Risale-i NurPanduan Wanita

HARAPAN KEENAM:

Panduan Wanita · hlm. 23

Pada suatu masa, dalam suatu penawananku yang pedih, karena merasa ngeri terhadap manusia, aku tinggal sendirian di puncak Gunung Çam di dataran tinggi Barla. Dalam kesendirian itu aku mencari sebuah cahaya. Pada suatu malam, aku berada di sebuah bilik kecil beratap terbuka di atas sebuah pohon cemara yang tinggi di puncak bukit yang tinggi itu. Ketuaan mengingatkanku akan tiga-empat keterasingan yang saling berlapis satu di dalam yang lain. Sebagaimana diterangkan dalam Surat Keenam: pada malam itu, dalam kesunyian dan keheningan, hanya suara sedih yang datang dari desau dan desah pepohonan amat menyentuh perasaan halusku, ketuaanku, dan keterasinganku. Ketuaan memberiku peringatan: sebagaimana siang telah berubah menjadi kubur yang hitam ini dan dunia telah mengenakan kafannya yang hitam, demikian pula siang umurmu akan berganti menjadi malam, siang dunia akan berganti menjadi malam barzakh, dan musim panas kehidupan akan berganti menjadi malam musim dingin kematian — demikian ia berkata kepada telinga kalbuku. Maka nafsuku dengan terpaksa berkata:

Benar, sebagaimana aku terasing dari tanah airku, keterpisahanku dari orang-orang yang kucintai yang telah lenyap dalam umurku selama lima puluh tahun ini — sementara aku tertinggal di belakang mereka sambil menangisi mereka — adalah suatu keterasingan yang lebih sedih dan lebih pedih daripada keterasingan dari tanah air ini. Dan aku sedang mendekat kepada suatu keterasingan yang lebih sedih dan lebih pedih daripada keterasingan sedih pada keadaan malam ini dan gunung yang terasing ini: ketuaan mengabarkan kepadaku bahwa waktu perpisahan dari seluruh dunia sekaligus telah mendekat. Dari keadaan keterasingan di dalam keterasingan dan kesedihan di dalam kesedihan ini, aku mencari sebuah harapan, sebuah cahaya. Tiba-tiba iman kepada Allah datang menolong. Ia memberikan suatu keakraban yang sedemikian rupa, sehingga seandainya kesepian berlipat yang kualami itu menjadi berlipat seribu kali pun, penghiburan itu tetaplah mencukupi.

Benar, wahai para lelaki tua dan wanita tua! Karena kita memiliki Khâliq Yang Rahîm, maka bagi kita tidak ada keterasingan. Karena Dia ada, maka segala sesuatu ada bagi kita. Karena Dia ada, maka para malaikat-Nya pun ada. Kalau demikian, dunia ini tidaklah kosong. Gunung-gunung yang lengang dan padang-padang yang kosong penuh dengan hamba-hamba Allah. Selain hamba-hamba-Nya yang berkesadaran, dengan cahaya-Nya dan atas nama-Nya, batu dan pohon pun menjadi laksana kawan yang akrab; dengan bahasa keadaan mereka dapat berbicara dengan kita dan menghibur kita.

Benar, dalil-dalil dan saksi-saksi yang bersaksi atas wujud-Nya sebanyak bilangan maujud alam ini dan sebanyak huruf-huruf kitab alam yang besar ini, serta yang menampakkan rahmat-Nya sebanyak bilangan perangkat, makanan, dan nikmat yang menjadi sumber kasih sayang, rahmat, dan pertolongan bagi para pemilik ruh — semuanya menunjukkan kepada kita pintu istana Khâliq kita, Sâni' kita, dan Pelindung kita, Yang Rahîm, Karîm, Anîs, dan Wadûd. Di istana itu, pemberi syafaat yang paling diterima ialah ketidakberdayaan dan kelemahan. Dan waktu yang tepat bagi ketidakberdayaan dan kelemahan ialah masa tua. Maka terhadap ketuaan yang menjadi pemberi syafaat yang diterima di istana semacam itu, bukanlah patut berkecil hati, melainkan patut mencintainya.