Risale-i NurPanduan Pemuda

Sebuah Persoalan Penting yang Diilhamkan pada Malam Lailatul Qadar (Leyle-i Kadir)

Panduan Pemuda · hlm. 28

Kami akan memberikan isyarat yang amat singkat kepada sebuah hakikat yang amat luas dan panjang, yang datang ke dalam kalbu pada Malam Lailatul Qadar. Begini:

Umat manusia — dengan kezaliman yang paling dahsyat dan penindasan yang paling dahsyat dari perang dunia terakhir ini, dengan penghancurannya yang tanpa belas kasihan, dengan tercerai-berainya ratusan orang tak berdosa gara-gara satu orang musuh saja, dengan keputusasaan yang mengerikan dari pihak-pihak yang kalah, dengan azab hati nurani yang mengerikan pada pihak-pihak yang menang — azab yang muncul karena kepanikan yang dahsyat, ketidakmampuan menjaga kekuasaan mereka, dan ketidakmampuan memperbaiki kerusakan-kerusakan besar yang mereka timbulkan — dengan tampaknya secara umum bahwa kehidupan dunia ini sama sekali fana dan sementara, dan bahwa segala fantasi peradaban itu menipu serta membuai, dengan terlukanya secara dahsyat dan menyeluruh segala potensi tinggi dalam fitrah manusia beserta hakikat kemanusiaannya, dengan terpotong-potongnya kelalaian dan kesesatan — yakni tabiat (alam) yang keras dan tuli itu — di bawah pedang berlian Al-Qur'an, dan dengan tampaknya wajah sejati dari politik dunia — yaitu tirai kelalaian dan kesesatan yang paling mencekik, paling menipu, dan paling luas — dalam rupanya yang amat buruk dan amat kejam — maka sudah pasti, sungguh pasti, tidak ada keraguan sedikit pun bahwa: berdasarkan tanda-tandanya yang sudah tampak di utara, di barat, dan di Amerika, karena kehidupan duniawi yang menjadi kekasih semu umat manusia ternyata sedemikian buruk dan fana, fitrah manusia akan mencari dengan segenap kekuatannya kehidupan kekal yang sebenarnya ia cintai dan ia cari; dan sudah pasti tidak ada keraguan sedikit pun bahwa: Al-Qur'an yang penjelasannya penuh mukjizat (Kur'an-ı Mu'ciz-ül Beyan) — yang dalam seribu tiga ratus enam puluh tahun, di setiap abad memiliki tiga ratus lima puluh juta murid, yang setiap hukum dan dakwaannya dibubuhi tanda tangan pengakuan oleh jutaan ahli hakikat, yang setiap menit hadir dengan penuh kesucian di dalam kalbu jutaan penghafal lalu memberi pelajaran kepada umat manusia lewat lisan mereka, dan yang dengan cara yang tak ada bandingannya di kitab mana pun memberi kabar gembira kepada manusia akan kehidupan kekal dan kebahagiaan abadi serta menyembuhkan luka-luka seluruh manusia — dengan ribuan ayatnya yang kuat, dahsyat, dan berulang-ulang, bahkan dengan mengangkat dakwaan dan memberi kabar puluhan ribu kali, baik secara jelas (sarih) maupun secara isyarat, lalu dengan dalil-dalil pasti yang tak tergoyahkan dan bukti-bukti tak terhingga yang tak mendatangkan keraguan — memberi kabar gembira secara pasti akan kehidupan kekal dan memberi pelajaran tentang kebahagiaan abadi: maka — selama umat manusia tidak kehilangan akalnya sama sekali, dan selama tidak ada kiamat lahir atau batin yang menimpa kepala mereka — benua-benua luas dan pemerintahan-pemerintahan besar di muka bumi — seperti para orator terkenal dari Swedia, Norwegia, Finlandia, dan Inggris yang berusaha menerima Al-Qur'an, serta perkumpulan penting di Amerika yang sedang mencari agama yang benar — akan mencari Al-Qur'an yang penjelasannya penuh mukjizat, dan setelah memahami hakikat-hakikatnya, mereka akan memeluknya dengan segenap ruh dan jiwa mereka. Sebab, pada titik hakikat ini, sama sekali tidak ada dan tidak mungkin ada tandingan bagi Al-Qur'an, dan tidak ada sesuatu pun yang bisa menggantikan tempat mukjizat terbesar ini.

Kedua: Selama Risale-i Nur — di tangan mukjizat terbesar ini — telah menunjukkan khidmatnya laksana sebuah pedang berlian, dan telah memaksa musuh-musuhnya yang keras kepala untuk menyerah. Risale-i Nur — yang menjadi penyeru penjaja khazanah Al-Qur'an dengan cara yang akan menerangi sepenuhnya kalbu, ruh, dan perasaan sekaligus memberikan obat-obatnya, yang tidak punya sumber dan rujukan selain Al-Qur'an, dan yang padanya terdapat sebuah kemukjizatan maknawi — menjalankan tugas itu dengan sempurna, dan ia telah benar-benar menang atas propaganda-propaganda dahsyat yang melawannya dan atas para zindik (penentang agama) yang amat keras kepala, serta telah menghancurkan berkeping-keping tabiat (alam) — benteng kesesatan yang paling keras dan kuat — dengan Risalah Tabiat (Tabiat Risalesi). Dan di dalam lingkaran cakrawala kelalaian yang paling tebal, paling mencekik, dan paling luas, serta di balik tirai-tirai sains yang paling lebar, dengan Persoalan Keenam dari Meyve (Risalah Buah) dalam Asâ-yı Musa (Tongkat Musa), beserta Bukti Pertama, Kedua, Ketiga, dan Kedelapan, ia telah mencerai-beraikan kelalaian dengan cara yang amat cemerlang, lalu menampakkan cahaya tauhid.

Maka sudah pasti perlu bagi kami dan sangat penting bagi bangsa ini: berdasarkan diizinkannya pembukaan tempat-tempat pengajaran khusus untuk pendidikan agama yang sekarang resmi diizinkan, para murid Nur sebisa mungkin harus membuka di setiap tempat sebuah tempat pengajaran Nur kecil (dershane-i Nuriye). Memang setiap orang bisa mengambil manfaat sendiri sampai kadar tertentu, tapi tidak setiap orang memahami setiap persoalannya dengan tuntas. Karena ia adalah penjelasan atas hakikat-hakikat iman; maka ia sekaligus merupakan ilmu, {Haşiye: Kalaupun seseorang sudah tahu dan tidak butuh belajar lagi, ia tetap butuh ibadah, atau rindu kepada makrifat, atau menginginkan huzur. Karena itu, ia adalah pelajaran yang diperlukan setiap orang.} makrifatullah, huzur (kehadiran hati di sisi Allah جل جلاله), dan ibadah.

Sebagai ganti lima sampai sepuluh tahun di madrasah-madrasah lama, insya Allah جل جلاله madrasah-madrasah Nur akan memberikan hasil yang sama dalam lima sampai sepuluh minggu — dan selama dua puluh tahun memang sudah memberikannya.

Dan sudah seharusnya pemerintah — terhadap kilauan-kilauan Al-Qur'an ini yang punya sangat banyak manfaat bagi kehidupan duniawi, kehidupan politik, dan kehidupan ukhrawi bangsa serta tanah air ini, dan terhadap Risale-i Nur yang menjadi penyeru penjaja Al-Qur'an — bukan untuk mengganggunya, melainkan justru berusaha sepenuhnya menerima dan menyebarluaskannya; supaya ia bisa menjadi penebus dosa-dosa dahsyat yang telah lalu, dan menjadi sebuah benteng menghadapi bencana-bencana hebat dan anarki yang akan datang.

Said Nursî

(Dari Kilatan Cahaya Kedua Puluh Enam — Yirmialtıncı Lem'a)