HARAPAN KELIMA:
Panduan Wanita · hlm. 21
Pada suatu masa, di permulaan ketuaanku, dengan keinginan ber-uzlah, di Bukit Yusya di sisi selat Istanbul, ruhku mencari ketenangan dalam kesendirian. Pada suatu hari, di bukit yang tinggi itu, aku memandang lingkaran ufuk, ke sekeliling. Dengan peringatan ketuaan, aku melihat sebuah lukisan kelenyapan dan perpisahan yang amat sedih dan mengharukan. Dari maqam yang tinggi pada dahan keempat puluh lima pohon umurku — tahun keempat puluh lima umurku — aku mengedarkan pandangan sampai ke lapisan-lapisan bawah kehidupanku. Aku melihat bahwa di bawah sana, pada setiap dahannya, dalam lingkup setiap tahunnya, terdapat jenazah-jenazah yang tak terhingga dari orang-orang yang kucintai, orang-orang yang terikat denganku, dan orang-orang yang kukenal. Dan di dalam keharuan maknawi yang amat menyayat yang datang dari perpisahan dan perceraian itu, seperti Fuzulî dari Baghdad, sambil memikirkan para sahabat yang telah berpisah, aku merintih:
Setiap kali mengenang pertemuan dengannya, aku menangis;
Selama napas masih ada pada tubuhku yang kering ini, aku terus menjerit.
Demikianlah aku mencari sebuah pintu penghiburan, sebuah cahaya, sebuah harapan. Tiba-tiba cahaya iman kepada akhirat datang menolong. Ia memberikan cahaya yang tak pernah padam dan harapan yang tak pernah patah.
Benar, wahai saudara-saudara tua dan saudari-saudari tua sepertiku! Karena akhirat itu ada; dan karena ia kekal; dan karena ia lebih indah daripada dunia; dan karena Zat yang menciptakan kita adalah Hakîm dan juga Rahîm — maka kita tidak semestinya mengeluh dan menyesali ketuaan. Sebaliknya, kita semestinya bergembira karenanya, dari segi bahwa ketuaan — dengan sampai kepada usia kematangan di dalam iman dan ibadah — adalah suatu tanda pembebasan dari tugas kehidupan dan suatu tanda keberangkatan menuju alam rahmat untuk beristirahat.
Benar, dengan nas hadis: seratus dua puluh empat ribu nabi — pribadi-pribadi paling terpilih dari jenis manusia — dengan ijmak dan tawatur, sebagiannya bersandar kepada penyaksian dan sebagiannya kepada haqqul-yakin, secara sepakat telah mengabarkan adanya akhirat, digiringnya manusia ke sana, dan bahwa Khâliq alam ini pasti akan mendatangkan akhirat yang telah dijanjikan-Nya secara pasti; demikian pula seratus dua puluh empat juta wali — yang dengan kasyaf dan penyaksian, dalam bentuk ilmul-yakin, membenarkan kabar yang diberikan para nabi itu — bersaksi atas adanya akhirat itu; dan seluruh asma Sang Sâni' Hakîm Pencipta alam ini, dengan manifestasi-manifestasi yang mereka tampakkan di dunia ini, dengan amat jelas menuntut adanya suatu alam yang kekal, dan dengan itu kembali menunjukkan adanya akhirat; dan kudrat azali yang tak terhingga — yang setiap tahun pada musim semi menghidupkan jenazah-jenazah pohon mati tak terhitung yang berdiri di muka bumi dengan perintah "Kun fa-yakûn" serta menjadikannya cermin bagi kebangkitan setelah mati (ba'su ba'dal-maut), dan yang menghimpun dan menyebarkan (hasyr dan nasyr) tiga ratus ribu jenis dari golongan tumbuh-tumbuhan dan bangsa hewan sebagai ratusan ribu contoh kebangkitan — dan hikmah abadi yang tak terhitung lagi tanpa pemborosan, dan rahmat yang kekal serta pertolongan yang terus-menerus — yang memberi makan segala pemilik ruh yang membutuhkan rezeki dengan kasih sayang yang sempurna dalam cara yang amat menakjubkan, dan yang setiap musim semi, dalam waktu yang singkat, menampakkan jenis-jenis perhiasan dan keindahan yang tak terhitung — semuanya dengan amat jelas meniscayakan adanya akhirat; dan cinta kepada kekekalan, hasrat kepada keabadian, dan angan-angan kesinambungan yang kuat, tak tergoyahkan, dan terus-menerus pada diri manusia — buah alam yang paling sempurna, ciptaan yang paling dicintai Sang Khâliq alam, dan makhluk yang paling erat hubungannya dengan segala maujud alam — dengan isyarat dan petunjuknya yang amat jelas: semuanya membuktikan dengan begitu pasti bahwa setelah alam yang fana ini ada suatu alam yang kekal, suatu negeri akhirat, suatu negeri kebahagiaan; sehingga semuanya meniscayakan penerimaan akan adanya akhirat sejelas adanya dunia ini. {Catatan kaki: Benar, mudahnya mengabarkan suatu perkara yang bersifat menetapkan, dan amat sulitnya mengingkari serta menafikannya, tampak dari perumpamaan ini. Yaitu: seseorang berkata, "Di atas muka bumi ada sebuah kebun yang amat menakjubkan, yang buah-buahnya adalah kaleng-kaleng susu." Yang lain berkata, "Tidak ada." Yang menetapkan cukup menunjukkan tempat kebun itu atau sebagian buahnya, maka dengan mudah ia membuktikan dakwaannya. Sedangkan yang mengingkari, untuk membuktikan penafiannya, ia harus melihat dan memperlihatkan seluruh muka bumi, barulah dapat membuktikan dakwaannya. Persis seperti itu pula: mereka yang mengabarkan surga — terlepas dari ratusan ribu jejak, buah, dan bekas yang mereka tunjukkan — cukuplah kesaksian dua saksi yang benar atas ketetapannya; sedangkan yang mengingkarinya harus memandang, menyaksikan, dan menyaring alam yang tak terhingga dan zaman abadi yang tak terhingga, baru dapat membuktikan pengingkarannya dan menunjukkan ketiadaannya. Maka wahai saudara-saudara tua! Pahamilah betapa kuatnya iman kepada akhirat.}
Karena pelajaran terpenting yang diberikan al-Qur'an yang penuh hikmah kepada kita ialah "iman kepada akhirat"; dan iman itu sedemikian kuatnya; dan di dalam iman itu terdapat harapan dan penghiburan yang sedemikian rupa, sehingga seandainya seratus ribu ketuaan menimpa satu orang sekalipun, penghiburan yang datang dari iman ini sanggup mengimbanginya — maka kita para orang tua semestinya berkata "Alhamdulillâhi 'alâ kamâlil-îmân" dan bergembira atas ketuaan kita.