Persoalan Keenam (Altıncı Mes'ele)
Panduan Pemuda · hlm. 37
Ini adalah sebuah isyarat singkat kepada satu bukti saja, dari ribuan bukti menyeluruh tentang rukun iman kepada Allah جل جلاله (iman-ı billah) — rukun yang penjelasannya dan bukti-bukti pastinya yang tak terhingga terdapat di banyak tempat dalam Risale-i Nur.
Di Kastamonu, sekelompok murid SMA datang kepadaku. Mereka berkata: "Perkenalkanlah kepada kami Pencipta kami; guru-guru kami tidak berbicara tentang Allah جل جلاله." Aku berkata: Setiap cabang ilmu yang kalian pelajari, dengan bahasanya sendiri yang khas, terus-menerus berbicara tentang Allah جل جلاله dan memperkenalkan Sang Pencipta. Dengarkanlah ilmu-ilmu itu, bukan guru-gurunya.
Misalnya: seperti halnya sebuah apotek yang sempurna, yang di setiap tabungnya ada ramuan-ramuan dan obat penawar berkhasiat hidup yang ditakar dengan timbangan yang menakjubkan lagi amat teliti. Tak diragukan lagi, apotek itu menunjukkan adanya seorang ahli farmasi yang amat terampil, ahli kimia, lagi bijaksana. Begitu juga, apotek bumi — dengan ramuan dan obat penawar berkhasiat hidup yang ada di dalam tabung-tabung empat ratus ribu jenis tumbuhan dan hewan — seberapa jauh lebih sempurna dan lebih besar daripada apotek di pasar tadi, sebanding dengan itu pula, lewat ukuran ilmu kedokteran (fenn-i tıp) yang kalian pelajari, ia memberitahukan, memperkenalkan, dan membuat kita mencintai Al-Hakîm-i Zülcelal (Sang Mahabijaksana Pemilik Keagungan) — sang ahli farmasi dari apotek raksasa bumi ini — bahkan ia menunjukkan-Nya kepada mata yang buta sekalipun.
Dan misalnya: seperti sebuah pabrik menakjubkan yang menenun ribuan macam kain dari satu bahan yang sederhana. Tanpa keraguan, ia memperkenalkan adanya seorang pemilik pabrik dan seorang masinis yang terampil. Begitu juga, mesin Rabbani yang berjalan ini — yang disebut bumi, yang berkepala ratusan ribu, dan di setiap kepalanya ada ratusan ribu pabrik yang sempurna — seberapa jauh ia lebih besar dan lebih sempurna daripada pabrik buatan manusia ini, sebanding dengan itu pula, lewat ukuran ilmu permesinan (fenn-i makine) yang kalian pelajari, ia memberitahukan, memperkenalkan, dan membuat kita mencintai sang pembuat dan pemilik bumi.
Dan misalnya, seperti halnya sebuah gudang, lumbung perbekalan, dan toko yang amat sempurna — yang seribu satu macam bahan makanannya didatangkan dari berbagai penjuru lalu ditata dan disiapkan dengan rapi di dalamnya — tanpa keraguan ia memberitahukan adanya seorang pemilik, penguasa, dan pengurus perbekalan serta makanan yang luar biasa. Begitu juga, lumbung perbekalan Ar-Rahmani yang disebut bumi ini — yang dalam satu tahun mengarungi sebuah lingkaran perjalanan sepanjang dua puluh empat ribu tahun dengan teratur, yang menampung ratusan ribu kelompok makhluk yang masing-masing meminta jenis makanan yang berbeda, yang dalam perjalanannya singgah di musim-musim, lalu mengisi musim semi bagai sebuah gerbong besar dengan ribuan macam hidangan yang berbeda-beda, dan membawakannya kepada makhluk-makhluk hidup malang yang kehabisan bekal di musim dingin — bumi yang juga merupakan sebuah bahtera Subhani, dan gudang serta toko Rabbani yang mengangkut seribu satu macam perlengkapan, barang, dan paket-paket makanan kaleng ini — seberapa jauh ia lebih besar dan lebih sempurna daripada pabrik tadi; lewat ukuran ilmu perbekalan (fenn-i iaşe) yang sudah dan akan kalian pelajari, dengan kepastian dan derajat yang sama pula, ia memberitahukan, memperkenalkan, dan membuat kita mencintai sang pemilik, pengelola, dan pengatur gudang bumi.
Dan seperti halnya: sebuah pasukan yang terdiri dari empat ratus ribu bangsa, yang setiap bangsanya berbeda makanan yang dimintanya, berbeda senjata yang dipakainya, berbeda pakaian yang dikenakannya, berbeda aturan latihannya, dan berbeda cara pemberhentian tugasnya — lalu seorang panglima yang penuh mukjizat, seorang diri, memberikan kepada semua bangsa yang berbeda-beda itu makanan mereka yang berbeda-beda, aneka senjata, pakaian, dan perlengkapan mereka, tanpa melupakan satu pun dan tanpa keliru sedikit pun — maka pasukan dan markas yang menakjubkan itu, tanpa keraguan dan dengan amat jelas, menunjukkan sang panglima yang luar biasa itu, lalu membuat kita mencintainya dengan penuh kekaguman. Persis seperti itu pula, di markas permukaan bumi, dan dalam sebuah pasukan Subhani yang baru — yang setiap musim semi kembali dipanggil mengangkat senjata — pakaian, makanan, senjata, latihan, dan pemberhentian tugas yang beraneka ragam dari empat ratus ribu jenis bangsa tumbuhan dan hewan diberikan secara amat sempurna lagi teratur, tanpa melupakan satu pun dan tanpa keliru sedikit pun, oleh satu panglima teragung saja: maka markas musim semi bumi ini, seberapa jauh ia lebih besar dan lebih sempurna daripada pasukan dan markas manusia yang tadi disebut, lewat ukuran ilmu kemiliteran (fenn-i askerî) yang akan kalian pelajari, sebanding dengan itu pula, kepada orang-orang yang teliti dan berakal sehat, ia memberitahukan — dengan penuh ketakjuban dan pengagungan — Sang Penguasa, Rabb, Pengatur, dan Panglima Tersuci (Kumandan-ı Akdes) bumi ini, lalu membuat kita mencintai-Nya dengan tahmid dan tasbih.
Dan seperti halnya: di sebuah kota menakjubkan, jutaan lampu listrik bergerak berkeliling menjelajahi setiap tempat, dengan bahan bakar yang tak pernah habis — lampu-lampu listrik dan pabriknya yang seperti itu, tanpa keraguan dan dengan amat jelas, memperkenalkan — dengan penuh ketakjuban dan ucapan selamat — seorang ahli yang penuh mukjizat dan seorang teknisi listrik yang luar biasa berkuasa, yang mengatur listrik, membuat lampu-lampu berjalan itu, mendirikan pabriknya, dan mendatangkan bahan bakarnya, lalu membuat kita mencintainya dengan sorak "hidup!". Persis seperti itu pula, di kota alam ini, lampu-lampu bintang di atap istana dunia — yang sebagiannya, kalau menurut yang dikatakan ilmu kosmografi, seribu kali lebih besar daripada bumi dan bergerak tujuh puluh kali lebih cepat daripada peluru meriam — meskipun demikian, tidak merusak keteraturannya, tidak saling bertabrakan, tidak padam, dan bahan bakarnya tidak habis. Menurut yang dikatakan ilmu kosmografi yang kalian pelajari, matahari kita — yang lebih dari sejuta kali lebih besar daripada bumi, yang berumur lebih dari sejuta tahun, dan yang hanyalah sebuah lampu dan tungku pemanas di dalam sebuah rumah jamuan Ar-Rahmani — agar nyalanya terus berlangsung dan tidak padam, setiap hari membutuhkan minyak sebanyak lautan-lautan bumi, batu bara sebanyak gunung-gunungnya, atau tumpukan kayu bakar sebanyak seribu bumi. Dan lampu-lampu listrik beserta pengaturan istana dunia di kota maha-megah alam semesta ini — yang dengan jari-jari cahaya menunjukkan adanya sebuah kekuasaan dan kedaulatan tak terhingga yang menyalakan matahari serta bintang-bintang tinggi semacamnya tanpa minyak, tanpa kayu, tanpa batu bara, yang tidak memadamkannya, yang menjalankannya bersama-sama dengan cepat, dan yang tidak membenturkannya satu sama lain — seberapa jauh ia lebih besar dan lebih sempurna daripada perumpamaan tadi, sebanding dengan itu pula, lewat ukuran ilmu kelistrikan (fenn-i elektrik) yang sudah atau akan kalian pelajari, ia memperkenalkan — dengan menjadikan bintang-bintang bercahaya itu sebagai saksi — Sang As-Sultan, Sang Penerang, Sang Pengatur, dan Sang Pengrajin (As-Sâni') dari pameran teragung alam semesta ini. Dengan tasbih dan pengagungan, ia membuat kita mencintai-Nya dan menyembah-Nya.
Dan misalnya, seperti halnya kalau ada sebuah kitab — yang di dalam satu barisnya tertulis sebuah kitab dengan huruf halus, dan di setiap katanya tertulis sebuah surah Al-Qur'an dengan pena yang halus; amat sarat makna; semua persoalannya saling menguatkan satu sama lain; serta menunjukkan penulis dan pengarangnya sebagai seorang yang luar biasa terampil dan berkemampuan — maka kumpulan tulisan yang menakjubkan itu, tanpa keraguan, seterang siang hari, memberitahukan dan memperkenalkan penulis serta pengarangnya beserta segala kesempurnaan dan kepiawaiannya. Ia membuat kita memujinya dengan kalimat "Masya Allah جل جلاله, barakallah." Persis seperti itu pula, kitab besar alam semesta ini — yang di permukaan bumi sebagai satu lembarannya saja, dan di musim semi sebagai satu lembar cetakan besar saja, menuliskan tiga ratus ribu kelompok tumbuhan dan hewan yang setara dengan tiga ratus ribu kitab yang berbeda-beda; secara bersamaan; saling berada di dalam satu sama lain; tanpa salah, tanpa keliru; tanpa tercampur aduk, tanpa kebingungan; sempurna lagi teratur — dan kita lihat dengan mata kepala sendiri bahwa ada sebuah pena yang bekerja, yang kadang menuliskan sebuah kasidah dalam satu kata seperti pohon, dan menuliskan daftar isi lengkap sebuah kitab dalam satu titik seperti biji — kumpulan alam semesta yang tak terhingga sarat maknanya ini, yang di setiap katanya terdapat banyak hikmah, dan Al-Qur'an teragung alam yang berwujud nyata ini — seberapa jauh ia lebih besar, lebih sempurna, dan lebih sarat makna daripada kitab dalam perumpamaan tadi, sebanding dengan itu pula, ilmu hikmah benda-benda (fenn-i hikmet-ül eşya) yang kalian pelajari, serta ilmu membaca (fenn-i kıraat) dan ilmu menulis (fenn-i kitabet) yang langsung kalian praktikkan di sekolah — dengan ukuran-ukurannya yang luas dan dengan mata teropongnya — memberitahukan, memperkenalkan, dan membuat kita mencintai sang pelukis dan penulis kitab alam semesta ini beserta kesempurnaan-Nya yang tak terhingga. Ia memberitahukan-Nya dengan kalimat "Allahu Akbar," memperkenalkan-Nya dengan pengagungan "Subhanallah," dan membuat kita mencintai-Nya dengan pujian "Alhamdulillah."
Nah, kalau diukur dengan ilmu-ilmu ini, setiap cabang dari ratusan cabang ilmu — dengan ukurannya yang luas, dengan cerminnya yang khas, dengan mata teropongnya, dan dengan pandangannya yang penuh pelajaran — memberitahukan Al-Hâlık-ı Zülcelal (Sang Pencipta Pemilik Keagungan) alam semesta ini lewat nama-nama-Nya; serta memperkenalkan sifat-sifat dan kesempurnaan-Nya.
Nah, justru untuk mengajarkan bukti tadi — yang merupakan sebuah bukti keesaan (bürhan-ı vahdaniyet) yang megah lagi cemerlang — itulah Al-Qur'an yang penjelasannya penuh mukjizat, dengan banyak pengulangan, paling sering memperkenalkan Pencipta kita kepada kita lewat ayat-ayat:
خَلَقَ السَّمٰوَاتِ وَاْلاَرْضَ رَبُّ السَّمٰوَاتِ وَاْلاَرْضِ
— begitulah aku berkata kepada para pemuda sekolah itu. Mereka pun sepenuhnya menerima dan membenarkannya, lalu berkata: "Syukur tak terhingga kepada Rabb kami, kami telah menerima sebuah pelajaran yang sungguh suci dan murni hakikat. Semoga Allah جل جلاله meridaimu." Aku pun berkata:
Manusia adalah sebuah mesin hidup yang akan tersiksa oleh ribuan macam penderitaan dan akan menikmati ribuan jenis kenikmatan; ia makhluk malang yang — beserta kelemahannya yang amat sangat — punya musuh-musuh lahir dan batin yang tak terhitung, dan yang — beserta kefakirannya yang tak berhingga — punya kebutuhan lahir dan batin yang tak terhitung, serta terus-menerus menerima tamparan kelenyapan dan perpisahan. Nah, ketika makhluk semacam ini tiba-tiba — lewat iman dan ibadah — berpaut kepada seorang Raja Pemilik Keagungan (Padişah-ı Zülcelal) yang demikian, lalu menemukan sebuah titik sandaran dalam menghadapi semua musuhnya dan sebuah titik permohonan pertolongan untuk semua kebutuhannya: maka — seperti halnya setiap orang berbangga dengan kehormatan dan kedudukan tuan yang menjadi sandarannya — kalau manusia itu dengan iman berpaut kepada seorang raja yang Mahakuasa lagi Maha Penyayang (Al-Kadîr ve Ar-Rahîm) yang tak berhingga seperti itu, lalu masuk berkhidmat kepada-Nya dengan ibadah, dan mengubah pengumuman hukuman mati dari ajal menjadi sebuah surat pelepasan tugas atas dirinya: betapa senang, betapa berterima kasih, dan betapa penuh syukurnya ia bisa berbangga — coba kalian bandingkan sendiri.
Seperti yang kukatakan kepada para pemuda sekolah itu, kepada para tahanan yang tertimpa musibah pun aku mengatakannya berulang-ulang: orang yang mengenal-Nya dan menaati-Nya, sekalipun ia berada di penjara, ia tetap berbahagia. Sedangkan orang yang melupakan-Nya, sekalipun ia berada di istana, ia tetap berada di penjara, ia celaka. Bahkan, seorang teraniaya yang berbahagia, ketika sedang dihukum mati, berkata kepada para zalim yang celaka: "Aku bukannya dihukum mati. Justru aku sedang pergi menuju kebahagiaan dengan sebuah pelepasan tugas. Tapi aku, karena melihat kalian terhukum dengan hukuman mati abadi, maka aku sedang mengambil pembalasanku sepenuhnya atas kalian." Lalu, sambil mengucapkan "Lâ ilâha illallâh," ia menyerahkan ruhnya dengan penuh kegembiraan.
سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَا اِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَا اِنَّكَ اَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ