Sebuah masalah penting yang tiba-tiba diingatkan
Panduan Pemuda · hlm. 12
Dari berbagai riwayat hadis, dapat dipahami bahwa yang memainkan peran paling mengerikan dalam fitnah akhir zaman adalah kaum wanita beserta fitnah yang ditimbulkan oleh mereka. Ya, seperti halnya yang diceritakan dalam sejarah, di zaman dahulu ada sebuah kelompok militer yang terdiri dari para wanita bersenjata hebat bernama "Amazon", yang telah melakukan peperangan-peperangan luar biasa.
Persis seperti itu juga: Di zaman ini, dalam peperangan kesesatan zındıka (orang-orang fasik yang merusak agama) melawan Islam, melalui rencana nefs-i emmare (nafsu yang menyuruh pada keburukan) dan di bawah komando Setan, pasukan yang paling mengerikan adalah para wanita setengah telanjang; mereka menyerang dan menerkam ehl-i iman (orang-orang yang beriman) dengan pisau-pisau mengerikan berupa kaki dan paha mereka yang terbuka. Dengan berusaha menutup jalan pernikahan dan memperlebar jalan perzinaan, mereka seketika menawan nafsu banyak orang, lalu melukai kalbu dan ruh orang-orang itu dengan kebair (dosa-dosa besar). Bahkan, mereka membunuh sebagian dari kalbu-kalbu itu.
Sebagai hukuman yang setimpal karena mempertontonkan dirinya kepada hawa nafsu laki-laki yang bukan mahram selama beberapa tahun; kaki-kaki setajam pisau itu kelak akan menjadi kayu bakar Neraka, dan kaki-kaki itulah yang akan terbakar lebih dulu. Selain itu, karena ia telah kehilangan rasa aman dan kesetiaan di dunia, ia tidak akan bisa lagi menemukan suami yang cocok—suami yang secara fitrah sangat ia inginkan dan butuhkan. Kalaupun ia menemukannya, suami itu hanya akan menjadi pembawa bencana bagi dirinya. Bahkan sebagai akibat dari keadaan ini di akhir zaman, karena hilangnya minat dan rasa hormat terhadap pernikahan di beberapa tempat, wanita akan jatuh ke dalam wujud yang begitu tidak penting, tidak ada yang melindungi, dan tidak berharga, sampai-sampai satu orang laki-laki akan mengawasi empat puluh wanita; hal ini dapat dipahami dari riwayat hadis tersebut.
Karena hakikatnya adalah seperti ini. Dan karena setiap wanita cantik mencintai kecantikannya, ingin menjaganya sebisa mungkin, dan tidak ingin kecantikannya itu rusak. Dan karena kecantikan itu adalah sebuah nikmat.
Kalau sebuah nikmat disyukuri, secara maknawi ia akan bertambah. Kalau tidak disyukuri, ia akan berubah dan menjadi jelek. Tentu saja, kalau ia punya akal, ia akan berlari sekuat tenaga menghindar dari menggunakan keindahan dan kecantikannya untuk mendulang dosa dan membuat orang lain berdosa, menghindar dari menjadikannya jelek dan beracun, serta menghindar dari mengubah nikmat itu menjadi sumber azab akibat kufur nikmat. Dan untuk mengabadikan kecantikan fana yang hanya bertahan lima atau sepuluh tahun itu, ia akan bersyukur atas nikmat tersebut dengan cara menggunakannya di jalan yang halal. Kalau tidak, di masa tuanya kelak ia akan menghadapi pengabaian dan diremehkan dalam waktu yang lama, lalu ia akan menangis dengan penuh keputusasaan.
Kalau kecantikan itu diperindah dengan perhiasan adab Al-Qur'an di dalam lingkaran didikan Islam; kecantikan yang fana itu akan tetap abadi secara maknawi, dan di Surga kelak ia akan diberikan kembali kepadanya dalam bentuk yang lebih manis dan lebih bersinar daripada kecantikan para bidadari; hal ini telah ditetapkan dengan pasti di dalam hadis. Kalau wanita cantik itu punya akal walau hanya sebesar zarrah, ia tidak akan membiarkan hasil yang indah, bersinar, dan abadi ini lepas dari genggamannya
بِاسْمِهِ سُبْحَانَهُ وَاِنْ مِنْ شَيْءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِه۪
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللّٰهِ وَ بَرَكَاتُهُ اَبَدًا دَائِمًا
Wahai saudara-saudaraku yang mulia dan jujur!
Kami mengirimkan sebuah tulisan berjudul "Peringatan bagi para pemuda yang berada dalam keadaan bahaya". Agar hal ini semakin membuktikan betapa berharganya jalan yang ditempuh oleh para murid muda Risale-i Nur, menjaga kehormatan, dan mengikuti Sunnah Nabi yang mulia dalam masa muda. Serta untuk menunjukkan siapa sebenarnya para pemuda Turki yang sejati dengan membuktikan sekali lagi bahwa masa muda yang sejati dan penuh kelezatan adalah masa muda orang-orang cerdas yang hidup dengan cara seperti itu.
اَلْبَاقِى هُوَ الْبَاقِى
Saudara kalian,
Said Nursî
Sebuah peringatan, pelajaran, dan teguran yang diberikan kepada beberapa pemuda malang
Suatu hari, beberapa pemuda yang cerdas datang menemuiku. Kepada para pemuda yang ingin mendapatkan peringatan kuat agar terhindar dari bahaya kehidupan, masa muda, dan hawa nafsu ini, aku mengatakan hal yang sama seperti yang pernah aku katakan kepada para pemuda yang meminta bantuan dari Risale-i Nur di masa lalu:
Masa muda kalian pasti akan pergi. Kalau kalian tidak menetap di dalam batas yang halal, masa muda itu akan sia-sia dan akan mendatangkan berbagai bencana dan penderitaan bagi kalian yang jauh melebihi kenikmatannya, baik di dunia, di alam kubur, maupun di akhirat. Kalau kalian menggunakan masa muda itu dengan didikan Islam untuk menjaga kehormatan, menjaga harga diri, dan berbuat taat sebagai wujud syukur atas nikmat masa muda; masa muda itu akan tetap abadi secara maknawi, dan akan menjadi penyebab bagi kalian untuk mendapatkan masa muda yang abadi.
Adapun kehidupan, kalau iman tidak ada, atau kalau iman itu tidak berdampak karena maksiat; kehidupan itu, di samping memberikan kelezatan dan kenikmatan lahiriah yang sangat singkat, akan memberikan ribuan derajat penderitaan, kesedihan, dan kedukaan yang melampaui kelezatan dan kenikmatan itu. Sebab, karena manusia memiliki akal dan pikiran, berbeda dengan hewan, ia secara fitrah terhubung dengan masa lalu dan masa depan sekaligus dengan masa kini. Ia bisa mengambil penderitaan sekaligus kelezatan dari waktu-waktu itu. Sedangkan hewan, karena ia tidak punya pikiran, kenikmatannya saat ini tidak dirusak oleh kesedihan yang datang dari masa lalu maupun ketakutan dan kecemasan yang datang dari masa depan. Tapi bagi manusia, kalau ia telah jatuh ke dalam kesesatan dan kelalaian, kesedihan dari masa lalu dan kecemasan dari masa depan benar-benar mempahitkan dan merusak kelezatan parsialnya di masa kini. Terutama jika hal itu berada di luar batas yang halal, ia benar-benar seperti madu beracun. Artinya, dalam hal kelezatan hidup, ia jatuh seratus derajat lebih rendah dari hewan. Mungkin kehidupan, mungkin wujud, mungkin alam semesta bagi ehl-i dalalet (orang yang sesat) dan orang yang lalai, hanyalah hari di mana ia berada. Semua masa lalu dan alam semesta telah tiada dan mati baginya dari sudut pandang kesesatannya. Keterikatan akalnya memberinya kegelapan dan kekelaman. Masa depan pun kembali tiada baginya karena ia tidak punya keyakinan. Dan perpisahan abadi yang dihasilkan oleh ketiadaan itu, terus-menerus memberikan kegelapan pada hidupnya melalui pikirannya. Kalau iman menjadi nyawa bagi kehidupan; saat itu, masa lalu maupun masa depan akan diterangi oleh cahaya iman dan menemukan wujud. Seperti masa kini, dari sisi iman ia memberikan kelezatan spiritual yang agung dan cahaya keberadaan pada ruh dan kalbunya. Hakikat ini telah dijelaskan di dalam Risalah Orang Tua (İhtiyar Risalesi) pada Harapan Ketujuh. Kalian harus melihatnya.
Nah, begitulah kehidupan. Kalau kalian menginginkan kelezatan dan kenikmatan hidup, hidupkanlah kehidupan kalian dengan iman, hiasilah dengan amal fardu (kewajiban agama), dan jagalah dengan menjauhi dosa-dosa. Tentang hakikat kematian yang mengerikan yang ditunjukkan oleh kematian setiap hari, di setiap tempat, dan di setiap waktu, aku menjelaskannya kepada kalian—seperti yang telah aku katakan kepada pemuda-pemuda lain—dengan sebuah perumpamaan:
Misalnya, di sini, tepat di depan mata kalian, ada sebuah tiang gantungan yang didirikan. Di sebelahnya ada sebuah kantor undian (tapi yang memberikan tiket hadiah sangat besar). Kita bersepuluh di sini, mau tidak mau, suka tidak suka, tidak ada jalan lain, pasti akan dipanggil ke sana. Karena waktu panggilannya dirahasiakan, saat kita menunggu setiap menit mereka berkata, "Ayo, ambil tiket hukuman matimu, naiklah ke tiang gantungan!" atau "Ayo, sebuah tiket hadiah yang menghasilkan jutaan koin emas telah keluar untukmu, ayo ambil!", tiba-tiba datang dua orang pria ke pintu. Yang satu membawa seorang wanita cantik setengah telanjang dan menipu, yang di tangannya secara lahiriah terlihat membawa manisan yang sangat manis tapi beracun, dan ia ingin menyuapkannya kepada kita. Pria yang satu lagi, seorang pria serius yang tidak menipu dan tidak tertipu, masuk di belakang wanita itu. Ia berkata: "Aku membawakan kalian sebuah jimat, sebuah pelajaran. Kalau kalian membacanya dan tidak memakan manisan itu, kalian akan selamat dari tiang gantungan itu. Dengan jimat ini, kalian akan mendapatkan tiket hadiah yang tidak tertandingi itu. Nah, kalian sudah melihat sendiri dengan mata kalian bahwa mereka yang memakan manisan itu masuk ke tiang gantungan itu, dan sampai mereka masuk ke sana, mereka menderita sakit perut yang mengerikan akibat racun dari manisan itu. Memang, mereka yang mendapatkan tiket hadiah besar itu tidak terlihat, dan secara lahiriah mereka juga terlihat naik ke tiang gantungan itu. Tapi ada jutaan saksi yang mengabarkan bahwa mereka sebenarnya tidak digantung, melainkan mereka menjadikannya batu pijakan untuk masuk dengan mudah ke kantor hadiah. Coba lihatlah dari jendela itu. Para pejabat tertinggi dan tokoh-tokoh besar yang mengurus urusan ini mengumumkan dengan suara lantang dan mengabarkan; sebagaimana kalian melihat dengan mata kepala kalian sendiri mereka yang pergi ke tiang gantungan itu, ketahuilah dengan pasti tanpa keraguan sedikit pun, sejelas siang hari, bahwa para pemilik jimat itu telah mengambil tiket hadiah ini."
Sama seperti perumpamaan ini, kenikmatan bejat masa muda di dalam lingkaran yang tidak halal—yang ibarat madu beracun itu—karena ia kehilangan iman yang merupakan tiket dan sertifikat menuju khazanah abadi dan kebahagiaan abadi, maka ia akan jatuh persis seperti yang terlihat secara lahiriah ke dalam musibah kematian yang ibarat tiang gantungan, dan kubur yang merupakan pintu kegelapan abadi. Dan karena ajal itu tersembunyi, tanpa membedakan tua dan muda, sang algojo ajal bisa datang kapan saja untuk memenggal kepala. Kalau ia mau meninggalkan hawa nafsu tidak halal yang ibarat madu beracun itu, lalu mendapatkan iman dan amal fardu yang merupakan jimat Al-Qur'an; seratus dua puluh empat ribu Nabi 'Alaihimussalam beserta ehl-i velayet (para wali) dan ehl-i hakikat (para ahli hakikat) yang tak terhitung jumlahnya dengan sepakat mengabarkan dan menunjukkan tanda-tandanya bahwa ia akan mendapatkan tiket khazanah kebahagiaan abadi yang keluar dari undian nasib umat manusia yang luar biasa itu.
Kesimpulannya, masa muda akan pergi. Kalau masa muda itu dihabiskan dalam kebejatan, ia akan menghasilkan ribuan bencana dan penderitaan, baik di dunia maupun di akhirat. Kalau kalian ingin tahu bahwa para pemuda seperti itu pada umumnya akan jatuh ke rumah sakit karena penyakit penuh kecemasan akibat penyalahgunaan dan pemborosan; jatuh ke penjara atau panti sosial akibat tindakan brutal mereka; dan jatuh ke kedai minum akibat tekanan dari penderitaan batin; bertanyalah pada rumah-rumah sakit, penjara-penjara, dan kuburan-kuburan. Tentu saja, dari rumah-rumah sakit kalian akan mendengar rintihan dan keluhan dari penyakit yang datang karena pemborosan dan penyalahgunaan yang didorong oleh hasrat masa muda melalui bahasa keadaannya. Begitu juga dari penjara-penjara, kalian akan mendengar penyesalan dari para pemuda bodoh dan celaka yang menelan tamparan akibat perbuatan di luar batas halal yang didorong oleh kebrutalan masa muda. Dan kalian akan tahu bahwa mayoritas azab di alam kubur dan di alam barzakh yang pintu-pintunya terus terbuka dan tertutup bagi mereka yang masuk ke sana—berdasarkan penyaksian ehl-i keşfelkubur (para ahli kasyaf (penyingkapan mata batin) kubur) dan pembenaran serta kesaksian seluruh ahli hakikat—adalah akibat dari penyalahgunaan masa muda. Selain itu, bertanyalah kepada orang-orang tua dan orang-orang sakit yang membentuk mayoritas umat manusia. Tentu saja, mayoritas mutlak dari mereka akan berkata dengan penuh penyesalan dan kerinduan, "Aduh, masa muda kami telah sia-sia, bahkan kami menghabiskannya dengan merugikan diri sendiri. Jangan sampai kalian melakukan apa yang kami lakukan." Sebab, seseorang yang demi kenikmatan masa muda lima atau sepuluh tahun yang tidak halal, harus menanggung bencana kesedihan dan penderitaan bertahun-tahun di dunia, azab dan kerugian di barzakh, serta neraka dan siksaan saqar (salah satu nama Neraka) di akhirat, berada dalam keadaan yang paling patut dikasihani. Namun, sesuai dengan rahasia: اَلرَّاض۪ى بِالضَّرَرِ لَا يُنْظَرُ لَهُ
ia sama sekali tidak berhak untuk dikasihani. Sebab, tidak ada belas kasihan bagi orang yang masuk ke dalam kerugian (bahaya) dengan kerelaannya sendiri, dan ia tidak pantas mendapatkannya. Semoga Cenab-ı Hakk (Allah جل جلاله Yang Mahabenar) menyelamatkan dan menjaga kita dan kalian dari fitnah zaman ini yang memikat, amin…