Persoalan Kedua:
Lem'alar · hlm. 425
Kedudukan ini menuntut untuk mengisyaratkan sebagian faedah dan hikmah segala sesuatu yang berhubungan dengan rahasia qayyûmiyah. Ya, hikmah keberadaan, tujuan penciptaan, faedah penjadian, dan hasil kehidupan setiap sesuatu ada tiga macam:
Macam pertama, memandang kepada dirinya sendiri, kepada manusia, dan kepada kemaslahatan manusia.
Macam kedua, lebih penting: yaitu bahwa segala sesuatu — sebagai sebuah ayat, sebuah surat, sebuah kitab, dan sebuah kasidah yang dapat ditelaah oleh segenap makhluk berkesadaran dan yang memberitahukan kilasan Asma Sang Pencipta Yang Maha Agung — menyampaikan makna-maknanya kepada para pembacanya yang tak terhingga.
Adapun macam ketiga, ia adalah milik Sang Pembuat Yang Maha Agung dan memandang kepada-Nya. Jika faedah dan hasil segala sesuatu yang memandang kepada dirinya sendiri hanya satu, maka yang memandang kepada Sang Pembuat Yang Maha Agung berjumlah ratusan; yaitu bahwa Sang Pembuat Yang Maha Agung menyaksikan sendiri keajaiban seni-Nya, dan memandang kepada kilasan Asma-Nya pada karya-karya-Nya. Dalam macam ketiga yang teragung ini, hidup selama satu detik saja sudah memadai.
Selain itu, ada suatu rahasia qayyûmiyah yang menuntut keberadaan segala sesuatu, yang akan dijelaskan dalam Sinar Ketiga.
Suatu ketika, melalui kilasan "jimat alam semesta" (tılsım-ı kâinat) dan "teka-teki penciptaan" (muamma-yı hilkat), aku memandang hikmah dan faedah segala yang maujud, lalu berkata: "Mengapa gerangan benda-benda ini memperlihatkan dirinya demikian, lalu dengan cepat lenyap dan pergi?" Aku memandang kepada pribadi mereka; mereka berpakaian secara teratur dan penuh hikmah, dipakaikan, dihiasi, dan dikirim ke pameran dan tempat pertunjukan. Padahal dalam satu-dua hari, bahkan sebagiannya dalam beberapa menit, mereka lenyap; pergi tanpa faedah dan sia-sia. Apa maksud kemunculan mereka kepada kita dalam waktu yang singkat ini? Demikianlah aku sangat penasaran. Ketika itu, dengan karunia Ilahi, aku menemukan suatu hikmah penting dari kedatangan segala yang maujud — khususnya makhluk hidup — ke ruang belajar dunia. Yaitu sebagai berikut:
Segala sesuatu, khususnya makhluk hidup, adalah sebuah kata yang teramat penuh makna, sebuah surat, sebuah kasidah Rabbani, dan sebuah maklumat Ilahi. Setelah memperoleh telaah segenap makhluk berkesadaran dan setelah menyampaikan maknanya kepada para penelaah yang tak terhingga, maka bentuk jasadinya — yang berkedudukan sebagai lafal dan hurufnya — pun lenyap.
Selama kira-kira satu tahun, hikmah ini memadai bagiku. Setahun kemudian, tersingkaplah mukjizat seni yang teramat menakjubkan lagi teramat halus yang terdapat pada karya-karya, khususnya pada makhluk-makhluk hidup. Aku pun memahami bahwa: seluk-beluk seni (dekaik-ı san'at) yang teramat halus lagi menakjubkan ini bukanlah semata-mata untuk menyampaikan makna kepada pandangan makhluk-makhluk berkesadaran. Memang setiap yang maujud dapat ditelaah oleh makhluk-makhluk berkesadaran yang tak terhingga. Akan tetapi, telaah mereka terbatas, dan tidak setiap orang dapat menembus seluruh seluk-beluk seni makhluk hidup itu. Artinya, hasil penciptaan terpenting dan tujuan penjadian terbesar dari makhluk-makhluk hidup adalah mempersembahkan keajaiban seni-Nya sendiri serta hadiah dan anugerah penuh kasih yang telah diberikan-Nya, kepada pandangan Zat Al-Qayyûm Yang Azali sendiri.
Adapun tujuan ini, dalam waktu yang lama telah memberiku keyakinan; dan darinya aku memahami bahwa: hikmah penciptaan — yaitu terdapatnya seluk-beluk seni yang tak terhingga pada setiap yang maujud, khususnya pada makhluk-makhluk hidup, untuk dipersembahkan kepada pandangan Zat Al-Qayyûm Yang Azali, yakni Zat Al-Qayyûm Yang Azali menyaksikan sendiri seni-Nya — telah memadai bagi biaya besar itu. Beberapa waktu kemudian aku melihat bahwa: seluk-beluk seni pada pribadi dan rupa segala yang maujud tidaklah berlangsung terus; ia diperbarui dengan sangat cepat dan berganti; mereka berubah di dalam suatu aktivitas dan daya cipta yang tak berpenghujung. Aku pun mulai bertafakur: hikmah daya cipta dan aktivitas ini pastilah harus sebesar derajat aktivitas itu sendiri. Kali ini, kedua hikmah yang telah disebutkan mulai tidak memadai dan tinggal kurang. Dengan sangat penasaran, aku mulai mencari dan menyelidiki suatu hikmah yang lain. Beberapa waktu kemudian, lillâhil-hamd (segala puji bagi Allah), dengan limpahan karunia Al-Qur'an yang mukjizat penjelasannya, tampaklah suatu hikmah dan tujuan yang agung lagi tak terhingga pada titik rahasia qayyûmiyah. Dan dengannya, terpahamilah suatu rahasia Ilahi yang diistilahkan sebagai "jimat alam semesta" (tılsım-ı kâinat) dan "teka-teki penciptaan" (muamma-yı hilkat).
(Karena telah dijelaskan secara terperinci dalam Surat Kedua Puluh Empat, di sini kami hanya akan menyebutkan dua-tiga poinnya secara ringkas dalam Sinar Ketiga.)
Ya, pandanglah kilasan rahasia qayyûmiyah dari sudut ini: bahwa Dia mengeluarkan segala yang maujud dari ketiadaan, menghentikan masing-masingnya di angkasa yang tak terhingga ini dengan rahasia اَللّٰهُ الَّذ۪ى رَفَعَ السَّمٰوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا, memberinya penegakan dan kekekalan, dan menjadikan semuanya penerima tajalli rahasia qayyûmiyah semacam ini. Seandainya tidak ada titik sandaran ini, niscaya tiada sesuatu pun yang dapat berdiri dengan sendirinya. Ia akan terguling di kekosongan yang tak terhingga dan jatuh ke dalam ketiadaan.
Selain itu, sebagaimana segala yang maujud bersandar kepada Al-Qayyûm Yang Maha Agung dari sisi wujud, penegakan, dan kekekalan mereka; penegakan mereka adalah dengan-Nya.. demikian pula: ujung-ujung ribuan rantai dalam sifat dan keadaan segala yang maujud — (semoga tidak keliru dalam perumpamaan) — terikat dengan rahasia وَ اِلَيْهِ يُرْجَعُ اْلاَمْرُ كُلُّهُ pada rahasia qayyûmiyah, yang berkedudukan sebagai pusat dan tiang sentral bagi rantai-rantai telepon dan telegraf. Seandainya mereka tidak bersandar pada titik sandaran yang bercahaya itu, niscaya akan terjadi ribuan lingkaran-setan (devir) dan mata rantai tak berujung (teselsül) yang mustahil dan batil menurut para ahli akal; bahkan akan terjadi lingkaran-setan dan mata rantai batil sebanyak jumlah yang maujud. Misalnya: benda ini (seperti pemeliharaan, cahaya, wujud, atau rezeki) dari suatu sisi bersandar pada yang ini, yang ini pada yang itu, yang itu pada yang lainnya.. lambat laun ia tetap tidak mungkin tak berujung; pasti ada penghujungnya. Nah, penghujung dari semua rantai semacam ini pastilah rahasia qayyûmiyah. Setelah rahasia qayyûmiyah dipahami, maka pada rantai-rantai khayali itu tidak tersisa lagi ikatan dan makna saling bersandar; ia pun hilang; segala sesuatu memandang langsung kepada rahasia qayyûmiyah.