Risale-i NurLem'alar

Risalah Tabiat (Alam)

Lem'alar · hlm. 215

(Ini sebelumnya merupakan Nota Keenam Belas dari Lem'a Ketujuh Belas; karena kepentingannya, ia menjadi Lem'a Kedua Puluh Tiga. Ia membunuh pemikiran kufur yang datang dari tabiat (alam) dengan cara yang tak akan hidup kembali; ia memporak-porandakan batu fondasi kekufuran.)

Ihtar (Peringatan)

Pada nota ini, betapa jauh dari akal, betapa buruk, dan sampai derajat mana khurafat sisi dalam jalan yang ditempuh bagian pengingkar dari kaum naturalis (tabî'iyyûn), telah dijelaskan dengan sembilan kemustahilan yang sekurang-kurangnya memuat sembilan puluh kemustahilan. Karena kemustahilan-kemustahilan itu sebagian telah dijelaskan dalam risalah-risalah lain; di sini, dari sisi keringkasan yang tinggi, beberapa anak tangga telah dilewati. Karena itu, tiba-tiba terlintas di benak: bagaimana para filosof cerdas yang masyhur ini menerima suatu khurafat yang demikian zahir lagi terang, dan berjalan di jalan itu. Ya, mereka tak dapat melihat sisi dalam mazhab mereka. Dan hakikat mazhab mereka, keharusan serta tuntutan mazhab mereka adalah: bahwa intisari mazhab yang buruk, menjijikkan, lagi tak masuk akal

{(Catatan): Sebab penulisan risalah ini adalah: bahwa hakikat-hakikat keimanan dilecehkan dengan cara yang sangat melampaui batas lagi sangat buruk, akal yang rusak menyebut apa yang tak dapat ia jangkau sebagai khurafat, mengaitkan ketidakberagamaan dengan tabiat, lalu menyerang Al-Qur'an. Serangan itu membuat suatu kemarahan yang keras di kalbu tercurah ke pena, sehingga ia menyuapkan tamparan-tamparan yang keras lagi kasar kepada kaum mulhid dan pemeluk mazhab batil yang berpaling dari kebenaran. Kalau tidak, mazhab Risale-i Nur adalah bersih, santun, dan perkataan yang lemah-lembut (qawl layyin).}

yang dijelaskan di ujung setiap kemustahilan yang tertulis, adalah keharusan dan tuntutan darurat mazhab mereka — aku siap menjelaskan dan membuktikannya secara terperinci kepada orang-orang yang meragukannya dengan bukti-bukti yang sangat badihi lagi pasti.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِقَالَتْ رُسُلُهُمْ اَفِى اللّٰهِ شَكٌّ فَاطِرِ السَّمٰوَاتِ وَاْلاَرْضِ Ayat mulia ini, dengan pertanyaan retoris yang mengingkari (istifham inkari), dengan berkata “Tak ada dan tak boleh ada keraguan tentang Allah,” memperlihatkan bahwa keberadaan dan keesaan Ilahi berada pada derajat badihi (jelas dengan sendirinya).

Suatu peringatan sebelum menjelaskan rahasia ini:

Pada tahun 1338 aku pergi ke Ankara. Aku melihat bahwa di dalam pikiran kuat ahli iman yang bersukacita karena kemenangan pasukan Islam atas Yunani, suatu pemikiran zindik yang sangat dahsyat berupaya secara licik untuk masuk, merusak, dan meracuni. Aku berkata: Aduh, naga ini akan mengganggu rukun-rukun iman! Saat itu, karena ayat mulia itu memahamkan keberadaan dan keesaan pada derajat badihi, aku meminta pertolongan darinya, lalu kutulis dalam risalah Arabku suatu bukti kuat yang diambil dari Al-Qur'an Al-Hakim, sampai derajat yang akan menghancurkan kepala zindik itu. Aku mencetaknya di Ankara, di Percetakan Yeni Gün. Namun sayangnya, di samping orang yang mengetahui bahasa Arab sedikit dan orang yang memandangnya dengan perhatian pun jarang, karena ia dalam bentuk yang sangat ringkas lagi padat, bukti kuat itu tak memperlihatkan pengaruhnya. Sayangnya, pemikiran ketidakberagamaan itu semakin berkembang sekaligus memperoleh kekuatan. Dengan terpaksa, aku akan menjelaskan bukti itu dalam bahasa Turki sampai suatu derajat. Karena sebagian bagian bukti itu telah dijelaskan sepenuhnya dalam sebagian risalah; di sini ia akan ditulis secara ringkas. Bukti-bukti beragam yang terpisah-pisah dalam risalah-risalah lain, sebagian bersatu dalam bukti ini; masing-masing berpindah menjadi kedudukan suatu bagian darinya.