ISYARAT KETIGA:
Lem'alar · hlm. 211
Suatu pertanyaan gila yang penuh sofisme.
Sebagian ahli kekuasaan berkata bahwa:
Karena engkau tinggal di negeri ini; padahal seharusnya engkau tunduk pada undang-undang republik negeri ini, mengapa engkau menyelamatkan dirimu dari undang-undang itu di balik tabir uzlah? Sebagai contoh; dalam undang-undang pemerintah sekarang, mengenakan suatu keistimewaan dan keutamaan pada diri sendiri di luar tugas, lalu dengannya menguasai sebagian rakyat dan menjalankan pengaruh, bertentangan dengan suatu dustur republik yang bersandar pada asas kesetaraan. Mengapa, padahal engkau tanpa tugas, engkau membuat orang mencium tanganmu? Mengapa engkau mengambil sikap membanggakan diri agar orang mendengarkanku?
Jawaban:
Orang-orang yang menerapkan undang-undang, setelah menerapkannya lebih dahulu pada diri mereka sendiri, baru dapat menerapkannya pada orang lain. Kalian, dengan menerapkan pada orang lain suatu dustur yang tak kalian terapkan pada diri kalian sendiri, kalian mematahkan dustur dan undang-undang kalian sendiri sebelum siapa pun, dan kalian menentangnya. Karena kalian menginginkan penerapan undang-undang kesetaraan mutlak ini atasku. Aku pun berkata: Kapan saja seorang prajurit naik ke kedudukan sosial seorang marsekal, dan ikut serta dalam penghormatan serta perhatian yang diperlihatkan rakyat kepada marsekal itu, dan menjadi tempat tertuju perhatian serta penghormatan itu seperti marsekal; atau tatkala marsekal itu merendah seperti prajurit itu dan mengambil kedudukan suram prajurit itu, serta marsekal itu tak lagi memiliki kepentingan apa pun di luar tugas.. dan pula jika seorang kepala staf perang yang paling cerdas dan yang menjadi sebab kemenangan suatu pasukan masuk ke dalam kesetaraan dalam perhatian umum, penghormatan, dan kecintaan dengan seorang prajurit yang paling bodoh; maka saat itu, dengan hukum undang-undang kesetaraan kalian ini, kalian dapat berkata kepadaku demikian: “Jangan sebut dirimu guru! Jangan terima penghormatan! Ingkari keutamaanmu! Layanilah pelayanmu!
Berkawanlah dengan para pengemis!”
Jika kalian berkata:
Penghormatan, kedudukan, dan perhatian ini khusus untuk waktu ketika seseorang sedang menjalankan tugas dan khusus bagi para pemegang tugas. Engkau adalah orang tanpa tugas; engkau tak dapat menerima penghormatan rakyat seperti para pemegang tugas!
Jawaban:
Seandainya manusia hanya terdiri dari jasad, dan seandainya manusia tinggal kekal abadi di dunia tanpa mati, dan seandainya pintu kubur tertutup, dan seandainya kematian itu dimatikan, maka saat itu jika tugas hanya khusus bagi ketentaraan dan pegawai pemerintahan; perkataan kalian pun akan memiliki suatu makna. Namun karena manusia tak hanya terdiri dari jasad. Untuk memberi makan jasad; kalbu, lidah, akal, dan otak tak dicabut lalu disuapkan ke jasad itu, mereka tak dilenyapkan. Mereka pun butuh pengelolaan.
Dan karena pintu kubur tak tertutup, dan karena kekhawatiran akan masa depan di sisi lain kubur adalah masalah terpenting setiap individu. Maka sudah pasti tugas-tugas yang bersandar pada ketaatan dan penghormatan rakyat tak terbatas hanya pada tugas-tugas sosial, politik, dan militer yang berkaitan dengan kehidupan dunia rakyat.
Ya, sebagaimana memberi surat izin (vesika) kepada para pelancong untuk perjalanan adalah suatu tugas, demikian pula memberi surat izin sekaligus nur di jalan yang gelap itu kepada para pelancong yang pergi ke arah keabadian adalah suatu tugas yang — tak ada tugas mana pun yang sepenting tugas itu. Pengingkaran tugas seperti itu terjadi dengan pengingkaran kematian dan dengan mendustakan serta mengingkari kesaksian tiga puluh ribu saksi yang setiap hari menandatangani dan membenarkan dakwaan اَلْمَوْتُ حَقٌّ dengan meterai jenazah mereka. Karena ada tugas-tugas maknawi yang bersandar pada kebutuhan maknawi yang darurat. Dan yang terpenting dari tugas-tugas itu adalah iman — yang merupakan lembar paspor untuk perjalanan di jalan keabadian, lampu senter kalbu dalam kegelapan barzakh, dan kunci kebahagiaan abadi — serta pelajaran dan penguatan iman. Maka sudah pasti ahli makrifat yang menjalankan tugas itu tak akan menganggap remeh nikmat Ilahi dan keutamaan keimanan yang diberikan kepadanya dalam bentuk kufur nikmat, lalu jatuh ke kedudukan orang-orang bejat dan fasik. Ia tak akan mengotori dirinya dengan bidah dan kebejatan orang-orang rendah!.. Nah, uzlah yang tak kalian sukai dan kalian sangka ketidaksetaraan adalah karena hal ini.
Nah, bersama hakikat ini, aku tak berkata demikian terhadap orang-orang sombong seperti kalian yang menyiksaku dengan penyiksaan, yang dalam keakuan dan dalam mematahkan undang-undang kesetaraan ini maju sampai derajat firaunisme. Karena terhadap orang-orang sombong, kerendahan hati disangka kehinaan diri, maka seharusnya tak berlaku rendah hati. Melainkan kepada bagian yang berkeadilan, rendah hati, lagi adil, aku berkata:
Aku, segala puji bagi Allah, mengetahui kekuranganku dan ketidakberdayaanku. Jauh dari meminta suatu kedudukan penghormatan yang sombong di atas kaum muslimin, melainkan setiap waktu aku melihat kekuranganku yang tak terhingga dan kehampaanku, memperoleh penghiburan dengan istigfar, dan meminta dari orang-orang bukan penghormatan, melainkan doa. Dan aku kira seluruh temanku mengetahui mazhabku ini. Hanya sebatas ini saja: pada saat khidmat kepada Al-Qur'an Al-Hakim dan pada waktu mengajarkan hakikat-hakikat keimanan, atas perhitungan hakikat itu dan demi kehormatan Al-Qur'an, aku secara sementara mengenakan kemuliaan dan kewibawaan ilmiah yang dituntut kedudukan itu pada waktu mengajar, agar aku tak menundukkan kepalaku kepada ahli kesesatan. Aku kira, undang-undang ahli dunia tak memiliki batas yang dapat menentang poin-poin ini!
Suatu cara perlakuan yang mengherankan:
Sudah dimaklumi bahwa; di mana pun, ahli pendidikan memberi pertimbangan dari sisi makrifat dan ilmu. Di mana pun dan pada siapa pun ia melihat makrifat dan ilmu, dari sisi mazhab ia memelihara suatu persahabatan dan penghormatan terhadapnya. Bahkan seandainya seorang profesor dari suatu pemerintah musuh datang ke negeri ini, ahli pendidikan akan mengunjunginya dan menghormatinya karena menghormati ilmu dan makrifatnya. Padahal tatkala dewan ilmiah tertinggi Inggris meminta jawaban enam pertanyaan dari Masyihat Islamiah (kantor Syaikhul-Islam) dengan enam ratus kata, seorang ahli makrifat yang menjadi korban ketidakhormatan pendidikan di sini — yang memberi jawaban atas enam pertanyaan itu dengan enam kata yang memperoleh penghargaan, yang menentang dan mengalahkan dustur-dustur bangsa asing yang paling penting dan para filsuf yang paling asasi dengan ilmu serta makrifat hakiki, yang menantang para filsuf Eropa dengan bersandar pada kekuatan makrifat dan ilmu yang ia ambil dari Al-Qur'an, dan yang enam bulan sebelum masa kebebasan di Istanbul mengundang para ulama sekaligus para pelajar sekolah untuk berdebat lalu — tanpa ia sendiri mengajukan pertanyaan — memberi jawaban yang benar tanpa kekurangan atas pertanyaan-pertanyaan mereka
{(Catatan): Said Baru berkata: Aku tak ikut serta dalam perkataan yang diucapkan Said Lama dengan penuh kebanggaan di kedudukan ini. Karena dalam risalah ini aku memberikan giliran bicara kepadanya, aku tak dapat membungkamnya. Aku diam agar ia memperlihatkan sedikit keakuannya terhadap orang-orang yang penuh keakuan.}
dan yang mencurahkan seluruh hidupnya untuk kebahagiaan bangsa ini, dan yang menerbitkan ratusan risalah dengan lisan Turki bangsa itu lalu menerangi bangsa itu.. terhadap seorang ahli makrifat yang sekaligus sesama warga, seagama, sahabat, lagi saudara; orang-orang yang paling banyak memberi kesulitan, memelihara permusuhan terhadapnya, bahkan tidak menghormatinya, adalah sebagian orang yang termasuk lingkungan pendidikan dan sebagian kecil guru resmi. Nah, mari, apa yang akan kalian katakan terhadap keadaan ini? Apakah ini peradaban? Kecintaan pada pendidikan? Kecintaan pada tanah air? Kecintaan pada kebangsaan? Kecintaan pada republik? Sekali-kali tidak! Sekali-kali tidak! Sama sekali bukan apa pun. Melainkan ia adalah suatu takdir Ilahi, bahwa takdir Ilahi itu memperlihatkan permusuhan dari tempat yang diharapkan ahli makrifat itu sebagai persahabatan, agar ilmunya tak masuk ke riya karena penghormatan dan agar ia meraih ikhlas.
Penutup (Hâtime)
Suatu serangan yang bagiku mengherankan lagi menjadi sumber syukur:
Ahli dunia yang luar biasa penuh keakuan ini memiliki kepekaan yang demikian besar dalam urusan keakuan, sehingga seandainya ia dilakukan secara sadar, ia akan menjadi suatu perlakuan pada derajat karamah atau pada derajat suatu kejeniusan besar. Perlakuan itu adalah demikian: Suatu keadaan keakuan yang sedikit penuh riya, yang tak dirasakan nafsu dan akalku dalam diriku, seakan-akan mereka merasakannya dengan timbangan kepekaan keakuan mereka, lalu mereka dengan keras keluar menghadang keakuanku yang tak kurasakan. Dalam delapan sembilan tahun ini, aku memiliki delapan sembilan kali pengalaman bahwa, setelah terjadinya perlakuan zalim mereka terhadapku, aku memikirkan takdir Ilahi lalu mencari tipu daya nafsuku sambil bertanya “Mengapa Dia menjadikan mereka menguasaiku?” Pada setiap kali, aku memahami bahwa entah nafsuku secara tak sadar telah cenderung secara fitri kepada keakuan, atau ia dengan sengaja telah menipuku. Saat itu aku berkata, takdir Ilahi telah berbuat adil terhadapku di dalam kezaliman para zalim itu.
Sebagai contoh: Pada musim panas ini teman-temanku mendudukkanku di atas seekor kuda yang indah. Aku pergi ke suatu tempat rekreasi. Karena secara tak sadar bangkit suatu hasrat kesenangan yang membanggakan diri dalam nafsuku, ahli dunia demikian keras menghadang hasrat itu, sehingga mereka memotong bukan hanya hasrat tersembunyi itu, melainkan banyak seleraku. Bahkan sebagai contoh, kali ini setelah Ramadan, setelah iltifat (perhatian) seorang imam kuno yang sangat besar lagi suci kepada kami dengan karamah gaibnya, di dalam takwa dan ikhlas saudara-saudaraku serta penghormatan dan prasangka baik para pengunjung — tanpa kusadari — nafsuku ingin mengambil suatu keadaan keakuan yang penuh riya di balik tabir kebanggaan, seakan-akan penuh syukur. Tiba-tiba ahli dunia ini, dengan kepekaan yang tak terhingga dan dengan cara yang bahkan dapat merasakan atom-atom riya, tiba-tiba mengusikku. Aku bersyukur kepada Allah bahwa kezaliman mereka menjadi suatu sarana ikhlas bagiku.
رَبِّ اَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاط۪ينِ ❊ وَاَعُوذُ بِكَ رَبِّ اَنْ يَحْضُرُونِاَللّٰهُمَّ يَا حَافِظُ يَا حَف۪يظُ يَا خَيْرَ الْحَافِظ۪ينَ اِحْفَظْن۪ى وَ احْفَظْ رُفَقَائ۪ى مِنْ شَرِّ النَّفْسِ وَ الشَّيْطَانِ وَ مِنْ شَرِّ الْجِنِّ وَ اْلاِنْسَانِ وَ مِنْ شَرِّ اَهْلِ الضَّلاَلَةِ وَ اَهْلِ الطُّغْيَانِ اٰم۪ينَ اٰم۪ينَ اٰم۪ينَسُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَٓا اِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَٓا اِنَّكَ اَنْتَ الْعَل۪يمُ الْحَك۪يمُ