HARAPAN KEEMPAT:
Panduan Wanita · hlm. 19
Pada suatu masa, karena aku telah menginjak ketuaan, kesehatan badanku yang selama ini melanggengkan kelalaian pun rusak. Ketuaan dan penyakit menyerangku secara bersekutu. Sambil memukul-mukul kepalaku, keduanya mengusir tidurku. Ikatan-ikatan yang mengikatku dengan dunia — seperti anak-istri dan harta — pun tiada. Buah dari modal umurku yang kusia-siakan dalam kesembronoan masa muda, kulihat semuanya hanyalah dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan. Sambil menjerit seperti Niyazi-i Mısrî, aku berkata:
Tiada perniagaan yang kulakukan; modal umur telah sia-sia terbuang,
Aku tiba di jalan, namun seluruh kafilah telah berangkat tanpa kusadari.
Sambil menangis dan merintih aku jatuh ke jalan, sendirian, terasing;
Mata berlinang, dada terbakar, akal tercengang tak mengerti.
Pada waktu itu aku berada di perantauan. Aku merasakan suatu kesedihan yang putus asa, suatu penyesalan yang penuh sesal, dan suatu kerinduan yang memohon pertolongan. Tiba-tiba al-Qur'an yang keterangannya mukjizat datang menolong. Ia membukakan bagiku sebuah pintu harapan yang begitu kuat dan memberikan sebuah cahaya penghiburan yang begitu hakiki, sehingga sanggup melenyapkan keputusasaan yang seratus derajat di atas keadaanku itu dan sanggup membubarkan kegelapan-kegelapan itu.
Benar, wahai para lelaki tua dan wanita tua terhormat yang ikatan-ikatannya dengan dunia mulai terputus sepertiku, dan yang tali-tali pengikatnya dengan dunia mulai putus satu demi satu! Mungkinkah Sang Sâni' Dzul-Jalâl yang menciptakan dunia ini laksana sebuah kota, sebuah istana yang paling sempurna dan teratur, tidak berbicara dan tidak bertemu dengan tamu-tamu dan sahabat-sahabat-Nya yang paling penting di kota itu, di istana itu? Karena Dia dengan penuh pengetahuan telah membangun istana ini dan dengan iradah serta pilihan-Nya telah menata dan menghiasinya, tentu — sebagaimana "yang membuat, mengetahui", demikian pula "yang mengetahui, berbicara". Karena Dia telah menjadikan istana ini, kota ini, sebuah tempat perjamuan tamu dan tempat perniagaan yang indah bagi kita, tentu akan ada sebuah daftar, sebuah kitab dari-Nya, yang menampakkan hubungan-hubungan-Nya dengan kita dan keinginan-keinginan-Nya dari kita.
Maka yang paling sempurna dari daftar suci itu ialah al-Qur'an yang keterangannya mukjizat: mukjizat dari empat puluh segi; yang setiap saat beredar setidaknya pada lidah seratus juta manusia sambil menaburkan cahaya; yang pada setiap hurufnya terdapat paling sedikit sepuluh pahala dan sepuluh kebaikan, kadang sepuluh ribu, dan kadang — dengan rahasia Lailatulqadar — tiga puluh ribu kebaikan bagi satu hurufnya, serta memberikan buah surga dan cahaya barzakh. Pada maqam ini tidak ada satu kitab pun di seluruh alam yang dapat menandinginya, dan tak seorang pun dapat menunjukkan tandingannya. Karena al-Qur'an yang ada di tangan kita ini adalah kalam dan firman Sang Khâliq Dzul-Jalâl Pencipta langit dan bumi — yang datang dari titik rubûbiyah-Nya yang mutlak, dari segi keagungan ulûhiyah-Nya, dan dari sisi rahmat-Nya yang meliputi segala sesuatu — dan merupakan sebuah tambang rahmat-Nya; maka berpegang teguhlah kepadanya. Di dalamnya terdapat obat bagi setiap derita, cahaya bagi setiap kegelapan, dan harapan bagi setiap keputusasaan.
Maka kunci khazanah abadi ini ialah iman dan penyerahan diri, serta mendengarkannya, menerimanya, dan membacanya.