HARAPAN KETUJUH:
Panduan Wanita · hlm. 24
Pada suatu masa di permulaan ketuaanku, pada saat tawa-tawa Said Lama telah berubah menjadi tangis-tangis Said Baru, para ahli dunia di Ankara menyangkaku masih sebagai Said Lama, lalu mengundangku ke sana; aku pun pergi. Pada penghujung musim gugur, aku naik ke puncak benteng Ankara yang jauh lebih tua, lebih lapuk, dan lebih usang daripadaku. Benteng itu tampak bagiku dalam bentuk peristiwa-peristiwa sejarah yang telah membatu. Musim ketuaan tahun bersama ketuaanku, ketuaan benteng itu, ketuaan umat manusia, ketuaan Daulah Utsmaniyah yang agung, wafatnya kesultanan Khilafah, dan ketuaan dunia — semuanya membuatku, di atas benteng yang tinggi itu, dalam suatu keadaan yang amat sedih, mengharukan, dan penuh perpisahan, memandang ke lembah-lembah zaman yang telah lampau dan ke gunung-gunung zaman yang akan datang; dan aku pun memandang. Di dalam kegelapan empat-lima ketuaan yang meliputiku lapis demi lapis, karena aku merasakan suatu keadaan ruhani yang paling kelam di Ankara, {Catatan kaki: Pada waktu itu keadaan ruhani ini datang ke dalam kalbu dalam bentuk sebuah munajat berbahasa Persia; aku menuliskannya. Ia telah dicetak di Ankara dalam Risalah Hubab.} aku mencari sebuah cahaya, sebuah penghiburan, sebuah harapan.
Ketika aku memandang ke kanan, yakni ke zaman lampau, untuk mencari penghiburan; masa lampau itu tampak bagiku dalam bentuk sebuah kuburan yang amat besar bagi ayahku, nenek moyangku, dan jenis manusiaku; alih-alih penghiburan, ia memberikan kengerian.
Ketika aku mencari obat pada sisi kiriku, yaitu masa depan, aku memandang. Aku melihat bahwa ia tampak dalam bentuk sebuah kubur yang besar dan gelap bagi diriku, bagi orang-orang yang sepertiku, dan bagi keturunan yang akan datang; alih-alih keakraban, ia memberikan kedahsyatan.
Merasa ngeri terhadap kanan dan kiri, aku memandang kepada hariku yang sekarang. Kepada pandanganku yang lalai dan bercorak sejarah itu, hari yang sekarang itu tampak dalam bentuk sebuah tabut yang mengangkut jenazah tubuhku yang setengah mati dan sedang menderita dalam gerak meregang nyawa.
Kemudian, karena berputus asa dari arah ini pun, aku mengangkat kepalaku dan memandang ke puncak pohon umurku. Aku melihat bahwa pohon itu hanya memiliki satu buah, dan buah itu ialah jenazahku; ia berdiri di atas pohon itu, memandangiku. Merasa ngeri dari arah itu pun, aku menundukkan kepalaku; aku memandang ke bawah pohon umur itu, ke akarnya. Aku melihat bahwa tanah yang di bawah itu — tanah tulang-belulangku dan tanah asal penciptaanku yang telah bercampur satu sama lain — sedang terinjak-injak di bawah kaki. Itu pun bukan obat, melainkan menambahkan derita di atas deritaku.
Kemudian dengan terpaksa aku menoleh ke belakang. Aku melihat bahwa dunia yang tanpa dasar dan fana ini sedang terguling-guling pergi di lembah-lembah ketiadaan dan di dalam kegelapan-kegelapan kehampaan. Sementara aku mencari salep bagi deritaku, ia justru menambahkan racun. Karena pada arah itu pun aku tidak melihat kebaikan, aku memandang ke arah depanku; kukirimkan pandanganku ke muka. Aku melihat bahwa pintu kubur tampak terbuka tepat di atas jalanku, menganga memandangiku. Di belakangnya, jalan raya yang menuju arah keabadian dan kafilah-kafilah yang berjalan di jalan itu tampak dari kejauhan.
Dan terhadap kedahsyatan-kedahsyatan yang datang dari enam arah ini, tiada sesuatu pun di tanganku yang dapat menjadi titik sandaran dan senjata pertahanan, selain sepotong kecil ikhtiar yang bersifat juz'î. Senjata satu-satunya milik insan terhadap musuh yang tak terhingga dan hal-hal mudarat yang tak terhitung itu — yakni ikhtiar juz'î itu — karena ia kurang, pendek, lemah, dan tidak memiliki daya mencipta, maka selain berusaha (kasb), tiada sesuatu pun yang dapat dilakukannya. Ia tidak dapat pergi ke zaman lampau untuk membungkam kesedihan-kesedihan yang datang kepadaku darinya; dan ia tidak dapat pula menembus masa depan untuk mencegah ketakutan-ketakutan yang datang darinya. Aku melihat bahwa ia tiada berfaedah bagi harapan-harapan dan derita-deritaku yang berkenaan dengan masa lampau dan masa depan.
Pada saat aku menggelepar di dalam kedahsyatan, kengerian, kegelapan, dan keputusasaan yang datang dari enam arah ini, tiba-tiba cahaya-cahaya iman yang bersinar di langit al-Qur'an yang keterangannya mukjizat datang menolong. Cahaya itu menerangi dan menyinari keenam arah itu sedemikian rupa, sehingga seandainya kengerian dan kegelapan yang kulihat itu berlipat seratus kali pun, cahaya itu tetap mencukupi dan memadai untuk menghadapinya. Ia mengubah segala kedahsyatan itu satu demi satu menjadi penghiburan, dan segala kengerian itu satu demi satu menjadi keakraban. Demikianlah:
Iman merobek bentuk kuburan amat besar dari zaman lampau yang mengerikan itu, lalu menampakkannya dengan ainul-yakin dan haqqul-yakin sebagai sebuah majelis yang bercahaya dan penuh keakraban, sebuah tempat berhimpunnya para kekasih.
Dan iman menampakkan zaman depan — yang pada pandangan kelalaian terlihat dalam bentuk sebuah kubur yang amat besar — dengan ilmul-yakin sebagai sebuah majelis perjamuan Rahmani di dalam istana-istana kebahagiaan yang tercinta.
Dan iman memecahkan bentuk tabut dari zaman sekarang yang pada pandangan kelalaian tampak sebagai sebuah tabut, lalu menampakkan hari yang sekarang itu — secara nyata disaksikan — sebagai sebuah kedai tempat perniagaan ukhrawi dan sebuah rumah perjamuan Rahmani yang semarak.
Dan iman menampakkan dengan ilmul-yakin bahwa satu-satunya buah di puncak pohon umur, yang pada pandangan kelalaian tampak berbentuk jenazah, sesungguhnya bukanlah jenazah; melainkan ruhku — yang akan memperoleh kehidupan abadi dan menjadi calon bagi kebahagiaan abadi — sedang keluar dari sarangnya yang telah usang untuk berjalan-jalan di antara bintang-bintang.
Dan iman, dengan rahasia iman, menampakkan bahwa tulang-belulangku bersama tanah asal penciptaanku bukanlah tulang-tulang musnah yang tak berarti di bawah kaki; melainkan tanah itu adalah pintu rahmat dan sebuah tirai bagi ruangan surga.
Dan iman, dengan rahasia al-Qur'an, menampakkan keadaan dunia yang — pada pandangan kelalaian — terguling-guling di belakangku dalam ketiadaan, dalam kegelapan kehampaan: bahwa dunia yang tampak terguling dalam kegelapan lahiriah itu sesungguhnya adalah sebagian surat-surat Samadani dan lembaran-lembaran ukiran Subhani yang telah selesai tugasnya, telah mengungkapkan maknanya, dan telah meninggalkan hasil-hasilnya pada wujud sebagai penggantinya. Ia memberitahukan dengan ilmul-yakin apa hakikat dunia itu.
Dan iman, dengan cahaya al-Qur'an, menampakkan kubur yang kelak membuka matanya memandangiku serta jalan raya menuju keabadian di belakang kubur itu: bahwa kubur itu bukanlah pintu sebuah sumur, melainkan pintu alam cahaya; dan jalan itu bukanlah menuju ketiadaan dan negeri kehampaan, melainkan jalan yang menuju wujud, negeri cahaya, dan kebahagiaan abadi — ia menampakkannya sampai derajat yang memberikan keyakinan penuh, sehingga menjadi obat sekaligus salep bagi derita-deritaku.
Dan iman memberikan sepucuk surat kepercayaan ke tangan ikhtiar juz'î itu — yang di tangannya hanya ada usaha yang amat kecil — agar ia bersandar kepada kudrat yang tak berkesudahan dan berhimpun kepada rahmat yang tak terhingga dalam menghadapi musuh dan kegelapan yang tak terhingga itu; bahkan iman itu sendiri menjadi surat kepercayaan di tangan ikhtiar juz'î itu. Lagi pula, senjata insani yang berupa ikhtiar juz'î itu, meskipun pada zatnya pendek, lemah, dan kurang; namun sebagaimana seorang prajurit, apabila menggunakan kekuatannya yang kecil atas nama negara, dapat mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang ribuan derajat melebihi kekuatannya sendiri — demikian pula, dengan rahasia iman, apabila ikhtiar juz'î yang kecil itu digunakan atas nama Allah dan di jalan-Nya, ia dapat pula memperoleh sebuah surga seluas perjalanan lima ratus tahun.
Dan iman mengambil kendali ikhtiar juz'î itu — yang tidak mampu menembus zaman lampau dan zaman depan — dari tangan jasad, lalu menyerahkannya kepada kalbu dan ruh. Karena lingkaran kehidupan ruh dan kalbu tidaklah terbatas pada zaman sekarang seperti jasad, dan karena bertahun-tahun yang amat banyak dari masa lampau dan bertahun-tahun yang amat banyak dari masa depan termasuk ke dalam lingkaran kehidupannya; maka ikhtiar juz'î itu keluar dari kejuz'iannya dan memperoleh keküllian. Sebagaimana dengan kekuatan iman ia dapat memasuki lembah-lembah zaman lampau yang paling dalam dan mengusir kegelapan-kegelapan kesedihan; demikian pula dengan cahaya iman ia dapat naik sampai ke gunung-gunung masa depan yang paling jauh dan melenyapkan ketakutan-ketakutan.
Maka wahai para saudara tua dan saudari-saudari tua yang menanggung kepayahan ketuaan sepertiku! Karena — alhamdulillah — kita adalah ahli iman; dan karena di dalam iman terdapat khazanah-khazanah yang begitu bercahaya, lezat, tercinta, dan manis; dan karena ketuaan kita justru menggiring kita lebih dalam lagi ke dalam khazanah ini — maka tentu, atas ketuaan yang disertai iman bukanlah keluhan yang patut kita sampaikan, melainkan ribuan syukur.