Risale-i NurPanduan Pemuda

Kalimat Pertama

Panduan Pemuda · hlm. 2

Bismillah adalah permulaan setiap kebaikan. Kita pun memulai dengan menyebutnya. Ketahuilah, wahai diriku: kalimat yang penuh berkah ini, selain menjadi lambang Islam, juga merupakan zikir yang selalu diucapkan oleh seluruh makhluk lewat bahasa keadaan mereka. Kalau kamu ingin memahami betapa besar lagi tak habis-habisnya kekuatan, dan betapa banyak lagi tak putus-putusnya keberkahan yang ada pada Bismillah, lihat dan dengarkanlah kisah perumpamaan kecil ini. Begini:

Seseorang yang bepergian di padang-padang pasir Arab badui harus mengambil nama seorang kepala kabilah dan masuk ke dalam perlindungannya. Supaya ia selamat dari kejahatan para perampok dan bisa memenuhi kebutuhannya. Kalau tidak, ia akan kebingungan menghadapi musuh dan kebutuhannya yang tak terhitung, seorang diri. Nah, untuk perjalanan semacam itu, dua orang keluar menuju padang pasir. Salah satu dari mereka rendah hati. Yang lain sombong... Yang rendah hati mengambil nama seorang kepala kabilah. Yang sombong tidak mengambilnya... Yang mengambil nama itu, berjalan dengan selamat di mana-mana. Kalau ia bertemu seorang pembegal jalanan, ia berkata: "Aku berjalan dengan nama kepala kabilah anu." Si perampok pun pergi, tidak berani mengganggunya. Kalau ia masuk ke sebuah kemah, ia dihormati berkat nama itu. Sedangkan yang sombong tadi, sepanjang perjalanannya menanggung bencana-bencana yang tak terlukiskan. Ia selalu gemetar, selalu mengemis-ngemis. Ia menjadi hina sekaligus tercela.

Nah, wahai diriku yang sombong! Kamulah si pengembara itu. Dan dunia ini adalah sebuah padang pasir. Kelemahan dan kefakiranmu tak terhitung. Musuh dan kebutuhanmu tak berhingga. Selama keadaannya begitu; di dunia yang bagaikan padang pasir ini, ambillah nama Al-Mâlik-i Ebedî (Sang Pemilik Yang Mahaabadi) dan Hâkim-i Ezelî (Sang Penguasa Yang Mahaazali). Supaya kamu terlepas dari mengemis kepada seluruh alam semesta dan dari gemetar menghadapi setiap kejadian.

Ya, kalimat ini adalah sebuah harta karun yang begitu penuh berkah, sampai-sampai: kelemahan dan kefakiranmu yang tak berhingga mengikatmu kepada kekuasaan dan rahmat yang tak berhingga, lalu menjadikan kelemahan dan kefakiran itu sebagai pemberi syafaat yang paling diterima di hadirat Al-Kadîr-i Rahîm (Sang Mahakuasa lagi Maha Penyayang). Ya, orang yang bergerak dengan kalimat ini mirip seseorang yang mendaftar menjadi tentara. Ia bergerak atas nama negara. Tidak ada lagi rasa takutnya kepada siapa pun. Ia berkata "atas nama undang-undang, atas nama negara," lalu mengerjakan setiap urusan, dan tahan menghadapi segala sesuatu.

Di awal tadi kita sudah berkata: seluruh makhluk mengucapkan Bismillah lewat bahasa keadaannya. Betulkah begitu?

Ya, misalnya kamu lihat: seorang saja datang. Ia memaksa seluruh penduduk kota untuk pergi ke suatu tempat, dan memaksa mereka bekerja di berbagai urusan. Kamu pasti tahu dengan yakin; orang itu tidak bergerak atas namanya sendiri dan dengan kekuatannya sendiri. Melainkan ia seorang tentara. Ia bergerak atas nama negara. Ia bersandar pada kekuatan seorang raja. Begitu juga, segala sesuatu bergerak atas nama Allah جل جلاله Yang Mahaagung; sampai-sampai biji-biji dan benih-benih yang mungil bagai partikel debu mengangkat pohon-pohon raksasa di atas kepalanya, mengangkat beban-beban seberat gunung. Artinya, setiap pohon mengucapkan Bismillah. Ia memenuhi tangan-tangannya dengan buah-buah dari khazanah Rahmat, lalu menjajakannya kepada kita seperti penjual keliling. Setiap kebun mengucapkan Bismillah. Ia menjadi sebuah kuali dari dapur Kekuasaan Ilahi (Matbaha-i Kudret), yang di dalamnya beraneka ragam hidangan lezat dimasak bersama-sama. Setiap hewan yang penuh berkah seperti sapi, unta, domba, dan kambing mengucapkan Bismillah. Ia menjadi sebuah air mancur susu dari limpahan Rahmat. Atas nama Ar-Razzaq (Sang Maha Pemberi rezeki), mereka menyuguhkan kepada kita sebuah makanan yang paling lembut, paling bersih, bagai air kehidupan. Akar dan urat setiap tumbuhan, pohon, dan rerumputan, yang lembut bagai sutra, mengucapkan Bismillah. Ia menembus batu dan tanah yang keras. Ia berkata "atas nama Allah جل جلاله, atas nama Ar-Rahman," lalu segala sesuatu pun tunduk kepadanya.

Ya, seperti menyebarnya dahan-dahan di udara dan berbuahnya mereka, begitu pula menyebarnya akar-akar di dalam batu dan tanah yang keras itu dengan amat mudah, lalu berbuah di bawah tanah; dan tetap segarnya daun-daun hijau yang lembut selama berbulan-bulan menghadapi panas yang menyengat — semua itu dengan keras menampar mulut kaum naturalis (yang menganggap segalanya hanya alam belaka). Ia mencolokkan jari ke mata mereka yang pantas dibutakan itu, lalu berkata: bahkan kekerasan dan panas yang paling kalian andalkan pun bergerak di bawah perintah; sampai-sampai urat-urat yang lembut bagai sutra itu — masing-masing bagai tongkat Nabi Musa 'alaihissalam — mematuhi perintah: فَقُلْنَا اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْحَجَرَ — lalu membelah bebatuan. Dan daun-daun tipis nan halus bagai kertas rokok itu — masing-masing bagai anggota tubuh Nabi Ibrahim 'alaihissalam — membacakan ayat berikut menghadapi panas yang menyemburkan api: يَا نَارُ كُونِى بَرْدًا وَ سَلاَمًا

Selama segala sesuatu secara maknawi mengucapkan Bismillah. Atas nama Allah جل جلاله mereka membawa nikmat-nikmat Allah جل جلاله lalu memberikannya kepada kita. Kita pun harus mengucapkan Bismillah. Kita harus memberi atas nama Allah جل جلاله. Kita harus menerima atas nama Allah جل جلاله. Kalau begitu, kita tidak boleh menerima dari orang-orang lalai yang tidak memberi atas nama Allah جل جلاله...

Pertanyaan: Kepada manusia yang ibarat penjual keliling, kita membayar sebuah harga. Lalu, kira-kira harga apa yang diminta oleh Allah جل جلاله, yang merupakan pemilik barang yang sebenarnya?

Jawaban: Ya, harga yang diminta oleh Al-Mün'im-i Hakikî (Sang Pemberi nikmat yang sebenarnya) dari kita sebagai ganti nikmat dan barang yang berharga itu ada tiga hal. Yang pertama: Zikir. Yang kedua: Syukur. Yang ketiga: Fikir. Di awal, "Bismillah" adalah zikir. Di akhir, "Alhamdulillah" adalah syukur. Di tengah, memikirkan dan menyadari bahwa nikmat-nikmat yang merupakan keajaiban seni nan berharga ini adalah mukjizat kekuasaan dan hadiah rahmat dari Al-Ehad-i Samed (Yang Maha Esa lagi Tempat Bergantung segala sesuatu) — itulah fikir. Seperti halnya betapa bodohnya mencium kaki seorang miskin yang mengantarkan kepadamu sebuah hadiah berharga dari seorang raja, lalu tidak mengenal pemilik hadiah itu; begitu juga, memuji dan mencintai para pemberi nikmat yang lahiriah, lalu melupakan Al-Mün'im-i Hakikî; itu seribu kali lebih bodoh daripada yang tadi.

Wahai diriku! Kalau kamu tak ingin menjadi sebodoh itu; berilah atas nama Allah جل جلاله, terimalah atas nama Allah جل جلاله, mulailah atas nama Allah جل جلاله, bekerjalah atas nama Allah جل جلاله. Wassalam.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ