Poin Kedua:
Lem'alar · hlm. 63
Cinta kepada Allah mengharuskan ittiba' pada Sunnah Muhammadiah صلى الله عليه وسلم. Karena mencintai Allah adalah melakukan apa yang diridai-Nya. Adapun yang diridai-Nya tampak dalam bentuk yang paling sempurna pada Zat Muhammadiah صلى الله عليه وسلم. Menyerupai Zat Ahmadiah صلى الله عليه وسلم dalam gerak dan perbuatan ada dua sisi:
Yang pertama:
Dari sisi mencintai Allah, menaati perintah-Nya dan bergerak dalam lingkaran keridaan-Nya mengharuskan ittiba' itu. Karena dalam hal ini imam yang paling sempurna adalah Zat Muhammadiah صلى الله عليه وسلم.
Yang kedua:
Karena Zat Ahmadiah صلى الله عليه وسلم adalah wasilah terpenting bagi kebaikan Ilahi yang tak terhingga kepada manusia, maka sudah pasti — atas nama Allah — beliau layak dicintai secara tak terhingga. Manusia, jika mungkin menyerupai zat yang ia cintai, secara fitrah ingin menyerupainya. Nah, orang-orang yang mencintai Kekasih Allah pasti dituntut untuk berupaya menyerupainya dengan ittiba' pada Sunnahnya yang mulia.