Pembahasan Kedua dari Poin Kedua
Panduan Pemuda · hlm. 71
Ketika wakil ahli kesesatan tidak menemukan satu pun yang bisa ia jadikan pegangan dan tempat ia bangun kesesatannya, dan ketika ia terpojok kehabisan dalih, ia berkata begini:
"Menurutku, kebahagiaan dunia, kenikmatan hidup, kemajuan peradaban, dan kesempurnaan seni itu kulihat ada pada: tidak memikirkan akhirat, tidak mengenal Allah جل جلاله, cinta dunia, kebebasan, dan percaya pada diri sendiri. Karena itu, dengan bantuan setan, aku telah menggiring — dan terus menggiring — sebagian besar manusia ke jalan ini."
Jawaban: Kami pun, atas nama Al-Qur'an, berkata: Wahai manusia yang malang! Sadarlah, gunakan akalmu! Jangan dengarkan wakil ahli kesesatan itu! Sebab kalau kamu mendengarkannya, kerugianmu akan sedemikian besar sampai-sampai ruh, akal, dan kalbu pun bergidik membayangkannya. Di hadapanmu ada dua jalan:
Yang satu: jalan penuh kesengsaraan yang ditunjukkan oleh wakil ahli kesesatan. Yang lain: jalan penuh kebahagiaan yang digambarkan oleh Al-Qur'an Yang Mahabijaksana. Nah, perbandingan antara dua jalan itu telah banyak kamu lihat dan pahami di banyak Kalimat (Söz), khususnya di Kalimat-Kalimat Kecil (Küçük Sözler). Sekarang, sesuai dengan tempatnya, lihat dan pahami sekali lagi seperseribu dari perbandingan-perbandingan itu. Begini:
Jalan kemusyrikan, kesesatan, kefasikan, dan foya-foya menjatuhkan manusia ke derajat yang paling rendah. Ia menimpakan beban yang tak terhingga beratnya ke pinggang yang lemah lagi tak berdaya itu, di tengah penderitaan yang tak terhitung. Sebab kalau manusia tidak mengenal Allah جل جلاله Yang Mahaagung dan tidak bertawakal kepada-Nya, maka manusia itu menjadi bagaikan seekor hewan fana yang amat tak berdaya lagi lemah, sangat membutuhkan, miskin, terpapar musibah yang tak terhitung, penuh derita lagi duka; yang terus-menerus menanggung perih perpisahan dari segala sesuatu yang ia cintai dan ia jalin hubungan dengannya; lalu pada akhirnya, ia meninggalkan semua kekasih yang masih hidup dalam sebuah perpisahan yang menyakitkan, dan pergi seorang diri menuju kegelapan kubur. Dan sepanjang hidupnya, dengan kehendak bebas yang amat kecil, kekuasaan yang kecil, hidup yang amat singkat, umur yang sedikit, dan pikiran yang redup, ia bergulat sia-sia melawan penderitaan dan angan-angan yang tak terhingga; dan ia bekerja keras dengan percuma tanpa hasil demi meraih keinginan dan tujuan yang tak terhitung. Dan padahal ia tidak sanggup memikul keberadaan dirinya sendiri, ia malah memikulkan beban dunia yang mahabesar ke pinggang dan kepalanya yang malang. Bahkan sebelum pergi ke neraka, ia sudah merasakan azab neraka.
Ya, agar tidak merasakan derita yang menyakitkan dan azab batin yang dahsyat ini, ahli kesesatan — semacam dengan mematikan rasa — untuk sementara tidak merasakannya, lewat mabuk kelalaian. Tapi pada saat ia akan merasakannya, yakni ketika sudah dekat ke kubur, ia tiba-tiba merasakannya. Sebab kalau ia tidak menjadi hamba sejati bagi Allah جل جلاله Yang Mahaagung, ia akan menyangka dirinya sebagai pemilik atas dirinya sendiri. Padahal, dengan kehendak bebas yang amat kecil dan kekuasaan yang kecil itu, ia tidak mampu mengatur keberadaan dirinya di dunia yang penuh badai ini. Mulai dari mikroba yang membahayakan hidupnya, sampai gempa bumi, ia melihat ribuan golongan musuh dalam posisi siap menyerang hidupnya. Dalam kengerian rasa takut yang menyakitkan, setiap saat ia memandang pintu kubur yang baginya tampak mengerikan. Dan dalam keadaan seperti itu, karena sisi kemanusiaannya membuatnya terikat dengan jenis manusia dan dengan dunia, padahal ia tidak membayangkan dunia dan manusia berada dalam pengaturan sebuah Zat Yang Mahabijaksana, Maha Mengetahui, Mahakuasa, Maha Penyayang, lagi Mahamulia — melainkan menyerahkan keduanya kepada kebetulan dan alam — maka keadaan dunia dan keadaan manusia terus-menerus menggelisahkannya. Bersama deritanya sendiri, ia juga menanggung derita manusia lain. Gempa bumi dunia, wabahnya, banjirnya, paceklik dan kelaparannya, kefanaan dan kelenyapannya — semua itu menyiksanya dalam rupa sebuah musibah yang amat menggelisahkan lagi gelap.
Dan manusia dalam keadaan seperti ini tidak layak mendapat belas kasih dan kasih sayang. Sebab ia sendirilah yang menjerumuskan dirinya ke posisi yang mengerikan ini. Seperti yang disebutkan di Kalimat Kedelapan (Sekizinci Söz) dalam perbandingan keadaan dua bersaudara yang masuk ke dalam sumur; bayangkan seorang lelaki yang berada di sebuah taman yang indah, di sebuah jamuan yang indah, di tengah para sahabat yang baik, dengan kenikmatan dan hiburan yang bersih, manis, terhormat, menyenangkan, lagi halal — namun ia tidak puas dengan itu, lalu demi sebuah kenikmatan yang haram lagi kotor, ia meminum arak yang buruk lagi najis, lalu mabuk, lalu membayangkan dirinya berada di tengah musim dingin, di sebuah tempat yang kotor, bahkan di tengah binatang-binatang buas, lalu menggigil sambil berteriak-teriak menjerit-jerit. Betapa ia tidak layak dikasihani. Sebab ia membayangkan teman-temannya yang terhormat lagi penuh berkah itu sebagai binatang buas, lalu menghina mereka. Dan makanan-makanan lezat serta wadah-wadah bersih di jamuan itu ia bayangkan sebagai batu-batu kotor lagi najis, lalu mulai memecahkannya. Dan kitab-kitab terhormat serta surat-surat yang sarat makna di majelis itu ia bayangkan sebagai coretan tak bermakna lagi murahan, lalu ia merobeknya dan membuangnya ke bawah kaki, dan seterusnya... Orang seperti ini, betapa ia tidak berhak dikasihani; melainkan ia berhak ditampar.
Begitu pula: dengan mabuk kekufuran yang lahir dari pilihan buruknya, dan dengan kegilaan kesesatan, ia mengkhayalkan bahwa rumah tamu dunia milik Sang Maha Pencipta lagi Mahabijaksana ini hanyalah mainan kebetulan dan alam; karena ia membayangkan kepergian makhluk-makhluk — yang menyegarkan kembali kilau nama-nama Ilahi — ke alam gaib (setelah tugas mereka selesai dengan berlalunya waktu) sebagai ketiadaan dan eksekusi mati; karena ia mengkhayalkan suara-suara tasbih sebagai jeritan kelenyapan dan perpisahan abadi; karena ia membayangkan lembaran-lembaran wujud — yang sebenarnya merupakan surat-surat dari Yang Mahatunggal tempat bergantung (mektubat-ı Samedaniye) — sebagai sesuatu yang tak bermakna lagi kacau-balau; karena ia membayangkan pintu kubur — yang membuka jalan ke alam rahmat — sebagai mulut kegelapan ketiadaan; dan karena ia membayangkan ajal — padahal ia adalah undangan perjumpaan dengan para kekasih sejati — sebagai giliran perpisahan dari semua kekasih: maka ia menjerumuskan dirinya ke dalam azab pedih yang mengerikan; dan karena ia mengingkari, merendahkan, serta menghina wujud-wujud makhluk, nama-nama Allah جل جلاله Yang Mahaagung, dan surat-surat-Nya, maka — selain tidak layak mendapat belas kasih dan kasih sayang — ia juga berhak mendapat azab yang berat. Dari sisi mana pun, ia tidak layak dikasihani.
Nah, wahai ahli kesesatan dan foya-foya yang celaka! Menghadapi keterpurukan yang mengerikan dan keputusasaan yang menghancurkan ini; penyempurnaan apa, ilmu apa, kesempurnaan apa, peradaban apa, kemajuan apa milik kalian yang bisa menghadapinya? Di mana kalian bisa menemukan hiburan sejati yang amat sangat dibutuhkan oleh ruh manusia? Dan alam apa, sebab-sebab apa, sekutu apa, penemuan apa, bangsa apa, sesembahan batil apa — yang kalian percayai, yang kalian jadikan sandaran, dan yang kepadanya kalian sandarkan karya-karya Ilahi serta karunia-karunia Tuhan — yang bisa menyelamatkan kalian dari kegelapan kematian (yang menurut kalian adalah eksekusi mati abadi), lalu menyeberangkan kalian dengan penuh kuasa melewati batas kubur, batas alam barzakh, batas mahsyar, dan jembatan sirat, lalu menjadikan kalian meraih kebahagiaan abadi? Padahal, karena kalian tidak bisa menutup pintu kubur, kalian pasti adalah para musafir di jalan ini. Musafir semacam ini harus bersandar kepada Dzat yang seluruh lingkaran agung ini dan batas-batas yang luas ini berada di bawah perintah dan pengaturan-Nya.
Dan lagi, wahai ahli kesesatan dan kelalaian yang celaka! Sesuai rahasia kaidah: "Akibat sebuah cinta yang tidak halal adalah menanggung azab tanpa belas kasih," kalian — karena telah membelanjakan potensi cinta dan makrifat serta perangkat syukur dan ibadah dalam fitrah kalian (yang seharusnya dicurahkan kepada Zat, sifat, dan nama-nama Allah جل جلاله Yang Mahaagung) kepada nafsu dan dunia secara tidak halal — maka kalian menanggung hukuman yang memang kalian pantas terima. Sebab cinta yang seharusnya milik Allah جل جلاله Yang Mahaagung, kalian berikan kepada nafsu kalian. Maka kalian menanggung bencana tak terhingga dari nafsu yang kalian cintai itu. Sebab kalian tidak memberikan ketenangan sejati kepada kekasih kalian itu. Dan kalian tidak menyerahkannya dengan tawakal kepada Al-Kadîr-i Mutlak (Sang Mahakuasa Mutlak) yang merupakan Kekasih sejati; maka kalian terus-menerus menanggung derita. Dan cinta yang seharusnya milik nama dan sifat Allah جل جلاله Yang Mahaagung, kalian berikan kepada dunia, dan karya-karya seni-Nya kalian bagi-bagikan kepada sebab-sebab di alam; maka kalian menanggung bencananya. Sebab sebagian dari kekasih kalian yang tak terhitung itu pergi meninggalkan kalian tanpa pamit, memunggungi kalian. Sebagian tidak mengenal kalian sama sekali; kalaupun mengenal, ia tidak mencintai kalian; kalaupun mencintai, ia tidak memberi kalian manfaat apa pun. Maka kalian terus-menerus menanggung azab dari perpisahan-perpisahan yang tak terhitung dan dari kelenyapan-kelenyapan yang tanpa harapan untuk kembali.
Nah, inilah wajah dalam dan hakikat dari hal-hal yang oleh ahli kesesatan disebut "kebahagiaan hidup," "kesempurnaan manusia," "keindahan-keindahan peradaban," dan "kenikmatan kebebasan." Foya-foya dan mabuk hanyalah sebuah tirai; untuk sementara ia membuat semua itu tak terasa. Katakanlah: "Cih, sungguh malang akal mereka!"
Sedangkan jalan raya Al-Qur'an yang penuh cahaya: ia mengobati semua luka yang diderita ahli kesesatan dengan hakikat-hakikat keimanan. Ia membubarkan semua kegelapan di jalan yang pertama tadi. Ia menutup semua pintu kesesatan dan kebinasaan. Begini:
Ia mengobati kelemahan dan ketidakberdayaan manusia, serta kefakiran dan kebutuhannya, dengan tawakal kepada Al-Kadîr-i Rahîm (Sang Mahakuasa lagi Maha Penyayang). Dengan menyerahkan beban hidup dan keberadaan kepada kekuasaan dan rahmat-Nya — bukan memikulnya sendiri — ia justru menemukan sebuah kedudukan yang nyaman, seakan-akan ia sendiri menunggangi hidup dan nafsunya. Al-Qur'an memberitahukan bahwa dirinya bukan sekadar "hewan yang berbicara," melainkan seorang manusia sejati dan tamu Ar-Rahman yang diterima. Dengan menunjukkan bahwa dunia adalah sebuah rumah tamu Ar-Rahman, dan dengan memberitahukan bahwa wujud-wujud di dunia adalah cermin-cermin nama-nama Ilahi, sedangkan makhluk-makhluk ciptaan adalah surat-surat dari Yang Mahatunggal tempat bergantung yang selalu diperbarui setiap saat — Al-Qur'an mengobati dengan indah luka-luka manusia yang datang dari kefanaan dunia, kelenyapan benda-benda, dan cinta kepada yang fana; dan menyelamatkannya dari kegelapan waham. Dan Al-Qur'an menunjukkan kematian dan ajal sebagai mukadimah perjumpaan dan pertemuan dengan para kekasih yang telah pergi ke alam barzakh dan yang berada di alam keabadian. Dengan begitu ia mengobati luka kematian — yang dalam pandangan ahli kesesatan dianggap sebagai perpisahan abadi dari semua kekasih. Dan ia membuktikan bahwa perpisahan itu justru adalah pertemuan itu sendiri. Dan dengan membuktikan bahwa kubur adalah sebuah pintu yang terbuka ke alam rahmat, ke negeri kebahagiaan, ke taman-taman surga, dan ke negeri cahaya Ar-Rahman, ia melenyapkan ketakutan manusia yang paling dahsyat, lalu menunjukkan bahwa perjalanan barzakh — yang tadinya paling menyakitkan, paling mencekam, lagi paling menyesakkan — sebenarnya adalah perjalanan yang paling nikmat, paling akrab, lagi paling melapangkan. Dengan kubur itu, ia menutup mulut naga, lalu membuka pintu menuju sebuah taman yang indah. Maksudnya, ia menunjukkan bahwa kubur bukanlah mulut naga, melainkan sebuah pintu yang terbuka ke taman rahmat.
Dan Al-Qur'an berkata kepada orang beriman: "Kalau kehendak bebasmu kecil, serahkanlah urusanmu kepada kehendak menyeluruh milik Pemilikmu. Kalau kekuasaanmu kecil, bersandarlah pada kekuasaan Al-Kadîr-i Mutlak (Sang Mahakuasa Mutlak). Kalau hidupmu sedikit, pikirkanlah kehidupan yang kekal. Kalau umurmu pendek, jangan khawatir — kamu punya umur yang abadi. Kalau pikiranmu redup, masuklah ke bawah matahari Al-Qur'an, dan pandanglah dengan cahaya iman, sehingga sebagai ganti pikiranmu yang cuma seekor kunang-kunang, setiap ayat Al-Qur'an memberimu cahaya laksana sebuah bintang. Dan kalau kamu punya angan-angan dan derita yang tak terhingga, pahala yang tak berkesudahan dan rahmat yang tak terhitung sedang menantimu. Dan kalau kamu punya keinginan dan tujuan yang tak terhitung, jangan gelisah memikirkannya. Semua itu tidak muat di dunia ini. Tempat mereka ada di negeri lain, dan Yang memberikannya pun adalah Dzat yang lain."
Dan ia berkata: "Wahai manusia! Kamu bukan pemilik atas dirimu sendiri. Kamu adalah hamba milik sebuah Zat Yang Mahaagung — Sang Mahakuasa yang kekuasaan-Nya tak terhingga, Sang Maha Penyayang yang rahmat-Nya tak terhitung. Kalau begitu, jangan menyusahkan dirimu dengan memikulkan hidupmu sendiri ke pundakmu; sebab Dialah yang memberi hidup, dan Dia pula yang mengaturnya. Dan dunia ini tidak tanpa pemilik, sehingga tidak perlu kamu memikulkan beban dunia ke kepalamu lalu khawatir memikirkan keadaannya; sebab pemiliknya Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. Kamu pun cuma seorang tamu; jangan ikut campur dan jangan mengacaukan tanpa hak. Dan wujud-wujud seperti manusia dan hewan tidaklah dibiarkan terlantar tanpa tujuan; melainkan mereka adalah petugas yang punya tugas. Mereka berada dalam pandangan sebuah Zat Yang Mahabijaksana lagi Maha Penyayang. Jangan menyiksa ruhmu dengan memikirkan derita dan kesusahan mereka. Dan jangan mendorong kasih sayangmu melebihi rahmat Al-Hâlık-ı Rahîm (Sang Pencipta Yang Maha Penyayang) mereka sendiri. Dan kendali segala sesuatu — mulai dari mikroba yang mengambil posisi memusuhimu, sampai wabah, banjir, paceklik, dan gempa bumi — semua ada di tangan Ar-Rahîm-i Hakîm (Sang Maha Penyayang lagi Mahabijaksana) itu. Dia Mahabijaksana, tidak melakukan pekerjaan sia-sia. Dia Maha Penyayang, sangat berlimpah kasih sayang-Nya. Pada setiap pekerjaan yang Dia lakukan, ada semacam kelembutan."
Dan ia berkata: "Alam ini memang fana, tapi ia menumbuhkan bekal-bekal bagi sebuah alam yang abadi. Ia memang sirna lagi sementara, tapi ia memberikan buah-buah yang kekal, dan menampakkan kilau dari nama-nama kekal milik sebuah Zat yang kekal. Dan memang kenikmatannya sedikit dan deritanya banyak; tapi sapaan-sapaan kasih Ar-Rahman Ar-Rahîm adalah kenikmatan-kenikmatan sejati yang tak akan lenyap. Sedangkan derita, dari sisi pahala, menumbuhkan kenikmatan batin. Selama lingkaran yang halal sudah cukup bagi seluruh kenikmatan, kesenangan, dan kegembiraan ruh, kalbu, dan nafsu; janganlah masuk ke lingkaran yang haram. Sebab satu kenikmatan di lingkaran itu kadang punya seribu derita. Dan ia menjadi sebab hilangnya sapaan-sapaan kasih Ar-Rahman, yang merupakan kenikmatan sejati lagi abadi."
Dan seperti yang telah dijelaskan tadi, jalan kesesatan menjatuhkan manusia ke "serendah-rendah tempat" (asfala safilin) sedemikian rupa, sampai-sampai tidak ada satu peradaban pun, tidak ada satu filsafat pun yang bisa menemukan obatnya; dan tidak ada satu kemajuan manusia pun, tidak ada satu kesempurnaan ilmu teknik pun yang bisa mengeluarkan manusia dari sumur kegelapan yang dalam itu. Sedangkan Al-Qur'an Yang Mahabijaksana, dengan iman dan amal saleh, mengeluarkan manusia dari kejatuhan ke serendah-rendah tempat itu menuju "setinggi-tinggi tempat" (a'la illiyyin); dan dengan dalil-dalil yang pasti ia membuktikan kesanggupannya mengeluarkan manusia itu; dan sumur yang dalam itu ia penuhi dengan anak-anak tangga kemajuan maknawi dan dengan perangkat-perangkat penyempurnaan ruhani.
Dan ia amat memudahkan dan meringankan perjalanan manusia menuju keabadian — perjalanan yang panjang, penuh badai, lagi penuh gejolak. Ia menunjukkan sarana-sarana yang bisa memangkas jarak seribu, bahkan lima puluh ribu tahun, menjadi satu hari saja. Dan dengan memperkenalkan Zat Yang Mahaagung — Raja azali dan abadi — ia menempatkan manusia di posisi seorang hamba yang bertugas dan seorang tamu yang punya tugas bagi-Nya. Dan ia menjamin perjalanan manusia dengan penuh ketenangan, baik di rumah tamu dunia maupun di persinggahan-persinggahan barzakh dan ukhrawi. Seperti halnya seorang petugas yang lurus dari seorang raja, yang berkeliling dan melintas dengan mudah di seluruh wilayah kerajaannya, melewati batas-batas tiap provinsi dengan sarana perjalanan yang cepat seperti pesawat, kapal, dan kereta api. Begitu pula: seorang manusia yang berbai'at lewat iman kepada Raja azali, dan taat lewat amal saleh, akan melintas dengan kecepatan kilat dan buraq melewati persinggahan-persinggahan rumah tamu dunia ini, lingkaran-lingkaran alam barzakh dan alam mahsyar, dan seterusnya, sampai batas-batas luas dari semua alam sesudah kubur. Hingga akhirnya ia menemukan kebahagiaan abadi. Dan Al-Qur'an membuktikan hakikat ini secara pasti, lalu memperlihatkannya kepada para suci (asfiya) dan para wali (evliya).
Dan hakikat Al-Qur'an berkata: "Wahai orang beriman! Jangan kamu berikan kemampuan cintamu yang tak terhingga itu kepada nafsu ammarah-mu (nefs-i emmare) yang buruk, cacat, jahat, lagi membahayakanmu. Jangan kamu jadikan ia sebagai kekasih, dan jangan jadikan hawa nafsunya sebagai sesembahanmu. Melainkan, kemampuan cintamu yang tak terhingga itu, jadikanlah sebagai kekasih dan sesembahanmu sebuah Zat: yang layak menerima cinta yang tak terhingga; yang sanggup berbuat ihsan tak terhingga kepadamu; yang di masa depan membahagiakanmu tanpa batas; yang dengan ihsan-ihsan-Nya membahagiakan pula semua pribadi yang kamu pedulikan dan yang dengan kebahagiaan mereka kamu turut berbahagia; yang memiliki kesempurnaan tak terhingga; yang memiliki keindahan yang tak terhingga sucinya, tingginya, mahasucinya, tanpa cela, tanpa cacat, tanpa kelenyapan; yang seluruh nama-Nya amat sangat indah; yang pada setiap nama-Nya terkandung begitu banyak cahaya kebagusan dan keindahan; yang surga dengan segala keindahan dan nikmatnya menampakkan keindahan rahmat-Nya dan rahmat keindahan-Nya; dan yang kepada keindahan serta kesempurnaan-Nya itu, seluruh kebagusan, keindahan, kecantikan, dan kesempurnaan di seantero alam semesta yang tercinta lagi dicintai ini — semuanya menjadi isyarat, petunjuk, dan tanda."
Dan ia berkata: "Wahai manusia! Potensi cinta yang seharusnya tertuju pada nama dan sifat-Nya, jangan kamu berikan kepada wujud-wujud lain yang tidak kekal; jangan kamu hambur-hamburkan kepada makhluk-makhluk yang tak berfaedah. Sebab karya dan makhluk itu fana. Tapi nama-nama indah (asma'ul husna) — yang ukiran dan kilaunya tampak pada karya dan ciptaan itu — adalah kekal lagi abadi. Dan pada setiap nama dan sifat itu terdapat ribuan tingkatan ihsan dan keindahan, serta ribuan lapisan kesempurnaan dan cinta. Tengoklah hanya nama Ar-Rahman saja: surga adalah satu kilauannya, kebahagiaan abadi adalah satu kilatannya, dan seluruh rezeki serta nikmat di dunia hanyalah setetes darinya."
Nah, perhatikanlah perbandingan ini, yaitu ayat yang mengisyaratkan hakikat ahli kesesatan dan ahli iman dari sisi hidup dan tugas mereka: لَقَدْ خَلَقْنَا اْلاِنْسَانَ فِى اَحْسَنِ تَقْوِيمٍ ثُمَّ رَدَدْنَاهُ اَسْفَلَ سَافِلِينَ اِلاَّ الَّذِينَ اٰمَنُوا وَ عَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
dan juga ayat yang mengisyaratkan hasil serta akibat mereka: فَمَا بَكَتْ عَلَيْهِمُ السَّمَاءُ وَ اْلاَرْضُ
Betapa tinggi lagi penuh mukjizat cara kedua ayat itu mengungkapkan perbandingan yang telah kami jelaskan. Ayat pertama: karena hakikat yang diungkapkan ayat itu — secara penuh mukjizat sekaligus padat-ringkas — telah dijelaskan secara terperinci di Kalimat Kesebelas (Onbirinci Söz), maka kami serahkan pembahasannya ke sana. Sedangkan ayat kedua, kami hanya akan menunjukkannya lewat sebuah isyarat kecil, betapa tinggi hakikat yang diungkapkannya. Begini:
Ayat ini, lewat makna tersurat (mefhum-u muvafık), berfirman begini: "Dengan matinya ahli kesesatan, langit dan bumi tidak menangisi mereka." Dan lewat makna tersirat (mefhum-u muhalif), ia menunjukkan: "Dengan perginya ahli iman dari dunia, langit dan bumi menangisi mereka." Maksudnya: ahli kesesatan, selama mereka mengingkari tugas-tugas langit dan bumi, tidak mengetahui makna-maknanya, menggugurkan nilai-nilainya, tidak mengenal Sang Penciptanya, dan menebar penghinaan serta permusuhan terhadapnya — maka sudah pasti langit dan bumi bukannya menangisi mereka, melainkan justru mengutuk mereka, dan merasa senang dengan kebinasaan mereka. Dan lewat makna tersirat ia berkata: "Langit dan bumi menangis dengan matinya ahli iman." Sebab ahli iman, ia mengetahui tugas-tugas langit dan bumi. Ia membenarkan hakikat-hakikat sejatinya. Dan ia memahami makna-makna yang diungkapkannya dengan iman. Ia berkata: "Betapa indah mereka dibuat, betapa indah mereka berkhidmat." Dan ia memberi mereka nilai yang layak dan menghormatinya. Atas nama Allah جل جلاله Yang Mahaagung, ia mencintai mereka dan mencintai nama-nama yang menjadi cermin baginya. Nah, karena rahasia inilah, langit dan bumi bersedih atas kepergian ahli iman, seakan-akan menangis.