Risale-i NurPanduan Pemuda

Kedudukan Kedua dari Kalimat Ketiga Belas (Onüçüncü Söz)

Panduan Pemuda · hlm. 5

(Sebuah percakapan dengan beberapa pemuda yang berada di tengah fitnah yang memikat, namun belum kehilangan akal sehat mereka.)

Sekelompok pemuda, di tengah serbuan hiburan melalaikan dan hawa nafsu yang menipu serta memikat saat ini, meminta bantuan dari Risale-i Nur dengan bertanya, "Bagaimana cara kita menyelamatkan akhirat kita?" Aku pun, atas nama kepribadian maknawi Risale-i Nur, berkata kepada mereka: Kubur itu ada, tidak ada seorang pun yang bisa mengingkarinya. Mau tidak mau, semua orang pasti akan masuk ke sana. Dan untuk masuk ke sana, tidak ada jalan lain selain tiga jalan dalam tiga bentuk.

Jalan pertama: Bagi ehl-i iman (orang-orang yang beriman), kubur itu adalah pintu menuju alam yang lebih indah dari dunia ini.

Jalan kedua: Bagi orang yang membenarkan akhirat tapi hidup dalam kebejatan moral dan kesesatan, kubur adalah penjara abadi dan pintu pengasingan sendirian yang terputus dari seluruh sahabatnya. Karena ia melihat, meyakini, dan tidak hidup sesuai dengan apa yang ia imani, maka ia akan diperlakukan seperti itu.

Jalan ketiga: Bagi ehl-i inkâr (orang-orang yang ingkar) dan orang sesat yang tidak percaya pada akhirat, kubur adalah pintu hukuman mati yang abadi... Artinya, ia adalah tiang gantungan yang akan mengeksekusi mati dirinya beserta seluruh orang yang dicintainya. Karena ia meyakininya seperti itu, sebagai hukumannya ia akan melihat persis seperti itu. Dua pilihan terakhir ini sangat jelas, tidak butuh dalil, dan terlihat oleh mata.

Karena ajal itu tersembunyi; kematian bisa datang kapan saja untuk memenggal kepala, dan ia tidak membedakan antara yang muda maupun yang tua. Tentu saja, di hadapan masalah yang begitu besar dan mengerikan yang selalu ada di depan mata ini, usaha manusia yang malang untuk mencari jalan keluar dari hukuman mati abadi itu, dari penjara isolasi tanpa dasar dan tanpa batas itu, serta usahanya untuk mengubah pintu kubur itu menjadi pintu yang terbuka menuju alam kekal, menuju kebahagiaan abadi, dan menuju alam cahaya bagi dirinya sendiri; adalah urusan manusia yang sebesar dunia ini.

Hakikat yang pasti ini berada dalam tiga jalan tersebut. Dan seratus dua puluh empat ribu rasul pembawa kabar yang jujur, yang di tangan mereka terdapat mukjizat sebagai tanda kebenaran; mengabarkan bahwa tiga jalan itu akan terjadi dengan tiga hakikat yang disebutkan tadi. Lalu, seratus dua puluh empat juta wali yang membenarkan dan menandatangani kabar dari para nabi itu melalui penyingkapan spiritual, pengalaman batin, dan penyaksian, juga bersaksi atas hakikat yang sama. Serta para ulama peneliti tak terhitung jumlahnya yang membuktikan dengan dalil-dalil pasti—kabar yang sama dari para nabi dan wali itu—secara akal hingga tingkat ilmu yang meyakinkan {(*): Salah satunya adalah Risale-i Nur. Buktinya ada di depan mata.}, semuanya dengan suara bulat mengabarkan: dengan kemungkinan pasti sembilan puluh sembilan persen, "Selamat dari hukuman mati dan penjara abadi, serta mengubah jalan itu menuju kebahagiaan abadi, hanyalah melalui iman dan ketaatan."

Coba pikir, untuk tidak melewati sebuah jalan yang punya satu persen saja kemungkinan celaka, kata-kata satu orang penyampai kabar pasti akan diperhatikan. Dan jika seseorang tidak mendengarkan kata-kata itu lalu tetap menempuh jalan tersebut, penderitaan batin dari rasa cemas akan kecelakaan itu bisa menghilangkan nafsu makannya. Padahal di sini, ratusan ribu penyampai kabar yang jujur dan dibenarkan, dengan kemungkinan seratus persen, mengabarkan bahwa kesesatan dan kebejatan moral adalah penyebab pasti menuju tiang gantungan kubur di depan mata dan penjara isolasi abadi. Sebaliknya, iman dan ibadah, dengan kemungkinan seratus persen, akan menyingkirkan tiang gantungan itu, menutup penjara isolasi itu, dan mengubah kubur di depan mata ini menjadi pintu yang terbuka menuju khazanah abadi, menuju istana kebahagiaan; dan mereka menunjukkan tanda-tanda serta buktinya. Dalam menghadapi masalah yang aneh, menakjubkan, mengerikan, sekaligus agung ini, mungkinkah manusia yang malang ini—terutama seorang Muslim—jika ia tidak memiliki iman dan ibadah, meskipun seluruh kekuasaan dan kenikmatan dunia diberikan kepada satu orang itu; mungkinkah semua itu menghilangkan penderitaan pedih akibat kecemasan yang ditimbulkan oleh kubur di depan matanya itu, tempat di mana ia setiap saat menunggu gilirannya untuk dipanggil? Aku bertanya kepada kalian.

Karena masa tua, penyakit, musibah, dan kematian di mana-mana selalu mengorek dan mengingatkan penderitaan mengerikan itu. Tentu saja, meskipun orang yang sesat dan bejat itu mendapatkan seratus ribu kenikmatan dan kelezatan, sebuah neraka maknawi tetap hidup dan membakar di dalam kalbunya. Tapi kebingungan dari kelalaian yang sangat tebal membuatnya tidak merasakannya untuk sementara waktu.

Karena bagi orang yang beriman dan taat, kubur yang ia lihat di depan matanya adalah sebuah pintu menuju khazanah abadi, menuju kebahagiaan yang tidak akan pernah sirna bagi dirinya. Dan sebuah tiket yang akan memenangkan miliaran emas dan berlian dari undian takdir azali telah keluar untuknya melalui sertifikat imannya. Keadaan di mana ia setiap saat menunggu panggilan "Datanglah, ambil tiketmu!" memberikan sebuah kelezatan batin dan kenikmatan maknawi yang begitu dalam, mendasar, dan sejati. Kelezatan itu sedemikian rupa, jika ia berwujud nyata dan benih itu menjadi sebuah pohon, ia akan menjadi sebuah surga khusus bagi orang tersebut. Meninggalkan kenikmatan dan kelezatan yang agung itu, lalu terdorong oleh hawa nafsu masa muda, memilih kenikmatan sementara yang tidak sah, yang hina dan penuh nafsu—yang ibarat madu beracun yang bercampur dengan penderitaan tak terbatas—akan membuat seseorang jatuh seratus derajat lebih rendah dari hewan. Ia bahkan tidak bisa seperti orang-orang asing yang tidak beragama. Sebab, kalau mereka mengingkari satu nabi, mereka mungkin masih mengenali yang lainnya. Kalau mereka tidak mengenal para nabi, mereka mungkin masih mengenal Allah جل جلاله. Kalau pun mereka tidak mengenal Allah جل جلاله, mungkin masih ada sifat-sifat baik dalam diri mereka yang bisa menjadi dasar kesempurnaan. Tapi seorang Muslim; ia mengenal para nabi, Tuhannya, dan seluruh kesempurnaan melalui perantaraan Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم al-'Arabî 'Alaihissalatu Wassalam. Orang yang meninggalkan didikannya dan keluar dari rantainya, tidak akan mengenali nabi mana pun, dan tidak akan mengenal Allah جل جلاله. Dan ia tidak akan tahu satupun prinsip di dalam ruhnya yang bisa menjaga kesempurnaan. Sebab, karena beliau adalah nabi yang paling akhir dan paling agung, karena agama dan panggilannya tertuju kepada seluruh umat manusia, karena secara mukjizat dan agama beliau mengungguli semuanya dan menjadi guru bagi seluruh umat manusia dalam segala hakikat—yang telah ia buktikan secara cemerlang selama empat belas abad—maka orang yang meninggalkan pendidikan dasar dan ushuluddin dari sosok yang menjadi kebanggaan umat manusia ini, tentu tidak akan bisa menemukan cahaya dan kesempurnaan dari sisi mana pun. Ia divonis untuk jatuh sehancur-hancurnya.

Nah, wahai orang-orang malang yang kecanduan pada kenikmatan hidup duniawi dan meronta-ronta untuk mengamankan masa depan dan hidupnya karena kecemasan masa depan! Kalau kalian menginginkan kelezatan, kenikmatan, kebahagiaan, dan kenyamanan dunia; cukupkanlah diri kalian pada kesenangan di dalam batas yang halal. Itu sudah cukup untuk kesenangan kalian. Kalian tentu sudah paham dari penjelasan sebelumnya bahwa di dalam satu kelezatan di luar batas yang halal, terdapat seribu penderitaan.

Kalau saja rentetan peristiwa masa lalu bisa ditampilkan lewat sinema seperti keadaan masa kini; dan kondisi masa depan, misalnya keadaan lima puluh tahun ke depan juga bisa ditampilkan lewat sinema, maka orang-orang yang gemar bermaksiat pasti akan mengutuk, membenci, dan menangisi apa yang mereka tertawakan saat ini ratusan ribu kali lipat. Bagi siapa saja yang menginginkan kebahagiaan yang abadi dan selamanya di dunia dan akhirat, ia harus menjadikan pendidikan Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم di dalam lingkaran iman sebagai pemandunya.

Suatu waktu, aku sedang duduk di jendela Penjara Eskişehir.

​Gadis-gadis remaja dari SMA di seberang sedang tertawa dan menari di halamannya. Aku melihat mereka, di surga dunia itu, seperti bidadari neraka. Tapi tiba-tiba, keadaan mereka lima puluh tahun kemudian tampak olehku. Tawa mereka berubah wujud menjadi tangisan yang menyayat hati. Dari sana, hakikat ini tersingkap. Artinya, aku melihat keadaan mereka lima puluh tahun kemudian melalui sebuah sinema maknawi dan imajinasi: Dari enam puluh gadis yang sedang tertawa itu, lima puluh di antaranya sedang tersiksa di kubur, mereka telah menjadi tanah. Dan sepuluh dari mereka, telah menjadi jelek di usia tujuh puluh tahun, menarik pandangan benci dari semua orang. Aku pun menangisi mereka.

​Hakikat fitnah akhir zaman tampak olehku; bahwa yang paling mengerikan dan paling memikat dari fitnah itu, muncul dari wajah wanita yang tidak tahu malu. Fitnah itu merampas kehendak, dan melemparkannya ke dalam api kebejatan layaknya laron. Dan ia membuat satu menit kehidupan duniawi lebih dipilih daripada kehidupan abadi yang bertahun-tahun.

​Suatu hari saat aku melihat ke jalan, aku merasakan sebuah contoh yang sangat kuat dari fitnah itu. Aku sangat mengasihani para pemuda. Aku berkata: "Orang-orang malang ini tidak bisa menyelamatkan diri mereka dari api fitnah yang memikat layaknya magnet ini," saat aku sedang berpikir begitu; tiba-tiba, sebuah sosok maknawi murtad yang menyalakan dan mengajarkan fitnah itu menjelma di hadapanku. Aku pun berkata kepadanya dan kepada mülhid (orang-orang yang menyimpang dari agama) yang mengambil pelajaran darinya:

​Wahai orang celaka yang mengorbankan agamanya di jalan bersenang-senang dengan bidadari neraka, yang melakukan kesesatan dan kebejatan dengan penuh suka cita, yang menerima ketidakberagamaan dan penyimpangan demi kelezatan hawa nafsu, yang memuja kehidupan lalu sangat takut pada kematian, yang tidak ingin mengingat kubur, dan yang wajahnya berpaling pada kemurtadan!... Ketahuilah dengan pasti: Dari sisi ketidakberagamaan, duniamu yang besar ini; sebelum jam ini dan setelah menit ini, secara keseluruhan, alam semestamu ini, masa lalu dan masa depanmu, spesies dan jenismu yang telah lalu, makhluk dan generasi yang akan datang, dunia dan bangsa yang telah pergi, serta manusia dan kelompok yang akan datang, semuanya benar-benar tiada dan mati. Nah, semua dunia yang bergerak dan alam semesta yang mengalir—yang kamu terikat dengannya melalui sisi kemanusiaan dan akalmu—terus-menerus menghujani kepalamu dengan penderitaan pedih dari kematian mengerikan dan tak terbatas yang sebesar dunia, melalui wujud kesesatanmu. Kalau kamu punya kesadaran, ia membakar kalbumu. Kalau kamu punya ruh, ia menghanguskannya. Kalau akalmu belum padam, ia menenggelamkanmu ke dalam lautan duka. Kalau satu jam saja kebejatan yang memabukkan dan kelezatan yang kotor itu bisa mengimbangi duka, kesedihan, dan penderitaan yang tak terbatas ini, tetaplah kamu dalam kebejatan itu... Kalau tidak, sadarlah! Untuk selamat dari neraka maknawi itu, untuk masuk ke dalam surga maknawi yang dijamin oleh iman bahkan di dunia ini, dan untuk merasakan kebahagiaan hidup, dengarkanlah pelajaran Al-Qur'an. Tukarlah satu menit kelezatan fana yang parsial; dengan kelezatan iman yang menyeluruh, kekal, dan abadi…

​{(*): Ya, iman, bahkan di dunia ini bisa memberikan kelezatan Surga secara maknawi. Lihatlah satu manfaat ini dari ratusan cahayanya yang lezat: Ibarat di detik ketika kamu melihat seseorang yang sangat kamu cintai sedang sekarat dalam sebuah bahaya, seorang dokter seperti Luqman al-Hakim dan Khidir datang. Tiba-tiba ia hidup kembali. Betapa besar kebahagiaan yang kamu rasakan. Begitu juga: Iman memberimu kebahagiaan dan suka cita sebanyak jumlah orang mati yang kamu cintai dan kamu pedulikan. Karena jutaan sosok yang kamu cintai di kuburan masa lalu; tiba-tiba hidup kembali di hadapanmu dari kehancuran dan kematian melalui cahaya iman. Mereka hidup kembali seraya berkata, "Kami belum mati dan tidak akan mati." Sebagai ganti dari penderitaan tak terbatas yang datang dari perpisahan yang tak terbatas itu, kelezatan dan kebahagiaan yang tak terbatas dari perjumpaan dan kebangkitan mereka—yang datang dari sudut pandang iman bahkan di dunia ini—menunjukkan bahwa: Iman adalah sebuah benih sedemikian rupa, yang menumbuhkan dan akan menumbuhkan Surga beserta segala kelezatan dan keindahannya bagi ehl-i iman (orang-orang yang beriman).}

​Dan jangan bilang: "Aku akan menghabiskan hidupku seperti hewan." Sebab, dibandingkan dengan hewan, masa lalu dan masa depan berada dalam hukum gaib (tidak diketahui). Cenab-ı Hakîm-i Rahîm (Tuhan Yang Mahabijaksana lagi Maha Penyayang) telah menyelamatkan mereka dari penderitaan tak terbatas dengan tidak memberitahukan hal gaib itu kepada mereka. Bahkan seekor ayam yang dibaringkan untuk disembelih, tidak merasakan penderitaan dan kesedihan apa pun. Saat pisau memotongnya, ia ingin merasakan, tapi rasa itu hilang, dan ia pun terlepas dari penderitaan itu. Artinya, sebuah rahmat, kasih, dan sayang yang sangat besar dan sempurna dari Cenab-ı Hakk (Allah جل جلاله Yang Mahabenar) adalah dengan tidak memberitahukan hal gaib. Terutama bagi hewan-hewan yang tak berdosa, hal itu lebih sempurna lagi. Artinya, dalam kelezatan yang bejat, kamu tidak bisa menyamai hewan. Kamu akan jatuh ribuan derajat lebih rendah. Sebab, hal-hal yang gaib bagi hewan, bisa dilihat oleh akalmu, dan akalmu mengambil penderitaannya. Kamu benar-benar terhalang dari ketenangan sempurna yang ada di balik rahasia gaib.

​Dan sifat-sifat baikmu yang menjadi sumber kebanggaanmu, seperti persaudaraan, rasa hormat, dan rasa pembelaan; karena ia terbatas pada waktu yang sangat tipis, pada tempat seukuran jari di padang pasir yang luas, dan di dalam waktu tak terbatas hanya khusus untuk saat ini, maka ia menjadi buatan, sementara, palsu, tak berdasar, dan sangat parsial, sehingga kemanusiaan dan kesempurnaanmu pun menyusut dan turun menjadi nol pada tingkat itu. Namun, persaudaraan, rasa hormat, cinta, dan pembelaan dari ahli iman; karena ia meliputi masa lalu dan masa depan yang berwujud dari sisi iman, maka kemanusiaan dan kesempurnaan mereka pun naik pada tingkat itu. Dan keberhasilan duniamu, ibarat seorang Yahudi gila penjual berlian yang membeli pecahan kaca dengan harga berlian; karena kamu memberikan harga sebuah kehidupan yang panjang, abadi, dan luas, untuk sebuah waktu dan kehidupan yang sangat kecil dan sangat singkat, maka tentu saja kamu akan menang di dalam lingkaran batas itu. Karena kamu menghadap pada satu menit dengan perasaan yang kuat seperti ambisi, cinta, dan balas dendam yang setara dengan satu tahun, maka untuk sementara kamu akan mengungguli ehl-i diyanet (orang-orang yang beragama).

​Dan karena akal, ruh, kalbu, dan perasaanmu meninggalkan tugas-tugas agungnya, lalu ikut campur dan membantu pekerjaan-pekerjaan hina dari nafsumu yang rendah dan hawa nafsumu yang kotor, maka kamu akan mengungguli orang-orang yang beriman di dunia. Dan secara lahiriah, kamu akan terlihat lebih menawan. Sebab, akal, kalbu, dan ruhmu telah mengalami kemerosotan, kerusakan, dan kejatuhan yang luar biasa; mereka telah berubah wujud dan terkutuk menjadi hawa nafsu yang kotor dan nafsu yang hina. Tentu saja, dari sisi ini, kamu akan mendapatkan sebuah kemenangan sementara yang membuahkan Neraka bagimu dan Surga bagi ehl-i iman yang terzalimi.