Risale-i NurPanduan Pemuda

Jawaban atas Sebuah Pertanyaan yang Diajukan Para Murid Risale-i Nur

Panduan Pemuda · hlm. 17

Di masa-masa mengerikan dari perang dunia ini — perang yang sungguh terkait erat dengan nasib dunia Islam — selama dua tahun (sekarang sudah hampir sepuluh tahun) Üstad tidak sekali pun bertanya, baik kepada kami maupun kepada Emin yang setiap hari berkhidmat di sisi Üstad; sama sekali Üstad tidak menganggapnya penting. "Apakah ada hakikat lain yang lebih besar daripada peristiwa besar ini, yang sedang berkuasa, sehingga membuat perang ini gugur dari perhatian? Atau adakah bahaya kalau kita sibuk dengannya?" Begitulah kami bertanya kepada Üstad kami.

Beliau pun menjawab: Ya, karena ada satu hakikat yang lebih besar daripada perang dunia ini, satu peristiwa yang jauh lebih agung, yang sedang berkuasa, maka perang dunia ini menjadi sangat tidak penting kalau dibandingkan dengannya. Sebab, di tengah perang dunia ini — saat dua pemerintahan sedang berperkara dan saling menggugat di pengadilan untuk memperebutkan kekuasaan atas bumi, saat dua agama besar membuka perkara untuk berdamai di mahkamah perdamaian, dan saat arus kekufuran yang mengerikan memulai pertarungan besarnya melawan agama-agama samawi — telah dibuka satu perkara yang jauh lebih penting daripada perkara-perkara besar yang diangkat di mahkamah agung antara golongan sosialis dan kelompok borjuis dari kalangan umat manusia; dan telah muncul satu hakikat yang demikian agung, sehingga bagian dari perkara itu yang jatuh kepada satu orang saja sudah lebih besar daripada perang dunia ini. Nah, perkara itu adalah ini:

Di zaman ini, bagi setiap mukmin — bahkan mungkin bagi setiap orang — telah dibuka sebuah perkara: yaitu memperoleh sebuah ladang abadi seluas bumi, dan ladang itu adalah sebuah kepemilikan kekal yang dari ujung ke ujung dihiasi taman-taman dan istana-istana; perkara untuk memenangkan atau kehilangan kepemilikan itu. Artinya, setiap orang berhadapan dengan satu perkara yang sedemikian besar; sampai-sampai, seandainya seseorang punya kekayaan dan kekuatan sebesar Inggris dan Jerman, lalu ia berakal, ia pasti akan menghabiskan semuanya hanya untuk memenangkan perkara itu. Sudah pasti, orang yang memberi perhatian kepada hal-hal lain sebelum memenangkan perkara itu, adalah orang yang gila. Bahkan, perkara ini sudah jatuh ke dalam bahaya yang sedemikian rupa; menurut penyaksian seorang ehl-i keşf (ahli yang diberi penyingkapan rahasia gaib), di suatu tempat, dari empat puluh orang yang menerima surat pemberhentian dari tangan ajal, hanya satu orang yang berhasil memenangkannya, sedangkan tiga puluh sembilan kehilangan.

Nah, kalau ada seorang pengacara yang bisa memenangkan perkara penting nan agung ini — pengacara yang selama dua puluh tahun, lewat pengalaman, telah memenangkan perkara ini untuk delapan dari sepuluh kliennya — maka sudah pasti setiap orang yang berakal wajib menempatkan perhatian, di atas segala peristiwa apa pun, kepada sebuah khidmat yang akan menggerakkan pengacara semacam itu untuk menjalankan tugasnya demi memenangkan perkara tersebut. Nah, salah satu pengacara itu — bahkan mungkin yang pertama — adalah Risale-i Nur, yang menetes, keluar, dan lahir dari kemukjizatan maknawi Al-Qur'an yang penjelasannya penuh mukjizat (Kur'an-ı Mu'ciz-ül Beyan). Akan hal ini, ribuan orang yang telah memenangkan perkara itu bersama Risale-i Nur menjadi saksinya.

Ya, setiap manusia yang dikirim ke bumi ini dengan sebuah tugas, sudah pasti terbukti bahwa ia di sini hanyalah tamu dan bersifat fana, dan bahwa hakikat dirinya menghadap kepada sebuah kehidupan yang kekal. Setiap manusia itu, karena di zaman ini benteng-benteng tempat ia bersandar — yang akan menyelamatkan kehidupan abadinya — telah terguncang, maka selain harus meninggalkan selama-lamanya dunianya ini beserta semua sahabat tercinta yang ada di dalamnya, ia juga berhadapan dengan satu perkara: kehilangan atau memenangkan sebuah kepemilikan kekal yang ribuan kali lebih sempurna daripada dunia ini. Kalau ia tidak punya dokumen iman, dan tidak memperoleh secara kokoh akidah yang menjadi piagam dan surat resminya, maka ia akan kalah dalam perkara itu. Lalu, kira-kira apa yang bisa menggantikan tempat dari hal yang telah hilang itu?

Nah, berdasarkan hakikat ini, seandainya akal dan pikiranku serta akal dan pikiran setiap saudaraku bertambah seratus kali lipat pun, itu baru hanya cukup untuk berkhidmat pada tugas suci nan agung ini. Mengurusi persoalan-persoalan lain, bagi kami menjadi sesuatu yang berlebihan dan sia-sia. Hanya saja, ada satu hal: karena sebagian murid Risale-i Nur berada di tengah perkara-perkara lain, dan di saat-saat orang-orang yang tak berakal melancarkan serangan dan gangguan kepada kami tanpa perlu dan tanpa sebab, kami terpaksa — sebatas keadaan darurat dan dengan tidak suka — menengoknya juga.*

Selain itu, ikut campur — dengan pikiran dan hati, secara penuh kepedulian — ke dalam perkara-perkara dan pergulatan di luar perkara yang hakiki dan amat besar ini, itu berbahaya. Sebab, orang yang memusatkan perhatian pada lingkaran-lingkaran politik yang luas dan membangkitkan gairah seperti itu, lalu sibuk dengannya, akan tertinggal dari khidmat-khidmat penting yang menjadi tugasnya di dalam lingkaran yang kecil, atau semangatnya akan patah. Selain itu, orang yang memusatkan perhatian pada lingkaran-lingkaran politik dan pergulatan yang luas lagi memikat itu, kadang akan terbawa arus; ia tidak hanya jadi tak bisa menjalankan tugasnya, tapi — sekalipun ia tidak sampai kehilangan keselamatan kalbunya, niat baiknya, kelurusan pikirannya, dan keikhlasannya dalam khidmat — ia tetap bisa terkena tuduhan itu. Bahkan, pada titik ini, ketika mereka menyerangku di pengadilan, aku berkata: "Seperti matahari, hakikat keimanan dan kequr'anan tidak tunduk dan tidak menjadi alat bagi daya tarik cahaya-cahaya sementara yang ada di bumi; begitu juga, orang yang sungguh-sungguh mengenal hakikat itu — jangankan menjadikannya alat bagi peristiwa-peristiwa di muka bumi — bahkan kepada seluruh alam semesta pun ia takkan menjadikannya alat." Dengan itu aku membungkam mereka.

Nah, jawaban Üstad kami pun selesai, dan kami pun membenarkannya dengan segenap kekuatan kami. Para Murid Risale-i Nur

بِاسْمِهِ سُبْحَانَهُ