HARAPAN KEDUA:
Panduan Wanita · hlm. 17
Ketika aku memasuki masa tua: pada suatu hari di musim gugur, pada waktu asar, dari sebuah gunung yang tinggi aku memandang dunia. Tiba-tiba datang kepadaku suatu keadaan yang amat mengharukan, sedih, dan dari satu segi gelap. Aku melihat bahwa aku telah menua; siang pun telah menua, tahun pun telah menua, dunia pun telah menua. Di dalam ketuaan-ketuaan ini, karena waktu perpisahan dari dunia dan perpisahan dari orang-orang yang kucintai telah mendekat, ketuaan itu amat menggoncangkan diriku. Tiba-tiba rahmat Ilahi terbuka dalam suatu bentuk yang sedemikian rupa, sehingga kesedihan yang mengharukan dan perpisahan itu diubah-Nya menjadi suatu harapan yang kuat dan cahaya penghiburan yang cemerlang.
Benar, wahai orang-orang tua sepertiku! Rahmat Sang Khâliq Rahîm kita — yang di seratus tempat dalam al-Qur'an yang penuh hikmah memperkenalkan Diri-Nya kepada kita dengan sifat "ar-Rahmânur-Rahîm"; yang senantiasa mengirimkan rahmat-Nya untuk menolong para makhluk hidup di muka bumi yang memohon belas kasih; yang setiap tahun memenuhi musim semi dari alam gaib dengan nikmat dan hadiah yang tak terhingga, lalu menyampaikannya kepada kita yang membutuhkan rezeki; dan yang menampakkan manifestasi rahmat-Nya lebih banyak menurut kadar derajat kelemahan dan ketidakberdayaan — rahmat itu, pada masa tua kita ini, adalah harapan yang paling besar dan cahaya yang paling kuat. Menemukan rahmat ini ialah dengan berhimpun kepada Sang Rahmân itu melalui iman, dan dengan menaati-Nya melalui menunaikan salat-salat fardu.