HARAPAN KETIGA:
Panduan Wanita · hlm. 18
Pada suatu masa, ketika aku terbangun dari tidur malam kepemudaan dengan subuh ketuaan, aku memandang diriku: tubuhku sedang berjalan ke arah kubur laksana berlari menuruni sebuah turunan. Sebagaimana kata Niyazi-i Mısrî:
Setiap hari sebuah batu dari bangunan umurku jatuh ke tanah;
Jiwa tertidur dalam kelalaian, sedang bangunannya telah runtuh tanpa ia sadari...
demikian pula tubuhku, rumah bagi ruhku, melapuk dengan jatuhnya sebuah batunya setiap hari; dan harapan-harapan serta angan-anganku yang mengikatku dengan kuat kepada dunia pun mulai putus. Aku merasakan bahwa waktu perpisahan dari sahabat-sahabatku dan orang-orang yang kucintai yang tak terhingga itu telah mendekat. Aku mencari salep bagi luka maknawi yang amat dalam dan tampak tanpa obat itu, dan aku tidak menemukannya. Maka seperti Niyazi-i Mısrî pula aku berkata:
Kalbu menghendaki kekekalan, sedang al-Haq menghendaki kefanaan kerajaan tubuhku;
Aku jatuh ke dalam derita tanpa obat — ah, bahkan Lukman pun tak tahu obatnya! {(Catatan kaki): Yakni: Padahal kalbuku dengan segenap kekuatannya menghendaki kekekalan, hikmah Ilahi menuntut keruntuhan jasadku. Aku telah jatuh ke dalam suatu derita tanpa obat, yang bahkan tabib Lukman pun tidak dapat menemukan penawarnya.}
Pada waktu itu, tiba-tiba cahaya dan syafaat Nabi yang penuh kemuliaan صلى الله عليه وسلم — lisan, misal, teladan, penyeru, dan wakil dari belas kasih Ilahi — serta hadiah hidayah yang dibawanya kepada umat manusia, menjadi salep yang indah dan penawar bagi luka yang kusangka tanpa obat dan tak terhingga itu. Keputusasaanku yang gelap diubahnya menjadi harapan yang bercahaya.
Benar, wahai para lelaki tua dan wanita tua terhormat yang merasakan ketuaannya sepertiku! Kita sedang pergi; tiada faedah dalam menipu diri. Dengan memejamkan mata pun kita tidak akan dibiarkan tinggal di sini; ada pemberangkatan. Akan tetapi negeri barzakh — yang oleh waham-waham kegelapan yang datang dari kelalaian dan sebagiannya dari ahli kesesatan tampak bagi kita penuh perpisahan dan kegelapan — adalah tempat berhimpunnya para kekasih. Ia adalah alam perjumpaan dengan seluruh sahabat kita, terutama dengan pemberi syafaat kita, Habibullah صلى الله عليه وسلم.
Benar, kita sedang pergi ke alam yang dituju oleh seorang Zat yang selama seribu tiga ratus lima puluh tahun, pada setiap tahunnya, menjadi sultan bagi tiga ratus lima puluh juta manusia, pendidik ruh-ruh mereka, guru akal-akal mereka, dan kekasih kalbu-kalbu mereka; yang setiap hari, menurut rahasia اَلسَّبَبُ كَالْفَاعِلِ, satu misal dari seluruh kebaikan yang dikerjakan umatnya dituliskan ke dalam lembaran kebaikannya; yang menjadi sumber tercapainya maksud-maksud Ilahi yang tinggi di alam ini dan sebab bagi naiknya nilai segala maujud — yaitu Zât Ahmadi صلى الله عليه وسلم, yang pada menit kedatangannya ke dunia berkata "ummatî, ummatî" sebagaimana dinyatakan oleh riwayat yang sahih dan kasyaf yang benar; dan yang di mahsyar, ketika setiap orang berkata "nafsî, nafsî", kembali berkata "ummatî, ummatî", lalu dengan pengorbanan yang paling suci dan paling tinggi kembali berlari menolong umatnya dengan syafaatnya. Kita sedang pergi ke alam yang dituju Zat semacam itu; ke suatu alam yang diterangi bintang-bintang para asfiya dan aulia yang tak terhingga di sekeliling matahari itu.
Maka jalan untuk masuk ke bawah syafaat Zat itu, mengambil manfaat dari cahayanya, dan selamat dari kegelapan-kegelapan barzakh ialah: mengikuti Sunnah yang mulia.