Poin Pertama:
Lem'alar · hlm. 61
Manusia, secara fitrah, diciptakan atas dasar cinta yang tak terhingga kepada Khâliq alam ini. Karena dalam fitrah manusia terdapat cinta kepada keindahan, pemujaan terhadap kesempurnaan, dan kecintaan kepada kebaikan. Sesuai derajat keindahan, kesempurnaan, dan kebaikan, cinta itu bertambah. Ia sampai ke derajat cinta yang paling puncak. Dan dalam kalbu mungil manusia kecil ini, tertampung cinta sebesar alam. Ya, daya ingat yang merupakan sebuah kotak kecil sebesar kacang lentil dalam kalbu, yang di dalamnya tertulis tulisan sebanyak ribuan kitab laksana sebuah perpustakaan, menunjukkan bahwa: kalbu manusia dapat memuat alam ke dalamnya dan dapat memikul cinta sebanyak itu. Karena dalam fitrah manusia terdapat potensi cinta yang tak terhingga terhadap kebaikan, keindahan, dan kesempurnaan; dan karena Khâliq alam ini memiliki keindahan suci yang tak terhingga — yang keberadaannya pasti sabit melalui jejak-jejak yang tampak di alam — memiliki kesempurnaan suci yang tak terhingga — yang keberadaannya pasti tetap melalui ukiran-ukiran seni yang tampak pada makhluk — dan memiliki kebaikan yang tak terhingga — yang keberadaannya pasti dengan yakin, bahkan dengan penyaksian, melalui beragam kebaikan dan nikmat yang tak terhingga yang tampak pada seluruh makhluk hidup — maka sudah pasti Dia menuntut cinta yang tak terhingga dari manusia, yang merupakan makhluk berkesadaran yang paling mencakup, paling membutuhkan, paling berpikir, dan paling merindukan. Ya, sebagaimana setiap manusia berpotensi memiliki cinta yang tak terhingga kepada Khâliq Yang Mahaagung, demikian pula Khâliq itu lebih berhak daripada siapa pun untuk dicintai secara tak terhingga atas keindahan, kesempurnaan, dan kebaikan-Nya. Bahkan dalam diri manusia mukmin, beragam cinta dan keterikatan yang kuat kepada kehidupan, kekekalan, wujud, dunia, nafsu, dan makhluknya, adalah rembesan dari potensi cinta Ilahi itu. Bahkan beragam perasaan kuat manusia adalah penjelmaan dari potensi cinta itu dan rembesan-rembesan yang telah mengambil bentuk lain.
Sudah dimaklumi bahwa manusia, sebagaimana ia merasakan kelezatan dengan kebahagiaan dirinya, ia pun merasakan kelezatan dengan kebahagiaan orang-orang yang ia sayangi. Dan sebagaimana ia mencintai yang menyelamatkannya dari bala, ia pun demikian mencintai yang menyelamatkan orang-orang yang ia cintai.
Nah, berdasarkan keadaan ruhani ini; seandainya manusia hanya memikirkan ini saja dari beragam kebaikan Ilahi yang tertuju kepada setiap manusia: bahwa Khâliqku menyelamatkanku dari ketiadaan yang merupakan kegelapan abadi lalu memberiku sebuah dunia yang indah di dunia ini; demikian pula tatkala ajalku tiba, Dia kembali menyelamatkanku dari ketiadaan dan kebinasaan yang merupakan pemusnahan abadi, lalu menganugerahkan kepadaku sebuah alam yang abadi lagi teramat gemerlap di alam yang kekal, serta menganugerahkan kepadaku indra dan perasaan lahir dan batin yang akan mengambil manfaat dari seluruh ragam kelezatan dan keindahan alam itu, mengembara, dan bertamasya di dalamnya; demikian pula Dia menjadikan seluruh kerabat, kekasih, dan sesama jenisku yang teramat kucintai dan kuterikat kepadanya sebagai tempat tertuju kebaikan yang tak terhingga, dan kebaikan-kebaikan itu dari satu sisi menjadi milikku pula. Karena aku berbahagia dan merasakan kelezatan dengan kebahagiaan mereka. Karena — dengan rahasia َاْلاِنْسَانُ عَب۪يدُ اْلاِحْسَانِ — pada setiap orang terdapat pemujaan terhadap kebaikan. Maka sudah pasti, terhadap kebaikan abadi yang tak terhingga seperti itu; seandainya aku memiliki kalbu sebesar alam, ia semestinya dipenuhi cinta terhadap kebaikan itu, dan aku ingin memenuhinya. Meskipun aku tidak secara nyata mencintai dengan cinta itu, namun aku melakukannya dalam bentuk potensi, iman, niat, penerimaan, penghargaan, kerinduan, komitmen, dan kehendak — demikian ia akan berkata. Dan seterusnya... Adapun cinta yang akan ditunjukkan manusia terhadap keindahan dan kesempurnaan, kiaskanlah kepada cinta terhadap kebaikan yang telah kami isyaratkan secara ringkas. Adapun kafir, dari sisi kekufuran, ia melakukan permusuhan yang tak terhingga.
Bahkan ia memikul permusuhan yang zalim lagi menghina terhadap alam dan makhluk.