Harapan Kedelapan (Sekizinci Rica)
Panduan Pemuda · hlm. 33
Di suatu masa, ketika rambut-rambut putih yang menjadi tanda masa tua mulai jatuh ke kepalaku — yakni di masa hiruk-pikuk Perang Dunia yang makin mempertebal tidur lelap masa muda, lalu kekacauan masa penawananku, dan kemudian saat aku tiba di Istanbul — sebuah keadaan yang penuh kemasyhuran dan kehormatan: bahkan mulai dari Khalifah, Syaikhul Islam, dan Panglima Tertinggi, sampai ke para murid madrasah, mereka menunjukkan sambutan baik dan penghormatan yang jauh melampaui kepantasanku; karena itu, mabuk masa muda dan keadaan jiwa yang ditimbulkan oleh situasi itu telah mempertebal tidur tadi sedemikian rupa, sampai-sampai aku hampir-hampir memandang dunia ini seakan kekal, dan memandang diriku sendiri seakan abadi tak akan mati, dalam sebuah keadaan aneh yang melekat erat pada dunia.
Nah, di masa itu, pada bulan Ramadan yang mulia, aku pergi ke masjid Bayezid yang penuh berkah di Istanbul untuk mendengarkan para penghafal Al-Qur'an yang ikhlas. Al-Qur'an yang penjelasannya penuh mukjizat (Kur'an-ı Mu'ciz-ül Beyan), dengan seruan langitnya yang tinggi, secara amat kuat mengabarkan kefanaan manusia dan kematian setiap makhluk hidup, lalu memaklumkan firman-Nya lewat lisan para penghafal:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
Firman itu masuk ke telingaku, lalu menetap sampai jauh ke dalam kalbuku, dan menghancurkan berkeping-keping lapisan-lapisan kelalaian, tidur, dan kemabukan yang amat tebal itu. Aku keluar dari masjid. Karena masih terbawa pening dari tidur lama yang sudah lama bersarang di kepalaku, selama beberapa hari aku merasakan ada badai di kepalaku, ada api berasap, dan aku melihat diriku seperti sebuah kapal yang kehilangan arah kompasnya. Setiap kali aku menatap rambutku di cermin, rambut-rambut putih itu berkata kepadaku: "Hati-hati, perhatikan!" Nah, dengan peringatan rambut-rambut putih itu, keadaannya pun menjadi terang bagiku. Aku melihat: masa muda yang sangat kupercayai dan yang kenikmatannya kupuja sedang mengucapkan selamat tinggal; kehidupan duniawi yang sangat kucintai mulai padam; dan dunia yang sangat kuperhatikan, yang bahkan kucintai bagai kekasih, berkata kepadaku "Selamat jalan," lalu memperingatkanku bahwa aku akan pergi dari rumah tamu ini. Dunia itu sendiri pun berkata "Selamat tinggal, kutitipkan engkau kepada Allah جل جلاله," lalu ia juga bersiap-siap untuk pergi. Dalam keluasan makna ayat كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ dari Al-Qur'an yang penjelasannya penuh mukjizat, makna ini terbuka ke kalbu dari isyarat ayat tersebut: "Jenis manusia adalah satu jiwa; ia akan mati untuk kemudian dibangkitkan. Dan bumi pun adalah satu jiwa; ia juga akan mati untuk masuk ke dalam sebuah rupa yang kekal. Dunia pun adalah satu jiwa; ia juga akan mati untuk masuk ke dalam rupa akhirat!"
Nah, dalam keadaan begini aku menatap kondisiku: masa muda yang menjadi sumber kenikmatan sedang pergi, dan masa tua yang menjadi sumber kesedihan datang menggantikannya. Dan kehidupan yang amat cemerlang lagi bercahaya sedang pergi; sementara kematian yang secara lahiriah gelap lagi mengerikan bersiap datang menggantikannya. Dan dunia yang sangat menawan, yang disangka kekal, dan yang menjadi kekasih bagi orang-orang lalai itu — aku melihatnya bergegas amat cepat menuju kelenyapan. Demi menipu diriku sendiri dan demi kembali menenggelamkan kepalaku ke dalam kelalaian, aku menengok kenikmatan-kenikmatan kedudukan sosial yang kuperoleh di Istanbul jauh melampaui kepantasanku — tapi tak ada satu pun gunanya. Semua sambutan, penghormatan, dan hiburan mereka itu hanya bisa mengantarku sampai ke pintu kubur yang sudah dekat denganku, lalu padam di sana. Dan karena di balik tirai indah dari kemasyhuran dan kehormatan — yang menjadi cita-cita khayalan para pemburu ketenaran — aku melihat sebuah riya yang menjijikkan, sebuah pamer diri yang dingin (hodfüruşluk, menjajakan diri sendiri), dan sebuah kepeningan yang sementara; maka aku pun mengerti: urusan-urusan yang selama ini menipuku ini tidak bisa memberi hiburan apa pun, dan pada semua itu tidak ada cahaya sedikit pun.
Untuk benar-benar terbangun, dan untuk mendengar pelajaran langit dari Al-Qur'an, aku kembali mulai mendengarkan para penghafal di Masjid Bayezid. Waktu itu, dari pelajaran langit itu, aku mendengar kabar-kabar gembira lewat firman-firman suci semacam:
وَ بَشِّرِ الَّذِينَ اٰمَنُوا
Dengan limpahan karunia yang kuterima dari Al-Qur'an, aku bukan lagi mencari hiburan dari luar, melainkan aku mencari hiburan, harapan, dan cahaya justru di dalam titik-titik yang tadinya memberiku kengerian, keliaran, dan keputusasaan. Seratus ribu syukur kepada Allah جل جلاله Yang Mahaagung; tepat di dalam derita itu sendiri aku menemukan obat, tepat di dalam kegelapan itu sendiri aku menemukan cahaya, tepat di dalam kengerian itu sendiri aku menemukan hiburan. Pertama-tama, aku menatap wajah kematian — yang menakuti semua orang dan yang dibayangkan sebagai sesuatu yang paling menyeramkan.. dengan cahaya Al-Qur'an aku melihat: memang cadar kematian itu gelap, hitam, dan buruk; tapi bagi seorang mukmin, wajah aslinya bercahaya dan indah — begitulah yang kulihat. Dan di banyak risalah, hakikat ini telah kami buktikan secara pasti. Seperti yang telah kami jelaskan di banyak risalah, seperti Kalimat Kedelapan (Sekizinci Söz) dan Surat Kedua Puluh (Yirminci Mektub); kematian itu bukan hukuman mati, bukan perpisahan, melainkan ia adalah mukadimah dan permulaan kehidupan abadi, sebuah waktu istirahat dari beban tugas kehidupan, sebuah pelepasan tugas, sebuah perpindahan tempat. Ia adalah perjumpaan kembali dengan rombongan para kekasih yang telah berpindah ke alam barzakh. Dan demikianlah, dengan hakikat-hakikat semacam ini, aku melihat wajah sejati kematian yang indah. Aku menatap wajah kematian bukan dengan rasa takut, melainkan dari satu sisi dengan penuh kerinduan. Aku pun memahami salah satu rahasia dari rabıta-i mevt (mengikat hati dengan terus mengingat kematian) yang dikenal di kalangan ehl-i tarîkat (para penempuh jalan tarekat).
Lalu aku menatap masa mudaku — masa muda yang dengan kelenyapannya membuat semua orang menangis, yang membuat semua orang terpikat dan merindukannya, yang berlalu dengan dosa dan kelalaian, dan yang kini telah lewat; di balik kerudung (pakaian) indah nan berhias itu, aku melihat sebuah wajah yang amat buruk, mabuk, dan limbung. Seandainya aku tidak mengetahui hakikatnya, maka sebagai ganti beberapa tahun ia memabukkan dan menertawakanku, ia akan membuatku menangis seandainya aku tinggal di dunia seratus tahun. Seperti halnya salah seorang dari mereka pernah berkata sambil menangis: لَيْتَ الشَّبَابَ يَعُودُ يَوْمًا فَاُخْبِرَهُ بِمَا فَعَلَ الْمَشِيبُ
Artinya: "Andai saja masa mudaku kembali suatu hari, aku pasti akan mengeluh dan menceritakan kepadanya betapa pilunya keadaan-keadaan yang ditimpakan masa tua ke atas kepalaku." Ya, orang-orang tua yang seperti tokoh ini, yang tidak mengetahui hakikat masa muda, memikirkan masa muda mereka, lalu menangis dengan penuh sesal dan rindu. Padahal masa muda — kalau ada pada para mukmin yang ehl-i kalb (yang kalbunya hidup), ehl-i huzur (yang hatinya hadir di sisi Allah جل جلاله), yang berakal sehat dan kalbunya pada tempatnya, lalu digunakan untuk ibadah, untuk kebaikan, dan untuk perniagaan ukhrawi — adalah sarana perniagaan yang paling kuat dan sebuah perantara kebaikan yang indah lagi manis. Dan bagi mereka yang mengenal tugas keagamaannya dan tidak menyalahgunakannya, masa muda itu adalah sebuah nikmat Ilahi yang berharga lagi penuh kenikmatan. Tapi kalau ia tidak disertai kelurusan, kesucian diri, dan takwa, ia punya banyak bahaya. Dengan keliaran-keliarannya, ia melukai kebahagiaan abadi dan kehidupan ukhrawinya, bahkan ia juga merusak kehidupan duniawinya. Bahkan sebagai ganti satu-dua tahun kenikmatan masa muda, di masa tua ia menanggung kesedihan dan duka bertahun-tahun. Selama pada kebanyakan manusia masa muda berakhir merugikan, kita orang-orang tua harus bersyukur kepada Allah جل جلاله karena sudah selamat dari bahaya dan kerugian masa muda. Seperti segala sesuatu, sudah pasti kenikmatan masa muda pun akan pergi. Kalau ia digunakan untuk ibadah dan kebaikan; maka buah-buah masa muda itu akan tinggal kekal di tempatnya, dan menjadi sarana untuk memperoleh sebuah masa muda di dalam kehidupan abadi.
Lalu aku menatap dunia yang dicintai dan digandrungi oleh kebanyakan manusia. Dengan cahaya Al-Qur'an aku melihat: ada tiga dunia menyeluruh yang saling berada di dalam satu sama lain. Yang pertama menghadap kepada nama-nama Ilahi (asma Ilahi); ia adalah cermin bagi nama-nama itu. Wajah keduanya menghadap kepada akhirat; ia adalah ladang persemaiannya. Wajah ketiganya menghadap kepada ahli dunia; ia adalah tempat permainan bagi orang-orang yang lalai (ehl-i gaflet). Dan setiap orang punya sebuah dunia yang besar di dunia ini. Seakan-akan ada dunia-dunia sebanyak jumlah manusia, yang saling masuk satu ke dalam yang lain. Tapi tiang dari dunia pribadi setiap orang adalah hidupnya sendiri. Kapan saja tubuhnya patah, dunianya runtuh menimpa kepalanya; kiamatnya pun pecah. Orang-orang yang lalai, karena tidak tahu bahwa dunia mereka berada dalam keadaan yang begitu cepat runtuh, menyangkanya kekal seperti dunia umum, lalu menyembahnya. Aku pun berpikir: aku juga punya sebuah dunia pribadi yang cepat runtuh dan rusak seperti dunia orang lain. Lalu apa gunanya dunia pribadiku ini dengan usiaku yang sependek ini? Dengan cahaya Al-Qur'an aku melihat: baik bagiku maupun bagi semua orang, dunia ini hakikatnya adalah sebuah tempat perniagaan yang sementara, dan sebuah rumah tamu yang setiap hari terisi lalu kosong, dan sebuah pasar yang didirikan di pinggir jalan untuk transaksi orang-orang yang datang dan pergi, dan sebuah buku catatan milik Nakkaş-ı Ezelî (Sang Pelukis Azali yang tak berawal) yang terus diperbarui (Dia menulis lalu menghapusnya dengan hikmah), dan sebuah surat berhias keemasan pada setiap musim semi, dan sebuah kasidah bersyair pada setiap musim panas, dan cermin-cermin yang menyegarkan serta menampakkan kilauan nama-nama As-Sâni'-i Zülcelal (Sang Pengrajin Pemilik Keagungan), dan sebuah kebun persemaian bagi akhirat, dan sebuah pot bunga bagi rahmat Ilahi, dan sebuah bengkel kerja sementara yang khusus untuk menumbuhkan lukisan-lukisan yang akan dipamerkan di alam keabadian. Aku pun bersyukur seratus ribu kali kepada Al-Hâlık-ı Zülcelal (Sang Pencipta Pemilik Keagungan) yang menciptakan dunia ini dengan rupa demikian. Dan aku mengerti: padahal kepada manusia telah diberikan rasa cinta untuk diarahkan kepada wajah-wajah dalam dunia yang indah — yang menghadap kepada akhirat dan kepada nama-nama Ilahi — tapi karena manusia menyalahgunakan cinta itu lalu mengarahkannya kepada wajah dunia yang fana, buruk, merugikan, dan penuh kelalaian, maka mereka pun menjadi tempat tampaknya rahasia hadis mulia:
حُبُّ الدُّنْيَا رَاْسُ كُلِّ خَطِيئَةٍ
Maka, wahai para lelaki tua dan para perempuan tua! Aku melihat hakikat ini dengan cahaya Al-Qur'an Yang Mahabijaksana (Kur'an-ı Hakîm), dengan peringatan masa tuaku, dan dengan iman yang membuka mataku, lalu aku membuktikannya di banyak risalah dengan dalil-dalil yang pasti. Aku menemukan untuk diriku sebuah hiburan yang sejati, sebuah harapan yang kuat, dan sebuah cahaya yang cemerlang. Dan aku pun senang dengan masa tuaku, dan gembira karena perginya masa muda. Kalian pun, janganlah menangis — bersyukurlah. Selama iman ada dan hakikatnya memang demikian; biarlah orang-orang yang lalai menangis, biarlah orang-orang yang sesat menangis.