Mukadimah
Lem'alar · hlm. 217
Wahai manusia! Ketahuilah bahwa, ada kata-kata dahsyat yang keluar dari mulut manusia dan yang berbau ketidakberagamaan. Ahli iman menggunakannya tanpa mengetahuinya. Kami akan menjelaskan tiga dari yang terpenting:
Yang pertama:
“Awjadat-hul-asbâb.” Yakni, “Sebab-sebab mengadakan sesuatu ini.”
Yang kedua:
“Tasyakkala binafsihi.” Yakni, “Ia terbentuk dengan sendirinya, terjadi, tumbuh.”
Yang ketiga:
“Iqtadhat-hut-tabî'ah.” Yakni, “Ia bersifat alami (tabii), tabiat menuntutnya lalu mengadakannya.”
Ya, karena segala yang ada memang ada dan tak dapat diingkari. Dan setiap yang ada muncul dengan penuh seni dan hikmah. Dan karena ia tidak kadim (dahulu tanpa awal), melainkan baru terjadi. Bagaimanapun juga, wahai mulhid! Yang ada ini, misalnya hewan ini, entah engkau akan berkata bahwa sebab-sebab alam mengadakannya; yakni yang ada itu memperoleh wujud pada berkumpulnya sebab-sebab.. atau ia terbentuk dengan sendirinya.. atau ia muncul sebagai tuntutan tabiat, dengan pengaruh tabiat.. atau ia diadakan dengan kudrat suatu Sang Mahakuasa Yang Mahaagung. Karena secara akal tak ada jalan lain selain empat jalan ini, jika secara pasti dibuktikan bahwa tiga jalan yang pertama mustahil, batal, tak mungkin, lagi tak dapat diterima; maka secara terpaksa lagi badihi, jalan keempat yang merupakan jalan wahdaniah (keesaan) tetap tanpa keraguan dan tanpa syak.
ADAPUN JALAN PERTAMA, yaitu:
Terbentuknya segala sesuatu dan wujudnya makhluk dengan berkumpulnya sebab-sebab alam. Dari sekian banyak kemustahilannya, kami hanya menyebutkan tiga saja.
YANG PERTAMA:
Di sebuah apotek terdapat ratusan botol toples yang penuh dengan berbagai materi yang sangat beragam. Dari obat-obatan itu, diminta suatu ramuan (majun) yang hidup. Dan suatu penawar (tiryâq) luar biasa yang hidup perlu dibuat darinya. Kami datang, dan di apotek itu kami melihat banyak individu dari ramuan hidup dan penawar hidup itu. Kami menyelidiki masing-masing dari ramuan itu. Kami melihat bahwa: dari masing-masing botol toples itu, dengan suatu timbangan khusus, diambil satu dua dirham dari yang ini, tiga empat dirham dari yang itu, enam tujuh dirham dari yang lain, dan demikianlah.. obat-obatan diambil dalam kadar yang beragam. Seandainya dari salah satunya diambil satu dirham kurang atau lebih, ramuan itu tak akan menjadi hidup, tak dapat memperlihatkan khasiatnya. Dan kami menyelidiki penawar yang hidup itu pula. Dari masing-masing toples diambil suatu materi dengan suatu timbangan khusus, sehingga jika kurang atau lebih sebesar atom, penawar itu kehilangan khasiatnya. Padahal toples-toples itu lebih dari lima puluh, obat-obatannya diambil dalam kadar yang berbeda-beda, seakan-akan diambil dari masing-masing dengan suatu timbangan tersendiri. Apakah ada kemungkinan dan peluang dari sisi mana pun bahwa kadar-kadar beragam yang diambil dari botol-botol itu — akibat terjungkirnya botol-botol karena suatu kebetulan yang ganjil atau tersapu angin ribut — hanya mengalir sebanyak kadar yang diambil dari masing-masing, mengalir bersama, lalu berkumpul dan membentuk ramuan itu? Apakah ada sesuatu yang lebih khurafat, mustahil, lagi batil daripada ini? Seekor keledai, seandainya masuk ke suatu kekeledaian yang berlipat ganda, lalu menjadi manusia, ia akan lari sambil berkata “Aku tak menerima pemikiran ini.”
Nah, seperti perumpamaan ini; setiap yang hidup sudah pasti adalah suatu ramuan hidup, dan setiap tumbuhan laksana suatu penawar hidup; yang tersusun dari banyak obat yang beragam, dari banyak materi yang berbeda-beda, dari materi-materi yang diambil dengan suatu ukuran yang sangat teliti. Seandainya ia disandarkan pada sebab-sebab dan unsur-unsur, lalu dikatakan “Sebab-sebab mengadakannya”; maka persis seperti ramuan di apotek memperoleh wujud dari terjungkirnya botol-botol, ia seratus derajat jauh dari akal, mustahil, lagi batil.
Kesimpulannya: Di apotek terbesar alam semesta ini, materi-materi kehidupan yang diambil dengan timbangan qadha dan qadar Sang Mahabijaksana Yang Azali, dapat memperoleh wujud dengan suatu hikmah yang tak terhingga, suatu ilmu yang tak berkesudahan, dan suatu iradah yang meliputi segala sesuatu. Orang celaka yang berkata “Ini adalah pekerjaan unsur-unsur menyeluruh, tabiat, dan sebab-sebab yang buta, tuli, tak berbatas, lagi mengalir seperti banjir,” adalah lebih dungu daripada seorang dungu yang mabuk, yang mengigau lagi gila yang berkata “Penawar ajaib itu terjadi dengan sendirinya dari terjungkirnya botol-botol.” Ya, kekufuran itu adalah suatu igauan yang dungu, mabuk, lagi gila.
KEMUSTAHILAN KEDUA:
Seandainya segala sesuatu tak diserahkan kepada Sang Mahakuasa Yang Mahaagung yang merupakan Yang Maha Tunggal lagi Maha Esa, melainkan disandarkan pada sebab-sebab, maka mesti banyak sekali unsur dan sebab alam ikut campur dalam wujud setiap yang hidup. Padahal, berkumpulnya sebab-sebab yang beragam, saling bertentangan, lagi berlainan — dengan kesempurnaan tatanan, dengan suatu timbangan yang sangat teliti, dan dengan suatu kesepakatan yang sempurna — dalam wujud suatu makhluk kecil seperti seekor lalat, adalah suatu kemustahilan yang demikian zahir sehingga siapa pun yang memiliki kesadaran sebesar sayap lalat akan berkata “Ini mustahil, tak mungkin!” Ya, tubuh kecil seekor lalat berkaitan dengan kebanyakan unsur dan sebab alam semesta; bahkan ia adalah suatu intisarinya. Seandainya ia tak diserahkan kepada Sang Mahakuasa Yang Azali, maka sebab-sebab materi itu mesti hadir secara langsung di sisi wujudnya; bahkan mesti masuk ke tubuh kecilnya. Bahkan mesti masuk ke suatu sel dalam matanya yang merupakan suatu contoh kecil dari tubuhnya. Karena jika sebab itu bersifat materi, ia mesti berada di sisi dan di dalam akibatnya. Dalam keadaan demikian, mesti diterima bahwa rukun-rukun alam, unsur-unsur, dan tabiat — yang jari-jari dua ekor lalat sekecil ujung jarum pun tak muat di sel kecil itu — berada di dalamnya secara materi dan bekerja di dalamnya laksana seorang tukang.
Nah, bahkan kaum Sofis (Sofsathaiyah) yang paling dungu pun malu terhadap mazhab seperti itu.
KEMUSTAHILAN KETIGA:
Dengan kaidah yang telah tetap اَلْوَاحِدُ لاَ يَصْدُرُ اِلاَّ عَنِ الْوَاحِدِ: “Jika suatu yang ada memiliki kesatuan, maka sudah pasti ia dapat keluar dari suatu yang satu, dari satu tangan.” Khususnya jika yang ada itu berada dalam suatu tatanan yang sangat sempurna dan suatu timbangan yang teliti, serta menjadi tempat tertuju suatu kehidupan yang menghimpun, ia secara badihi memperlihatkan bahwa ia tak keluar dari banyak tangan yang menjadi sebab perselisihan dan kekacauan; melainkan keluar dari satu tangan yang sangat Mahakuasa lagi Mahabijaksana; padahal demikian, menyandarkan yang ada yang teratur, seimbang, lagi satu itu kepada tangan-tangan kacau sebab-sebab alam yang tak terhingga, beku, bodoh, melampaui batas, tak berkesadaran, buta, lagi tuli — di dalam kekacauan, di antara jalan-jalan kemungkinan yang tak terhingga, dan dengan perkumpulan serta percampuran yang menambah kebutaan dan ketulian sebab-sebab itu — adalah jauh dari akal seperti menerima seratus kemustahilan sekaligus.
Baiklah, kita kesampingkan kemustahilan ini: sudah pasti pengaruh sebab-sebab materi terjadi dengan persentuhan dan sentuhan. Padahal sentuhan sebab-sebab alam itu terjadi dengan sisi lahiriah makhluk hidup. Padahal kita melihat bahwa; sisi batin makhluk hidup — yang tak dapat dijangkau dan disentuh tangan sebab-sebab materi itu — sepuluh kali lebih teratur, lebih halus, lagi lebih sempurna dari sisi seni daripada sisi lahiriahnya. Makhluk hidup kecil, hewan-hewan kecil — yang dengan tangan dan alat sebab-sebab materi tak dapat dimasuki dari sisi mana pun, bahkan tak dapat disentuh sisi lahiriahnya secara sempurna — padahal mereka dalam suatu bentuk yang lebih menakjubkan dari sisi seni dan lebih indah dari sisi penciptaan daripada makhluk terbesar; menyandarkannya kepada sebab-sebab yang beku, bodoh, kasar, jauh, besar, saling bertentangan, tuli, lagi buta itu, hanya terjadi dengan menjadi seratus derajat buta, seribu derajat tuli!..
ADAPUN MASALAH KEDUA:
Adalah “Tasyakkala binafsihi.” Yakni: ia terbentuk dengan sendirinya. Nah, kalimat ini pun memiliki banyak kemustahilan. Ia batil lagi mustahil dari banyak sisi. Sebagai contoh, kami jelaskan tiga dari kemustahilannya.
YANG PERTAMA:
Wahai pengingkar yang keras kepala! Keakuanmu telah membuatmu demikian dungu sehingga engkau sampai suatu derajat memutuskan untuk menerima seratus kemustahilan sekaligus. Karena engkau ada. Dan engkau bukan suatu materi sederhana, beku, lagi tak berubah. Melainkan, engkau seperti suatu mesin yang sangat teratur yang senantiasa dalam pembaruan, dan suatu istana yang menakjubkan yang senantiasa dalam perubahan. Dalam tubuhmu setiap waktu atom-atom bekerja. Tubuhmu berkaitan dan memiliki hubungan dagang dengan alam semesta, khususnya dari sisi rezeki, khususnya dari sisi kelangsungan jenis. Atom-atom yang bekerja dalam tubuhmu berhati-hati agar tidak merusak hubungan itu dan tidak memutus keterkaitan itu. Demikianlah mereka melangkahkan kakinya dengan hati-hati. Seakan-akan mereka memandang seluruh alam semesta. Mereka melihat hubunganmu di alam semesta lalu mengambil sikap demikian. Engkau, dengan indra lahiriah dan batiniahmu, mengambil manfaat sesuai keadaan menakjubkan atom-atom itu.
Seandainya engkau tak menerima bahwa atom-atom dalam tubuhmu adalah petugas-petugas kecil yang bergerak dengan kanun Sang Mahakuasa Yang Azali, atau suatu pasukan-Nya, atau ujung-ujung pena takdir — setiap atom adalah ujung sebuah pena, atau titik-titik pena kudrat — setiap atom adalah sebuah titik; maka saat itu, setiap atom yang bekerja di matamu memerlukan suatu mata sedemikian rupa sehingga — di samping melihat setiap sisi seluruh jasadmu — juga akan melihat seluruh alam semesta yang berkaitan denganmu, dan memerlukan suatu akal sebesar seratus jenius yang akan mengetahui serta mengenali seluruh masa lalu dan masa depanmu, keturunan dan asalmu, sumber-sumber unsurmu, dan tambang-tambang rezekimu. Memberi kepada satu atom orang seperti engkau — yang dalam masalah-masalah ini tak memiliki akal sebesar atom — suatu ilmu dan kesadaran sebesar seribu Plato, adalah suatu khurafat yang seribu derajat gila!..
KEMUSTAHILAN KEDUA:
Tubuhmu menyerupai suatu istana menakjubkan berkubah seribu, yang pada setiap kubahnya batu-batu bersandar satu sama lain tanpa tiang, ditahan menggantung. Bahkan tubuhmu seribu kali lebih menakjubkan daripada istana ini. Karena istana wujudmu itu senantiasa diperbarui dengan kesempurnaan tatanan. Terlepas dari ruh, kalbu, dan lataif maknawi yang sangat menakjubkan, hanya setiap anggota dalam jasadmu berkedudukan sebagai suatu tempat berkubah. Atom-atom, seperti batu-batu di kubah itu, bersandar satu sama lain dengan kesempurnaan keseimbangan dan tatanan, lalu memperlihatkan suatu bangunan yang menakjubkan, suatu seni yang luar biasa, dan mukjizat-mukjizat kudrat yang ajaib seperti mata dan lidah. Seandainya atom-atom ini bukan petugas-petugas yang tunduk pada perintah Sang Tukang alam ini; maka saat itu setiap atom mesti — terhadap seluruh atom dalam jasad itu — sekaligus penguasa mutlak dan yang dikuasai mutlak oleh masing-masing, sekaligus semisal masing-masing dan lawan masing-masing dari sisi penguasaan, sekaligus sumber dan mata air dari kebanyakan sifat yang khusus bagi Yang Wajib Ada, sekaligus sangat terikat dan sangat mutlak — padahal, dengan rahasia kesatuan, hanya dapat menjadi karya suatu Yang Maha Tunggal lagi Maha Esa; menyandarkan suatu ciptaan tunggal yang sangat teratur seperti itu kepada atom-atom yang tak terhingga itu; siapa pun yang memiliki kesadaran sebesar atom akan menyadari bahwa ini adalah suatu kemustahilan yang sangat zahir, bahkan seratus kemustahilan.
KEMUSTAHILAN KETIGA:
Seandainya tubuhmu bukan tertulis (maktub) dengan pena Sang Mahakuasa Yang Azali yang merupakan Yang Maha Tunggal lagi Maha Esa, melainkan tercetak (matbu') yang dinisbatkan kepada tabiat dan sebab-sebab, maka saat itu — mulai dari satu sel tubuh dalam tubuhmu — mesti terdapat cetakan-cetakan tabiat sebanyak jumlah ribuan susunan, laksana lingkaran-lingkaran di dalam satu sama lain. Karena misalnya kitab yang ada di tangan kita ini, seandainya ia tertulis, satu pena saja, dengan bersandar pada ilmu penulisnya, menulis semuanya. Seandainya ia bukan tertulis, tak diserahkan kepada penanya, lalu dikatakan terjadi dengan sendirinya atau diserahkan kepada tabiat, maka saat itu — seperti kitab yang tercetak — untuk setiap hurufnya diperlukan sebuah pena besi tersendiri agar ia dicetak. Sebagaimana di percetakan terdapat huruf-huruf besi sebanyak jumlah huruf, lalu huruf-huruf itu memperoleh wujud; maka saat itu, sebagai ganti satu pena, mesti terdapat pena sebanyak jumlah huruf itu. Bahkan — sebagaimana kadang terjadi di dalam huruf-huruf itu — jika dengan pena kecil ditulis satu halaman dengan tulisan halus di dalam satu huruf besar, maka seribu pena diperlukan untuk satu huruf saja. Bahkan jika ia saling masuk satu sama lain dan mengambil suatu bentuk yang teratur seperti jasadmu, maka saat itu pada setiap lingkaran, untuk setiap bagian, diperlukan cetakan sebanyak jumlah susunan itu. Baiklah, seandainya engkau berkata cara ini — yang berada di dalam seratus kemustahilan — mungkin sekalipun, maka untuk membuat huruf-huruf besi yang teratur lagi berseni ini, cetakan yang sempurna, dan pena-pena ini, jika sekali lagi tak diserahkan kepada satu pena saja, maka untuk membuat pena-pena itu, cetakan-cetakan itu, dan huruf-huruf besi itu, sekali lagi diperlukan pena, cetakan, dan huruf sebanyak jumlah mereka. Karena mereka pun dibuat dan mereka pun teratur lagi berseni. Dan demikianlah, secara berantai (mutasalsil) terus-menerus tanpa henti...
Nah, engkau pun pahamilah! Ini adalah suatu pemikiran yang di dalamnya terdapat kemustahilan dan khurafat sebanyak jumlah atommu. Wahai penafi (mu'aththil) yang keras kepala! Engkau pun malulah, tinggalkanlah kesesatan ini!
KATA KETIGA:
“Iqtadhat-hut-tabî'ah.” Yakni; tabiat menuntut, tabiat membuat. Nah, hukum ini memiliki banyak kemustahilan. Sebagai contoh kami sebutkan tiga.
Yang pertama:
Seandainya seni dan pengadaan yang penuh penglihatan lagi hikmah yang tampak pada segala yang ada, khususnya pada makhluk hidup, tak diserahkan kepada pena takdir dan kudrat Matahari Azali (Syams Azali), melainkan disandarkan kepada tabiat dan kekuatan yang buta, tuli, lagi tak berpikir, maka mesti; tabiat menyediakan pada segala sesuatu mesin dan percetakan maknawi yang tak terhingga untuk mengadakan; atau menyisipkan pada segala sesuatu suatu kudrat dan hikmah yang akan menciptakan serta mengelola alam semesta. Karena sebagaimana tajalli dan pantulan matahari tampak pada kerat-kerat kaca kecil dan tetesan-tetesan air di muka bumi. Seandainya matahari-matahari kecil bayangan dan pantulan itu tak disandarkan kepada satu matahari tunggal di langit, maka mesti; menerima keberadaan lahiriah suatu matahari — yang alami, fitri, memiliki sifat-sifat matahari, secara lahiriah kecil tetapi secara maknawi sangat dalam — di sekerat kaca kecil yang tak muat kepala korek api, sehingga mesti menerima matahari-matahari alami sebanyak jumlah atom kaca.. — persis seperti perumpamaan ini — seandainya segala yang ada dan makhluk hidup tak diserahkan secara langsung kepada tajalli nama-nama Matahari Azali, maka mesti menerima di dalam setiap yang ada, khususnya di dalam setiap makhluk hidup, suatu tabiat, suatu kekuatan, hampir suatu tuhan di dalamnya yang akan memikul kudrat serta iradah yang tak terhingga dan ilmu serta hikmah yang tak berkesudahan. Adapun bentuk pemikiran ini adalah yang paling batil lagi paling khurafat dari kemustahilan-kemustahilan di alam semesta. Manusia yang memberikan seni Sang Pencipta Alam Semesta kepada suatu tabiat yang khayali, tak berarti, lagi tak berkesadaran, sudah pasti memperlihatkan bahwa ia seratus kali lebih hewan daripada hewan, lagi lebih tak berkesadaran.
Kemustahilan Kedua:
Seandainya segala yang ada yang sangat teratur, seimbang, berseni, lagi penuh hikmah ini tak diserahkan kepada suatu Zat Yang Mahakuasa lagi Mahabijaksana yang tak terhingga, melainkan disandarkan kepada tabiat, maka mesti; tabiat menyediakan pada setiap kepingan tanah mesin-mesin dan percetakan sebanyak jumlah seluruh percetakan dan pabrik Eropa.. agar kepingan tanah itu dapat menjadi sumber bagi tumbuhnya dan terbentuknya bunga serta buah yang tak terhingga, yang menjadi asal serta tempatnya. Karena kemampuan untuk membentuk dan menggambar bentuk serta rupa yang sangat berbeda-beda dari seluruh bunga — yang benihnya secara bergiliran dilemparkan ke dalam secawan tanah yang menjalankan tugas sebagai pot bunga — terlihat secara nyata. Seandainya ia tak diserahkan kepada Sang Mahakuasa Yang Mahaagung; maka saat itu, jika di tanah dalam cawan itu tak terdapat suatu mesin maknawi, tersendiri, lagi alami untuk setiap bunga, keadaan ini tak dapat terwujud. Karena benih-benih, seperti nutfah dan telur, materinya satu. Yakni, di samping ia hanya terdiri dari campuran hidrogen (muwallidul-mâ'), oksigen (muwallidul-humûdhah), karbon, dan nitrogen (azot) yang tak teratur, tak berbentuk, laksana adonan; udara, air, panas, dan cahaya pun, masing-masing sederhana, tak berkesadaran, dan menuju segala sesuatu dalam bentuk laksana banjir; maka terbentuknya bunga-bunga yang tak terhingga itu secara berbeda-beda, sangat teratur, lagi berseni dari tanah itu, secara badihi lagi terpaksa menuntut bahwa; di tanah yang ada dalam cawan itu terdapat percetakan dan pabrik maknawi, secara maknawi sebesar Eropa, dalam skala kecil. Agar ia dapat menenun sekian banyak kain yang hidup dan sekian ribu tenunan berukir yang berbeda-beda.
Nah, bandingkanlah sampai derajat mana pemikiran kufur kaum naturalis menyimpang keluar dari lingkaran akal. Dan lihatlah, tertawalah, dan meludahlah — betapa jauh manusia dungu yang mabuk berupa manusia, yang menyangka tabiat sebagai pengada, jatuh dari akal dan sains padahal mereka mendakwakan “kami ilmuwan lagi berakal,” dan bahwa mereka menjadikan suatu khurafat yang tak mungkin lagi sama sekali tak mungkin dari sisi mana pun sebagai mazhab mereka!
Jika engkau berkata:
Seandainya segala yang ada disandarkan kepada tabiat, terjadi kemustahilan-kemustahilan yang menakjubkan seperti ini, terjadi kesulitan pada derajat kemustahilan; apakah tatkala diserahkan kepada Zat Yang Maha Esa lagi Maha Bergantung kepada-Nya Segala Sesuatu (Ahad Shamad), kesulitan itu bagaimana terangkat? Dan kemustahilan yang sukar itu bagaimana berubah menjadi kewajiban yang mudah itu?
Jawaban:
Sebagaimana pada kemustahilan pertama, tatkala pantulan tajalli matahari, dengan kesempurnaan kemudahan tanpa kepayahan — mulai dari sekerat kaca terkecil sampai ke permukaan laut terbesar — memperlihatkan limpahan dan pengaruhnya dengan matahari-matahari kecil bayangan dengan sangat mudah; seandainya nisbatnya kepada matahari diputus, maka saat itu mesti diterima bahwa keberadaan lahiriah suatu matahari — yang alami lagi dengan sendirinya — di setiap kerat kaca kecil hanya dapat terjadi dengan suatu kesukaran pada derajat kemustahilan. Demikian pula; seandainya setiap yang ada diserahkan secara langsung kepada Zat Yang Maha Esa lagi Maha Bergantung; dengan suatu kemudahan pada derajat kewajiban, dan dengan suatu penisbatan serta tajalli, setiap hal yang diperlukan setiap yang ada dapat disampaikan kepadanya. Seandainya penisbatan itu diputus dan tugas itu berubah menjadi ketakteraturan, serta setiap yang ada dibiarkan sendiri dan diserahkan kepada tabiat, maka saat itu — dengan ratusan ribu kesulitan dan kesukaran pada derajat kemustahilan — mesti diandaikan bahwa tabiat buta di dalam suatu makhluk hidup seperti lalat, yang mengadakan mesin wujud yang sangat menakjubkan yang merupakan suatu intisari kecil alam semesta, adalah pemilik suatu kudrat dan hikmah yang akan menciptakan serta mengelola alam semesta. Adapun ini bukan satu kemustahilan, melainkan ribuan kemustahilan.
Kesimpulannya: Sebagaimana sekutu dan tandingan Zat Yang Wajib Ada tak mungkin lagi mustahil. Demikian pula: campur tangan pihak lain dalam rububiah-Nya dan dalam pengadaan sesuatu, sama tak mungkin lagi mustahilnya seperti sekutu zati.
Adapun kesulitan pada kemustahilan kedua, sebagaimana dibuktikan dalam beberapa risalah, seandainya seluruh sesuatu diserahkan kepada Yang Maha Tunggal lagi Maha Esa; seluruh sesuatu menjadi mudah lagi ringan seperti satu hal saja. Seandainya diserahkan kepada sebab-sebab dan tabiat, telah dibuktikan dengan bukti-bukti yang beragam lagi pasti bahwa satu hal saja sesulit seluruh sesuatu. Intisari suatu bukti adalah demikian: Sebagaimana seseorang, jika berafiliasi (intisab) kepada seorang raja dari sisi ketentaraan atau kepegawaian, maka pegawai dan prajurit itu, dengan kekuatan afiliasi itu, dapat menjadi sumber bagi pekerjaan seratus ribu kali lebih banyak daripada kekuatan pribadinya. Dan atas nama rajanya, kadang ia menawan seorang syah. Karena ia tak memikul dan tak terpaksa memikul perangkat serta kekuatan pekerjaan yang ia lakukan dan karya yang ia buat. Dengan perantaraan afiliasi itu, perbendaharaan raja dan pasukan yang merupakan titik sandaran di belakangnya memikul kekuatan dan perangkat itu. Artinya, pekerjaan yang ia lakukan dapat menjadi luar biasa seperti pekerjaan seorang raja secara agung; dan karya yang ia perlihatkan dapat menjadi luar biasa seperti karya suatu pasukan. Sebagaimana semut, dengan perantaraan tugas itu, menghancurkan istana Firaun. Lalat, dengan afiliasi itu, membinasakan Namrud. Dan dengan afiliasi itu, sebuah biji cemara sebesar biji gandum menumbuhkan seluruh perangkat pohon cemara yang besar.
{(Catatan): Ya, seandainya ada afiliasi; biji itu menerima suatu perintah dari takdir Ilahi, lalu menjadi tempat tertuju pekerjaan-pekerjaan luar biasa itu. Seandainya afiliasi itu diputus; penciptaan biji itu menuntut perangkat, kemampuan, dan seni yang lebih banyak daripada penciptaan pohon cemara yang besar. Karena seluruh anggota dan perangkat pohon cemara mewujud — yang merupakan karya kudrat — di gunung, mesti terdapat pada pohon maknawi yang merupakan karya takdir di dalam biji itu. Karena pabrik pohon besar itu adalah biji itu. Pohon takdiri di dalamnya tampak di luar dengan kudrat, lalu menjadi pohon cemara jasmani.}
Seandainya afiliasi itu diputus, ia dipensiunkan dari tugas itu, ia terpaksa memikul perangkat dan kekuatan pekerjaan yang akan ia lakukan di pinggang dan lengannya. Saat itu, ia dapat melakukan pekerjaan sebanyak kadar kekuatan di lengan kecilnya dan sebanyak jumlah amunisi di pinggangnya. Jika pekerjaan yang ia lakukan dengan sangat mudah dalam keadaan pertama diminta darinya dalam keadaan ini, sudah pasti mesti memikulkan kekuatan suatu pasukan di lengannya dan pabrik perangkat perang seorang raja di pinggangnya; sehingga bahkan para badut yang menghikayatkan khurafat dan dongeng menakjubkan untuk membuat orang tertawa pun malu terhadap khayalan ini!..
Kesimpulannya: Menyerahkan setiap yang ada kepada Yang Wajib Ada memiliki suatu kemudahan pada derajat kewajiban. Dan menyerahkannya kepada tabiat dari sisi pengadaan adalah sulit pada derajat kemustahilan dan di luar lingkaran akal.
KEMUSTAHILAN KETIGA:
Dua perumpamaan yang dijelaskan dalam sebagian risalah untuk menjelaskan kemustahilan ini:
Perumpamaan Pertama:
Seorang yang sangat liar masuk ke sebuah istana yang disempurnakan dan dihiasi dengan seluruh karya peradaban, yang didirikan di suatu padang pasir yang kosong, lalu memandang ke dalamnya. Ia melihat ribuan benda yang teratur lagi berseni. Karena keliaran dan kedunguannya, karena tak ada seorang pun dari luar yang campur tangan, ia mulai menyelidiki dengan anggapan bahwa salah satu benda di dalam istana itu telah membuat istana itu beserta isinya. Benda apa pun yang ia pandang; akal liarnya pun tak menerima bahwa benda itu membuat semua ini.
Kemudian ia melihat sebuah buku yang di dalamnya tertulis program organisasi istana itu, daftar isi isinya, dan undang-undang pengelolaannya. Memang buku itu pun — yang tak bertangan, tak bermata, dan tak berpalu — sama seperti benda-benda lain di dalamnya, tak memiliki kemampuan apa pun untuk membentuk dan menghiasi istana itu. Namun karena terpaksa, dengan keterpaksaan, karena — dibandingkan benda-benda lain — buku itu dari sisi menjadi suatu gelar bagi kanun-kanun ilmiah, ia memandangnya berkaitan dengan keseluruhan istana; sehingga dengan berkata “Nah, buku inilah yang membentuk, menata, dan menghiasi istana itu, membuat, memasang, serta menempatkan benda-benda ini,” ia mengubah keliarannya menjadi igauan orang-orang dungu lagi mabuk.
Nah, persis seperti perumpamaan ini; seorang manusia liar yang memikul pemikiran naturalis yang menuju pengingkaran uluhiah, masuk ke dalam istana alam ini — yang tak terhingga derajat lebih teratur, lebih sempurna daripada istana dalam perumpamaan, dan yang seluruh sekelilingnya penuh dengan hikmah yang penuh mukjizat. Tanpa memikirkan bahwa ia adalah karya seni Zat Yang Wajib Ada yang berada di luar lingkaran kemungkinan (mumkinat), dan dengan berpaling darinya, ia melihat suatu himpunan kanun-kanun kebiasaan Ilahi (sunnatullah) dan suatu daftar isi seni Rabbani — yang berkedudukan sebagai suatu papan yang ditulis dan dihapus oleh takdir Ilahi di dalam lingkaran kemungkinan, yang dapat menjadi suatu buku bagi kanun-kanun pelaksanaan kudrat Ilahi yang berganti dan berubah, dan yang secara sangat keliru lagi salah diberi nama “Tabiat.” Dan ia berkata: “Karena benda-benda ini membutuhkan suatu sebab, tak ada satu benda pun yang tampak berkaitan seperti buku ini. Memang, akal sama sekali tak menerima bahwa buku yang tak bermata, tak berkesadaran, lagi tak berkudrat ini dapat melakukan pengadaan — yang merupakan pekerjaan rububiah mutlak dan menuntut suatu kudrat yang tak terhingga. Namun karena aku tak menerima Sang Pembuat Yang Kadim; kalau begitu, yang paling berkaitan, aku akan berkata buku inilah yang telah membuat ini dan yang membuatnya.” Kami pun berkata:
Wahai dungu yang bermabuk-mabuk lagi paling dungu dari orang-orang dungu!
Angkatlah kepalamu dari rawa tabiat, pandanglah ke belakangmu; lihatlah Sang Pembuat Yang Mahaagung yang — mulai dari atom sampai planet — seluruh yang ada bersaksi dengan lisan yang berbeda-beda dan menunjuk dengan jari-jari mereka.. dan lihatlah tajalli Sang Pengukir Azali yang membuat istana itu dan menulis program istana di dalam buku itu, pandanglah firman-Nya, dengarkanlah Al-Qur'an-Nya.. loloslah dari igauan-igauan itu!..
Perumpamaan Kedua:
Seorang yang sangat liar masuk ke suatu kompleks barak militer yang megah. Ia melihat latihan bersama umum suatu pasukan yang sangat teratur dan gerakannya yang teratur. Ia menyaksikan bahwa dengan gerakan seorang prajurit; satu batalion, satu resimen, satu divisi berdiri, duduk, pergi; dan dengan satu perintah tembak mereka menembak. Akalnya yang kasar lagi liar, karena tak memahami komando seorang komandan dengan aturan negara dan undang-undang raja, lalu mengingkarinya, membayangkan bahwa para tentara itu terikat satu sama lain dengan tali. Ia memikirkan betapa luar biasanya tali khayali itu; ia terheran-heran. Kemudian ia pergi.. Ia masuk ke suatu masjid yang sangat megah seperti Hagia Sophia (Ayasofya), pada hari Jumat. Ia menyaksikan bahwa jamaah muslimin itu berdiri, membungkuk, bersujud, lalu duduk dengan suara seorang. Karena tak memahami syariat — yang terdiri dari himpunan kanun-kanun maknawi lagi samawi — dan dustur-dustur maknawi yang datang dari perintah-perintah Pemilik Syariat, ia membayangkan bahwa jamaah itu terikat dengan tali-tali materi dan bahwa tali-tali ajaib itu menawan serta menggerakkan mereka; lalu ia keluar dan pergi dengan suatu pemikiran yang demikian menggelikan sampai derajat yang bahkan membuat hewan-hewan buas berupa manusia yang paling liar pun tertawa.
Nah, persis seperti perumpamaan ini: seorang pengingkar yang memikul pemikiran tabiat yang penuh pengingkaran — yang merupakan keliaran murni — masuk ke alam ini yang merupakan suatu barak megah bagi tentara Sultan Azali lagi Abadi yang tak terhingga, dan ke alam semesta ini yang merupakan suatu masjid teratur bagi Sembahan Azali itu. Dengan membayangkan kanun-kanun maknawi tatanan alam semesta yang datang dari hikmah Sultan Azali itu sebagai materi-materi yang bersifat materi, dan dengan membayangkan kanun-kanun nisbi (i'tibari) kerajaan rububiah serta hukum-hukum dan dustur-dustur syariat fitri terbesar Sembahan Azali itu — yang bersifat maknawi dan hanya memiliki wujud ilmi (dalam ilmu) — sebagai suatu yang ada secara lahiriah lagi materi; lalu menegakkan kanun-kanun itu — yang datang dari ilmu dan kalam serta hanya memiliki wujud ilmi — sebagai ganti kudrat Ilahi, dan menyerahkan pengadaan ke tangannya, kemudian memberinya nama “Tabiat,” serta menganggap kekuatan — yang hanya merupakan suatu tajalli kudrat Rabbani — sebagai suatu pemilik kudrat lagi mahakuasa yang mandiri; adalah suatu keliaran yang seribu kali lebih rendah daripada orang liar dalam perumpamaan!..
Kesimpulannya: Sesuatu yang disebut tabiat oleh kaum naturalis — yang khayali lagi tak berhakikat — paling-paling, jika ia pemilik suatu hakikat lahiriah; hanya dapat menjadi suatu seni, tak dapat menjadi Sang Pembuat Seni (Sâni'). Ia adalah suatu ukiran, tak dapat menjadi Sang Pengukir. Ia adalah hukum-hukum, tak dapat menjadi Sang Penguasa (Hâkim). Ia adalah suatu syariat fitri, tak dapat menjadi Sang Pembuat Syariat (Syâri'). Ia adalah suatu tabir kemuliaan yang diciptakan, tak dapat menjadi Sang Pencipta (Hâlik). Ia adalah suatu fitrah yang pasif (munfa'il), tak dapat menjadi Sang Pencipta (Fâthir) yang aktif lagi pelaku. Ia adalah kanun, bukan kudrat; tak dapat menjadi mahakuasa (qâdir). Ia adalah penggaris (mistar), tak dapat menjadi sumber (mashdar).
Kesimpulannya:
Karena segala yang ada memang ada. Karena — sebagaimana dikatakan di awal Nota Keenam Belas — bagi wujud suatu yang ada, dengan pembagian akal (taqsim aqli), tak dapat dibayangkan jalan lain selain empat jalan. Dari empat sisi itu, batilnya tiga sisi — masing-masing dengan tiga kemustahilan zahir — telah dibuktikan secara pasti. Maka sudah pasti secara terpaksa lagi badihi, jalan keempat yang merupakan jalan kesatuan (wahdah) terbukti secara pasti. Adapun jalan keempat itu; ayat اَفِى اللّٰهِ شَكٌّ فَاطِرِ السَّمٰوَاتِ وَاْلاَرْضِ di awal, tanpa syak dan tanpa ragu pada derajat badihi, memperlihatkan uluhiah Zat Yang Wajib Ada, bahwa segala sesuatu keluar secara langsung dari tangan kudrat-Nya, dan bahwa langit serta bumi berada dalam genggaman tasarruf-Nya.
Wahai orang malang penyembah sebab-sebab lagi penyembah tabiat! Karena tabiat segala sesuatu, seperti segala sesuatu, adalah makhluk; karena ia berseni dan baru terjadi. Dan sebagaimana setiap akibat, sebab lahiriahnya pun adalah ciptaan. Dan karena wujud segala sesuatu membutuhkan sangat banyak perangkat dan alat. Kalau begitu, ada suatu Sang Mahakuasa Mutlak yang mengadakan tabiat itu dan menciptakan sebab itu. Dan Sang Mahakuasa Mutlak itu, apa gerangan kebutuhan-Nya sehingga Dia menyekutukan perantara yang tak berdaya dalam rububiah dan pengadaan-Nya. Sekali-kali tidak! Melainkan, untuk memperlihatkan tajalli nama-nama dan hikmah-Nya dengan menciptakan akibat secara langsung bersama sebabnya, Dia — dengan suatu penataan dan pengaturan — memberi suatu sebab lahiriah, suatu kebersamaan; dan untuk menjadikan sebab-sebab serta tabiat sebagai tempat rujukan bagi kekurangan, ketiadaan belas kasih, dan cacat yang zahir pada segala sesuatu, Dia menjadikan sebab-sebab dan tabiat sebagai tabir bagi tangan kudrat-Nya; dengan cara itu Dia menjaga kemuliaan-Nya.
Apakah lebih mudah seorang tukang jam membuat roda-roda jam; kemudian menata dan mengatur jam dengan roda-roda itu? Ataukah lebih mudah ia membuat suatu mesin luar biasa di dalam roda-roda itu; kemudian menyerahkan pembuatan jam ke tangan-tangan beku mesin itu agar ia membuat jam? Apakah itu tidak di luar kemungkinan? Baiklah, katakanlah engkau dengan akalmu yang tak berkeadilan itu, jadilah engkau hakim! Atau seorang penulis; membawa tinta, pena, dan kertas. Apakah lebih mudah jika dengannya ia sendiri secara langsung menulis kitab itu? Ataukah lebih mudah jika di dalam kertas, tinta, dan pena itu ia membuat suatu mesin tulis yang lebih berseni, lebih payah daripada kitab itu, yang khusus hanya untuk satu kitab itu; kemudian berkata kepada mesin yang tak berkesadaran itu “Baiklah, engkau menulislah,” lalu ia sendiri tak ikut campur? Apakah itu tidak seratus kali lebih sulit daripada menulis?
Jika engkau berkata: Ya, pembuatan mesin yang menulis suatu kitab seratus kali lebih sulit daripada kitab itu. Namun karena mesin itu menjadi perantara untuk menulis banyak salinan kitab yang sama, mungkin ada suatu kemudahan?
Jawaban:
Sang Pengukir Azali, dengan kudrat-Nya yang tak terhingga, untuk memperlihatkan tajalli nama-nama-Nya yang tak berkesudahan dalam bentuk yang berbeda-beda dengan senantiasa memperbaruinya setiap waktu, menciptakan keunikan individu (tasyakhkhus) dan wajah-wajah khusus pada segala sesuatu dengan cara sedemikian rupa sehingga; tak ada surat Shamadani dan kitab Rabbani mana pun yang sama persis dengan kitab-kitab lain. Bagaimanapun juga, untuk menyatakan makna-makna yang berbeda, ia akan memiliki suatu wajah yang berbeda. Jika engkau memiliki mata, pandanglah wajah manusia, lihatlah bahwa; sejak zaman Adam sampai sekarang, bahkan sampai keabadian, pada wajah kecil ini — di samping kesamaan dalam anggota-anggota pokok — secara pasti tetap bahwa setiap wajah memiliki suatu tanda pembeda terhadap setiap wajah lain, dibandingkan seluruh wajah. Karena itu setiap wajah adalah suatu kitab tersendiri. Hanya saja untuk penataan seni ia membutuhkan suatu perangkat tulis tersendiri, suatu penyusunan serta penggubahan tersendiri. Dan untuk membawa materi-materinya, menempatkannya, sekaligus menyisipkan segala hal yang diperlukan bagi wujud, ia membutuhkan suatu bengkel yang sama sekali lain. Baiklah, sebagai andaian mustahil, kita pandang tabiat sebagai suatu percetakan. Namun selain penataan dan pencetakan yang berkaitan dengan suatu percetakan — yakni memasukkan tatanan tertentu ke dalam cetakan — untuk mengadakan dan membawa materi-materi dalam tubuh suatu makhluk hidup yang pengadaannya seratus derajat lebih sulit daripada pengadaan penataan itu — dari penjuru alam dengan timbangan khusus dan tatanan khusus — lalu menyerahkannya ke tangan percetakan, ia tetap membutuhkan kudrat dan iradah Sang Mahakuasa Mutlak yang mengadakan percetakan itu. Artinya, kemungkinan dan andaian percetakan ini adalah suatu khurafat yang sama sekali tak bermakna.
Nah, seperti perumpamaan jam dan kitab ini; Sang Pembuat Yang Mahaagung, Sang Mahakuasa atas Segala Sesuatu, telah menciptakan sebab-sebab; Dia menciptakan akibat-akibat pula. Dengan hikmah-Nya, Dia mengikat akibat-akibat pada sebab-sebab. Dengan iradah-Nya, Dia menentukan suatu tajalli syariat fitri terbesar Ilahi — yang terdiri dari kanun-kanun sunnatullah tentang penataan gerak alam semesta — serta tabiat segala sesuatu yang hanya merupakan suatu cermin dan pantulan bagi tajalli itu pada segala sesuatu. Dan Dia mengadakan dengan kudrat-Nya sisi tabiat itu yang menjadi tempat tertuju wujud lahiriah, dan menciptakan segala sesuatu di atas tabiat itu, memadukannya satu sama lain. Apakah lebih mudah menerima hakikat ini — yang sangat masuk akal lagi merupakan hasil bukti-bukti yang tak terhingga — (apakah ia tidak wajib pada derajat kewajiban?); ataukah lebih mudah memberi kepada materi-materi yang kalian sebut sebab dan tabiat — yang beku, tak berkesadaran, makhluk, ciptaan, lagi sederhana itu — perangkat serta alat yang tak terhingga yang diperlukan bagi wujud setiap sesuatu, lalu membuat mereka melakukan pekerjaan-pekerjaan yang penuh hikmah lagi penuh penglihatan dengan sendirinya? Apakah itu tidak pada derajat ketakmungkinan, di luar kemungkinan? Kami serahkan pada keadilan akalmu yang tak berkeadilan itu.
Sang pengingkar lagi penyembah tabiat berkata: Karena engkau mengajakku pada keadilan. Aku pun berkata bahwa; aku mengakui bahwa jalan yang kami tempuh secara keliru sampai sekarang adalah suatu mazhab yang seratus derajat mustahil, sangat merugikan, lagi sangat buruk. Siapa pun yang memiliki kesadaran sebesar atom akan memahami dari penyelidikan kalian yang lalu bahwa; memberi pengadaan kepada sebab-sebab dan tabiat adalah tak mungkin lagi mustahil. Dan menyerahkan segala sesuatu secara langsung kepada Yang Wajib Ada adalah wajib lagi darurat. Aku berkata Alhamdulillâhi 'alal-îmân (segala puji bagi Allah atas iman) lalu aku beriman.
Hanya saja aku memiliki satu keraguan. Aku menerima bahwa Allah adalah Sang Pencipta; namun campur tangan sebagian sebab parsial dalam pengadaan hal-hal yang tak berarti dan perolehan sedikit puji-pujian oleh mereka, apa kerugiannya bagi kerajaan rububiah-Nya? Apakah datang kekurangan pada kerajaan-Nya?”
Jawaban:
Sebagaimana kami buktikan secara sangat pasti dalam sebagian risalah; sifat hakikat kekuasaan (hakimiyah) adalah menolak campur tangan. Bahkan seorang penguasa atau pegawai yang paling rendah pun tak menerima campur tangan putranya dalam lingkaran kekuasaannya. Bahkan bahwa sebagian raja yang beragama — padahal mereka khalifah — membunuh anak-anak mereka yang tak berdosa karena prasangka campur tangan terhadap kekuasaan mereka, memperlihatkan betapa asasi “kanun penolakan campur tangan” ini berlaku dalam kekuasaan. Mulai dari dua kepala distrik di suatu kecamatan, sampai dua raja di suatu negeri, “kanun larangan perserikatan” yang dituntut kemandirian dalam kekuasaan telah memperlihatkan kekuatannya dengan kekacauan yang sangat menakjubkan dalam sejarah manusia.
Apakah engkau melihat bahwa suatu bayangan keamiran dan kekuasaan pada manusia yang tak berdaya lagi membutuhkan pertolongan pun menolak campur tangan sampai derajat ini, mencegah campur tangan orang lain, tak menerima perserikatan dalam kekuasaannya, dan berupaya menjaga kemandirian kedudukannya dengan fanatisme yang sangat; kemudian, engkau dapat membandingkan — pada suatu Zat Yang Mahaagung yang kekuasaan mutlak-Nya pada derajat rububiah, keamiran mutlak-Nya pada derajat uluhiah, kemandirian mutlak-Nya pada derajat keesaan (ahadiah), dan kemahakayaan mutlak-Nya pada derajat kemahakuasaan mutlak — betapa penolakan campur tangan, pencegahan perserikatan, dan pengusiran sekutu ini merupakan suatu keharusan darurat lagi tuntutan wajib dari kekuasaan itu, silakan bandingkan jika engkau mampu.
Adapun keraguan cabang kedua yang engkau miliki:
Seandainya sebagian sebab menjadi tempat rujukan bagi sebagian ubudiah dari sebagian perkara parsial, apa kekurangan yang datang pada ubudiah makhluk — dari atom sampai planet — yang menghadap kepada Zat Yang Wajib Ada, Sembahan Mutlak itu?
Jawaban:
Sang Pencipta Yang Mahabijaksana alam semesta ini menciptakan alam semesta berkedudukan sebagai sebuah pohon, menjadikan makhluk berkesadaran sebagai buahnya yang paling sempurna, dan menjadikan manusia sebagai buah yang paling menghimpun di antara makhluk berkesadaran. Dan syukur serta ibadah — yang merupakan hal terpenting bagi manusia, bahkan hasil penciptaan, tujuan fitrah, dan buah kehidupan manusia — apakah Yang Maha Tunggal lagi Maha Esa itu, Sang Penguasa Mutlak lagi Sang Amir Yang Mandiri, yang menciptakan alam semesta untuk membuat diri-Nya dicintai dan dikenali, akan menyerahkan manusia yang merupakan buah seluruh alam semesta dan syukur serta ibadah yang merupakan buah tertinggi manusia ke tangan-tangan lain? Apakah Dia akan menjadikan hasil penciptaan dan buah alam semesta sebagai sia-sia, sepenuhnya bertentangan dengan hikmah-Nya? Sekali-kali tidak dan tidak sama sekali... Dan apakah Dia akan rida, apakah Dia akan mengizinkan, menyerahkan ibadah makhluk kepada yang lain dengan cara yang akan membuat orang mengingkari hikmah dan rububiah-Nya? Dan padahal Dia memperlihatkan dengan perbuatan-perbuatan-Nya keinginan untuk membuat diri-Nya dicintai dan dikenali sampai derajat yang tak terhingga, apakah Dia akan membuat orang melupakan diri-Nya dengan menyerahkan syukur, rasa terima kasih, kecintaan, serta ubudiah makhluk-Nya yang paling sempurna kepada sebab-sebab lain, lalu membuat orang mengingkari maksud-maksud luhur-Nya di alam semesta? Wahai kawan yang meninggalkan penyembahan tabiat! Baiklah, katakanlah engkau!
Ia berkata: Alhamdulillah, di samping kedua keraguanku ini terselesaikan, engkau telah memperlihatkan dua dalil yang demikian cemerlang lagi kuat mengenai keesaan Ilahi, bahwa Dialah Sembahan Yang Hak, dan bahwa selain Dia tak layak disembah, sehingga mengingkarinya adalah suatu kebebalan seperti mengingkari matahari dan siang.
Penutup (Hâtime)
Tokoh yang meninggalkan pemikiran kufur tabiat dan datang pada iman berkata: Alhamdulillah, keraguan-keraguanku tak tersisa; hanya saja aku memiliki beberapa pertanyaan yang menimbulkan keingintahuanku.
Pertanyaan Pertama:
Kami mendengar dari banyak orang pemalas dan orang-orang yang meninggalkan salat; mereka berkata: Apa gerangan kebutuhan Allah terhadap ibadah kami sehingga di dalam Al-Qur'an Dia dengan sangat keras lagi mendesak menghardik orang yang meninggalkan ibadah dan mengancamnya dengan suatu hukuman dahsyat seperti Neraka. Bagaimana cocok dengan ungkapan Qur'ani yang seimbang, istikamah, lagi adil bahwa terhadap suatu kesalahan parsial yang tak berarti, Dia memperlihatkan keras yang tak terhingga?
Jawaban:
Ya, Allah tak membutuhkan ibadahmu, bahkan tak membutuhkan sesuatu pun. Namun engkaulah yang membutuhkan ibadah, engkau sakit secara maknawi. Adapun ibadah, telah kami buktikan dalam banyak risalah bahwa ia berkedudukan sebagai penawar bagi luka-luka maknawimu. Apakah seorang sakit — terhadap desakan seorang tabib yang penuh kasih sayang untuk meminumkannya obat-obat yang bermanfaat baginya mengenai penyakit itu — jika ia berkata kepada tabib itu, “Apa gerangan kebutuhanmu sehingga engkau demikian mendesakku?” engkau memahami betapa tak bermaknanya hal itu.
Adapun ancaman keras dan hukuman dahsyat Al-Qur'an mengenai peninggalan ibadah; sebagaimana seorang raja, untuk menjaga hak-hak rakyatnya, menjatuhkan hukuman keras terhadap seorang biasa sesuai kesalahannya yang merugikan hak rakyat. Demikian pula; orang yang meninggalkan ibadah dan salat melakukan suatu pelampauan batas yang penting dan suatu kezaliman maknawi terhadap hak segala yang ada, yang berkedudukan sebagai rakyat Sultan Azali lagi Abadi. Karena kesempurnaan segala yang ada tampak pada wajah mereka yang menghadap kepada Sang Pembuat, dengan tasbih dan ibadah. Orang yang meninggalkan ibadah tak melihat dan tak dapat melihat ibadah segala yang ada, bahkan mengingkarinya. Saat itu, karena ia menurunkan segala yang ada — yang berada pada kedudukan tinggi dari sisi ibadah dan tasbih, dan yang masing-masing merupakan surat Shamadani dan cermin nama-nama Rabbani — dari kedudukan luhur mereka, dan karena ia menganggapnya dalam suatu keadaan yang tak berarti, tak bertugas, beku, lagi porak-poranda, maka ia menghina segala yang ada; ia mengingkari dan melampaui batas terhadap kesempurnaan mereka.
Ya, setiap orang melihat alam semesta dengan cerminnya sendiri. Allah menciptakan manusia dalam bentuk suatu ukuran, suatu timbangan bagi alam semesta. Untuk setiap manusia, Dia memberi suatu alam khusus dari alam ini. Dia memperlihatkan warna alam itu sesuai keyakinan kalbu manusia itu. Misalnya; seorang manusia yang menangis dalam keadaan sangat berputus asa lagi berduka, melihat segala yang ada dalam bentuk menangis lagi berputus asa; sebagaimana seorang yang sangat bergembira, riang, penuh kabar suka, dan tertawa dari kesempurnaan kegembiraannya, melihat alam semesta dalam keadaan riang lagi tertawa; demikian pula orang yang beribadah dan bertasbih dalam bentuk penuh tafakur lagi sungguh-sungguh, menyingkap dan melihat sampai suatu derajat ibadah dan tasbih segala yang ada yang benar-benar ada lagi nyata. Orang yang meninggalkan ibadah karena kelalaian atau pengingkaran; membayangkan segala yang ada dalam suatu bentuk yang sepenuhnya bertentangan, berlawanan, lagi keliru terhadap hakikat kesempurnaan mereka, dan secara maknawi melampaui batas terhadap hak mereka.
Dan orang yang meninggalkan salat itu, karena ia tak memiliki dirinya sendiri, ia berbuat zalim terhadap nafsunya sendiri yang merupakan hamba Pemiliknya. Pemiliknya, untuk mengambil hak hamba itu dari nafsu amarahnya, mengancam dengan ancaman yang dahsyat. Dan karena ia meninggalkan ibadah yang merupakan hasil penciptaan dan tujuan fitrahnya, ia berpindah menjadi suatu pelampauan batas terhadap hikmah Ilahi dan kehendak Rabbani. Karena itu ia dijatuhi hukuman.
Kesimpulannya: Orang yang meninggalkan ibadah, sekaligus berbuat zalim terhadap nafsunya sendiri — sedangkan nafsu adalah hamba dan milik Allah — sekaligus melakukan suatu pelampauan batas dan kezaliman terhadap hak-hak kesempurnaan alam semesta. Ya, sebagaimana kekufuran adalah suatu penghinaan terhadap segala yang ada; peninggalan ibadah pun adalah suatu pengingkaran terhadap kesempurnaan alam semesta. Dan karena ia merupakan suatu pelampauan batas terhadap hikmah Ilahi, ia layak mendapat ancaman dahsyat dan hukuman keras.
Nah, untuk menyatakan kelayakan ini dan hakikat yang disebutkan itu, Al-Qur'an yang mukjizat penjelasannya, dengan cara yang penuh mukjizat, memilih bentuk ungkapan yang keras itu, dan sepenuhnya sesuai dengan “kesesuaian dengan tuntutan keadaan (muthâbaqah li-muqtadhal-hâl)” yang merupakan hakikat balaghah.
Pertanyaan Kedua:
Tokoh yang meninggalkan tabiat dan datang pada iman berkata:
Bahwa setiap yang ada, dalam setiap sisi, setiap pekerjaannya, setiap hal-Nya, dan setiap keadaannya tunduk pada kehendak Ilahi dan kudrat Rabbani, adalah suatu hakikat yang sangat besar. Dari sisi keagungannya, ia tak muat di benak kami yang sempit. Padahal kelimpahan yang tak terhingga derajatnya yang kami lihat dengan mata kami, sekaligus kemudahan yang tak terhingga dalam penciptaan dan pengadaan sesuatu, sekaligus kemudahan yang tak terhingga derajatnya dalam pengadaan sesuatu di jalan kesatuan (wahdah) yang terbukti dengan bukti-bukti kalian yang lalu, sekaligus kemudahan yang tak terhingga derajatnya yang secara terang diperlihatkan oleh ayat-ayat seperti مَا خَلْقُكُمْ وَلاَ بَعْثُكُمْ اِلاَّ كَنَفْسٍ وَاحِدَةٍ ❊ وَمَٓا اَمْرُ السَّاعَةِ اِلاَّ كَلَمْحِ الْبَصَرِ اَوْ هُوَ اَقْرَبُ yang dijelaskan dengan nas Al-Qur'an, memperlihatkan bahwa hakikat besar itu adalah suatu masalah yang paling diterima lagi paling masuk akal. Apa rahasia dan hikmah kemudahan ini?
Jawaban:
Dalam penjelasan وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَد۪يرٌ yang merupakan Kata Kesepuluh dari Surat Kedua Puluh, rahasia itu telah dijelaskan dengan cara yang sangat jelas, pasti, lagi meyakinkan. Khususnya di lampiran surat itu, telah dibuktikan dengan lebih jelas bahwa; tatkala seluruh yang ada disandarkan kepada Sang Pembuat Yang Maha Esa, ia menjadi mudah berkedudukan seperti satu yang ada saja. Seandainya ia tak diserahkan kepada Yang Maha Tunggal lagi Maha Esa; pengadaan satu makhluk saja menjadi sesulit seluruh yang ada, dan sebuah biji menjadi sesukar sebuah pohon. Seandainya diserahkan kepada Sang Pembuat Hakikinya, alam semesta menjadi mudah seperti sebuah pohon, pohon seperti sebuah biji, Surga seperti suatu musim semi, dan musim semi seperti sekuntum bunga, lalu memperoleh kemudahan. Dan kami akan mengisyaratkan secara ringkas pada satu-dua dari ratusan dalilnya — yang dijelaskan secara terperinci dalam risalah-risalah lain — yang menjadi sumber rahasia serta memperlihatkan hikmah kelimpahan dan kemurahan yang tak terhingga yang tampak secara penyaksian, keberadaan banyak individu setiap jenis dengan mudah, dan munculnya segala yang ada yang teratur, berseni, lagi berharga dengan mudah, dengan kemudahan yang banyak, dan dengan cepat.
Misalnya: Sebagaimana jika seratus prajurit diserahkan pada pengaturan seorang perwira; itu seratus derajat lebih mudah daripada seorang prajurit diserahkan pada pengaturan seratus perwira, demikian pula perlengkapan militer suatu pasukan; tatkala diserahkan pada perintah satu pusat, satu kanun, satu pabrik, dan satu raja, secara kuantitas hampir menjadi semudah perlengkapan seorang prajurit; sebagaimana pula perlengkapan militer seorang prajurit; penyerahannya kepada banyak pusat, banyak pabrik, banyak komandan, secara kuantitas hampir menjadi sesulit perlengkapan suatu pasukan. Karena untuk perlengkapan seorang prajurit saja, mesti terdapat pabrik-pabrik yang diperlukan bagi seluruh pasukan.
Dan karena — dari sisi rahasia kesatuan sebuah pohon — materi-materi kehidupannya diberikan pada satu akar, satu pusat, dengan satu kanun; maka pohon yang memberi ribuan buah itu terlihat semudah satu buah secara penyaksian. Seandainya beralih dari kesatuan ke kebanyakan, materi kehidupan yang diperlukan setiap buah diberikan dari tempat lain; maka setiap buah memperoleh kesulitan sebesar sebuah pohon. Bahkan satu biji saja — yang merupakan suatu model dan daftar isi pohon — menjadi sesukar pohon itu. Karena seluruh materi kehidupan yang diperlukan bagi kehidupan sebuah pohon, diperlukan pula bagi satu biji.
Nah, seperti perumpamaan-perumpamaan ini, terdapat ratusan perumpamaan yang memperlihatkan bahwa; ribuan yang ada yang muncul dengan kemudahan yang tak terhingga derajatnya dalam kesatuan, menjadi lebih mudah daripada satu yang ada saja dalam syirik dan kebanyakan. Karena hakikat ini telah dibuktikan dalam risalah-risalah lain sampai derajat dua kali dua sama dengan empat, kami serahkan padanya, dan di sini kami hanya akan menjelaskan suatu rahasia yang sangat penting dari kemudahan ini dari sudut pandang ilmu, takdir Ilahi, dan kudrat Rabbani. Yakni demikian:
Engkau adalah suatu yang ada. Seandainya engkau menyerahkan dirimu kepada Sang Mahakuasa Yang Azali; seperti menggoreskan korek api, Dia menciptakanmu dalam sekejap dari ketiadaan, dari tiada, dengan satu perintah, dengan kudrat-Nya yang tak terhingga. Seandainya engkau tak menyerahkan dirimu kepada-Nya, melainkan menyandarkannya pada sebab-sebab materi dan tabiat; maka saat itu, karena engkau adalah suatu intisari, buah, daftar isi, dan daftar kecil yang teratur dari alam semesta; untuk membuatmu, mesti mengayak alam semesta dan unsur-unsur dengan ayakan halus lalu mengumpulkan materi-materi dalam tubuhmu dari penjuru alam dengan ukuran-ukuran yang teliti. Karena sebab-sebab materi hanya menyusun, mengumpulkan. Bahwa mereka tak dapat membuat dari ketiadaan, dari tiada, apa yang tak ada pada mereka, adalah dibenarkan di sisi seluruh ahli akal. Kalau begitu, mereka terpaksa mengumpulkan tubuh suatu makhluk hidup kecil dari penjuru alam.
Nah, pahamilah betapa banyak kemudahan dalam kesatuan dan tauhid, serta betapa banyak kesulitan dalam syirik dan kesesatan!
Yang kedua:
Dari sisi ilmu terdapat suatu kemudahan yang tak terhingga. Yakni demikian:
Takdir (qadar) adalah suatu jenis ilmu yang menentukan suatu kadar bagi segala sesuatu, berkedudukan sebagai cetakan maknawi lagi khusus segala sesuatu. Dan kadar takdiri itu berpindah menjadi kedudukan suatu rencana, suatu model bagi wujud sesuatu itu. Tatkala kudrat mengadakan; ia mengadakan di atas kadar takdiri itu dengan sangat mudah. Seandainya sesuatu itu tak diserahkan kepada Sang Mahakuasa Yang Mahaagung yang merupakan pemilik suatu ilmu yang meliputi, tak terhingga, lagi azali; — sebagaimana yang telah lalu — bukan ribuan kesulitan, melainkan seratus kemustahilan yang muncul. Karena jika tak ada kadar takdiri dan kadar ilmi itu; ribuan cetakan lahiriah lagi materi mesti digunakan dalam tubuh suatu hewan kecil.
Nah, pahamilah suatu rahasia kemudahan yang tak berkesudahan dalam kesatuan dan kesulitan yang tak terhingga dalam kesesatan serta syirik; ketahuilah betapa hakikat lagi benar dan tinggi hakikat yang dinyatakan ayat وَمَٓا اَمْرُ السَّاعَةِ اِلاَّ كَلَمْحِ الْبَصَرِ اَوْ هُوَ اَقْرَبُ!.
Pertanyaan Ketiga:
Sang mualaf yang dahulu musuh, kini sahabat berkata: Pada masa ini banyak filsuf yang sangat maju berkata: “Tak ada sesuatu pun yang diadakan dari ketiadaan, dan tak ada sesuatu pun yang ditiadakan; hanya ada suatu penyusunan (sintesis) dan penguraian (analisis) yang menjalankan pabrik alam semesta.”
Jawaban:
Para filsuf yang tak memandang segala yang ada dengan cahaya Al-Qur'an, yang paling maju di antara mereka, telah memandang bahwa — karena mereka melihat pembentukan dan wujud segala yang ada melalui perantaraan tabiat dan sebab-sebab, dengan cara yang telah kami buktikan sebelumnya, sulit sampai derajat ketakmungkinan — mereka terbagi menjadi dua bagian.
Satu bagian menjadi kaum Sofis, dengan mengundurkan diri dari akal yang merupakan keistimewaan manusia, jatuh lebih rendah daripada hewan-hewan dungu, karena mereka melihat pengingkaran keberadaan alam semesta — bahkan pengingkaran keberadaan diri mereka sendiri — lebih mudah dalam mazhab kesesatan daripada sebab-sebab dan tabiat menjadi pemilik pengadaan, maka mereka mengingkari diri mereka sendiri dan alam semesta, lalu jatuh ke kebodohan mutlak (jahl mutlak).
Golongan kedua telah memandang bahwa; dalam kesesatan, dari sisi sebab-sebab dan tabiat sebagai pengada, pengadaan seekor lalat dan sebutir biji memiliki kesulitan yang tak terhingga dan menuntut suatu kemampuan di luar bentuk akal. Karena itu, dengan terpaksa mereka mengingkari pengadaan, mereka berkata “Yang ada tak muncul dari tiada,” dan mereka pun memandang peniadaan sebagai mustahil, mereka memutuskan “Yang ada tak menjadi tiada.” Hanya dengan gerakan atom, dengan angin-angin kebetulan, mereka membayangkan suatu keadaan nisbi (i'tibari) dalam bentuk penyusunan, penguraian, pemencaran, dan pengumpulan. Nah, engkau datanglah, lihatlah orang-orang yang menyangka diri mereka paling tinggi akalnya, padahal berada pada derajat kedunguan dan kebodohan yang paling rendah; dan ketahuilah betapa kesesatan membuat manusia menjadi bahan tertawaan, hina, lagi paling bodoh; ambillah pelajaran (ibrah)!
Apakah suatu kudrat azali — yang setiap tahun mengadakan empat ratus ribu jenis sekaligus di muka bumi, menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, dan membangun dalam enam minggu, pada setiap musim semi, suatu alam hidup yang lebih berseni lagi penuh hikmah daripada alam semesta — memandang jauh bahwa memberi wujud lahiriah kepada yang ada dalam ilmu (mawjûdât 'ilmiyah), yang tiada secara lahiriah, dengan sangat mudah — laksana suatu tinta yang tak menampakkan yang ada dalam ilmu yang rencana serta kadarnya tertentu di dalam lingkaran suatu ilmu azali, atau laksana suatu tinta yang dioleskan untuk menampakkan suatu tulisan yang tak terlihat — dan mengingkari pengadaan; adalah lebih dungu lagi lebih bodoh daripada kaum Sofis yang merupakan golongan pertama. Orang-orang celaka ini, karena nafsu mereka yang telah menjadi firaun — yang tak berdaya mutlak dan tak memiliki apa pun di tangannya selain suatu kehendak parsial (juz'i ikhtiyari) — tak dapat meniadakan dan menghilangkan sesuatu pun, dan tak dapat mengadakan satu atom pun, satu materi pun, dari ketiadaan, dari tiada, dan karena dari tangan sebab-sebab serta tabiat yang mereka andalkan tak datang pengadaan dari ketiadaan, maka karena kedunguan mereka, mereka berkata: “Yang ada tak muncul dari tiada, dan yang ada pun tak menjadi tiada,” lalu mereka ingin memberlakukan dustur yang batil lagi keliru ini kepada Sang Mahakuasa Mutlak.
Ya, Sang Mahakuasa Yang Mahaagung memiliki dua bentuk pengadaan. Yang satu; dengan penciptaan dari tiada (ikhtirâ' dan ibdâ'). Yakni Dia memberi wujud dari ketiadaan, dari tiada, dan mengadakan pula dari tiada segala hal yang diperlukannya lalu memberikannya ke tangannya. Yang lain; dengan penyusunan (insyâ'), dengan seni. Yakni, untuk banyak hikmah yang sangat halus seperti memperlihatkan kesempurnaan hikmah-Nya dan tajalli banyak nama-Nya, Dia menyusun sebagian yang ada dari unsur-unsur alam semesta. Atom-atom dan materi-materi yang tunduk pada setiap perintah-Nya, Dia kirim kepada mereka dengan kanun pemberian rezeki (razzâqiyah), lalu Dia pekerjakan pada mereka.
Ya, Sang Mahakuasa Mutlak memiliki pengadaan dalam dua bentuk, sekaligus dalam bentuk ibdâ' dan insyâ'. Menjadikan yang ada tiada dan menjadikan yang tiada ada; adalah suatu kanun-Nya yang paling mudah, paling ringan, bahkan tetap lagi umum. Terhadap suatu kudrat yang dalam satu musim semi mengadakan dari tiada bentuk, sifat, bahkan seluruh kualitas dan keadaan — selain atom-atomnya — dari tiga ratus ribu jenis makhluk hidup, orang yang berkata “Yang tiada tak dapat Dia adakan!” — ia sendirilah yang seharusnya tiada!..
Tokoh yang meninggalkan tabiat dan beralih ke hakikat berkata: Aku bersyukur, memuji, dan menyanjung Allah sebanyak jumlah atom, bahwa aku telah meraih kesempurnaan iman, lolos dari prasangka serta kesesatan, dan tak ada satu keraguan pun yang tersisa padaku. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلٰى د۪ينِ اْلاِسْلاَمِ وَ كَمَالِ اْلا۪يمَانِ سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَٓا اِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَٓا اِنَّكَ اَنْتَ الْعَل۪يمُ الْحَك۪يمُ