Risale-i NurLem'alar

Sinar Keempat:

Lem'alar · hlm. 431

Cabang ketiga dari hikmah aktivitas abadi yang menakjubkan di alam semesta adalah sebagai berikut:

Setiap pemilik belas kasih merasa bahagia karena membuat orang lain senang; setiap pemilik kasih sayang merasa senang karena membahagiakan orang lain; setiap pemilik cinta bergembira dengan menggembirakan makhluk-makhluk yang layak digembirakan; setiap zat yang berbudi luhur memperoleh kelezatan dengan membahagiakan orang lain; setiap zat yang adil merasa senang dengan menegakkan hak dan membuat para pemilik hak berterima kasih dalam menghukum mereka yang berhak dihukum; setiap seniman pemilik keterampilan merasa bangga dengan memamerkan seninya, dengan seninya bekerja sesuai cara yang dibayangkannya, dan dengan memberikan hasil-hasil yang diinginkannya.

Nah, masing-masing dari prinsip-prinsip yang disebutkan ini adalah suatu kaidah asasi yang berlaku di alam semesta dan di alam kemanusiaan. Tiga contoh yang memperlihatkan berlakunya kaidah-kaidah ini pada Asma Ilahi telah dijelaskan dalam Perhentian Kedua dari Kelimat Ketiga Puluh Dua. Karena tepat untuk menuliskan suatu ikhtisarnya di kedudukan ini, kami katakan:

Sebagaimana, misalnya, seorang zat yang teramat penyayang, dermawan, lagi mulia berbudi luhur — dengan tuntutan perangai luhur dalam fitrahnya — menaikkan banyak orang yang teramat membutuhkan dan miskin ke sebuah kapal pesiar besar, lalu menyenangkan orang-orang miskin yang membutuhkan itu dengan jamuan dan penghormatan yang teramat sempurna sambil membawa mereka berkeliling di lautan mengitari bumi; dan ia sendiri, dari atas mereka, dengan gembira menyaksikan mereka, memperoleh kelezatan dari rasa terima kasih orang-orang yang membutuhkan itu, merasa gembira dari kenikmatan mereka, dan bersukacita lagi bangga dari kesenangan mereka. Selama seorang manusia yang berkedudukan sebagai petugas pembagi semacam ini merasa senang dan gembira sedemikian rupa karena memberikan jamuan yang parsial semacam ini.. niscaya makna-makna rububiyah — yang berkaitan dengan Zat Al-Hayy Al-Qayyûm yang menaikkan seluruh hewan, manusia, malaikat yang tak terhingga, jin, dan ruh ke kapal Bola Bumi yang merupakan bahtera Rahmani; membentangkan permukaan bumi bagi mereka dalam bentuk hidangan Rabbani yang dipenuhi aneka makanan serta cita rasa dan rezeki bagi segenap indra; membawa makhluk-makhluk-Nya yang membutuhkan, bersyukur, berterima kasih, lagi gembira itu berkeliling ke segenap penjuru alam semesta; dan di samping menggembirakan mereka dengan sekian banyak penghormatan di dunia ini, di negeri kekekalan menjadikan masing-masing Surga mereka sebagai hidangan bagi jamuan yang abadi — makna-makna rububiyah yang lahir dari rasa terima kasih, rasa syukur, kegembiraan, dan sukacita makhluk-makhluk itu, yang kami tak sanggup mengungkapkannya dan tidak diizinkan (mengungkapkannya), yang diisyaratkan dengan nama-nama seperti "keridaan suci", "kebanggaan suci", dan "kelezatan suci" — itulah yang menuntut aktivitas abadi dan daya cipta yang terus-menerus ini.

Selain itu, misalnya, seandainya seorang seniman yang cakap membuat sebuah fonograf tanpa piringan, lalu fonograf itu berbicara dan bekerja sesuai kehendaknya; betapa senimannya akan merasa bangga dan berbahagia; ia berkata pada dirinya sendiri "Masya Allah". Selama suatu seni kecil yang tanpa penciptaan dan bersifat lahiriah membangkitkan perasaan bangga dan senang sedemikian rupa di dalam jiwa senimannya, niscaya makna-makna seperti kebanggaan suci dan keridaan suci — serta keadaan-keadaan luhur rububiyah dari jenis ini — yang lahir dari kenyataan bahwa Sang Pembuat Yang Maha Bijaksana dari segala yang maujud ini, di samping menjadikan keseluruhan alam semesta sebagai suatu musik Ilahi dan sebuah pabrik menakjubkan yang bersuara dengan aneka melodi yang tak terhingga, bertasbih dengan mengeluarkan suara, serta berzikir dan berbicara; dan di samping memperlihatkan setiap jenis dan setiap alam dari alam semesta dengan seni tersendiri dan mukjizat seni tersendiri; dan di samping membuat banyak mesin seperti fonograf, foto, dan telegraf di dalam kepala makhluk-makhluk hidup — bahkan di dalam kepala yang terkecil sekalipun — Dia membuat di dalam kepala setiap manusia suatu mesin yang bukan sekadar fonograf tanpa piringan, foto tanpa cermin, dan telegraf tanpa kabel, melainkan dua puluh kali lebih menakjubkan daripada itu; dan (lahir) dari kenyataan bahwa mesin itu bekerja sesuai cara yang dikehendaki-Nya dan memberikan hasil-hasilnya — niscaya dan bagaimanapun juga menuntut aktivitas abadi ini.

Selain itu, misalnya, karena memperoleh kelezatan, merasa bangga, dan senangnya seorang penguasa yang adil dengan mengambil hak orang-orang teraniaya dari para penindas demi menegakkan hak, melindungi orang-orang lemah dari kejahatan orang-orang kuat, dan memberikan kepada setiap orang hak yang layak baginya, adalah suatu kaidah asasi bagi pemerintahan dan keadilan; niscaya keadaan-keadaan Rabbani dan makna-makna suci — yang kami tak sanggup mengungkapkannya, yang berkaitan dengan Zat Al-Hayy Al-Qayyûm Sang Hakim Yang Maha Bijaksana lagi Yang Maha Adil, yang lahir dari: pemberian syarat-syarat kehidupan yang diistilahkan "hak-hak kehidupan" kepada segenap makhluk-Nya, khususnya makhluk-makhluk hidup.. penganugerahan perangkat kepada mereka untuk memelihara kehidupan mereka.. perlindungan penuh kasih terhadap orang-orang lemah dari kejahatan orang-orang kuat.. pelaksanaan rahasia keadilan pada segenap makhluk hidup — yakni jenis penegakan hak secara penuh di dunia ini dan jenis penghukuman orang-orang zalim secara sebagian.. dan terutama yang lahir dari tajalli keadilan terbesar di mahkamah agung kebangkitan — itulah yang menuntut aktivitas abadi ini di alam semesta.

Nah, seperti tiga contoh ini; pada segenap Asmaul Husna, karena masing-masingnya menjadi poros bagi sebagian keadaan suci Ilahi semacam ini dalam aktivitas abadi ini, maka mereka menuntut daya cipta yang abadi. Selain itu, selama setiap kemampuan dan setiap bakat memberikan suatu kelapangan, keluasan, dan kelezatan dengan mengembang, tersingkap, dan menghasilkan buah.. dan selama setiap penanggung tugas, dengan mengerjakan dan menyelesaikan tugasnya, merasakan suatu ketenangan dan keridaan yang besar ketika diberhentikan dari tugasnya..

dan selama memperoleh banyak buah dari satu benih dan meraih keuntungan seratus dirham dari satu dirham adalah suatu keadaan yang teramat menggembirakan dan suatu perniagaan bagi pemiliknya. Niscaya Zat yang menyingkap tak terhingga bakat pada segenap makhluk, dan yang — setelah mempekerjakan segenap makhluk-Nya dalam tugas-tugas berharga — memberhentikan mereka secara meningkat, yakni menaikkan unsur-unsur ke tingkat barang tambang; barang tambang ke kehidupan tumbuhan; tumbuhan — melalui rezeki — ke derajat kehidupan hewan; dan hewan ke kehidupan tinggi manusia yang penuh kesadaran.

Nah, dengan sirnanya suatu wujud lahiriah dari setiap makhluk hidup — (sebagaimana dijelaskan dalam Surat Kedua Puluh Empat) — dapat dipahami betapa pentingnya makna-makna suci dan rububiyah Ilahi yang lahir dari aktivitas abadi dan daya cipta Rabbani, yang meninggalkan di belakangnya banyak wujud seperti ruh, hakikat, identitas, dan rupanya, serta menempatkan (wujud lain) di tempatnya untuk mengemban tugas.

Jawaban yang pasti bagi suatu pertanyaan penting:

Sebagian ahli kesesatan berkata: "Zat yang mengubah dan mengganti alam semesta dengan suatu aktivitas abadi, niscaya Dia sendiri pun haruslah berubah dan berganti."

Jawaban:

Sekali-kali tidak, seratus ribu kali sekali-kali tidak!.. Berubahnya cermin-cermin di bumi tidaklah memperlihatkan berubahnya matahari di langit, melainkan sebaliknya, memperlihatkan diperbaruinya kilasan-kilasannya. Selain itu, mustahil terjadi perubahan dan pergantian pada suatu Zat Yang Maha Suci yang azali, abadi, kekal, berada dalam kesempurnaan mutlak dan kemandirian mutlak dari segala sisi, tersucikan dari materi, serta tersucikan, terbebas, dan tertinggikan dari ruang, keterikatan, dan kemungkinan (imkân). Berubahnya alam semesta bukanlah bukti atas perubahan-Nya, melainkan bukti atas ketiadaan perubahan-Nya dan atas ketakberubahan-Nya. Sebab, suatu zat yang secara teratur terus-menerus mengubah dan menggerakkan berbagai benda, haruslah tidak berubah dan tidak bergerak. Misalnya; ketika engkau memutar banyak peluru dan bola yang terikat dengan banyak tali, serta menggerakkannya dan memberinya berbagai posisi dengan keteraturan yang terus-menerus, engkau haruslah tetap diam di tempatmu, tidak berubah dan tidak bergerak. Jika tidak, engkau akan merusak keteraturan itu.

Sudah masyhur bahwa: yang menggerakkan dengan teratur haruslah tidak bergerak, dan yang mengubah secara terus-menerus haruslah tidak berubah; supaya pekerjaan itu berlangsung dengan teratur.

Kedua: Perubahan dan pergantian berasal dari kebaruan (hudûts), dari pembaruan demi menyempurnakan diri, dari kebutuhan, dari kematerian, dan dari kemungkinan (imkân). Adapun Zat Yang Maha Suci, karena Dia qadîm (tanpa permulaan), berada dalam kesempurnaan mutlak dari segala sisi, dalam kemandirian mutlak, tersucikan dari materi, dan Wâjibul-Wujûd; maka mustahil dan tidak mungkin terjadi perubahan dan pergantian pada-Nya.