Sebuah Buah dari Pohon Murbei Hitam (Siyah Dutun Bir Meyvesi)
Panduan Pemuda · hlm. 58
[Said Lama mengucapkannya di atas pohon murbei yang penuh berkah itu, dengan lisan Said Baru.]
Lawan bicaraku bukan Ziya Pasya, melainkan para pengagum Eropa. Yang berbicara bukan nafsuku, melainkan kalbuku atas nama murid Al-Qur'an. Kata-kata yang lewat tadi adalah hakikat; awas, jangan tersesat, jangan melampaui batasmu, Jangan menyimpang ke pemikiran orang asing; itu kesesatan, jangan dengarkan, ia pasti akan membuatmu menyesal. Kamu lihat orang yang paling bercahaya di antara mereka, sang pemuka dalam kecerdasan, Dari rasa herannya ia selalu berkata: "Aduh, kepada siapa harus kuadukan dari siapa? Aku pun tersesat!" Al-Qur'an membuatku mengatakannya, dan aku pun mengatakannya, tanpa ragu sedikit pun.
Aku mengadu dari Dia kepada Dia, aku tidak tersesat seperti kamu. Aku menjerit dari Al-Haqq kepada Al-Haqq, aku tidak melampaui batas seperti kamu. Aku mengajukan perkara dari bumi ke langit, aku tidak melarikan diri seperti kamu. Sebab di dalam Al-Qur'an, setiap perkara adalah dari cahaya menuju cahaya; aku tidak berbalik mundur seperti kamu. Hikmah yang benar ada di dalam Al-Qur'an; aku membuktikannya, aku tidak menghargai filsafat yang menentangnya seharga lima sen pun. Hakikat seperti berlian ada di dalam Al-Furqan; aku menyimpannya jauh di dalam jiwa, aku tidak menjualnya seperti kamu. Aku berjalan-jalan dari makhluk menuju Al-Haqq, aku tidak menyimpang seperti kamu. Di jalan berduri aku terbang, aku tidak menginjak seperti kamu. Dari bumi sampai ke Arasy aku bersyukur, aku tidak menggantungkannya seperti kamu. Aku memandang kematian dan ajal sebagai sahabat, aku tidak takut seperti kamu. Aku masuk ke kubur sambil tersenyum, aku tidak gentar seperti kamu.
Mulut naga, ranjang keliaran, tenggorokan ketiadaan; aku tidak memandangnya seperti kamu. Ia mempertemukanku dengan para kekasih, aku tidak merajuk pada kubur, aku tidak marah seperti kamu. Pintu rahmat, pintu Nur, pintu Al-Haqq; aku tidak gerah darinya, aku tidak mundur. Sambil mengucapkan Bismillah aku mengetuknya, {Haşiye-1: Aku tidak lari sambil berteriak "Aduh".} aku tidak menoleh ke belakang, aku pun tidak diliputi kengerian. Sambil mengucapkan Alhamdulillah aku akan menemukan ketenangan lalu berbaring; aku tidak menanggung kesusahan, aku tidak tinggal dalam keliaran. Sambil mengucapkan Allahu Akbar aku akan mendengar azan kebangkitan lalu bangkit, {Haşiye-2: Aku akan mendengar azan Israfil di fajar kebangkitan lalu bangkit sambil mengucapkan Allahu Akbar. Aku tidak menarik diri dari salat terbesar, aku tidak menghindar dari perhimpunan terbesar.} aku tidak menghindar dari mahsyar terbesar, aku tidak menarik diri dari masjid teragung. Berkat anugerah Yezdan (Allah جل جلاله), cahaya Al-Qur'an, dan limpahan iman, aku tidak bersedih sedikit pun. Tanpa berhenti aku akan berlari, aku akan terbang ke naungan Arasy Ar-Rahman, aku tidak tersesat seperti kamu, insya Allah جل جلاله.
* * *
بِاسْمِهِ سُبْحَانَهُ
Saudara-saudaraku yang mulia lagi setia!
Pertama: Sambil mengucapkan selamat atas hari raya yang penuh berkah bagi seluruh Nurcu, dan hari raya para murid Nur yang sedang berada di haji akbar serta para pendukung Nur di tanah haji; dan sambil mengucapkan selamat atas mukadimah hari raya besar dunia Islam ini — yaitu bahwa negeri-negeri besar dunia Islam seperti India dan Arabia, yang sekian lama berada di bawah penjajahan dan kehilangan kemerdekaannya, kini masing-masing berdiri sebagai sebuah negara Islam: di India sebuah negara Islam berpenduduk seratus juta, di Jawa sebuah negara Islam berpenduduk lebih dari lima puluh juta, dan di Arabia empat-lima pemerintahan bagai sebuah persatuan republik yang menyatukan persatuan Arab dengan persatuan Islam — hari raya ini memberi kita kabar gembira.
Kedua: Di Istanbul, menurut yang ditulis oleh Re'fet Bey dan Mustafa Oruç, di dahi gedung megah Kementerian Perang (Harbiye Nezareti) dan Bâb-ı Seraskerî — yang sekian lama mengatur tentara Islam lalu kemudian berubah menjadi universitas — pernah tertulis ayat Al-Qur'an yang sarat makna dengan khat Al-Qur'an: اِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا * وَ يَنْصُرَكَ اللّٰهُ نَصْرًا عَزِيزًا — namun kemudian permukaannya ditutup dengan lempengan-lempengan marmer sehingga cahaya-cahaya itu mereka sembunyikan. Sekarang, seperti halnya terbukanya kembali izin bagi khat Al-Qur'an menjadi sebuah contoh kemurahan, sebuah sarana bagi maksud yang dikejar Risale-i Nur, dan sebuah isyarat bahwa Universitas itu kelak akan menjadi sebuah Madrasah Nur; begitu pula, dalam sebuah petikan yang diambil oleh para Ahmad dari kalangan Nurcu Denizli dari karya Bismarck — sang ulama termasyhur, orang yang dari sisi akal merupakan yang terbesar di abad kesembilan belas dan yang terdepan di antara para filsuf sosial — Bismarck yang tinggi itu berkata dalam karyanya: "Aku telah meneliti Al-Qur'an dari segala sisi, dan di setiap katanya aku melihat sebuah hikmah yang besar. Tidak ada — dan tidak akan ada — satu karya pun yang menyamainya dan yang bisa memimpin umat manusia." Dan ditujukan kepada Nabi, ia berkata:
"Wahai Muhammad صلى الله عليه وسلم! Aku amat menyesal karena tidak bisa hidup sezaman denganmu. Umat manusia hanya sekali melihat sebuah kekuatan istimewa sepertimu, dan setelah ini tidak akan bisa melihatnya lagi. Oleh karena itu, di hadapanmu aku menundukkan diri dengan penuh hormat."
Bismarck
— begitulah ia membubuhkan tanda tangannya. {*: Seperti yang kuisyaratkan dalam surat para Ahmad; petikan itu, bersama suratku ini, boleh dimasukkan ke dalam Panduan (Rehber).} Dan karena dalam petikan itu ia terlalu merendahkan kitab-kitab samawi yang telah diubah dan dinaskh, maka kalimat-kalimat itu sebaiknya tidak ditulis; aku pun sudah mengisyaratkannya.
Bahwa tokoh itu adalah filsuf paling cerdas dan paling besar di abad kesembilan belas, serta salah satu pribadi paling penting dalam politik dan kehidupan sosial manusia; dan bahwa dunia Islam telah meraih kemerdekaannya sampai kadar tertentu, pemerintahan-pemerintahan asing mulai mencari hakikat-hakikat Al-Qur'an, dan di Barat serta Barat Laut muncul sebuah arus besar yang berpihak kepada Al-Qur'an; dan bahwa filsuf Amerika yang paling tinggi lagi termasyhur, Mister Carlyle, pun berkata persis seperti Bismarck: "Kitab-kitab lain, dari sisi mana pun, tidak bisa menyamai Al-Qur'an. Perkataan yang sejati adalah ia; kita harus mendengarkannya," lalu memutuskannya secara pasti {Haşiye: Tafsir Arab İşarat-ül İ'caz dari Risale-i Nur, tiga puluh tahun yang lalu, telah mengisyaratkan keputusannya yang berharga lagi penuh keberpihakan pada kebenaran ini.}; dan bahwa Nur pun beroleh kemenangan dan terus maju di mana-mana — semua ini adalah sebuah pertanda baik yang besar bahwa di kalangan orang asing akan bermunculan banyak Bismarck dan Mister Carlyle, dan tanda-tandanya pun sudah ada — maka kami persembahkan ini sebagai hadiah hari raya bagi para Nurcu, dan kami kirimkan petikan Bismarck secara terlampir. Salam untuk semuanya.
Saudaramu Said Nursî
(Pernyataan Bismarck dalam Surat Para Ahmad)
Üstad kami yang mulia, Tuan kami!
Kami menyampaikan kepada Anda, Üstad kami yang kami hormati, perkataan yang pernah diucapkan oleh Pangeran Bismarck — salah seorang penguasa Jerman yang termasyhur — tentang berbagai agama, khususnya tentang Islam. Perkataan ini menunjukkan betapa jauh Islam akan maju di Barat.
Pernyataan mendiang Pangeran Bismarck — dari pengamatan sosialku yang paling mendalam, dan khususnya bersama berbagai peristiwa abad kesembilan belas — tentang agama-agama yang telah dibatalkan:
"Aku telah meneliti seluruh kitab samawi yang diturunkan, yang diklaim datang dari sisi Ketuhanan untuk memimpin umat manusia di berbagai zaman. Karena kitab-kitab itu telah diubah, pada tidak satu pun darinya aku menemukan hikmah yang kucari. Hukum-hukum ini jauh dari sifat yang bisa menjamin kebahagiaan umat manusia. Namun, Al-Qur'an milik kaum Muhammadi terbebas dari batasan ini. Aku telah meneliti Al-Qur'an dari segala sisi, dari setiap titik. Di setiap katanya aku melihat sebuah hikmah yang besar. Dan kalaupun mereka mengklaim bahwa kitab ini adalah hasil karya pikiran Muhammad صلى الله عليه وسلم sendiri, mengklaim munculnya keajaiban semacam ini dari sebuah otak yang paling sempurna sekalipun, berarti memejamkan mata terhadap kebenaran dan menjadi alat bagi kebencian serta kedengkian. Hal ini pun tidak bisa dipadukan dengan ilmu dan hikmah. Aku mengklaim ini: Muhammad صلى الله عليه وسلم adalah sebuah kekuatan yang istimewa. Sangat jauh dari kemungkinan bahwa bengkel Kekuasaan Ilahi akan menghadirkan sosok kedua semacam ini ke ranah kemungkinan.
Wahai Muhammad صلى الله عليه وسلم! Aku menyesal karena tidak bisa menjadi sosok yang sezaman denganmu. Kitab yang engkau sebarkan ini bukan milikmu; melainkan mengingkari bahwa ia berasal dari sisi Ketuhanan sama konyolnya dengan melakukan kebatilan terhadap kaidah-kaidah ilmu. Umat manusia hanya sekali melihat sebuah kekuatan istimewa sepertimu; setelah ini tidak akan bisa melihatnya lagi. Oleh karena itu, di hadapanmu aku menundukkan diri dengan penuh hormat."
Bismarck