Risale-i NurLem'alar

LEM'A KESEBELAS

Lem'alar · hlm. 53

Mirqâtus-Sunnah wa Tiryâqu Maradil-Bid'ah (Tangga Sunnah dan Penawar Penyakit Bidah)

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِلَقَدْ جَٓاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ اَنْفُسِكُمْ عَز۪يزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَر۪يصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِن۪ينَ رَؤُفٌ رَح۪يمٌ

(Maqam Pertama dari ayat ini adalah Minhâjus-Sunnah; Maqam Keduanya adalah Mirqâtus-Sunnah.)

فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِىَ اللّٰهُ لآَ اِلٰهَ اِلاَّ هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظ۪يمِقُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُون۪ى يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ

(Dari ratusan nuktah kedua ayat agung ini, sebelas nuktah akan dijelaskan secara ringkas.)

NUKTAH PERTAMA:

Rasul Ekrem صلى الله عليه وسلم bersabda: مَنْ تَمَسَّكَ بِسُنَّت۪ى عِنْدَ فَسَادِ اُمَّت۪ى فَلَهُ اَجْرُ مِاَةِ شَه۪يدٍ Yakni: “Pada masa kerusakan umatku, siapa yang berpegang teguh pada sunnahku, ia dapat meraih pahala dan ganjaran seratus syahid.”

Ya, mengikuti Sunnah yang mulia sungguh teramat berharga. Terlebih lagi pada masa merajalelanya bidah, mengikuti Sunnah yang mulia lebih berharga lagi. Terlebih lagi pada masa kerusakan umat, mengindahkan satu adab kecil dari Sunnah yang mulia menyiratkan suatu ketakwaan yang penting dan iman yang kuat. Mengikuti Sunnah secara langsung menghadirkan Rasul Ekrem صلى الله عليه وسلم ke dalam ingatan. Dari peringatan itu, ingatan tersebut berubah menjadi ingatan akan kehadiran Ilahi. Bahkan pada muamalah yang paling kecil, bahkan pada adab makan, minum, dan tidur, pada saat seseorang mengindahkan Sunnah yang mulia, maka muamalah biasa dan amal fitri itu menjadi ibadah yang berpahala dan gerak yang syar'i. Karena dengan gerak biasa itu ia memikirkan ittiba'-nya kepada Rasul Ekrem صلى الله عليه وسلم, membayangkan bahwa itu adalah salah satu adab syariat, dan teringat bahwa pemilik syariat itu adalah beliau. Dari situ kalbunya menghadap kepada Allah, Sang Pembuat Syariat yang hakiki, lalu meraih semacam kehadiran dan ibadah.

Nah, berdasarkan rahasia inilah, orang yang menjadikan ittiba' pada Sunnah yang mulia sebagai kebiasaannya, mengubah kebiasaan-kebiasaannya menjadi ibadah, dan dapat menjadikan seluruh umurnya berbuah lagi berpahala.

NUKTAH KEDUA:

Imam Rabbani Ahmad al-Faruqi (r.a.) berkata: “Tatkala aku menempuh tingkatan-tingkatan dalam perjalanan ruhani, di antara tingkatan para wali aku melihat bahwa yang paling cemerlang, paling megah, paling lembut, dan paling aman adalah mereka yang menjadikan ittiba' pada Sunnah yang mulia sebagai asas tarekat. Bahkan para wali awam dari tingkatan itu tampak lebih megah daripada para wali khusus dari tingkatan yang lain.” Ya, sang pembaru milenium kedua, Imam Rabbani (r.a.), berkata benar. Orang yang menjadikan Sunnah yang mulia sebagai asas, berada di bawah naungan Kekasih Allah (Habibullah) dan menjadi tempat tertuju maqam kecintaan.

NUKTAH KETIGA:

Said yang fakir ini, pada suatu masa tatkala berupaya keluar dari “Said Lama”, karena ketiadaan pembimbing dan karena kesombongan nafsu amarah, akal dan kalbuku terguling-guling di tengah suatu badai maknawi yang teramat dahsyat, di dalam hakikat-hakikat. Kadang dari Tsurayya ke tanah, kadang dari tanah ke Tsurayya, mereka terombang-ambing dalam suatu jatuh dan naik.

Nah, pada saat itu aku menyaksikan bahwa: persoalan-persoalan Sunnah yang mulia, bahkan adab-adabnya yang kecil, kulihat laksana kompas berpetunjuk kiblat yang menunjukkan arah gerak pada kapal-kapal — bagai tombol-tombol di tengah jalan-jalan yang tak terhingga, penuh bahaya, lagi gelap. Dan tatkala pada perjalanan ruhani itu aku melihat diriku dalam keadaan memikul beban yang teramat berat di bawah banyak tekanan, setiap kali aku mengikuti persoalan-persoalan Sunnah yang mulia yang bersentuhan dengan keadaan itu, aku merasakan suatu keringanan seakan seluruh bebanku terangkat. Dengan suatu kepasrahan aku terselamatkan dari keraguan dan was-was, yakni dari kegelisahan “Apakah gerak seperti ini benar, apakah maslahat?” Setiap kali aku menarik tanganku, kulihat: tekanan begitu banyak. Ada banyak jalan yang tak diketahui ke mana perginya. Beban berat, dan aku pun teramat lemah. Pandanganku pun pendek, jalan pun gelap. Setiap kali aku berpegang pada Sunnah, kurasakan suatu keadaan seakan jalan menjadi terang, jalan yang selamat tampak, beban meringan, dan tekanan terangkat. Nah, pada saat-saat itulah aku membenarkan hukum Imam Rabbani dengan penyaksian langsung.

NUKTAH KEEMPAT:

Suatu ketika, dari mengikat diri dengan kematian (râbitah maut), dari pembenaran akan ketetapan اَلْمَوْتُ حَقٌّ, dan dari suatu keadaan ruhani yang datang dari kelenyapan dan kefanaan alam, aku melihat diriku di dalam suatu alam yang menakjubkan. Kulihat bahwa: aku adalah sebuah jenazah, aku berdiri di kepala tiga jenazah besar yang penting.

Yang pertama:

Aku berkedudukan sebagai sebuah batu nisan di kepala jenazah maknawi dari keseluruhan makhluk hidup yang berkaitan dengan kehidupanku dan telah masuk ke kubur masa lampau.

Yang kedua:

Aku adalah sebuah titik yang akan cepat terhapus dan seekor semut yang akan cepat mati di wajah abad ini — abad yang menjadi batu nisan di kepala jenazah agung, yaitu keseluruhan beragam makhluk hidup yang berkaitan dengan kehidupan umat manusia, yang dikuburkan di kubur masa lampau di pekuburan bola bumi.

Yang ketiga:

Karena kematian alam ini pada saat kiamat pasti terjadi, maka dalam pandanganku ia berkedudukan sebagai telah terjadi. Bersamaan dengan melihat diriku dalam kengerian akibat sekarat jenazah agung itu dan dalam kebingungan akibat wafatnya, kematianku yang pasti terjadi di masa depan pun tampak seakan terjadi saat itu juga; dan dengan rahasia فَاِنْ تَوَلَّوْا dan seterusnya: seluruh makhluk, seluruh yang dicintai, dengan wafatku memalingkan punggung mereka dariku, meninggalkanku, dan membiarkanku sendiri. Ruhku digiring ke masa depan di sisi keabadian yang mengambil rupa sebuah lautan tak terhingga. Mau tak mau aku harus terjun ke lautan itu.

Nah, tatkala berada dalam keadaan yang teramat menakjubkan lagi teramat memilukan itu, dengan suatu pertolongan yang datang dari iman dan Al-Qur'an, ayat فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِىَ اللّٰهُ لآَ اِلٰهَ اِلاَّ هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظ۪يمِ datang menolongku dan berkedudukan sebagai sebuah bahtera yang teramat aman lagi selamat. Ruh, dengan kesempurnaan keamanan dan kegembiraan, masuk ke dalam ayat itu. Ya, aku memahami bahwa suatu makna isyari selain makna sarih ayat itu menghiburku, sehingga aku menemukan ketenangan dan ia memberikan ketentraman. Ya, sebagaimana makna sarihnya berkata kepada Rasul Ekrem صلى الله عليه وسلم: “Jika ahli kesesatan memalingkan punggung, berpaling dari syariat dan sunnahmu, serta tidak mendengarkan Al-Qur'an, janganlah bersedih! Dan katakanlah: Allah cukup bagiku. Kepada-Nya aku bertawakal. Dia akan mendatangkan sebagai ganti mereka orang-orang yang akan mengikuti. Singgasana kekuasaan-Nya meliputi segala sesuatu. Tiada pemberontak yang dapat lari dari batas-Nya, dan tiada pemohon pertolongan yang tetap tanpa pertolongan!” — demikian pula dengan makna isyarinya ia berkata: Wahai manusia, dan wahai pemimpin serta pembimbing manusia! Jika seluruh makhluk meninggalkanmu lalu pergi menuju ketiadaan di jalan kefanaan, jika para makhluk hidup berpisah darimu lalu berlari di jalan kematian, jika manusia meninggalkanmu lalu masuk ke pekuburan, jika ahli kelalaian dan kesesatan tak mendengarkanmu lalu jatuh ke dalam kegelapan, janganlah bersedih! Katakanlah: Allah cukup bagiku. Karena Dia ada, maka segala sesuatu ada. Dan dalam keadaan itu, mereka yang pergi tidaklah pergi menuju ketiadaan. Mereka pergi ke negeri-Nya yang lain. Dan sebagai ganti mereka, Sang Pemilik Arasy Agung mengirim yang lain dari bala tentara-Nya yang tak terhingga. Dan mereka yang masuk ke pekuburan tidaklah musnah, mereka pergi ke alam lain. Sebagai ganti mereka, Dia mengirim para petugas lain. Dan sebagai ganti mereka yang jatuh ke dalam kesesatan, Dia dapat mengirim hamba-hamba-Nya yang taat yang akan menempuh jalan kebenaran. Karena demikian, maka Dia adalah pengganti bagi segala sesuatu. Seluruh benda tidak dapat menjadi pengganti bagi satu tatapan-Nya! — demikian ia berkata.

Nah, melalui makna isyari inilah; tiga jenazah dahsyat yang membuatku ngeri itu mengambil rupa yang lain. Yakni: ia adalah suatu perjalanan penuh hikmah dalam pengaturan dan rububiyah suatu Zat Yang Mahaagung — Yang Maha Bijaksana, Maha Penyayang, Mahaadil, sekaligus Mahakuasa — di dalam hikmah dan rahmat-Nya; suatu pengembaraan penuh ibrah, suatu perjalanan penuh tugas; suatu perjalanan dan kepergian, suatu pembebastugasan dan penugasan — sehingga demikianlah alam terombang-ambing, pergi, dan datang!..

NUKTAH KELIMA:

Ayat agung قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُون۪ى يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ mengumumkan dengan cara yang teramat pasti betapa penting dan perlunya ittiba' pada Sunnah. Ya, ayat mulia ini, di antara silogisme-silogisme logika, adalah silogisme yang paling kuat lagi pasti dari jenis silogisme istisna'i (pengecualian). Yakni demikian: sebagaimana dalam logika sebagai contoh silogisme istisna'i dikatakan: “Jika matahari terbit, akan menjadi siang.” Untuk hasil positif dikatakan: “Matahari telah terbit, maka menghasilkan: sekarang adalah siang.” Untuk hasil negatif dikatakan: “Tidak ada siang, maka menghasilkan: matahari belum terbit.” Secara logika, kedua hasil positif dan negatif ini adalah pasti. Persis demikian pula: ayat mulia ini berkata: “Jika kalian memiliki cinta kepada Allah, maka Kekasih Allah akan diikuti. Jika tidak diikuti, maka menghasilkan: kalian tidak memiliki cinta kepada Allah.” Jika ada cinta kepada Allah, maka menghasilkan ittiba' pada Sunnah yang mulia Kekasih Allah.

Ya, orang yang beriman kepada Allah tentu akan menaati-Nya. Dan di antara jalan-jalan ketaatan, yang paling diterima, paling lurus, dan paling singkat, tanpa ragu, adalah jalan yang ditunjukkan dan ditempuh oleh Kekasih Allah. Ya, Zat Yang Mahamulia lagi Maha Indah, yang memenuhi alam ini dengan sedemikian banyak nikmat, sungguh pasti lagi jelas menuntut syukur dari para makhluk berkesadaran atas nikmat-nikmat itu. Dan Zat Yang Maha Bijaksana lagi Mahaagung, yang menghiasi alam ini dengan sedemikian banyak mukjizat seni, sungguh secara badihi akan menjadikan salah satu yang paling istimewa di antara makhluk berkesadaran sebagai lawan bicara, penerjemah, penyampai kepada hamba-hamba-Nya, dan imam bagi diri-Nya. Dan Zat Yang Maha Indah lagi Mahasempurna, yang menjadikan alam ini tempat tertuju manifestasi keindahan dan kesempurnaan-Nya yang tak terhitung, sungguh secara badihi akan memberikan keadaan ubudiyah yang paling sempurna kepada suatu zat yang menjadi ukuran dan sandaran paling lengkap lagi paling sempurna bagi keindahan, kesempurnaan, nama-nama, dan seni-Nya yang Dia cintai dan ingin Dia tampakkan; lalu menjadikan keadaan zat itu sebagai teladan bagi yang lain dan mendorong setiap orang untuk mengikutinya, agar keadaan yang indah itu tampak pula pada yang lain.

Kesimpulannya: cinta kepada Allah mengharuskan dan menghasilkan ittiba' pada Sunnah yang mulia. Alangkah berbahagia orang yang bagiannya dari ittiba' pada Sunnah yang mulia itu lebih banyak. Dan celakalah orang yang tidak menghargai Sunnah yang mulia lalu masuk ke dalam bidah.

NUKTAH KEENAM:

Rasul Ekrem صلى الله عليه وسلم bersabda: كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ Yakni, dengan rahasia اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ د۪ينَكُمْ: setelah kaidah-kaidah Syariat yang cemerlang dan prinsip-prinsip Sunnah yang mulia mencapai kesempurnaannya, maka mengada-adakan bidah dengan penemuan-penemuan baru — yang menyiratkan rasa tidak suka terhadap prinsip-prinsip itu, atau — hâsyâ wa kallâ — menganggapnya kurang — adalah kesesatan, adalah api.

Sunnah yang mulia memiliki tingkatan-tingkatan. Sebagian bersifat wajib, tak boleh ditinggalkan. Bagian itu telah dijelaskan secara terperinci dalam Syariat yang cemerlang. Ia adalah muhkamat, tak berubah dari sisi mana pun. Sebagian lagi termasuk jenis nawafil (sunnah). Bagian nawafil pun terbagi dua. Satu bagian adalah bagian-bagian Sunnah yang mulia yang mengikuti ibadah. Itu pun telah dijelaskan dalam kitab-kitab syariat. Mengubahnya adalah bidah. Bagian lainnya diistilahkan “adab”, yang disebutkan dalam kitab-kitab Sirah yang mulia. Menyelisihinya tidak disebut bidah. Namun ia adalah semacam penyelisihan terhadap adab kenabian dan tidak mengambil manfaat dari cahayanya serta dari adab yang hakiki itu. Bagian ini adalah mengikuti gerak-gerik Rasul Ekrem صلى الله عليه وسلم yang diketahui secara mutawatir dalam adat, kebiasaan, dan muamalah fitri. Misalnya: ada banyak Sunnah yang mulia yang menunjukkan adab berbicara, menjelaskan prinsip-prinsip adab keadaan seperti makan, minum, dan tidur, serta yang berkaitan dengan pergaulan. Sunnah jenis ini diistilahkan “adab”. Namun orang yang mengikuti adab itu mengubah kebiasaannya menjadi ibadah, dan memperoleh suatu limpahan penting dari adab itu. Mengindahkan satu adab yang paling kecil pun menghadirkan Rasul Ekrem صلى الله عليه وسلم ke ingatan, memberikan suatu cahaya kepada kalbu.

Yang terpenting di antara Sunnah yang mulia adalah Sunnah-Sunnah yang menjadi tanda-tanda Islam dan berkaitan dengan syiar. Syiar adalah semacam ubudiyah yang berkaitan dengan masyarakat, semacam hak umum. Sebagaimana dengan seseorang menunaikannya seluruh masyarakat mengambil manfaat, demikian pula dengan ditinggalkannya seluruh jamaah menjadi bertanggung jawab.

Ke dalam syiar jenis ini tidak dapat masuk riya, dan ia diumumkan. Meskipun termasuk jenis nafilah, ia lebih penting daripada fardu-fardu pribadi.

NUKTAH KETUJUH:

Sunnah yang mulia adalah adab. Tiada satu persoalannya pun yang di baliknya tidak terdapat suatu cahaya, suatu adab! Rasul Ekrem صلى الله عليه وسلم bersabda: اَدَّبَن۪ى رَبّ۪ى فَاَحْسَنَ تَاْدِيب۪ى Yakni: “Rabbku telah menganugerahkan adab kepadaku dalam bentuk yang indah, dan mendidikku dengan adab.” Ya, orang yang memperhatikan sirah kenabian dan mengetahui Sunnah yang mulia, pasti memahami bahwa: Allah telah menghimpun beragam adab pada Kekasih-Nya. Orang yang meninggalkan Sunnah beliau yang mulia, ia meninggalkan adab. Ia menjadi perwujudan kaidah ب۪ى اَدَبْ مَحْرُومْ بَاشَدْ اَزْ لُطْفِ رَبْ, dan jatuh ke dalam ketiadaan adab yang penuh kerugian.

Pertanyaan:

Bagaimana adab di hadapan Allâmul-Ghuyûb (Yang Maha Mengetahui segala yang gaib), yang mengetahui dan melihat segala sesuatu, dan tiada sesuatu pun tersembunyi dari-Nya? Keadaan-keadaan yang menjadi sebab rasa malu tidak dapat tersembunyi dari-Nya. Salah satu jenis adab adalah menutup diri, yaitu menutupi keadaan-keadaan yang menimbulkan rasa jijik. Padahal di hadapan Allâmul-Ghuyûb tidak ada penutupan diri?

Jawaban:

Pertama: Sebagaimana Sang Pencipta Yang Mahaagung (Shâni' Dzul-Jalâl) dengan kesempurnaan perhatian ingin memperlihatkan seni-Nya dengan indah, menyembunyikan hal-hal yang menjijikkan di balik tabir, dan menarik perhatian kepada nikmat-nikmat-Nya dengan cara memperindah nikmat-nikmat itu — demikian pula Dia ingin memperlihatkan makhluk dan hamba-hamba-Nya indah di mata para makhluk berkesadaran yang lain. Tampaknya mereka dalam keadaan buruk menjadi semacam pembangkangan dan penyelisihan adab terhadap nama-nama-Nya seperti Jamîl (Maha Indah), Muzayyin (Maha Menghias), Latîf (Maha Lembut), dan Hakîm (Maha Bijaksana).

Nah, adab dalam Sunnah yang mulia adalah mengambil sikap adab yang murni di dalam batas-batas nama-nama Sang Pencipta Yang Mahaagung itu.

Kedua: Sebagaimana seorang tabib, dari sisi kedokteran, memandang anggota tubuh seorang yang bukan mahram yang paling privat, dan pada saat darurat hal itu diperlihatkan kepadanya — tidak disebut menyelisihi adab. Bahkan dikatakan: adab kedokteran memang menuntut demikian. Namun tabib itu, dengan gelar kelelakian, atau dengan nama penceramah, atau dengan sifat guru, tidak boleh memandang orang-orang yang bukan mahram itu. Adab tak dapat memberi fatwa untuk memperlihatkannya kepadanya. Dan memperlihatkannya kepadanya dari sisi itu adalah ketiadaan rasa malu. Demikian pula Sang Pencipta Yang Mahaagung memiliki banyak nama. Setiap nama memiliki manifestasinya sendiri. Misalnya: sebagaimana nama “Ghaffâr” menuntut adanya dosa dan nama “Sattâr” menuntut adanya kekurangan, demikian pula nama “Jamîl” tidak ingin melihat keburukan. Nama-nama keindahan dan kesempurnaan seperti “Latîf, Karîm, Hakîm, Rahîm” menuntut agar makhluk berada dalam rupa yang indah dan dalam keadaan terbaik dari keadaan yang mungkin. Dan nama-nama keindahan dan kesempurnaan itu ingin memperlihatkan keindahan mereka di mata malaikat, makhluk ruhani, jin, dan manusia melalui keadaan-keadaan indah makhluk serta keindahan adab mereka.

Nah, adab dalam Sunnah yang mulia adalah isyarat, prinsip, dan contoh dari adab yang luhur ini.

NUKTAH KEDELAPAN:

Ayat لَقَدْ جَٓاءَكُمْ رَسُولٌ dan seterusnya, yang sebelum فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِىَ اللّٰهُ, setelah memperlihatkan kesempurnaan kasih dan puncak belas Rasul Ekrem صلى الله عليه وسلم kepada umatnya, dengan ayat فَاِنْ تَوَلَّوْا ini berkata: “Wahai manusia! Wahai kaum muslimin! Ketahuilah, betapa besar ketiadaan nurani dan ketiadaan akal — jika kalian memalingkan wajah dari sunnah dan hukum-hukum yang disampaikan oleh seorang zat penuh kasih yang membimbing kalian dengan kasih sayang yang tak terhingga, mencurahkan segenap kekuatannya demi manfaat kalian, dan mengobati serta membalut luka-luka maknawi kalian dengan hukum-hukum dan sunnahnya yang mulia yang ia bawa dengan kesempurnaan kasih — hingga ke derajat mengingkari kasihnya yang badihi dan menuduh belasnya yang terlihat mata! Dan wahai Rasul yang penuh kasih, wahai Nabi yang penuh belas! Jika mereka tidak mengenali kasihmu yang agung dan belasmu yang besar ini, lalu karena ketiadaan akal mereka memalingkan punggung darimu dan tidak mendengarkan, janganlah bersedih! Zat Yang Mahaagung — yang bala tentara langit dan bumi berada di bawah perintah-Nya, yang memerintah dengan kekuasaan rububiyah di bawah Arasy Agung yang meliputi segala sesuatu — cukup bagimu. Dia akan menghimpun golongan-golongan yang taat hakiki di sekelilingmu, membuat mereka mendengarkanmu, dan membuat mereka menerima hukum-hukummu!”

Ya, dalam syariat Muhammadiah dan Sunnah Ahmadiah tiada satu persoalan pun yang tidak memiliki beragam hikmah. Si fakir ini, bersama seluruh kekurangan dan ketidakberdayaanku, mendakwakan hal ini dan siap membuktikan dakwaan ini. Dan tujuh puluh delapan puluh Risalah Nur yang ditulis sampai sekarang telah berkedudukan sebagai tujuh puluh delapan puluh saksi yang jujur atas betapa penuh hikmah dan hakikatnya persoalan-persoalan Sunnah Ahmadiah dan Syariat Muhammadiah صلى الله عليه وسلم. Seandainya ada kemampuan untuk menulis mengenai topik ini, bukan tujuh puluh, bahkan tujuh ribu risalah pun takkan menghabiskan hikmah-hikmah itu. Dan pada diriku sendiri, dengan penyaksian dan cita rasa, aku memiliki barangkali seribu pengalaman bahwa: persoalan-persoalan syariat dan prinsip-prinsip Sunnah yang mulia adalah obat yang teramat bermanfaat bagi penyakit-penyakit ruhani, akli, dan kalbi, terutama penyakit-penyakit sosial; aku mengumumkan bahwa aku sendiri merasakan dengan penyaksian bahwa tempat mereka tak dapat digantikan oleh persoalan-persoalan filosofis dan hikmi lainnya, dan bahwa aku sedikit-banyak telah membuat orang lain pun merasakannya dalam risalah-risalah. Orang yang ragu dalam dakwaanku ini, hendaklah merujuk dan melihat bagian-bagian Risalah Nur.

Nah, kiaskanlah betapa menguntungkan, betapa membahagiakan bagi kehidupan abadi, dan betapa bermanfaat bagi kehidupan dunia, berupaya mengikuti sunnah yang mulia dari zat yang demikian sedapat mungkin.

NUKTAH KESEMBILAN:

Mengikuti setiap jenis Sunnah yang mulia secara sempurna dan nyata hanya dimudahkan bagi yang paling khusus dari kalangan khusus. Meskipun tidak secara nyata, dengan niat dan sengaja, menjadi penuntutnya secara berpihak dan berkomitmen, dapat dilakukan oleh setiap orang. Terhadap bagian yang fardu dan wajib memang ada kewajiban ittiba'. Dan pada peninggalan Sunnah yang mulia yang bersifat mustahab dalam ubudiyah, meskipun tidak ada dosa, ada kehilangan pahala yang besar. Adapun mengubahnya, ada kesalahan besar. Adapun Sunnah yang mulia dalam adat dan muamalah, selama diikuti, adat itu menjadi ibadah. Jika tidak diikuti, tidak ada teguran. Namun manfaat dari cahaya adab kehidupan Kekasih Allah berkurang. Penemuan-penemuan baru dalam hukum ubudiyah adalah bidah. Adapun bidah, karena bertentangan dengan rahasia اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ د۪ينَكُمْ, adalah tertolak. Namun, jika ia termasuk jenis wirid, zikir, dan corak (meşrep) dalam tarekat, serta dengan syarat asal-asalnya diambil dari Kitab dan Sunnah, meskipun dalam bentuk dan rupa yang berbeda-beda, dan dengan syarat tidak menyelisihi dan mengubah pokok dan asas Sunnah yang mulia yang telah tetap, maka ia bukanlah bidah. Akan tetapi sebagian ahli ilmu memasukkan sebagian darinya ke dalam bidah, namun memberinya nama “bidah hasanah”. Imam Rabbani, Pembaru Milenium Kedua (r.a.), berkata: “Aku melihat dalam perjalanan dan penempuhan ruhani bahwa: kalimat-kalimat yang diriwayatkan dari Rasul Ekrem صلى الله عليه وسلم itu bercahaya, berkilau dengan sinar Sunnah yang mulia. Tatkala aku melihat wirid dan keadaan yang cemerlang lagi kuat yang tidak diriwayatkan darinya, di atasnya tidak ada cahaya itu. Yang paling cemerlang dari bagian ini pun tidak menyamai yang paling sedikit dari yang pertama. Dari situ aku memahami bahwa: sinar Sunnah yang mulia adalah sebuah iksir. Dan Sunnah itu cukup bagi mereka yang mendambakan cahaya; tak perlu mencari cahaya di luar.”

Nah, hukum dari seorang zat yang merupakan pahlawan hakikat dan syariat ini menunjukkan bahwa: Sunnah yang mulia adalah batu asas kebahagiaan dua negeri, serta tambang dan sumber kesempurnaan. اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا اِتِّبَاعَ السُّنَّةِ السَّنِيَّةِ رَبَّنَٓا اٰمَنَّا بِمَٓا اَنْزَلْتَ وَاتَّبَعْنَا الرَّسُولَ فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِد۪ينَ

NUKTAH KESEPULUH:

Pada ayat قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُون۪ى يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ terdapat suatu keringkasan yang mukjizat. Karena banyak kalimat termuat di dalam ketiga kalimat ini. Yakni demikian: Ayat ini berkata: Jika kalian memiliki iman kepada Allah (jalla jalâluhu), tentu kalian akan mencintai Allah. Karena kalian mencintai Allah, kalian akan melakukan cara yang Allah cintai. Dan cara yang Dia cintai itu adalah kalian harus menyerupai zat yang Allah cintai. Menyerupainya adalah mengikutinya. Kapan saja kalian mengikutinya, Allah pun akan mencintai kalian. Memang kalian mencintai Allah, agar Allah pun mencintai kalian.

Nah, seluruh kalimat ini hanyalah makna ringkas dan singkat dari ayat itu. Artinya, tujuan tertinggi lagi luhur bagi manusia adalah menjadi tempat tertuju cinta Allah. Ayat ini dengan nasnya menunjukkan bahwa: jalan menuju tujuan tertinggi itu adalah ittiba' kepada Kekasih Allah dan meneladani Sunnahnya yang mulia. Jika pada maqam ini “Tiga Poin” dibuktikan, maka hakikat yang disebutkan akan tampak sepenuhnya.