ISYARAT KEDUA:
Lem'alar · hlm. 208
Jawaban atas suatu pertanyaan yang bersifat kritik.
Oleh ahli dunia dikatakan bahwa:
Mengapa engkau kesal kepada kami? Sekali pun engkau tak pernah merujuk kepada kami, melainkan diam? Engkau mengadu dengan keras terhadap kami dan berkata “Kalian menzalimiku!” Padahal kami memiliki suatu prinsip, kami memiliki dustur-dustur khusus sebagai tuntutan abad ini. Engkau tak menerima penerapannya atas dirimu. Yang menerapkan undang-undang tak menjadi zalim, yang tak menerimanya memberontak. Sebagai contoh: pada abad kebebasan ini dan pada era republik yang baru kami mulai ini, padahal dustur menghapus penguasaan dan pemaksaan di atas asas kesetaraan telah menjadi suatu undang-undang dasar kami; sedangkan engkau — kadang dalam bentuk guru (hoca), kadang dalam bentuk zahid (asketik) — meraih perhatian umum, menarik perhatian kepada dirimu, dan berupaya memperoleh suatu kekuatan serta kedudukan sosial di luar pengaruh pemerintah, hal ini dipahami dari keadaan lahiriahmu dan petunjuk riwayat hidupmu di masa lampau. Adapun keadaan ini — dengan istilah sekarang — dapat tampak baik di dalam penguasaan lalim kaum borjuis. Namun dustur sosialisme dan bolshevisme sepenuhnya, yang tampak dengan kebangkitan dan kemenangan kelas awam kami, lebih berguna bagi urusan kami; karena itu, padahal kami menerima dustur sosialisme itu, kedudukanmu terasa berat bagi kami, bertentangan dengan prinsip-prinsip kami. Karena itu engkau tak berhak mengadu dan kesal atas kesulitan yang kami berikan kepadamu?
Jawaban:
Orang yang membuka suatu jalan baru dalam kehidupan sosial manusia, jika ia tak bergerak sesuai kanun fitrah di alam semesta; ia tak akan berhasil dalam urusan yang baik dan dalam kemajuan. Seluruh geraknya berpindah atas perhitungan keburukan dan perusakan. Karena ada keharusan untuk menyesuaikan gerak dengan kanun fitrah; maka sudah pasti, undang-undang kesetaraan mutlak baru dapat diterapkan dengan mengubah fitrah manusia dan menghapus hikmah asasi dalam penciptaan jenis manusia. Ya, aku, dari sisi keturunan dan kehidupan, dari kelas awam. Dan dari sisi masyrab dan pikiran, aku termasuk orang-orang yang menerima mazhab “kesetaraan hak.” Dan dengan kasih sayang serta rahasia keadilan yang datang dari Islam, aku termasuk orang-orang yang sejak dahulu bekerja dengan menentang penindasan dan penguasaan kelas khusus yang disebut borjuis. Karena itu, dengan seluruh kekuatanku aku berpihak pada keadilan yang sempurna, dan menentang kezaliman, pemaksaan, penguasaan, serta penindasan.
Namun fitrah jenis manusia dan rahasia hikmahnya bertentangan dengan undang-undang kesetaraan mutlak. Karena Sang Pencipta Yang Mahabijaksana, untuk memperlihatkan kesempurnaan kudrat dan hikmah-Nya, mengambil banyak hasil dari sedikit hal, menuliskan banyak kitab dalam satu lembaran, dan sebagaimana Dia menjalankan banyak tugas dengan satu hal, Dia pun menjalankan tugas ribuan jenis dengan jenis manusia.
Nah, termasuk dari rahasia agung itulah: Allah menciptakan jenis manusia dalam suatu fitrah yang akan menumbuhkan ribuan jenis laksana bulir dan akan memperlihatkan tingkatan sebanyak ribuan jenis hewan lainnya. Tidak seperti hewan lain, tak diletakkan batas pada daya, lataif, dan indranya; karena Dia membiarkannya bebas dan memberinya bakat untuk mengembara di kedudukan yang tak terhingga, maka karena ia — meskipun satu jenis — berpindah menjadi kedudukan ribuan jenis, ia berpindah menjadi khalifah bumi, hasil alam semesta, dan sultan makhluk hidup.
Nah, ragi dan pegas terpenting dari keberagaman jenis manusia; adalah keutamaan yang beriman lagi hakiki, melalui perlombaan. Menghapus keutamaan baru dapat terjadi dengan mengubah mahiyat manusia, memadamkan akal, mematikan kalbu, dan melenyapkan ruh. Ya, suatu perkataan sempurna yang — padahal layak dihantamkan ke wajah kejam abad ini yang memikul suatu penindasan dahsyat di balik tabir kebebasan — dilontarkan secara keliru ke wajah seorang tokoh yang sangat penting yang tak layak menerima tamparan itu:
Tak mungkin dengan kezaliman, dengan lalim, memusnahkan kebebasan; / Cabutlah daya nalar dari kemanusiaan, jika engkau mampu.
Sebagai ganti perkataan itu, untuk menghantamkan ke wajah abad ini, aku pun berkata:
Tak mungkin dengan kezaliman, dengan lalim, memusnahkan hakikat; / Cabutlah kalbu dari kemanusiaan, jika engkau mampu.
Atau:
Tak mungkin dengan kezaliman, dengan lalim, memusnahkan keutamaan; / Cabutlah hati nurani dari kemanusiaan, jika engkau mampu.
Ya, keutamaan yang beriman, sebagaimana tak menjadi sumber penguasaan, tak dapat pula menjadi sebab penindasan. Menguasai dan memaksa adalah ketiadaan keutamaan. Dan khususnya, masyrab terpenting ahli keutamaan adalah dalam bentuk berbaur dengan kehidupan sosial manusia dengan ketidakberdayaan, kefakiran, dan kerendahan hati. Segala puji bagi Allah, hidup kami telah dan sedang berjalan di atas masyrab ini. Aku tak mendakwakan bahwa pada diriku ada keutamaan dalam bentuk kebanggaan. Namun dalam bentuk menyebut-nyebut nikmat Ilahi (tahdits bin-ni'mah), dengan niat bersyukur, aku berkata bahwa:
Allah dengan karunia dan kemuliaan-Nya telah menganugerahkan keutamaan untuk bekerja dan memahami ilmu-ilmu keimanan dan Qur'ani. Ihsan Ilahi ini, sepanjang hidupku, segala puji bagi Allah, dengan taufik Ilahi kucurahkan untuk manfaat dan kebahagiaan bangsa Islam ini; sebagaimana ia tak pernah menjadi sarana penguasaan dan pemaksaan; demikian pula perhatian manusia dan penerimaan baik orang banyak — yang diinginkan kebanyakan ahli lalai — pun, berdasarkan suatu rahasia penting, adalah sesuatu yang kubenci; aku lari darinya. Karena ia menyia-nyiakan dua puluh tahun hidup lamaku, aku memandangnya merugikan bagiku. Namun aku mengetahuinya sebagai suatu tanda bahwa mereka menyukai Risale-i Nur, aku tak membuat mereka kesal.
Nah, wahai ahli dunia! Padahal aku sama sekali tak mencampuri dunia kalian dan tak memiliki satu sisi persentuhan pun dengan prinsip-prinsip kalian, dan padahal dengan kesaksian hidupku dalam sembilan tahun tawanan ini aku tak memiliki niat dan hasrat apa pun untuk kembali mencampuri dunia; sekian banyak pengintaian dan tekanan kalian yang dilakukan terhadapku seperti terhadap seorang penguasa lalim lama yang selalu menunggu kesempatan dan memikul pikiran penindasan serta penguasaan — dengan undang-undang manakah itu? Dengan maslahat apakah itu? Padahal tak ada pemerintah mana pun di dunia yang mengizinkan suatu tindakan yang di luar undang-undang dan tak memperoleh persetujuan seorang individu pun; terhadap sekian banyak tindakan buruk yang dilakukan terhadapku, bukan hanya aku yang kesal, melainkan seandainya ia tahu, jenis manusia pun kesal, bahkan alam semesta pun kesal!..