(Dari Mesnevî-i Nuriye)
Panduan Pemuda · hlm. 65
Ketahuilah, wahai yang mulia! Aku termasuk dalam cakupan sebuah syair yang maknanya: "Di masa mudaku yang mirip malam, mataku telah tertidur; ia tidak terbangun kecuali dengan pagi masa tua," yaitu syair: وَ عَيْنِى قَدْ نَامَتْ بِلَيْلِ شَبِيبَتِى وَ لَمْ تَنْتَبِهْ اِلاَّ بِصُبْحِ مَشِيبِ
Sebab, di masa mudaku, aku menyangka telah naik ke puncak kesadaran yang paling tinggi. Sekarang aku memahami bahwa kesadaran itu ternyata bukan kesadaran. Ia hanyalah berada di sumur tidur yang paling dalam. Oleh karena itu, "pencerahan kesadaran" yang dibangga-banggakan oleh orang-orang yang mengaku beradab itu, pastilah termasuk jenis kesadaran yang kualami di masa mudaku dulu. Perumpamaan mereka seperti seorang yang tertidur, yang seolah-olah terbangun di dalam mimpinya, lalu menceritakan mimpinya kepada orang banyak. Padahal kesadarannya di dalam mimpi itu justru menjadi tanda bahwa ia berpindah dari tirai tidur yang tipis ke tirai yang dalam lagi tebal. Orang tertidur semacam itu seperti mayat. Bagaimana ia bisa membangunkan orang-orang yang berada dalam tidur setengah-setengah?
Wahai kalian yang menyangka diri terjaga padahal sedang tidur! Dalam urusan-urusan agama, janganlah mendekat kepada orang-orang yang mengaku beradab itu dengan sikap toleran yang berlebihan atau dengan meniru-niru mereka. Sebab jurang di antara kita amat dalam. Kalian tidak akan bisa menimbunnya lalu membangun jalur penghubung. Akibatnya: entah kalian yang ikut bergabung kepada mereka, entah kalian jatuh ke dalam kesesatan lalu tenggelam.
* * *