(Surat ini amat penting)
Panduan Pemuda · hlm. 67
بِاسْمِهِ سُبْحَانَهُ اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللّٰهِ وَ بَرَكَاتُهُ اَبَدًا دَائِمًا
Saudara-saudaraku yang mulia lagi setia!
Hari-hari ini aku memikirkan dua dasar yang — dalam pandangan Al-Qur'an Yang Mahabijaksana — paling dipegang setelah iman, yaitu takwa dan amal saleh. Takwa adalah menjauhi hal-hal yang dilarang dan dosa-dosa; sedangkan amal saleh adalah bergerak dalam lingkaran perintah dan meraih kebaikan. Meskipun menolak keburukan selalu lebih utama daripada menarik manfaat; di zaman perusakan, foya-foya, dan hawa nafsu yang memikat ini, takwa — yaitu menolak kerusakan dan meninggalkan dosa-dosa besar — menjadi dasar paling utama, dan memperoleh keutamaan yang besar.
Karena di zaman ini perusakan dan arus negatif semakin dahsyat, maka takwa adalah dasar terbesar menghadapi perusakan ini. Orang yang menunaikan kewajiban-kewajibannya dan tidak melakukan dosa-dosa besar, ia selamat. Di tengah dosa-dosa besar yang dahsyat semacam ini, keberhasilan amal saleh dengan ikhlas itu amat sedikit. Dan sedikit amal saleh, di tengah keadaan yang berat ini, bernilai banyak.
Dan di dalam takwa ada semacam amal saleh. Sebab meninggalkan satu yang haram itu wajib. Mengerjakan satu yang wajib, pahalanya sebanding dengan banyak sunnah. Takwa, di zaman-zaman seperti ini, ketika ribuan dosa menyerang sekaligus, dengan satu kali penghindaran saja — dengan sedikit amal — berarti meninggalkan ratusan dosa, dan berarti mengerjakan ratusan kewajiban. Dengan niat poin penting ini, atas nama takwa, dan dengan maksud menghindari dosa: inilah amal-amal saleh penting yang lahir dari ibadah yang bersifat negatif (meninggalkan).
Tugas paling penting para murid Risale-i Nur di zaman ini adalah bersikap dengan menjadikan takwa sebagai dasar menghadapi perusakan dan dosa-dosa. Selama di setiap menit — dalam gaya kehidupan sosial sekarang — seratus dosa mendatangi manusia; maka sudah pasti, dengan takwa dan dengan niat menghindar, ia berarti telah mengerjakan seratus amal saleh. Sudah diketahui bahwa: sebuah istana yang dirobohkan oleh satu orang dalam satu hari, tidak bisa dibangun oleh dua puluh orang dalam dua puluh hari; dan ketika untuk menghadapi perusakan satu orang saja dibutuhkan dua puluh orang yang bekerja; sekarang, menghadapi ribuan perusak, daya tahan dan pengaruh seorang tukang perbaikan seperti Risale-i Nur sampai sedemikian rupa — itu sungguh menakjubkan. Seandainya dua kekuatan yang saling berhadapan ini berada di tingkat yang sama, pasti akan terlihat keberhasilan dan kemenangan yang seperti mukjizat dalam perbaikannya.
Misalnya: rasa hormat dan kasih sayang — dasar paling penting yang mengatur kehidupan sosial — sudah amat terguncang. Di sebagian tempat, hal ini membuahkan akibat-akibat yang mengerikan terhadap para orang tua, ayah, dan ibu yang amat menyedihkan lagi malang. Syukur kepada Allah جل جلاله Yang Mahaagung; Risale-i Nur, di tempat-tempat yang dimasukinya, bertahan dan memperbaiki menghadapi perusakan dahsyat ini. Seperti halnya dengan runtuhnya bendungan Zulkarnain, Ya'juj dan Ma'juj merusak dunia; begitu pula dengan terguncangnya bendungan Al-Qur'an — yaitu syariat Muhammad صلى الله عليه وسلم — sebuah anarki gelap dalam akhlak dan kehidupan, serta sebuah kekufuran yang zalim, mulai merusak dan membuat kerusakan, lebih dahsyat daripada Ya'juj dan Ma'juj.
Perjuangan batin para murid Risale-i Nur dalam peristiwa semacam ini, insya Allah جل جلاله — seperti di zaman Sahabat — akan menjadi penopang bagi pahala yang amat besar dan amal-amal saleh, dengan amal yang sedikit.
Saudara-saudaraku yang mulia! Nah, di zaman seperti ini, menghadapi peristiwa-peristiwa dahsyat ini, setelah kekuatan keikhlasan, kekuatan terbesar kita adalah: dengan kaidah berbagi amal ukhrawi (iştirak-i a'mal-i uhrevî, saling berserikat dalam amal akhirat), saling mengirimkan kekuatan dan pertolongan lewat lisan kepada benteng dan parit takwa masing-masing — seperti halnya mereka saling menuliskan kebaikan ke dalam buku amal saleh masing-masing lewat pena. Dan terutama, bergegas menolong saudara kalian yang fakir lagi tak berdaya ini — yang menjadi sasaran serangan yang penuh badai — di bulan-bulan suci yang tiga ini dan di hari-hari yang masyhur ini, itu adalah sifat orang-orang yang gagah, setia, dan penuh kasih sayang seperti kalian. Dengan segenap ruhku, aku memohon pertolongan batin ini dari kalian. Dan aku pun — dengan syarat iman dan kesetiaan — menjadikan para murid Risale-i Nur sebagai pemegang bagian dalam seluruh doaku dan seluruh keuntungan batinku, dalam dua puluh empat jam, dengan kaidah berbagi amal ukhrawi, kadang lebih dari seratus kali dengan sebutan "para murid Risale-i Nur".
Said Nursî
(Dari Lampiran Kastamonu)
* * *
...Diketahui oleh orang-orang yang tahu riwayat hidupku: lima puluh lima tahun yang lalu, ketika aku berusia sekitar dua puluh tahun, di Bitlis aku tinggal dua tahun di rumah mendiang gubernur Ömer Pasya — atas desakannya dan karena penghormatannya yang besar terhadap ilmu. Ia punya enam orang anak perempuan. Tiga kecil, tiga besar. Padahal aku tinggal dua tahun bersama dalam satu rumah, aku tidak bisa membedakan dan mengenali tiga yang besar itu satu sama lain. Aku sama sekali tidak memperhatikan sampai bisa mengenali mereka. Bahkan seorang tamuku yang alim datang, dan dalam dua hari ia bisa membedakan dan mengenali mereka satu sama lain. Semua orang, dan aku juga, heran pada keadaan ini. Mereka bertanya kepadaku: "Kenapa kamu tidak memandang?" Aku berkata: "Menjaga kemuliaan ilmu membuatku tidak memandang."
Dan empat puluh tahun yang lalu di Istanbul, pada hari khusus perayaan Kâğıthane, ketika di kedua sisi Tanduk Emas (Haliç) — dari Jembatan sampai ke Kâğıthane — berbaris ribuan perempuan dan gadis Yunani, Armenia, dan Istanbul yang berpakaian terbuka, aku bersama mendiang anggota parlemen Molla Seyyid Taha dan anggota parlemen Hacı İlyas naik perahu, dan kami melewati dekat para perempuan itu. Aku sama sekali tidak menyadarinya. Padahal Molla Taha dan Hacı İlyas telah memutuskan untuk mengujiku dan secara bergiliran mengamatiku; di akhir perjalanan satu jam itu mereka mengakuinya lalu berkata: "Kami heran pada keadaanmu ini, kamu sama sekali tidak memandang." Aku berkata: "Aku tidak menginginkannya, sebab akibat dari kenikmatan yang tak perlu, sementara, dan penuh dosa itu adalah penderitaan dan penyesalan."
(Dari Tarihçe-i Hayat / Riwayat Hidup)
* Batman: satuan berat zaman Utsmani, kira-kira 8 kg. Dirham: satuan berat kecil, jauh lebih kecil daripada batman.