Risale-i NurLem'alar

ISYARAT PERTAMA:

Lem'alar · hlm. 207

Suatu pertanyaan penting mengenai pribadiku dan Risale-i Nur.

Oleh banyak orang dikatakan bahwa:

Padahal engkau tak mencampuri dunia ahli dunia, mengapa gerangan pada setiap kesempatan mereka mencampuri akhiratmu? Padahal tak ada undang-undang pemerintah mana pun yang mencampuri orang yang meninggalkan dunia dan penyendiri (uzlah)?

Jawaban:

Jawaban Said Baru terhadap pertanyaan ini adalah diam. Said Baru berkata: “Biarlah takdir Ilahi yang memberi jawabanku.” Meskipun demikian, dengan terpaksa, kepala Said Lama yang ia pinjam sebagai amanah berkata: Yang akan menjawab pertanyaan ini adalah pemerintah provinsi Isparta dan rakyat provinsi ini. Karena pemerintah ini dan rakyat ini jauh lebih berkepentingan daripada aku dengan makna di balik pertanyaan ini. Karena suatu pemerintah yang beranggotakan ribuan orang dan suatu rakyat yang beranggotakan ratusan ribu orang terpaksa memikirkan dan membela sebagai gantiku. Mengapa aku harus berbicara dan membela diri secara tak perlu dengan para penuduh. Karena sembilan tahun aku berada di provinsi ini; semakin lama aku semakin memunggungi dunia mereka. Tak ada satu keadaanku pun yang tersembunyi. Bahkan risalah-risalahku yang paling tersembunyi lagi paling rahasia pun telah jatuh ke tangan pemerintah dan sebagian anggota parlemen. Seandainya aku memiliki suatu keadaan mencampuri urusan duniawi, upaya mengacau, atau pikiran yang akan membuat ahli dunia panik dan cemas, maka padahal pemerintah di provinsi dan distrik ini selama sembilan tahun memperhatikan dan menyelidiki, dan padahal aku pun tanpa segan menjelaskan rahasiaku kepada orang-orang yang datang kepadaku, pemerintah tetap diam terhadapku dan tak mengusik. Seandainya aku memiliki suatu kesalahan yang akan merugikan kebahagiaan dan masa depan bangsa serta tanah air, maka sejak sembilan tahun, mulai dari gubernurnya sampai komandan pos jaga desa, mereka akan menganggap diri mereka bertanggung jawab. Untuk menyelamatkan diri mereka dari tanggung jawab, mereka terpaksa membelaku — dengan mengecilkan kubah menjadi biji terhadap orang-orang yang membesarkan biji menjadi kubah tentang aku. Kalau begitu, aku serahkan jawaban pertanyaan ini kepada mereka.

Adapun sebab rakyat provinsi ini secara umum lebih terpaksa membelaku daripada aku sendiri adalah demikian: Selama sembilan tahun ini, kami bekerja dengan ratusan risalah yang secara nyata lagi materi memperlihatkan pengaruhnya pada kehidupan abadi, kekuatan iman, dan kebahagiaan hidup bangsa ini — yang merupakan saudara, sahabat, sekaligus mubarak; dan tak ada gejolak serta kerugian apa pun yang datang kepada siapa pun karena risalah-risalah itu, tak terlihat rembesan politik dan duniawi yang penuh maksud buruk, dan — segala puji bagi Allah — provinsi Isparta ini, dengan perantaraan Risale-i Nur, meraih suatu kedudukan keberkahan dari sisi kekuatan iman dan keteguhan agama — dari jenis keberkahan Damaskus Syarif pada masa lampau dan keberkahan Jami' Al-Azhar Mesir yang merupakan madrasah umum alam Islam; karena Risale-i Nur menganugerahkan kepada provinsi ini bahwa di provinsi ini kekuatan iman menguasai ketidakpedulian dan kerinduan ibadah menguasai kebejatan, serta suatu keistimewaan keberagamaan di atas seluruh provinsi; maka sudah pasti seluruh manusia di provinsi ini — bahkan seandainya pun ada yang tak beragama — terpaksa membelaku dan Risale-i Nur. Di dalam hak pembelaan mereka yang sangat penting itu, hak parsialku yang tak berarti tak menggiringku untuk membela diri — sebab, seperti aku, ia telah menyelesaikan tugasnya, dan — segala puji bagi Allah — ribuan murid telah bekerja dan sedang bekerja di tempat orang tak berdaya sepertiku. Seorang yang memiliki sekian ribu pengacara tak membela perkaranya sendiri.