karena kalian tidak dapat menutup pintu kubur, kalian secara pasti adalah musafir jalan ini. Musafir semacam ini hanya bersandar kepada Zat yang seluruh lingkaran yang agung ini dan perbatasan-perbatasan yang luas ini berada di bawah perintah dan pengaturan-Nya.
Dan lagi, wahai ahli kesesatan dan kelalaian yang celaka! Menurut rahasia kaidah "Akibat dari cinta yang tidak halal ialah menanggung azab tanpa belas kasih," maka kalian — karena kalian membelanjakan bakat cinta dan makrifat dalam fitrah kalian yang semestinya dibelanjakan kepada Zat, sifat, dan asma Allah, serta perangkat syukur dan ibadah kalian, kepada nafsu kalian dan kepada dunia dengan cara yang tidak halal — kalian menanggung hukumannya dengan sepenuh hak. Sebab cinta yang menjadi milik Allah telah kalian berikan kepada nafsu kalian. Maka kalian menanggung bencana yang tak terhingga dari nafsu yang menjadi kekasih kalian itu. Sebab kalian tidak memberikan ketenangan yang hakiki kepada kekasih kalian itu. Dan kalian tidak menyerahkannya dengan tawakal kepada Sang Qadîr Mutlak, Kekasih yang hakiki; kalian pun senantiasa menanggung derita.
Dan cinta yang menjadi milik asma dan sifat Allah telah kalian berikan kepada dunia, dan karya-karya seni-Nya telah kalian bagi-bagikan kepada sebab-sebab alam; maka kalian menanggung bencananya. Sebab sebagian dari kekasih-kekasih kalian yang tak terhingga itu, tanpa mengucapkan selamat tinggal kepada kalian, memalingkan punggungnya kepada kalian, meninggalkan kalian dan pergi. Sebagian lagi sama sekali tidak mengenal kalian; kalaupun mengenal, ia tidak mencintai kalian. Kalaupun mencintai, ia tidak memberi faedah apa pun kepada kalian. Kalian pun senantiasa menanggung azab dari perpisahan-perpisahan yang tak terhingga dan dari kelenyapan-kelenyapan tanpa harapan kembali.
Maka inilah wajah batin dan hakikat dari apa yang oleh ahli kesesatan disebut kebahagiaan hidup, kesempurnaan kemanusiaan, keindahan peradaban, dan kelezatan kebebasan. Kebejatan dan kemabukan hanyalah sebuah tirai; ia mencegah perasaan untuk sementara waktu. Katakanlah, "Cis, betapa malang akal mereka!"
Adapun jalan raya al-Qur'an yang bercahaya: ia mengobati segala luka yang ditanggung ahli kesesatan dengan hakikat-hakikat iman. Ia membubarkan seluruh kegelapan pada jalan yang pertama tadi. Ia menutup seluruh pintu kesesatan dan kebinasaan. Demikianlah:
Ia mengobati kelemahan dan ketidakberdayaan manusia, kepapaan dan kebutuhannya, dengan tawakal kepada Sang Qadîr Rahîm. Karena al-Qur'an menyerahkan beban kehidupan dan wujud kepada kudrat dan rahmat-Nya — tidak memikulkannya kepada manusia itu sendiri — maka justru ia mendapati suatu kedudukan yang lapang: seakan-akan ia sendiri yang menunggangi kehidupannya dan nafsunya. Al-Qur'an memberitahukan bahwa manusia bukanlah "hewan yang berbicara", melainkan insan yang sejati dan tamu yang diterima di sisi Sang Rahmân.
Dengan menampakkan dunia sebagai sebuah rumah perjamuan Sang Rahmân, dan dengan memberitahukan bahwa segala maujud di dunia adalah cermin-cermin asma Ilahi, dan bahwa segala ciptaan adalah surat-surat Samadani yang setiap waktu diperbarui; al-Qur'an mengobati dengan indah luka-luka manusia yang datang dari kefanaan dunia, dari kelenyapan segala sesuatu, dan dari kecintaan kepada yang fana, serta menyelamatkannya dari kegelapan waham-waham. Dan ia menampakkan maut dan ajal sebagai pendahuluan bagi pertemuan dan perjumpaan dengan para kekasih yang telah pergi ke alam barzakh dan yang berada di alam kekal.
Demikianlah ia mengobati luka-luka kematian yang dalam pandangan ahli kesesatan dianggap perpisahan abadi dari seluruh kekasihnya. Dan ia membuktikan bahwa perpisahan itu adalah pertemuan itu sendiri.
Dan dengan membuktikan bahwa kubur adalah sebuah pintu yang terbuka ke alam rahmat, ke negeri kebahagiaan, ke taman-taman surga, ke negeri cahaya Sang Rahmân; al-Qur'an melenyapkan ketakutan manusia yang paling dahsyat, dan menampakkan bahwa perjalanan barzakh yang paling pedih, paling muram, dan paling sesak itu sesungguhnya adalah perjalanan yang paling lezat, paling akrab, dan paling lapang. Dengan kubur itu ia menutup mulut sang naga dan membuka pintu ke sebuah taman yang indah. Yakni ia menampakkan bahwa kubur bukanlah mulut naga, melainkan sebuah pintu yang terbuka ke taman rahmat.
Dan ia berkata kepada seorang mukmin: "Jikalau ikhtiarmu juz'î, serahkanlah urusanmu kepada iradah küllî Pemilikmu. Jikalau kesanggupanmu kecil, percayalah kepada kudrat Sang Qadîr Mutlak. Jikalau hidupmu sedikit, pikirkanlah kehidupan yang kekal. Jikalau umurmu pendek, engkau memiliki umur yang abadi; janganlah gelisah. Jikalau pikiranmu redup, masuklah ke bawah matahari al-Qur'an, pandanglah dengan cahaya iman: maka sebagai ganti pikiranmu yang laksana kunang-kunang, setiap ayat al-Qur'an memberimu cahaya laksana sebuah bintang. Dan jikalau engkau memiliki angan-angan dan derita yang tak terhingga, maka pahala yang tak berkesudahan dan rahmat yang tak terhingga sedang menantimu. Dan jikalau engkau memiliki keinginan-keinginan dan maksud-maksud yang tak terhingga, janganlah memikirkannya lalu menjadi gelisah. Semuanya itu tidak termuat di dunia ini. Tempatnya adalah negeri yang lain, dan yang memberikannya pun adalah Zat yang lain."
Dan ia berkata: "Wahai manusia! Engkau bukanlah pemilik dirimu. Engkau adalah hamba milik Sang Qadîr yang kudrat-Nya tak berkesudahan, Sang Rahîm Zat Dzul-Jalâl yang rahmat-Nya tak terhingga. Kalau demikian, janganlah memikulkan hidupmu ke atas dirimu sendiri lalu bersusah payah; sebab yang memberikan kehidupan adalah Dia, dan yang mengaturnya pun Dia. Lagi pula dunia bukanlah tanpa pemilik, sehingga engkau membebani kepalamu dengan beban dunia lalu memikirkan keadaan-keadaannya dan gelisah; sebab Pemiliknya adalah Hakîm, adalah Alîm. Dan engkau adalah tamu; janganlah ikut campur secara lancang dan janganlah membuat kekacauan.
Lagi pula manusia dan segala maujud seperti hewan-hewan itu tidaklah terlepas tanpa kendali; melainkan mereka adalah para petugas yang mengemban tugas. Mereka berada dalam pandangan Sang Hakîm Rahîm. Janganlah memikirkan derita dan kepayahan mereka lalu menyiksakan derita kepada ruhmu sendiri. Dan janganlah mendahulukan kasih sayangmu melebihi rahmat Sang Khâliq Rahîm mereka. Lagi pula kendali segala sesuatu yang mengambil sikap memusuhimu — dari kuman sampai wabah, topan, kelaparan, dan gempa bumi — berada di tangan Sang Rahîm Hakîm itu. Dia Hakîm, tidak berbuat sia-sia. Dia Rahîm, rahimiyah-Nya berlimpah. Pada setiap pekerjaan yang dilakukan-Nya terdapat sejenis kelembutan."
Dan ia berkata: "Alam ini memang fana, tetapi ia menyiapkan segala keperluan bagi suatu alam yang abadi. Ia memang lenyap dan berlalu, tetapi ia memberikan buah-buah yang kekal, dan menampakkan manifestasi-manifestasi asma yang kekal dari suatu Zat yang kekal. Dan kelezatannya memang sedikit, deritanya banyak; tetapi perhatian dan kemurahan Sang Rahmân Rahîm adalah kelezatan-kelezatan hakiki yang tanpa kelenyapan. Adapun derita-deritanya, dari segi pahala, justru menghasilkan kelezatan maknawi. Karena lingkungan yang dihalalkan itu mencukupi bagi segala kelezatan, kesenangan, dan kenikmatan ruh, kalbu, dan nafsu; maka janganlah masuk ke lingkungan yang tidak dihalalkan. Sebab satu kelezatan di lingkungan itu kadang-kadang membawa seribu derita. Lagi pula ia menjadi sebab hilangnya perhatian-perhatian Rahmani yang merupakan kelezatan hakiki dan abadi."
Lagi pula, sebagaimana telah diterangkan sebelumnya, jalan kesesatan menjatuhkan manusia sampai ke tingkat yang serendah-rendahnya (asfala sâfilîn) sedemikian rupa, sehingga tiada satu peradaban dan tiada satu falsafah pun yang dapat menemukan obatnya, dan tiada satu kemajuan manusia serta tiada satu kesempurnaan ilmu pun yang dapat mengeluarkan manusia dari sumur kegelapan yang dalam itu. Padahal al-Qur'an yang penuh hikmah, dengan iman dan amal salih, menaikkan manusia dari kejatuhan ke tingkat yang serendah-rendahnya itu menuju tingkat yang setinggi-tingginya (a'lâ 'illiyyîn), dan membuktikan penaikan itu dengan dalil-dalil yang pasti; dan ia mengisi sumur yang dalam itu dengan anak-anak tangga kemajuan maknawi dan dengan perangkat-perangkat kesempurnaan ruhani.
Lagi pula ia memudahkan dan meringankan dengan amat sangat perjalanan manusia yang panjang, penuh badai, dan penuh gejolak ke arah keabadian. Ia menunjukkan sarana-sarana yang akan menempuh jarak seribu — bahkan lima puluh ribu — tahun dalam sehari.
Lagi pula, dengan memperkenalkan Zat Dzul-Jalâl yang merupakan Sultan Azal dan Abad, ia memberikan kepada manusia kedudukan seorang hamba yang bertugas dan seorang tamu yang mengemban tugas. Ia menjamin perjalanannya dengan penuh ketenangan, baik di rumah perjamuan dunia maupun di persinggahan-persinggahan barzakh dan ukhrawi. Sebagaimana seorang pegawai yang lurus dari seorang sultan berjalan dan melintas di dalam lingkaran negerinya, melewati perbatasan setiap wilayah dengan mudah dan dengan kendaraan perjalanan yang cepat seperti pesawat, kapal, dan kereta api; demikian pula insan yang berhimpun kepada Sang Sultan Azali dengan iman dan menaati-Nya dengan amal salih, akan melintasi persinggahan-persinggahan rumah perjamuan dunia ini, lingkaran-lingkaran alam barzakh dan alam mahsyar, dan seterusnya seluruh perbatasan luas alam-alam setelah kubur, dengan kecepatan kilat dan buraq. Sampai ia menemukan kebahagiaan abadi. Dan al-Qur'an membuktikan hakikat ini secara pasti dan menampakkannya kepada para asfiya dan aulia.
Dan lagi, hakikat al-Qur'an berkata: "Wahai mukmin! Janganlah memberikan kemampuan cinta yang tak berkesudahan dalam dirimu kepada nafsu ammarah-mu yang buruk, kurang, jahat, dan memudaratkanmu. Janganlah menjadikannya kekasih, dan janganlah menjadikan hawanya sebagai sesembahan bagimu. Melainkan berikanlah kemampuan cinta yang tak berkesudahan dalam dirimu itu kepada Zat yang layak bagi cinta yang tak berkesudahan; yang mampu berbuat kebaikan kepadamu tanpa kesudahan; yang di masa depan akan membahagiakanmu tanpa kesudahan; yang membahagiakan dengan karunia-karunia-Nya semua orang yang terikat denganmu dan yang dengan kebahagiaan mereka engkau berbahagia; yang memiliki kesempurnaan yang tak berkesudahan dan keindahan yang suci, luhur, munazzah, tanpa cela, tanpa kurang, dan tanpa lenyap sampai derajat yang tak berkesudahan; yang seluruh asma-Nya indah pada derajat yang tak terhingga, dan pada setiap nama-Nya terdapat begitu banyak cahaya kebaikan dan keindahan; yang surga dengan segala keindahan dan nikmatnya menampakkan keindahan rahmat-Nya dan rahmat keindahan-Nya; dan yang segala kebaikan, keindahan, kebagusan, dan kesempurnaan di seluruh alam yang tercinta dan dicintai ini menjadi isyarat, petunjuk, dan tanda bagi keindahan-Nya dan kesempurnaan-Nya — jadikanlah Zat itu kekasih dan sesembahanmu..."
Dan ia berkata: "Wahai manusia! Janganlah memberikan kemampuan cintamu yang menjadi milik asma dan sifat-Nya kepada maujud-maujud lain yang tanpa kekekalan; janganlah menghamburkannya kepada makhluk-makhluk yang tak berfaedah. Sebab segala karya dan makhluk itu fana. Tetapi Asma-i Husna, yang ukiran-ukiran dan manifestasi-manifestasinya terlihat pada karya-karya dan ciptaan-ciptaan itu, adalah kekal dan abadi. Dan pada setiap satu dari asma dan sifat itu terdapat ribuan tingkat karunia dan keindahan serta ribuan lapisan kesempurnaan dan cinta. Pandanglah nama Rahmân saja: surga adalah satu manifestasi-Nya, kebahagiaan abadi adalah sekilau cahaya-Nya, dan seluruh rezeki serta nikmat di dunia adalah setetes dari-Nya."
Maka perhatikanlah ayat yang mengisyaratkan hakikat ahli kesesatan dan ahli iman dari segi kehidupan dan tugas mereka ini:
لَقَدْ خَلَقْنَا الاِْنْسَانَ ف۪ٓى اَحْسَنِ تَقْو۪يمٍ ٭ ثُمَّ رَدَدْنَاهُ اَسْفَلَ سَافِل۪ينَ ٭ اِلاَّ الَّذ۪ينَ اٰمَنُوا وَ عَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
dan yang mengisyaratkan hasil serta kesudahan mereka:
فَمَا بَكَتْ عَلَيْهِمُ السَّمَٓاءُ وَ الاَْرْضُ
Betapa luhur dan penuh mukjizat kedua ayat itu mengungkapkan pertimbangan yang telah kami terangkan.
Ayat pertama: karena hakikat yang diungkapkan ayat itu secara penuh i'jaz dan penuh îjaz telah diterangkan secara terperinci dalam Kelimat Kesebelas, kami serahkan kepadanya.
Adapun ayat kedua: kami hanya akan menunjukkan dengan sebuah isyarat kecil betapa luhur hakikat yang diungkapkannya. Demikianlah:
Ayat ini, dengan pengertian yang selaras, memfirmankan: "Dengan matinya ahli kesesatan, langit dan bumi tidak menangisi mereka." Dan dengan pengertian kebalikannya ia menunjukkan: "Dengan perginya ahli iman dari dunia, langit dan bumi menangisi mereka." Yakni: karena ahli kesesatan mengingkari tugas-tugas langit dan bumi, tidak mengetahui makna-maknanya, menjatuhkan nilai-nilainya, dan tidak mengenal Sâni'-nya; ia melakukan penghinaan dan permusuhan terhadapnya — tentu langit dan bumi tidaklah menangisi mereka, bahkan mengutuk mereka, yakni mendoakan keburukan atas mereka, dan merasa lega dengan kebinasaan mereka. Dan dengan pengertian kebalikannya ia berkata: "Langit dan bumi menangisi kematian ahli iman." Sebab ahli iman mengetahui tugas-tugas langit dan bumi. Ia membenarkan hakikat-hakikatnya yang sejati. Dan makna-makna yang diungkapkannya ia pahami dengan iman. Ia berkata, "Alangkah indah mereka diciptakan, alangkah indah mereka berkhidmah." Dan ia memberikan kepada mereka nilai yang layak dan menghormati mereka. Atas nama Allah ia mencintai mereka dan mencintai asma yang mereka menjadi cerminnya. Maka karena rahasia inilah langit dan bumi bersedih atas kepergian ahli iman, laksana menangis.
SEBUAH PERTANYAAN PENTING:
Kalian berkata: "Cinta bukanlah perkara ikhtiar. Lagi pula, berdasarkan kebutuhan fitri, aku mencintai makanan-makanan lezat dan buah-buahan. Aku mencintai ayah, ibu, dan anak-anakku. Aku mencintai pendamping hidupku. Aku mencintai kawan dan sahabat-sahabatku. Aku mencintai para nabi dan para wali. Aku mencintai hidupku, masa mudaku. Aku mencintai musim semi, hal-hal yang indah, dan dunia. Bagaimana mungkin aku tidak mencintai semuanya itu? Bagaimana aku dapat memberikan seluruh cinta ini kepada Zat, sifat, dan asma Allah? Apa maksudnya ini?"
Jawaban: Dengarkanlah "Empat Nuktah" berikut.
NUKTAH PERTAMA:
Cinta memang bukan perkara ikhtiar. Akan tetapi, dengan ikhtiar, wajah cinta dapat dipalingkan dari satu kekasih kepada kekasih yang lain. Misalnya: dengan menampakkan keburukan seorang kekasih, atau dengan menampakkan bahwa ia hanyalah tirai atau cermin bagi kekasih lain yang sesungguhnya layak dicintai, wajah cinta itu dapat dipalingkan dari kekasih majasi kepada Kekasih hakiki.
NUKTAH KEDUA:
Kami tidak berkata, "Jangan cintai" apa-apa yang telah engkau sebutkan satu per satu itu. Melainkan kami berkata: cintailah semuanya itu atas nama Allah dan atas nama cinta kepada-Nya. Misalnya: mencintai makanan-makanan lezat dan buah-buahan indah dari segi bahwa ia adalah karunia Allah dan pemberian nikmat Sang Rahmân Rahîm itu, adalah mencintai nama "Rahmân" dan "Mun'im", dan sekaligus merupakan syukur maknawi. Adapun yang menunjukkan bahwa cinta ini bukan semata atas nama nafsu, melainkan atas nama Sang Rahmân, ialah: mencari rezeki secara qanaah di dalam lingkungan yang dihalalkan, dan memakannya dengan penuh tafakur dan penuh syukur.
Dan penghormatan serta cinta kepada ayah dan ibu — atas nama hikmah dan rahmat yang telah melengkapi mereka dengan kasih sayang dan yang telah mendidikmu melalui tangan-tangan penuh belas kasih mereka — adalah termasuk cinta kepada Allah. Tanda bahwa cinta, penghormatan, dan kasih sayang itu adalah lillâh, karena Allah, ialah: ketika mereka telah tua dan tiada lagi faedah apa pun dari mereka bagimu, bahkan mereka menjatuhkanmu ke dalam kesusahan dan kepayahan, justru engkau semakin mencintai, mengasihi, dan menyayangi mereka. Ayat اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَا اَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُلْ لَهُمَا اُفٍّ yang memanggil anak kepada lima tingkat penghormatan dan kasih sayang, menunjukkan betapa penting hak-hak kedua orang tua dalam pandangan al-Qur'an, dan betapa buruknya kedurhakaan kepada mereka. Karena seorang ayah hanya menginginkan satu hal: bukan siapa-siapa, melainkan anaknya sendirilah yang menjadi lebih baik daripada dirinya; maka sebagai imbalannya, anak pun tidak dapat menuntut hak apa pun terhadap ayahnya. Berarti antara orang tua dan anak secara fitrah tidak ada sebab pertengkaran. Sebab pertengkaran itu timbul entah dari iri dan dengki — dan pada seorang ayah terhadap anaknya hal itu tidak ada; entah dari kezaliman — dan si anak tidaklah memiliki hak untuk menuntut ayahnya. Sekalipun ia memandang ayahnya berbuat tidak adil, ia tidak boleh durhaka kepadanya. Berarti orang yang durhaka kepada ayahnya dan menyakitinya adalah seekor binatang buas jelmaan rusaknya kemanusiaan.
Dan mencintai anak-anak — karena mereka adalah hadiah-hadiah dari Zat Yang Rahîm dan Karîm itu — dengan menyayangi dan memelihara mereka dalam kesempurnaan kasih sayang dan belas kasih, itu pun termasuk milik al-Haq. Adapun tanda bahwa cinta itu atas nama Allah ialah: sabar disertai syukur pada saat kematian mereka, dan tidak menjerit-jerit dalam keputusasaan. Hendaklah engkau berkata, "Ia adalah makhluk tercinta milik Khâliq-ku yang diserahkan kepada pengawasanku, seorang hamba milik-Nya; sekarang hikmah-Nya menuntut, Dia mengambilnya dariku dan membawanya ke tempat yang lebih baik. Jikalau aku memiliki satu bagian lahiriah atas hamba milik-Nya itu, seribu bagian yang hakiki adalah milik Khâliq-nya," lalu berkata "al-hukmu lillâh" dan berserah diri.
Dan kawan serta sahabat: jikalau mereka adalah kekasih-kekasih Allah karena iman dan amal salih, maka menurut rahasia "al-hubbu fillâh", cinta itu pun termasuk milik al-Haq.
Dan cintailah pendamping hidupmu dari segi bahwa ia adalah hadiah rahmat Ilahi yang akrab dan lembut; kasihilah ia. Tetapi janganlah mengikatkan cintamu kepada keelokan rupa yang cepat rusak. Melainkan kecantikan wanita yang paling menawan dan paling manis ialah keelokan budi pekertinya di dalam kelembutan dan kehalusan yang khas bagi kewanitaan. Dan keindahannya yang paling berharga dan paling manis ialah kasih sayangnya yang luhur, sungguh-sungguh, tulus, dan bercahaya. Keindahan kasih sayang dan keelokan budi pekerti ini berlangsung sampai akhir hayat dan terus bertambah. Dan hak-hak kehormatan makhluk yang lemah dan lembut itu terpelihara dengan cinta itu. Jika tidak, dengan lenyapnya keelokan rupa, si malang itu akan kehilangan haknya justru pada saat ia paling membutuhkannya.
Dan mencintai para nabi dan para wali, dari segi bahwa mereka adalah hamba-hamba yang diterima di sisi Allah, adalah atas nama Allah dan karena-Nya; dan dari sudut pandang itu cinta tersebut termasuk milik-Nya.
Dan mencintai kehidupan — dari segi bahwa ia adalah modal paling berharga yang diberikan Allah kepada manusia dan kepadamu, yang akan memperolehkan kehidupan yang kekal; sebuah simpanan dan sebuah khazanah yang menghimpun perangkat-perangkat kesempurnaan yang kekal — dengan memeliharanya dan mempekerjakannya dalam khidmah kepada Allah; maka cinta itu pun dari satu segi termasuk milik Sang Ma'bûd.
Dan mengagumi serta mencintai kelembutan dan keindahan masa muda dari sudut pandang bahwa ia adalah nikmat Allah yang lembut, manis, dan indah, lalu menggunakannya dengan baik — adalah sejenis cinta yang dihalalkan lagi penuh syukur.
Dan mencintai musim semi secara penuh tafakur, dari segi bahwa ia adalah lembaran ukiran-ukiran terlembut dan terindah dari asma Ilahi yang bercahaya, dan sebuah pameran seni yang paling terhias dan semarak dari seni antik Sang Sâni' Hakîm — adalah mencintai asma Allah.
Dan mencintai dunia dari segi bahwa ia adalah ladang akhirat, cermin asma Ilahi, surat-surat Allah, dan sebuah rumah perjamuan yang sementara — dengan syarat nafsu ammarah tidak ikut campur — adalah termasuk milik Allah.
Kesimpulannya: Cintailah dunia dan makhluk-makhluk di dalamnya dengan makna hurufi. Janganlah mencintainya dengan makna ismi. Katakanlah, "Alangkah indah ia diciptakan." Janganlah berkata, "Alangkah indah ia." Dan janganlah memberi peluang bagi masuknya cinta-cinta yang lain ke dalam batin kalbu. Sebab batin kalbu adalah cermin as-Samad dan khusus bagi-Nya. Katakanlah: اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا حُبَّكَ وَ حُبَّ مَا يُقَرِّبُنَا اِلَيْكَ
Maka seluruh cinta yang telah kami sebutkan satu per satu itu, jikalau berlangsung dengan cara seperti ini: ia memberikan kelezatan tanpa derita, dan dari satu segi ia adalah pertemuan (wishâl) tanpa kelenyapan. Lagi pula ia menambah cinta Ilahi. Ia adalah cinta yang dihalalkan. Ia adalah syukur yang merupakan kelezatan itu sendiri, dan pikiran yang merupakan cinta itu sendiri.
Misalnya: Seorang sultan yang agung {Catatan kaki: Pada suatu masa, dua kepala suku masuk menghadap seorang sultan; keduanya berada dalam keadaan yang sama seperti yang dituliskan ini.} menghadiahkan sebutir apel kepadamu; maka pada apel itu ada dua cinta dan dua kelezatan:
Yang pertama: apel dicintai karena ia apel; dan padanya ada kelezatan yang khas bagi apel dan sebesar apel itu saja. Cinta ini bukanlah milik sang sultan. Orang yang di hadapan sultan memasukkan apel itu ke mulutnya lalu memakannya, bukanlah mencintai sultan, melainkan mencintai apel dan mencintai nafsunya sendiri. Kadang-kadang sang sultan tidak menyukai cinta yang memanjakan nafsu itu, bahkan membencinya. Lagi pula kelezatan apel itu juz'î, dan ia lenyap; setelah apel dimakan, kelezatan itu pun pergi, dan tinggallah sebuah penyesalan.
Adapun cinta yang kedua: yang dicintai ialah perhatian dan kemurahan sang sultan yang ditampakkan melalui apel itu. Orang yang meletakkan apel itu di atas kepalanya — seakan-akan apel itu adalah contoh dan penjelmaan dari kemurahan sang sultan — menampakkan bahwa ia mencintai sultannya. Lagi pula pada buah yang menjadi sarung kemurahan itu terdapat suatu kelezatan yang berada di atas kelezatan seribu apel. Maka kelezatan ini adalah rasa syukur itu sendiri. Cinta ini adalah cinta yang penuh hormat kepada sang sultan.
Persis seperti itu pula: jikalau segala nikmat dan buah dicintai karena zatnya sendiri, dan dinikmati secara lalai hanya dengan kelezatan-kelezatan jasmaninya, maka cinta itu bersifat nafsu. Kelezatan-kelezatan itu pun berlalu dan berujung derita. Tetapi jikalau ia dicintai dari segi bahwa ia adalah buah-buah perhatian rahmat Allah dan karunia-karunia-Nya, dan kelezatannya dikecap dengan selera yang sempurna dalam bentuk menghargai derajat-derajat kelembutan karunia dan perhatian itu; maka ia adalah syukur maknawi sekaligus kelezatan tanpa derita...
NUKTAH KETIGA:
Cinta kepada asma Allah memiliki lapisan-lapisan: sebagaimana telah kami terangkan, kadang-kadang seseorang mencintai asma dalam bentuk mencintai karya-karya-Nya. Kadang-kadang ia mencintai asma dari segi bahwa asma itu adalah gelar-gelar kesempurnaan Ilahi.
Kadang-kadang manusia, dari segi keluasan hakikatnya, pada titik kebutuhannya yang tak terhingga, menjadi butuh dan rindu kepada asma itu, dan ia mencintainya dengan kebutuhan itu. Misalnya: sementara engkau merasakan kebutuhan memohon pertolongan secara tak berdaya bagi semua kerabat, kaum fakir, orang-orang lemah, dan makhluk-makhluk yang membutuhkan yang engkau kasihi; lalu seseorang tampil dan berbuat baik kepada mereka sebagaimana yang engkau inginkan; alangkah senangnya hatimu kepada gelar pemberi nikmat dan nama dermawan dari orang itu, dan alangkah engkau mencintainya dengan gelar itu. Demikian pula, pikirkanlah hanya nama Rahmân dan Rahîm milik Allah: dari segi Dia membahagiakan seluruh ayah dan nenek moyangmu yang mukmin, kerabat dan sahabat-sahabatmu yang engkau cintai dan engkau kasihi — di dunia dengan berbagai jenis nikmat, di surga dengan berbagai jenis kelezatan, dan dalam kebahagiaan abadi dengan memperlihatkan mereka kepadamu dan memperlihatkan dirimu kepada mereka — maka betapa layak dicintai nama "Rahmân" dan gelar "Rahîm" itu, dan betapa ruh manusia membutuhkan kedua nama itu, dapat engkau kiaskan sendiri. Dan engkau akan memahami betapa tepat ucapan: اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلٰى رَحْمَانِيَّتِه۪ وَعَلٰى رَح۪يمِيَّتِه۪
Dan lagi, jikalau engkau perhatikan, engkau akan memahami betapa ruhmu membutuhkan dan merindukan nama "Hakîm" dan gelar "Murabbi" milik Zat yang menata, mengatur, dan memelihara dengan kesempurnaan hikmah dunia — yang engkau terikat dengannya dan terharu oleh kekacauannya, yang laksana sejenis rumahmu, sedangkan segala maujud di dalamnya laksana perabot yang akrab dan perhiasan yang tercinta dari rumahmu itu — beserta segala makhluk di dalamnya. Dan lagi, jikalau engkau perhatikan, engkau akan memahami betapa ruhmu membutuhkan nama "Wâris" dan "Bâ'its" serta gelar "Bâqî", "Karîm", "Muhyî", dan "Muhsin" dari Zat yang menyelamatkan semua manusia yang terikat denganmu dan yang membuatmu berduka dengan kepergian mereka, dari kegelapan ketiadaan pada saat kematian mereka, lalu menempatkan mereka di suatu tempat yang lebih indah daripada dunia ini.
Maka karena hakikat manusia itu luhur dan fitrahnya menyeluruh, ia secara fitrah membutuhkan — dengan ribuan jenis kebutuhan — seribu satu asma Ilahi dan banyak tingkat dari setiap nama itu. Kebutuhan yang berlipat adalah kerinduan. Kerinduan yang berlipat adalah cinta. Dan cinta yang berlipat adalah asyik. Menurut kesempurnaan ruh, tingkat-tingkat cinta terbuka mengikuti tingkat-tingkat asma. Dan cinta kepada seluruh asma itu — karena asma itu adalah gelar-gelar dan manifestasi-manifestasi Zat Dzul-Jalâl — kembali menjadi cinta kepada Zat-Nya. Sekarang, hanya sebagai contoh, dari seribu satu asma itu kami akan menerangkan satu tingkat saja dari seribu satu tingkat nama "Adl", "Hakam", "Haq", dan "Rahîm". Demikianlah:
Jikalau engkau ingin melihat nama "Rahmânur-Rahîm" dan "Haq" di dalam hikmah dan keadilan pada lingkaran yang seluas-luasnya, pandanglah perumpamaan ini: Kita mengandaikan dalam sebuah pasukan terdapat empat ratus golongan yang berbeda-beda; setiap golongan berlainan pakaian yang disukainya, berlainan perbekalan yang digemarinya, berlainan senjata yang mudah digunakannya, dan berlainan obat yang menjadi penawar bagi tabiatnya. Meskipun demikian, seluruh empat ratus golongan itu tidak dipisah-pisahkan menjadi regu dan kompi tersendiri, melainkan bercampur satu sama lain; namun seorang sultan yang tiada bandingannya — karena kesempurnaan kasih sayang dan belas kasihnya, karena kesanggupannya yang luar biasa, karena ilmu dan penguasaannya yang menakjubkan, dan karena keadilan serta hikmahnya yang luar biasa — tanpa mengacaukan satu pun dan tanpa melupakan satu pun dari mereka, memberikan sendiri, tanpa pembantu, segala pakaian, perbekalan, obat, dan senjata yang layak bagi masing-masing mereka. Maka engkau akan memahami betapa berkuasanya, betapa penyayangnya, betapa adilnya, betapa dermawannya sultan itu. Sebab, sekiranya dalam satu batalion terdapat orang-orang dari sepuluh bangsa, memberi pakaian dan melengkapi mereka secara berlainan amatlah sulit; karena itu, dengan terpaksa, dari bangsa mana pun mereka, semuanya dilengkapi dengan satu cara saja.
Maka persis seperti itu pula: jikalau engkau ingin melihat manifestasi nama "Haq" dan "Rahmânur-Rahîm" milik Allah di dalam keadilan dan hikmah, pandanglah pasukan tumbuh-tumbuhan dan hewan yang tersusun dari empat ratus ribu bangsa yang megah, yang tenda-tendanya terpasang di muka bumi pada musim semi: seluruh bangsa dan golongan itu berada saling bercampur satu di dalam yang lain, padahal pakaian masing-masing berlainan, perbekalannya berlainan, senjatanya berlainan, cara hidupnya berlainan, latihannya berlainan, dan pembebastugasannya berlainan; dan mereka tidak memiliki kesanggupan untuk mengadakan kebutuhan-kebutuhan itu dan tidak memiliki lidah untuk meminta segala tuntutan itu. Maka saksikanlah dan lihatlah gelar "Haq", "Rahmân", "Razzâq", "Rahîm", dan "Karîm" di dalam lingkaran hikmah dan keadilan, dengan timbangan dan keteraturan: bagaimana Dia memelihara, mengatur, dan mengurus mereka tanpa mengacaukan satu pun, tanpa melupakan satu pun, dan tanpa mencampuradukkan satu pun.
Maka terhadap suatu pekerjaan yang dilakukan dengan keteraturan dan timbangan yang meliputi dan menakjubkan seperti ini, dapatkah jari-jari selain-Nya ikut campur? Selain Sang Wâhid Ahad, Sang Hakîm Mutlak, Sang Qadîr atas segala sesuatu — apakah yang dapat mengulurkan tangannya kepada seni ini, pengaturan ini, rubûbiyah ini, penyelenggaraan ini? Sebab manakah yang dapat campur tangan?
NUKTAH KEEMPAT:
Engkau berkata: Apakah hasil dan faedah dari cinta-cintaku yang bermacam-macam dan berlainan itu — kepada makanan, kepada nafsuku, kepada istriku, kepada kedua orang tuaku, kepada anak-anakku, kepada para sahabatku, kepada para wali, kepada para nabi, kepada segala yang indah, kepada musim semi, dan kepada dunia — jikalau semuanya itu berlangsung menurut cara yang diperintahkan al-Qur'an?
Jawaban: Untuk menerangkan seluruh hasilnya perlu ditulis sebuah kitab yang besar. Untuk saat ini hanya akan diisyaratkan secara ringkas satu-dua hasil. Pertama-tama akan diterangkan hasil-hasilnya yang segera di dunia; kemudian akan disebutkan hasil-hasilnya yang tampak di akhirat. Demikianlah:
Sebagaimana telah diterangkan, cinta-cinta menurut cara ahli kelalaian dan ahli dunia, yang atas nama nafsu, di dunia ini banyak bencananya, deritanya, dan kepayahannya; sedikit kesenangannya, kelezatannya, dan ketenangannya. Misalnya: kasih sayang, karena ketidakberdayaan, menjadi musibah yang penuh derita. Cinta, karena perpisahan, menjadi kebakaran hati yang penuh bencana. Kelezatan, karena kelenyapan, menjadi minuman yang beracun. Adapun di akhirat, karena semuanya itu tidak atas nama Allah, ia entah tak berfaedah, entah menjadi azab (jikalau telah masuk ke dalam yang haram).
Pertanyaan: Bagaimana mungkin cinta kepada para nabi dan para wali menjadi tak berfaedah?
Jawaban: Sebagaimana cinta para penganut trinitas kepada Isa 'alaihissalam, dan cinta kaum Rafidhah kepada Hazret-i Ali radhiyallahu 'anhu, tinggal tak berfaedah.
Jikalau cinta-cinta itu berlangsung menurut cara yang dibimbing al-Qur'an, atas nama Allah dan atas nama cinta Sang Rahmân, maka ia memiliki hasil-hasil yang indah di dunia dan juga di akhirat. Adapun di dunia: cintamu kepada makanan-makanan lezat dan buah-buahan indah adalah nikmat tanpa derita dan kelezatan yang merupakan syukur itu sendiri.
Adapun cinta kepada nafsumu: ialah mengasihaninya, mendidiknya, dan mencegahnya dari hawa-hawa yang memudaratkan. Pada saat itu nafsu tidak menungganggimu dan tidak menjadikanmu tawanan hawanya. Melainkan engkaulah yang menunggangi nafsumu. Engkau menggiringnya bukan kepada hawa, melainkan kepada hidayah.
Adapun cintamu kepada pendamping hidupmu: karena ia dibangun di atas keelokan budi pekertinya, di atas kedudukannya sebagai tambang kasih sayang, dan sebagai hadiah rahmat; jikalau engkau mencintai dan menyayangi pendamping itu dengan tulus, ia pun menghormatimu dan mencintaimu dengan sungguh-sungguh. Semakin kalian berdua menua, keadaan itu semakin bertambah, dan engkau menjalani hidupmu dengan bahagia. Jika tidak — jikalau cinta itu bersifat nafsu karena tertuju kepada keelokan rupa — cinta itu cepat rusak, dan ia merusakkan pula keindahan pergaulan.
Adapun cintamu kepada ayah dan ibu: karena ia atas nama Allah, maka ia adalah ibadah; dan semakin mereka menua, engkau semakin menambah penghormatan dan cinta. Dengan perasaan yang paling luhur dan semangat yang paling jantan, sungguh-sungguh menginginkan panjangnya umur mereka dan mendoakan kekekalan mereka — dengan pikiran "agar melalui mereka aku memperoleh pahala yang lebih banyak" — lalu mencium tangan mereka dengan penghormatan yang tulus, adalah mengecap suatu kelezatan ruhani yang luhur. Jika tidak — jikalau ia bersifat nafsu dan atas nama dunia — maka ketika mereka menua dan berada dalam keadaan yang membebanimu, memandang keberadaan mereka sebagai gangguan dengan perasaan yang paling rendah dan paling hina, dan mengharapkan kematian orang-orang terhormat yang menjadi sebab hidupmu itu — adalah suatu derita ruhani yang biadab dan penuh duka.
Adapun cinta kepada anak-anakmu: yakni cinta kepada makhluk-makhluk yang tercinta dan akrab itu, yang diamanahkan Allah kepada pengawasan dan didikanmu — ia adalah cinta yang penuh bahagia, sebuah nikmat. Engkau tidak terlalu menderita oleh musibah-musibah mereka, dan tidak pula menjerit putus asa oleh kematian mereka. Sebagaimana telah lalu: karena Khâliq mereka adalah Hakîm dan juga Rahîm, engkau berkata, "Bagi mereka, kematian itu adalah suatu kebahagiaan." Dan mengenai dirimu sendiri, engkau memikirkan rahmat Zat yang telah memberikan mereka kepadamu, dan engkau pun selamat dari derita perpisahan.
Adapun cintamu kepada para sahabat: karena ia adalah "lillâh", maka perpisahan dengan para sahabat itu, bahkan kematian mereka, tidaklah menghalangi persahabatan dan persaudaraan kalian; engkau tetap mengambil manfaat dari cinta maknawi dan hubungan ruhani itu. Dan kelezatan perjumpaan menjadi abadi. Jikalau bukan "lillâh", kelezatan perjumpaan sehari akan berujung derita perpisahan seratus hari. {Catatan kaki: Perjumpaan sesaat yang lillâh bernilai satu tahun. Jikalau demi dunia, satu tahun hanyalah bernilai sesaat.}
Adapun cintamu kepada para nabi dan para wali: alam barzakh — yang bagi ahli kelalaian tampak sebagai tempat kengerian yang gelap — karena tampak bagimu sebagai persinggahan yang diterangi keberadaan orang-orang yang bercahaya itu, maka ia tidak menimbulkan rasa ngeri dan takut untuk pergi ke alam itu; bahkan sebaliknya, ia memberikan rasa cenderung dan rindu; ia tidak melenyapkan kelezatan hidup duniawi. Jika tidak — jikalau cinta kepada mereka sejenis cinta ahli peradaban kepada tokoh-tokoh termasyhur manusia — maka dengan memikirkan kefanaan dan kelenyapan orang-orang sempurna itu serta hancurnya mereka di dalam kuburan amat besar yang bernama masa lampau, ia menambahkan satu duka lagi ke atas hidupnya yang penuh derita. Yakni ia berpikir, "Aku pun akan pergi ke kuburan yang menghancurkan orang-orang sesempurna itu," lalu memandang pekuburan dengan pandangan cemas, dan mengeluh, "Ah!" Sedangkan pada pandangan yang pertama: ia memikirkan bahwa mereka hanya meninggalkan pakaian jasad di masa lampau, sedangkan mereka sendiri bermukim dengan penuh ketenangan di alam barzakh yang merupakan ruang tunggu masa depan; dan ia pun memandang pekuburan dengan penuh keakraban.
Dan lagi, cintamu kepada segala yang indah: karena ia atas nama Sâni'-nya — dalam bentuk "Alangkah indah mereka diciptakan" — maka cinta itu, di samping merupakan tafakur yang lezat, ia membukakan jalan dan mengarahkan pandangan bagi selera pencinta keindahan dan pencinta kecantikan kepada khazanah tingkat-tingkat keindahan yang lebih tinggi, lebih suci, dan seribu kali lebih indah. Sebab dari karya-karya yang indah itu ia mengantarkan kepada keindahan perbuatan-perbuatan Ilahi; darinya kepada keindahan asma; darinya kepada keindahan sifat; dan darinya ia membukakan jalan bagi kalbu kepada keindahan tiada tara Zat Dzul-Jalâl. Maka jikalau cinta ini berlangsung dalam bentuk demikian, ia lezat, ia ibadah, dan ia pun tafakur.
Adapun cintamu kepada masa muda: karena engkau telah mencintainya dari segi bahwa ia adalah sebuah nikmat Allah yang indah, tentu engkau membelanjakannya dalam ibadah dan tidak menenggelamkannya lalu membunuhnya di dalam kefasikan. Kalau demikian, ibadah-ibadah yang engkau peroleh di masa muda itu adalah buah-buah kekal dari masa muda yang fana itu. Semakin engkau menua, sementara engkau telah menggenggam buah-buah kekal yang merupakan kebaikan-kebaikan masa mudamu, engkau pun selamat dari mudarat-mudarat dan keliaran-keliaran masa muda. Lagi pula engkau berpikir bahwa di masa tua engkau memperoleh taufik lebih banyak untuk beribadah dan kelayakan lebih besar bagi belas kasih Ilahi. Engkau tidak akan seperti ahli kelalaian yang, sebagai imbalan kelezatan masa muda lima-sepuluh tahun, selama lima puluh tahun menyesal sambil berkata, "Aduhai, masa mudaku telah pergi," lalu menangisi masa mudanya. Sebagaimana salah seorang dari mereka berkata:
لَيْتَ الشَّبَابَةَ يَعُودُ يَوْمًا فَاُخْبِرُهُ بِمَا فَعَلَ الْمَش۪يبُ
Yakni: "Andaikan masa mudaku kembali sehari saja, niscaya akan kuberitakan kepadanya, sambil mengeluh, apa yang telah diperbuat ketuaan atas kepalaku."
Adapun cinta kepada pameran-pameran berhias seperti musim semi: karena ia dari segi menyaksikan seni Ilahi, maka dengan perginya musim semi itu kelezatan menyaksikannya tidaklah lenyap. Sebab musim semi, laksana sepucuk surat bersepuh emas, makna-makna yang diberikannya dapat engkau saksikan setiap waktu. Khayalmu dan zaman, keduanya laksana pita-pita layar gambar, terus melanggengkan kelezatan penyaksian itu bagimu, sekaligus memperbarui makna-makna dan keindahan-keindahan musim semi itu untukmu. Pada saat itu cintamu tidaklah penuh sesal, penuh derita, dan sementara; melainkan menjadi lezat dan menyenangkan.
Adapun cintamu kepada dunia: karena ia atas nama Allah, maka maujud-maujud dunia yang menakutkan menjadi bagimu laksana kawan yang akrab. Karena engkau mencintainya dari segi ladang akhirat, maka dari segala sesuatunya engkau dapat memperoleh modal dan buah yang memberi faedah bagi akhirat. Musibah-musibahnya tidak menakutkanmu, dan kelenyapan serta kefanaannya tidak menyesakkanmu. Engkau menjalani masa tinggalmu di rumah perjamuan itu dengan kesempurnaan ketenangan. Jika tidak — jikalau engkau mencintainya seperti ahli kelalaian — telah seratus kali kami katakan kepadamu: engkau akan tenggelam dan binasa di dalam suatu cinta yang sesak, menghimpit, mencekik, terhukum kepada kefanaan, dan tanpa hasil.
Maka telah kami tampakkan seperseratus keindahan dari masing-masing sebagian kekasih itu, apabila ia berlangsung menurut cara yang dibimbing al-Qur'an. Dan telah kami isyaratkan seperseratus mudaratnya apabila tidak menurut jalan yang ditunjukkan al-Qur'an. Sekarang, jikalau engkau ingin mendengar dan memahami hasil-hasil dari kekasih-kekasih itu di negeri kekal, di alam akhirat — yang diisyaratkan al-Qur'an yang penuh hikmah dengan ayat-ayatnya yang terang — maka hasil-hasil dari cinta-cinta yang dihalalkan semacam itu di negeri akhirat akan kami tunjukkan secara ringkas, satu dari seratus faedah masing-masingnya, melalui sebuah "Mukadimah dan sembilan Isyarat":