Risale-i NurLem'alar

Sinar Ketiga:

Lem'alar · hlm. 428

Dengan satu-dua mukadimah, kami akan mengisyaratkan tersingkapnya rahasia qayyûmiyah — sampai batas tertentu — dalam daya cipta Ilahi dan aktivitas Rabbani yang diisyaratkan oleh ayat-ayat seperti كُلَّ يَوْمٍ هُوَ ف۪ى شَاْنٍ ❊ فَعَّالٌ لِمَا يُر۪يدُ ❊ يَخْلُقُ مَا يَشَٓاءُ ❊ بِيَدِه۪ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ ❊ فَانْظُرْ اِلٰٓى اٰثَارِ رَحْمَتِ اللّٰهِ كَيْفَ يُحْيِى اْلاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا.

Yang pertama:

Ketika kita memandang alam semesta ini, kita melihat bahwa: sebagian makhluk yang terus-menerus terombang-ambing dalam arus waktu dan datang-pergi kafilah demi kafilah, ada yang datang dalam satu detik lalu langsung lenyap. Segolongan datang dalam satu menit lalu berlalu. Suatu jenis singgah di alam nyata selama satu jam lalu masuk ke alam gaib. Sebagian datang dalam satu hari, sebagian dalam satu tahun, sebagian dalam satu abad, dan sebagian lagi dalam berabad-abad — datang ke alam nyata ini, singgah, menjalankan tugas, lalu pergi. Perjalanan yang menakjubkan dan pengembaraan segala yang maujud ini, serta safar dan aliran makhluk ini, digiring dan dikelola dengan suatu keteraturan, keseimbangan, dan hikmah sedemikian rupa; dan yang memimpin mereka serta kafilah-kafilah itu memimpin dengan begitu penuh pandangan, hikmah, dan pengaturan, sehingga seandainya seluruh akal bersatu menjadi satu akal tunggal, ia tak akan sampai kepada hakikat pengelolaan yang penuh hikmah itu dan tak akan dapat menemukan cacat untuk mengkritiknya.

Nah, di dalam daya cipta Rabbani ini; Dia mengirim karya-karya-Nya yang menawan lagi dicintai-Nya — khususnya makhluk-makhluk hidup — ke alam gaib tanpa memberi seorang pun kesempatan membuka mata, memberhentikan mereka dari kehidupan dunia tanpa memberi seorang pun kesempatan menarik napas, terus-menerus memenuhi rumah tamu alam ini lalu mengosongkannya tanpa keridaan para tamu; pena qada dan qadar menjadikan Bola Bumi bagaikan papan tulis yang ditulis lalu dihapus, dan dengan kilasan-kilasan يُحْي۪ى وَ يُم۪يتُ ia terus-menerus menuliskan tulisan-tulisannya di Bola Bumi, memperbaruinya, dan menggantinya. Nah, suatu rahasia hikmah, suatu penuntut asasi, dan suatu sebab pendorong dari aktivitas Rabbani dan daya cipta Ilahi ini, adalah suatu hikmah tak terhingga lagi tak berpenghujung yang terbagi menjadi tiga cabang penting.

Cabang pertama dari hikmah itu adalah sebagai berikut: Setiap jenis aktivitas, baik parsial maupun universal, memberikan suatu kelezatan. Bahkan pada setiap aktivitas terdapat suatu kelezatan. Bahkan aktivitas itu sendiri adalah kelezatan itu sendiri. Bahkan aktivitas adalah penampakan wujud — yang merupakan kelezatan itu sendiri — dan penggeliatannya dengan menjauh dari ketiadaan, yang merupakan penderitaan itu sendiri. Ya, setiap pemilik kemampuan mengikuti tersingkapnya kemampuannya melalui suatu aktivitas dengan penuh kelezatan. Penampakan setiap bakat melalui aktivitas berasal dari suatu kelezatan dan menghasilkan suatu kelezatan. Setiap pemilik kesempurnaan mengikuti penampakan kesempurnaannya melalui aktivitas dengan penuh kelezatan. Selama pada setiap aktivitas terdapat suatu kesempurnaan dan kelezatan yang dicintai lagi didambakan seperti ini, dan aktivitas itu sendiri pun adalah suatu kesempurnaan; dan selama di alam makhluk hidup tampak kilasan-kilasan suatu cinta yang tak terhingga dan suatu belas kasih yang tak berpenghujung yang lahir dari suatu kehidupan yang kekal lagi azali — dan kilasan-kilasan itu memperlihatkan bahwa, sebagai tuntutan kehidupan azali-abadi yang layak bagi kesucian dan sesuai dengan keharusan wujud Zat yang mencintakan diri-Nya, mencintai, menyayangi, dan menganugerahkan karunia semacam ini — maka pada Kehidupan Yang Maha Suci itu terdapat keadaan-keadaan suci seperti (semoga tidak keliru dalam ungkapan) suatu cinta lahutî, suatu cinta suci, dan suatu kelezatan suci yang tak terhingga; keadaan-keadaan mana yang senantiasa memperbarui, mengombang-ambingkan, dan mengubah alam semesta dengan aktivitas yang tak terhingga dan daya cipta yang tak berpenghujung semacam ini.

Cabang kedua dari hikmah dalam aktivitas Ilahi yang tak terhingga yang memandang kepada rahasia qayyûmiyah:

Ia memandang kepada Asma Ilahi. Telah dimaklumi bahwa setiap pemilik keindahan ingin melihat dan memperlihatkan keindahannya sendiri; setiap pemilik keterampilan ingin dan gemar menarik perhatian dengan memamerkan dan mengumumkan keterampilannya. Dan suatu hakikat indah serta suatu makna indah yang keterampilannya masih tersembunyi, ingin dan gemar tampil ke muka dan menemukan para peminatnya. Selama kaidah-kaidah asasi ini berlaku pada segala sesuatu sesuai derajatnya; niscaya pada setiap nama dari seribu satu Asmaul Husna milik Zat Al-Qayyûm Yang Maha Agung — Al-Jamîl Al-Mutlak (Yang Maha Indah secara mutlak) — dengan kesaksian alam semesta, petunjuk kilasan-kilasannya, dan isyarat ukiran-ukirannya, pada setiap tingkatan masing-masingnya terdapat suatu keindahan hakiki, suatu kesempurnaan hakiki, suatu keelokan hakiki, dan suatu hakikat yang teramat indah; bahkan pada setiap tingkatan setiap nama terdapat tak terhingga hakikat-hakikat indah dengan tak terhingga jenis keindahan.

Selama cermin-cermin yang menampilkan keindahan suci Asma ini, lembar-lembar yang memperlihatkan ukiran-ukirannya yang indah, dan halaman-halaman yang mengungkapkan hakikat-hakikatnya yang indah, adalah segala yang maujud ini dan alam semesta ini. Niscaya Asma yang kekal lagi abadi itu — untuk memperlihatkan kilasan-kilasannya yang tak terhingga, ukiran-ukirannya yang penuh makna, dan kitab-kitabnya, baik kepada pandangan penyaksian Zat Al-Qayyûm Yang Maha Agung yang merupakan Pemilik nama-nama itu, maupun kepada pandangan telaah makhluk-makhluk bernyawa dan berkesadaran yang tak terhitung; dan untuk memperlihatkan tak terhingga lembar dari suatu benda yang terbatas lagi terhingga, banyak pribadi dari satu pribadi, dan hakikat yang teramat banyak dari satu hakikat — dengan bersandar pada cinta suci Ilahi itu dan berdasarkan rahasia qayyûmiyah itu, memperbarui dan mengubah alam semesta secara umum dan terus-menerus dengan kilasan-kilasannya.