Harapan Ketujuh (Yedinci Rica)
Panduan Pemuda · hlm. 30
Suatu masa, di awal masa tuaku — di saat tawa-tawa Said Lama berubah menjadi tangis-tangis Said Baru — para ahli dunia (ehl-i dünya, orang-orang yang sibuk dengan urusan dunia) di Ankara mengira aku masih Said Lama, lalu memanggilku ke sana; aku pun pergi. Di penghujung musim gugur, aku menaiki puncak benteng Ankara yang jauh lebih tua, lebih usang, dan lebih lapuk daripada aku. Benteng itu tampak di mataku dalam rupa peristiwa-peristiwa sejarah yang telah membatu. Musim tua dalam setahun ini bersama masa tuaku sendiri, masa tua benteng itu, masa tua umat manusia, masa tua Negara Utsmani yang agung, wafatnya kesultanan Khilafah, dan masa tua dunia; semuanya — dalam sebuah keadaan yang amat sendu, amat mengiris hati, dan penuh rasa perpisahan — membuatku menatap dari atas benteng tinggi itu ke lembah-lembah masa lalu dan ke gunung-gunung masa depan; dan aku pun menatap. Di tengah empat-lima kegelapan masa tua yang saling melingkupiku, karena di Ankara aku merasakan keadaan jiwa yang paling kelam, {Haşiye: Waktu itu keadaan jiwa ini datang ke kalbu dalam bentuk sebuah munajat berbahasa Persia, lalu aku menuliskannya. Ia telah dicetak di Ankara dalam Risalah Hubab.} aku pun mencari sebuah cahaya, sebuah hiburan, sebuah harapan.
Ketika aku menoleh ke kanan — yakni ke masa lalu, ke zaman yang telah berlalu — sambil mencari hiburan; masa lalu itu tampak di mataku dalam rupa sebuah kuburan raksasa milik ayahku, para leluhurku, dan bangsaku — bukannya memberi hiburan, ia justru memberiku rasa ngeri. Aku menatap ke sebelah kiriku — yakni ke masa depan — sambil mencari obat. Aku melihat: ia tampak dalam rupa sebuah kubur besar lagi gelap milikku, milik orang-orang sezamanku, dan milik generasi mendatang — bukannya memberi keakraban, ia justru memberiku kengerian. Setelah merasa ngeri dari kanan dan kiri, aku menatap ke hari ini, hari yang sedang kuhadapi. Bagi pandanganku yang lalai dan bercorak sejarah itu, hari ini tampak dalam rupa sebuah peti mati yang mengusung jenazah tubuhku — tubuh yang setengah sekarat dan menanggung derita dalam gerakan seperti hewan yang baru disembelih. Lalu, ketika dari sisi ini pun aku berputus asa, aku mengangkat kepala dan menatap ke pucuk pohon usiaku. Aku melihat: pohon itu hanya punya satu buah, dan buah itu adalah jenazahku sendiri; ia berdiri di atas pohon itu, menatapku. Karena dari sisi ini pun aku merasa ngeri, aku menundukkan kepala, lalu menatap ke bagian bawah pohon usia itu, ke akarnya. Aku melihat: tanah yang ada di bawah itu — tanah dari tulang-belulangku bercampur dengan tanah asal penciptaanku — terinjak-injak di bawah telapak kaki. Itu pun bukannya obat, ia justru menambahkan derita di atas deritaku. Lalu, dengan terpaksa, aku menatap ke belakangku. Aku melihat: dunia yang tak berdasar dan fana ini sedang menggelinding pergi ke lembah-lembah ketiadaan dan ke kegelapan kehampaan. Ketika aku mencari salep untuk deritaku, ia malah menambahkan racun. Karena dari sisi itu pun aku tak melihat kebaikan, aku menatap ke depanku; kukirim pandanganku jauh ke depan. Aku melihat: pintu kubur tampak terbuka tepat di atas jalanku, menganga lebar menatapku. Di belakangnya, jalan raya yang menuju ke arah keabadian, dan rombongan-rombongan yang berjalan di jalan itu, terlihat sayup-sayup dari kejauhan.
Dan menghadapi kengerian-kengerian yang datang dari enam arah ini, tidak ada sesuatu pun di tanganku yang bisa menjadi titik sandaran dan senjata pembelaan, selain sebuah cüz'-i ihtiyarî (kehendak bebas yang amat kecil). Cüz'-i ihtiyarî itu — satu-satunya senjata kemanusiaan dalam menghadapi musuh-musuh yang tak terhitung dan hal-hal merugikan yang tak terbilang — karena ia cacat, pendek, lemah, dan tak mampu mencipta, maka tidak ada yang bisa ia lakukan selain sekadar berusaha (kesb). Ia tidak bisa menembus ke masa lalu untuk membungkam kesedihan-kesedihan yang datang kepadaku dari sana, dan tidak pula bisa masuk ke masa depan untuk mencegah ketakutan-ketakutan yang datang dari sana. Aku melihat bahwa ia tidak ada gunanya bagi harapan-harapan dan penderitaan-penderitaanku yang berkaitan dengan masa lalu dan masa depan.
Di saat aku menggelepar di tengah kengerian, keliaran, kegelapan, dan keputusasaan yang datang dari enam arah ini, tiba-tiba cahaya-cahaya iman yang bersinar di langit Al-Qur'an yang penjelasannya penuh mukjizat (Kur'an-ı Mu'ciz-ül Beyan) datang menolong. Cahaya itu menerangi keenam arah itu sedemikian rupa, sampai-sampai seandainya keliaran dan kegelapan yang kulihat itu berlipat seratus kali lipat pun, cahaya itu tetap cukup dan memadai untuk menghadapinya. Ia mengubah semua kengerian itu satu per satu menjadi hiburan, dan mengubah semua keliaran itu satu per satu menjadi keakraban. Begini:
Iman merobek rupa kuburan raksasa dari masa lalu yang penuh keliaran itu, lalu menunjukkan — dengan keyakinan sehakikat penglihatan (aynelyakîn) dan keyakinan sehakikat penghayatan (hakkalyakîn) — bahwa masa lalu itu sebenarnya adalah sebuah majelis bercahaya yang akrab dan sebuah tempat berkumpulnya para kekasih. Dan iman menunjukkan — dengan keyakinan selevel ilmu (ilmelyakîn) — bahwa masa depan, yang di mata kelalaian tampak sebagai sebuah kubur raksasa, sebenarnya adalah sebuah majelis jamuan Ar-Rahmani di dalam istana-istana kebahagiaan yang menawan. Dan iman menghancurkan rupa hari ini yang di mata kelalaian tampak seperti sebuah peti mati — bentuk peti mati dari hari ini — lalu menunjukkan dengan penyaksian langsung bahwa hari ini sebenarnya adalah sebuah toko perniagaan ukhrawi dan sebuah rumah jamuan Ar-Rahmani yang gemerlap. Dan iman menunjukkan — dengan keyakinan selevel ilmu — bahwa satu-satunya buah yang di mata kelalaian tampak berbentuk jenazah di pucuk pohon usia itu bukanlah jenazah, melainkan ruhku — yang menjadi tempat tampaknya kehidupan abadi dan yang dicalonkan untuk kebahagiaan abadi — yang sedang keluar dari sarangnya yang usang untuk berjalan-jalan di antara bintang-bintang. Dan iman menunjukkan — dengan rahasia iman — bahwa tulang-belulangku beserta tanah asal penciptaanku itu bukanlah tulang-belulang yang lenyap tak berarti di bawah telapak kaki; melainkan tanah itu adalah pintu rahmat dan sebuah tirai dari ruang istana Surga. Dan iman menunjukkan — dengan rahasia Al-Qur'an — keadaan dunia yang di mata kelalaian tampak menggelinding di belakangku, di dalam ketiadaan, di dalam kegelapan kehampaan; bahwa dunia yang menggelinding dalam kegelapan lahiriah itu sebenarnya adalah sekumpulan surat-surat Samadani (surat-surat dari Allah جل جلاله, Sang Maha Tempat Bergantung) dan lembaran-lembaran ukiran Subhani (lembaran-lembaran goresan dari Allah جل جلاله Yang Maha Suci) — dunia yang tugasnya sudah selesai, yang maknanya sudah tersampaikan, dan yang hasil-hasilnya sudah ia tinggalkan dalam wujud sebagai gantinya. Iman memberitahukan — dengan keyakinan selevel ilmu — apa sebenarnya hakikat dunia itu. Dan iman menunjukkan — dengan cahaya Al-Qur'an — kubur yang membuka matanya menatapku di depan sana, dan jalan raya yang menuju keabadian di belakang kubur itu; bahwa kubur itu bukanlah pintu sebuah sumur gelap, melainkan pintu alam cahaya. Dan jalan itu — iman menunjukkannya sampai pada tingkat yang memberi keyakinan penuh bahwa ia bukanlah jalan yang menuju ketiadaan dan negeri kehampaan, melainkan jalan yang menuju wujud, negeri cahaya, dan kebahagiaan abadi — sehingga ia menjadi obat sekaligus salep bagi derita-deritaku. Dan sebagai ganti cüz'-i ihtiyarî yang kecil — yang di tangannya hanya ada usaha (kesb) yang amat sedikit — iman memberikan ke tangan cüz'-i ihtiyarî itu sebuah surat jaminan untuk bersandar kepada sebuah kekuasaan yang tak terhingga dan untuk berpaut kepada sebuah rahmat yang tak terbatas dalam menghadapi musuh-musuh dan kegelapan-kegelapan yang tak terhitung itu.. bahkan, iman sendirilah yang menjadi surat jaminan di tangan cüz'-i ihtiyarî itu. Dan senjata kemanusiaan berupa cüz'-i ihtiyarî itu, memang pada dirinya sendiri pendek, lemah, dan kurang. Tapi seperti halnya seorang prajurit yang, ketika menggunakan kekuatannya yang kecil atas nama negara, mampu mengerjakan urusan ribuan kali lipat lebih besar daripada kekuatannya sendiri; begitu juga, dengan rahasia iman, kalau cüz'-i ihtiyarî yang kecil itu digunakan atas nama Allah جل جلاله Yang Mahaagung dan di jalan-Nya, ia bahkan bisa memenangkan sebuah Surga yang luasnya lima ratus tahun perjalanan. Dan iman mengambil tali kekang cüz'-i ihtiyarî — yang tak bisa menembus masa lalu dan masa depan itu — dari tangan tubuh, lalu menyerahkannya kepada kalbu dan ruh. Karena lingkaran kehidupan ruh dan kalbu tidak terbatas hanya pada masa kini seperti tubuh — melainkan banyak sekali tahun dari masa lalu dan banyak sekali tahun dari masa depan ikut masuk ke dalam lingkaran kehidupannya — maka cüz'-i ihtiyarî itu keluar dari sifat parsialnya lalu memperoleh sifat menyeluruh. Seperti halnya dengan kekuatan iman ia bisa masuk ke lembah-lembah masa lalu yang paling dalam dan bisa menyingkirkan kegelapan kesedihan; begitu juga dengan cahaya iman ia bisa naik sampai ke gunung-gunung masa depan yang paling jauh, lalu melenyapkan ketakutan.
Maka, wahai saudara-saudara tua dan saudari-saudari tua yang menanggung susah payah masa tua sepertiku! Selama — alhamdulillah — kita ini orang-orang beriman, dan selama di dalam iman ada harta karun yang sedemikian bercahaya, lezat, menawan, lagi manis, dan selama masa tua kita justru semakin mendorong kita masuk lebih dalam ke harta karun ini.. maka sudah pasti, terhadap masa tua yang disertai iman, kita bukan harus mengeluh, melainkan harus bersyukur ribuan kali.