Risale-i NurPanduan Pemuda

(Dari Kumpulan Lem'alar)

Panduan Pemuda · hlm. 64

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيم اِنَّ النَّفْسَ َلاَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ

Maknanya: {Haşiye: Bagian ini pun bermanfaat bagi semua orang.} "Nafsu itu selalu mendorong kepada keburukan." Ini adalah sebuah inti makna dari ayat tersebut, dan juga dari hadis: اَعْدَى عَدُوِّكَ نَفْسُكَ الَّتِى بَيْنَ جَنْبَيْكَ yang makna mulianya: "Musuhmu yang paling berbahaya adalah nafsumu."

Dengan syarat ia punya nafsu ammarah yang belum disucikan (nefs-i emmare), orang yang mengagumi dan mencintai nafsunya sendiri tidak akan mencintai orang lain. Kalaupun secara lahiriah ia mencintai, ia tidak bisa mencintai dengan tulus; melainkan ia hanya mencintai keuntungan dan kenikmatan yang ada pada orang itu. Ia selalu berusaha membuat dirinya dikagumi dan dicintai, dan tidak menerima kesalahan atas nafsunya; melainkan, seperti seorang pengacara, ia membela dan membebaskan dirinya dari tuduhan. Dengan berbagai berlebih-lebihan, bahkan dengan kebohongan, ia memuji dan menyucikan nafsunya sampai hampir-hampir mengkuduskannya; lalu, sesuai kadarnya, ia menerima sebuah tamparan dari ayat: مَنِ اتَّخَذَ اِلٰهَهُ هَوَيهُ

Sedangkan pamer-diri dan usahanya agar dicintai, justru lewat efek sebaliknya malah mengundang rasa muak, dan membuatnya jadi dingin (tak disukai). Dan dalam amal ukhrawi, ia kehilangan keikhlasan, lalu mencampuradukkan riya. Dengan kalah kepada perasaan yang tidak melihat akibat, tidak memikirkan hasil akhir, dan kecanduan kenikmatan sesaat, serta kalah kepada hawa nafsu, lalu dengan fatwa perasaan yang sudah tersesat jalannya: demi kenikmatan satu jam, ia mendekam setahun di penjara. Gara-gara satu menit kesombongan atau balas dendam, ia menanggung hukuman sepuluh tahun. Persis seperti seorang anak yang dikuasai hawa nafsu, yang menjual Juz 'Amma yang sedang ia pelajari demi sebuah permen saja; ia menjadikan kebaikan-kebaikannya yang berharga seperti berlian — demi membelai perasaannya, demi menyenangkan hawa nafsunya, dan demi memuaskan keinginannya — sebagai sarana bagi kenikmatan dan keangkuhan yang nilainya hanya seperti pecahan kaca tak berarti; sehingga ia merugi dalam urusan yang sebenarnya menguntungkan.

اَللّٰهُمَّ احْفَظْنَا مِنْ شَرِّ النَّفْسِ وَالشَّيْطَانِ وَمِنْ شَرِّ الْجِنِّ وَاْلاِنْسَانِ

* * *