Bagian ketiga
Lem'alar · hlm. 41
adalah demikian: tatkala kelesuan menimpa orang-orang yang bekerja dengan ikhlas dalam khidmah, mereka menerima sebuah tamparan kasih sayang, lalu sadar dan kembali masuk ke dalam khidmah itu. Peristiwa bagian ini lebih dari seratus. Hanya dari dua puluh peristiwa, tiga belas-empat belas menerima tamparan kasih sayang, dan enam-tujuh menerima tamparan hardikan.
PERTAMA:
Yaitu Said yang tak berdaya ini. Setiap kali aku menunjukkan kelesuan dalam khidmah, berkata “apa peduliku” lalu sibuk dengan urusan pribadi nafsuku, aku menerima tamparan. Dan aku pun berkeyakinan bahwa aku menerima tamparan karena kelalaianku. Karena maksud apa pun yang mendorongku pada kelengahan, dengan kebalikannya aku menerima tamparan. Tamparan kasih sayang yang diterima sahabat-sahabatku yang ikhlas pun, setelah kuperhatikan berulang kali, karena maksud apa mereka lalai — seperti diriku — dengan kebalikannya mereka menerima tamparan kasih sayang; maka kami pun berkeyakinan bahwa: peristiwa-peristiwa itu termasuk karâmah khidmah Al-Qur'an.
Misalnya: Said yang tak berdaya ini, selama aku sibuk dengan pelajaran hakikat-hakikat Al-Qur'an di Van, pada masa peristiwa Syaikh Said, pemerintah yang penuh curiga sama sekali tidak mengusikku dan tidak mampu mengusikku. Tatkala aku berkata “apa peduliku”, memikirkan nafsuku sendiri, lalu menyendiri di suatu tempat seperti gua reruntuhan di Gunung Erek untuk menyelamatkan akhiratku — pada saat itu tanpa sebab aku ditangkap dan dibuang. Aku dibawa ke Burdur. Di sana, selama aku berada dalam khidmah Al-Qur'an — padahal saat itu para tahanan buangan sangat diawasi, mereka diwajibkan melapor diri setiap malam — aku dan murid-muridku yang ikhlas menjadi pengecualian. Aku sama sekali tidak pernah pergi melapor diri, aku tidak mengakui pemerintah. Gubernur di sana mengadu kepada Fevzi Pasya yang datang ke sana. Fevzi Pasya berkata: “Jangan usik dia, hormatilah dia!” Yang membuatnya mengucapkan kata itu adalah kesucian khidmah Al-Qur'an. Setiap kali pikiran untuk menyelamatkan diriku dan hanya memikirkan akhiratku menguasaiku, kelesuan sementara menimpa khidmah Al-Qur'an; dengan kebalikan maksudku aku menerima tamparan. Yakni, aku dikirim dari satu tempat pembuangan ke tempat pembuangan lain (ke Isparta). Di Isparta aku kembali memimpin khidmah. Setelah dua puluh hari berlalu, dengan peringatan sebagian orang yang penakut mereka berkata: “Barangkali keadaan ini takkan disukai pemerintah; jika engkau sedikit berhati-hati, akan lebih baik.” Maka di dalam diriku menguat kembali ingatan untuk hanya memikirkan diriku sendiri. “Aduh, jangan sampai orang-orang berdatangan,” kataku. Maka dari tempat pembuangan itu pun, sebagai pembuangan ketiga, aku dipindahkan ke Barla. Di Barla, setiap kali kelesuan menimpaku, setiap kali ingatan untuk hanya memikirkan diriku menguat, salah satu ular dan munafik dari ahli dunia ini pun menggangguku. Dalam delapan tahun ini, delapan puluh peristiwa yang menimpa diriku sendiri dapat kukisahkan. Agar tidak membosankan, aku persingkat.
Wahai saudara-saudaraku! Aku telah menceritakan tamparan kasih sayang yang menimpaku. Jika kalian mengizinkan dan merelakan, aku pun akan menceritakan tamparan kasih sayang yang menimpa kalian. Janganlah tersinggung. Jika ada yang tersinggung, aku takkan menyebutkan namanya secara jelas.
KEDUA:
Yaitu Abdülmecid, saudara kandungku serta muridku yang pertama, tinggi, lagi penuh pengorbanan. Ia memiliki sebuah rumah yang indah di Van. Keadaannya mapan, lagi ia seorang guru. Terhadap orang-orang yang berupaya — bertentangan dengan keinginanku — agar aku pergi ke daerah perbatasan, suatu tempat yang lebih menjanjikan bagi khidmah Al-Qur'an, ia tidak ikut serta dan tidak memberikan suara, karena menurut ijtihadnya seolah-olah demi kemaslahatanku. Seolah-olah, seandainya aku pergi ke perbatasan, khidmah Al-Qur'an takkan murni tanpa politik, dan mereka pun akan mengusirnya dari Van — demikian pikirnya, lalu ia tidak ikut serta. Dengan kebalikan maksudnya ia menerima sebuah tamparan kasih sayang. Ia berpisah dari Van, dari rumahnya yang indah, dan dari kampung halamannya; ia terpaksa pergi ke Ergani.
KETIGA:
Hulusi Bey, seorang anggota yang teramat penting dari khidmah Al-Qur'an, tatkala pergi dari Eğirdir ke kampung halamannya, karena tersedia sebab-sebab yang akan membuatnya sepenuhnya mengecap dan menjamin kebahagiaan duniawi, maka tersiapkanlah sebab-sebab yang menampakkan kelesuan dalam khidmah Al-Qur'an yang pada suatu derajat murni bersifat ukhrawi. Karena ia berjumpa kembali dengan ayah dan ibunya yang telah lama tidak ia lihat, melihat kembali tanah airnya, dan karena ia pulang dalam keadaan terhormat lagi berpangkat, maka dunia tersenyum kepadanya, tampak indah. Padahal, bagi orang yang berada dalam khidmah Al-Qur'an: entah dunia harus berkecil hati kepadanya, atau ia harus berkecil hati kepada dunia — agar ia berada dalam khidmah Al-Qur'an dengan ikhlas dan sungguh-sungguh.
Nah, kalbu Hulusi memang tak tergoyahkan. Namun karena keadaan ini mendorongnya pada kelesuan, ia menerima tamparan kasih sayang. Selama satu-dua tahun penuh, sebagian munafik mengganggunya. Mereka pun melenyapkan kelezatan dunia darinya. Mereka membuat dunia berkecil hati kepadanya, dan ia berkecil hati kepada dunia. Pada saat itu ia berpegang sepenuhnya pada kesungguhan dalam tugas maknawinya.
KEEMPAT:
Yaitu Muhajir Hafiz Ahmad. Ia sendiri menuturkan: Ya, aku mengakui bahwa: dalam khidmah Al-Qur'an, dari sudut pandang akhiratku, aku telah keliru dalam ijtihadku. Aku memiliki suatu keinginan yang akan menimbulkan kelesuan pada khidmah. Aku pun menerima sebuah tamparan yang penuh kasih, namun keras lagi menjadi kafarat. Yakni demikian: karena Ustadku tidak mendukung bidah-bidah baru {Yakni: bidah-bidah yang bertentangan dengan syiar-syiar keislaman, seperti azan berbahasa Turki.} — masjidku bersebelahan dengan tempatnya; bulan-bulan mulia datang; jika kutinggalkan masjidku, aku kehilangan banyak pahala, dan penduduk kampung pun akan terbiasa meninggalkan salat; jika tidak kulakukan cara baru itu, aku akan dilarang. Nah, menurut ijtihad inilah — aku menginginkan agar Ustadku, yang kucintai sebesar ruhku, untuk sementara pindah ke kampung lain. Aku tidak menyadari bahwa, jika beliau berpindah tempat, pergi ke daerah lain, khidmah Al-Qur'an akan tertimpa kelesuan sementara. Tepat pada saat-saat itu aku menerima tamparan. Aku menerima tamparan yang penuh kasih, namun demikian dahsyat, sehingga sudah tiga bulan akalku belum kembali ke tempatnya. Namun — segala puji bagi Allah — dengan pemberitaan yang pasti dari Ustadku, telah diingatkan kepadanya bahwa: kita dapat berharap dari rahmat Ilahi bahwa setiap menit dari musibah itu berkedudukan sebagai ibadah sehari. Karena kesalahan itu bukan berdasarkan suatu maksud buruk. Keinginan itu datang murni dari sisi memikirkan akhiratku.
KELIMA:
Yaitu Hakki Efendi. Karena ia sekarang tidak berada di sini, sebagaimana aku mewakili Hulusi, untuknya pun aku berkata sebagai wakil bahwa: tatkala Hakki Efendi menunaikan tugas kemuridan dengan sebaik-baiknya, datanglah seorang kaymakam (bupati) yang tak berakhlak. Demi tidak mendatangkan bahaya baik kepada Ustadnya maupun kepada dirinya, ia menyembunyikan tulisan-tulisannya. Untuk sementara ia meninggalkan khidmah Nur. Seketika, dalam makna sebuah tamparan kasih sayang, sebuah gugatan yang mewajibkannya membayar seribu lira menimpa dirinya. Selama satu tahun ia berada di bawah ancaman itu. Sampai ia datang, kami bertemu di sini, dan sekembalinya ia masuk ke dalam tugas kemuridan khidmah Al-Qur'an. Hukum tamparan kasih sayang itu pun terangkat, ia dibebaskan. Kemudian, dalam hal menulis Al-Qur'an dengan cara baru {Catatan kaki: Yakni dalam rupa yang memperlihatkan mukjizat tawafuk.}, dibukalah sebuah tugas bagi para murid. Hakki Efendi pun diberi bagian. Sungguh ia menunaikan bagiannya. Ia menulis satu juz dengan indah, namun karena tuntutan kesulitan penghidupan ia merasa terpaksa lalu berupaya menjadi pengacara secara diam-diam. Seketika ia menerima sebuah tamparan kasih sayang lagi. Jari yang memegang penanya patah untuk sementara. Dengan lisan makna diingatkan bahwa: dengan jari ini tidak boleh sekaligus menjadi pengacara dan menulis Al-Qur'an. Karena kami tidak mengetahui usahanya menjadi pengacara, kami heran akan jarinya. Kemudian dipahami bahwa: khidmah Al-Qur'an yang suci lagi murni, yang jari-jarinya teramat bersih lagi khas, tidak ingin dicampuri urusan lain. Bagaimanapun... Aku menganggap Hulusi Bey seperti diriku sendiri, aku berbicara sebagai penggantinya. Hakki Efendi pun persis seperti dia. Jika ia tidak rida aku menjadi wakilnya, biarlah ia menuliskan sendiri tamparannya.
KEENAM:
Yaitu Bekir Efendi. Karena ia sekarang tidak hadir, sebagaimana aku mewakili saudaraku Abdülmecid, dengan bersandar pada kepercayaan dan kesetiaannya yang kupercaya serta pada pengetahuan semua sahabat khususku seperti Şamlı Hafiz dan Süleyman Efendi, aku berkata bahwa: Bekir Efendi mencetak Kelimat Kesepuluh. Untuk mencetak Kelimat Kedua Puluh Lima tentang kemukjizatan Al-Qur'an sebelum keluarnya huruf baru, kami mengirimkannya kepadanya. Kami menulis bahwa sebagaimana kami mengirim biaya percetakan Kelimat Kesepuluh, kami pun akan mengirim biaya yang ini. Bekir Efendi, dengan memikirkan keadaan kefakiranku dan mempertimbangkan bahwa biaya percetakan mencapai sekitar empat ratus banknot, serta karena berpikir “barangkali Hoca takkan rida jika dibayar dari kantongnya sendiri” — nafsunya menipunya. Buku itu tidak dicetak. Terjadilah kerugian penting bagi khidmah Al-Qur'an. Dua bulan kemudian, sembilan ratus lira jatuh ke tangan para pencuri. Ia menerima sebuah tamparan yang penuh kasih namun keras. Insya Allah, sembilan ratus lira yang lenyap itu berpindah menjadi kedudukan sedekah.
KETUJUH:
Yaitu Şamlı Hafiz Tevfik. Ia sendiri berkata: Ya, aku mengakui bahwa: karena tindakanku yang tanpa kusadari dan karena pikiran yang keliru menimbulkan kelesuan pada khidmah Al-Qur'an, aku menerima dua tamparan kasih sayang. Tak ada lagi keraguan padaku bahwa tamparan itu datang dari sisi tersebut.
Yang pertama:
Segala puji bagi Allah, tulisan Arabku pada suatu derajat dianugerahi dalam bentuk yang sesuai untuk Al-Qur'an. Ustadku, yang paling awal menyuruhku menulis tiga juz, lalu membagikannya kepada sahabat-sahabatku yang lain. Kerinduan menulis Al-Qur'an mematahkan keinginanku pada khidmah menyalin dan menyusun risalah-risalah. Dan aku bersikap sombong, berkata bahwa aku akan mengungguli sahabat-sahabat lain yang tidak memiliki tulisan Arab. Bahkan tatkala Ustadku menyampaikan suatu saran mengenai tulisan, aku berkata: “Urusan ini adalah urusanku”; aku berkata dengan sombong: “Aku sudah tahu ini, aku tak butuh belajar.” Nah, atas kesalahanku ini aku menerima sebuah tamparan yang luar biasa dan sama sekali tak terbayangkan. Aku tak mampu menyusul seorang saudaraku (Hüsrev) yang tulisan Arabnya paling sedikit. Kami semua tercengang. Sekarang kami paham bahwa: itu adalah sebuah tamparan.
Yang kedua:
Aku mengakui bahwa: dua keadaanku merusak kesempurnaan ikhlas dan khidmah yang murni demi wajah Allah dalam khidmah Al-Qur'an. Aku menerima sebuah tamparan yang keras. Karena aku di negeri ini berkedudukan sebagai orang asing, aku memang asing. Dan — agar bukan menjadi keluhan — karena aku tidak mematuhi kesederhanaan dan kecukupan (qanaah), yang merupakan salah satu prinsip terpenting Ustadku, aku terpapar keadaan fakir. Karena terpaksa bergaul dengan orang-orang yang egois lagi sombong — semoga Allah mengampuni — aku pun terpaksa berlaku riya dan menjilat dengan dalih kesopanan. Ustadku berkali-kali memperingatkan, mengingatkan, dan menegurku. Sayang, aku tak mampu menyelamatkan diriku. Padahal dari keadaanku yang bertentangan dengan ruh khidmah Al-Qur'an Al-Hakim ini, setan jin dan manusia mengambil keuntungan, sekaligus memberikan suatu kedinginan, suatu kelesuan pada khidmah kami.
Nah, atas kekuranganku ini aku menerima sebuah tamparan yang keras, namun insya Allah penuh kasih. Tak ada lagi keraguan pada kami bahwa tamparan ini datang berdasarkan kekurangan itu. Tamparan itu demikian: selama delapan tahun aku menjadi lawan bicara, penulis draf, sekaligus penyalin bersih bagi Ustadku, namun selama sekitar delapan bulan aku tak dapat mengambil manfaat dari nur-nur itu. Kami heran akan keadaan ini. Aku dan Ustadku pun mencari sebab, “Mengapa hal ini terjadi demikian?” Sekarang kami berkeyakinan pasti bahwa: hakikat-hakikat Al-Qur'an itu adalah nur, adalah cahaya. Ia tidak dapat bersatu dengan kegelapan kepura-puraan, penjilatan, dan perendahan diri.
Karena itu, makna hakikat nur-nur ini seakan menjauh dariku, tampak asing bagiku, dan tetap asing. Aku memohon kepada Allah: semoga setelah ini Allah menganugerahkan kepadaku ikhlas yang layak bagi khidmah itu, dan menyelamatkanku dari kepura-puraan dan riya terhadap ahli dunia. Dengan Ustadku di garis depan, aku memohon doa dari saudara-saudaraku.
Yang penuh kekurangan,
Şamlı Hafiz Tevfik
KEDELAPAN:
Yaitu Seyrani. Tokoh ini adalah muridku yang, seperti Hüsrev, sangat merindukan Nur lagi cakap. Aku meminta pandangan para murid di Isparta mengenai tawafuk, yang merupakan salah satu kunci rahasia Al-Qur'an dan kunci penting ilmu cifir. Selain dia, yang lain ikut serta dengan penuh semangat. Karena tokoh ini berada dalam pikiran lain dan minat lain, selain tidak ikut serta, ia pun ingin memalingkanku dari hakikat yang kuyakini dengan pasti. Ia menulis sepucuk surat yang sungguh menyinggungku. “Aduh,” kataku, “aku telah kehilangan murid ini!” Aku memang ingin menerangi pikirannya. Suatu makna lain pun tercampur. Ia menerima sebuah tamparan kasih sayang. Hampir satu tahun ia menunggu di sebuah tempat pengasingan (yakni di penjara).
KESEMBILAN:
Yaitu Hafiz Zühdü Besar. Tatkala tokoh ini berkedudukan sebagai pengawas di antara para murid Nur di Ağrus, karena memandang tidak cukup kehormatan maknawi para murid yang menjadikan ittiba' pada Sunnah yang mulia dan menjauhi bidah sebagai jalan hidup, dan dengan angan-angan meraih suatu kedudukan di mata ahli dunia, ia mengemban jabatan pengajar suatu bidah penting. Ia melakukan suatu kesalahan yang sepenuhnya bertentangan dengan jalan kami. Ia menerima sebuah tamparan kasih sayang yang teramat dahsyat. Ia terpapar sebuah peristiwa yang memporak-porandakan kehormatan keluarganya. Namun sayang, Hafiz Zühdü Kecil, padahal sama sekali tak layak menerima tamparan, peristiwa menyakitkan itu menyentuhnya pula. Namun barangkali, insya Allah, peristiwa itu berkedudukan sebagai sebuah operasi bedah yang bermanfaat untuk menyelamatkan kalbunya dari dunia dan menyerahkannya sepenuhnya kepada Al-Qur'an.
KESEPULUH:
Yaitu seorang lelaki bernama Hafiz Ahmad (rahimahullâh). Tokoh ini, selama dua-tiga tahun, berada dalam keadaan mendorong penulisan risalah dan mengambil manfaat darinya. Kemudian ahli dunia memanfaatkan salah satu titik lemahnya. Semangat itu ternoda. Ia bersentuhan dengan ahli dunia. Barangkali dengan itu ia berharap tidak menanggung kerugian dari ahli dunia, dapat menyampaikan pengaruhnya kepada mereka, meraih semacam kedudukan, dan memperoleh kemudahan bagi penghidupannya yang sempit. Nah, sebagai imbalan atas kelesuan dan kerugian yang menimpa khidmah Al-Qur'an dengan cara itu, ia menerima dua tamparan. Satu: bersama penghidupannya yang sempit, ditambahkan lagi lima jiwa, sehingga keadaannya yang porak-poranda menjadi semakin berat. Tamparan kedua: tokoh yang peka dalam hal kehormatan dan harga diri, yang bahkan tak mampu menahan kritik dan tentangan seorang saja, tanpa ia sadari beberapa orang licik menjadikannya tabir bagi diri mereka sedemikian rupa sehingga kehormatannya porak-poranda; ia kehilangan sembilan puluh persennya, dan sembilan puluh persen orang berbalik menentangnya. Bagaimanapun... Semoga Allah mengampuni; barangkali, insya Allah, dari sini ia sadar, lalu sebagian kembali ke tugasnya.
KESEBELAS:
Barangkali karena ia tidak rida, maka tidak ditulis...
KEDUA BELAS:
Yaitu Guru Galib (rahimahullâh). Ya, tokoh ini, dengan setia dan penuh penghargaan, banyak berkhidmah dalam penyalinan bersih risalah-risalah, dan tak menunjukkan kelemahan di hadapan kesulitan apa pun. Kebanyakan hari ia datang, mendengarkan dengan penuh semangat, dan menyalin. Kemudian ia menyuruh menuliskan untuk dirinya seluruh Kalimat dan Al-Maktubat dengan upah tiga puluh lira. Maksudnya adalah menyebarkannya di negerinya dan menerangi sesama warganya. Kemudian, sebagai hasil sebagian pemikiran, ia tidak menyebarkan risalah-risalah itu sebagaimana ia bayangkan, melainkan menaruhnya di dalam peti. Seketika, karena sebuah peristiwa yang menyakitkan, ia menanggung kesedihan dan kedukaan selama satu tahun. Sebagai ganti dari beberapa musuh resmi yang akan memusuhinya karena penyebaran risalah, ia justru menemukan banyak musuh yang zalim lagi tak berbelas kasih; ia kehilangan sebagian sahabatnya.
KETIGA BELAS:
Yaitu Hafiz Halid (rahimahullâh). Ia sendiri berkata: “Ya, aku mengakui, tatkala aku dengan hangat berada dalam penyusunan karya-karya yang disebarkan Ustadku dalam khidmah Al-Qur'an, di kampung kami ada sebuah jabatan imam masjid. Dengan niat mengenakan kembali pakaian keilmuanku yang lama, yaitu memakai sorban, untuk sementara aku menimbulkan kelesuan pada khidmah itu dan mundur tanpa kusadari. Dengan kebalikan maksudku aku menerima sebuah tamparan kasih sayang. Padahal aku menjadi imam selama delapan-sembilan bulan, meskipun mufti banyak menjanjikan, secara luar biasa aku tak dapat memakai sorban. Tak ada lagi keraguan pada kami bahwa tamparan kasih sayang ini datang dari kekurangan itu. Aku adalah lawan bicara sekaligus penulis draf bagi Ustadku. Dengan mundurnya aku, beliau mengalami kesulitan dalam penyusunan draf. Bagaimanapun... Sekali lagi syukur bahwa: kami menyadari kekurangan kami, mengetahui betapa sucinya khidmah ini, dan percaya bahwa di belakang kami terdapat seorang Ustad — seperti Syah Gailani — laksana malaikat penjaga.”
Yang paling lemah di antara para hamba,
Hafiz Halid
KEEMPAT BELAS:
Yaitu “tiga tamparan” kecil yang diterima “Tiga Mustafa”.
Yang pertama:
Mustafa Çavuş (rahimahullâh) selama delapan tahun berkhidmah pada masjid kecil khusus kami — bahkan sampai pada tungkunya, minyak lampunya, dan koreknya. Bahkan baru kemudian kami mengetahui bahwa selama delapan tahun ia mengeluarkan minyak lampu dan koreknya dari kantongnya sendiri. Ia tak pernah absen dari jamaah, terutama pada malam-malam Jumat, kecuali bila ada urusan yang teramat mendesak. Kemudian ahli dunia memanfaatkan kejernihan kalbunya lalu berkata: “Mereka akan mengusik sorban Hafiz, sang penulis Kalimat. Dan azan yang tersembunyi hendaklah untuk sementara ditinggalkan. Katakanlah kepada sang penulis agar ia melepas sorbannya sebelum menerima paksaan.” Ia tidak tahu bahwa: menyampaikan perkataan tentang melepas sorban seseorang yang berada dalam khidmah Al-Qur'an teramat berat bagi jiwa-jiwa yang tinggi seperti Mustafa Çavuş. Ia pun menyampaikan perkataan mereka. Malam itu dalam mimpi aku melihat bahwa: Mustafa Çavuş datang ke kamarku dengan kedua tangan kotor, dengan sang kaymakam di belakangnya. Hari kedua aku berkata kepadanya: “Mustafa Çavuş, dengan siapa engkau bertemu hari ini? Aku melihatmu dalam keadaan tangan kotor di belakang kaymakam.” Ia berkata: “Aduh! Kata-kata seperti itu, sang kepala kampung yang menyuruhku, ‘sampaikan kepada sang penulis.’ Aku tidak tahu apa yang ada di baliknya.” Dan pada hari yang sama ia membawa hampir satu okka minyak lampu ke masjid. Hal yang tak pernah terjadi: hari itu pintu tertinggal terbuka, seekor anak kambing masuk ke dalam, seorang lelaki besar datang, untuk mencuci kotoran yang ditinggalkan anak kambing itu di dekat sajadahku, ia menyangka minyak lampu dalam kendi itu air, lalu menaburkan seluruh minyak lampu itu ke seantero masjid dengan dalih membersihkan. Anehnya, ia tidak mencium baunya. Artinya, masjid itu dengan lisan keadaan berkata kepada Mustafa Çavuş: “Minyak lampumu tidak kami perlukan. Karena kesalahan yang engkau perbuat, aku tidak menerima minyak lampumu.” Untuk memberikan isyarat itu, bau tersebut tidak diperdengarkan kepada lelaki itu. Bahkan dalam pekan itu, pada malam Jumat dan pada beberapa salat penting, meskipun ia begitu berupaya, ia tak dapat menyusul jamaah. Kemudian, setelah suatu penyesalan dan istigfar yang sungguh-sungguh, ia menemukan kembali kejernihan aslinya.
Mustafa yang kedua:
Yaitu Mustafa dari Kuleönü, muridku yang berharga, rajin, lagi penting, beserta sahabatnya yang teramat setia lagi penuh pengorbanan, Hafiz Mustafa (rahimahumallâh). Setelah hari raya, aku telah mengirim kabar agar mereka untuk sementara tidak datang, supaya ahli dunia tidak menyusahkan kami dan menimbulkan kelesuan pada khidmah Al-Qur'an. Seandainya pun mereka datang, hendaklah datang satu per satu. Padahal mereka bertiga datang sekaligus pada suatu malam. Sebelum fajar, jika cuaca mendukung, mereka berniat pergi. Dalam suatu keadaan yang tak pernah terjadi, baik Mustafa Çavuş, Süleyman Efendi, aku, maupun mereka, tak seorang pun memikirkan suatu tindakan pencegahan yang nyata; hal itu dibuat terlupa oleh kami. Masing-masing menyerahkannya kepada yang lain lalu bertindak tanpa kehati-hatian. Mereka pergi sebelum fajar. Suatu badai menampar mereka tanpa henti selama dua jam, sehingga aku cemas mereka takkan selamat dari badai ini. Sampai saat ini, pada musim dingin ini, belum pernah terjadi badai seperti itu, dan belum pernah aku begitu mengasihani seseorang. Kemudian, sebagai hukuman atas kelalaiannya, aku hendak mengirim Süleyman menyusul mereka untuk mengetahui keselamatan dan kesejahteraan mereka. Mustafa Çavuş berkata: “Jika ia pergi, ia pun akan tertinggal. Aku pun harus pergi mencarinya. Dan di belakangku, Abdullah Çavuş pun harus datang.” Dalam hal ini kami berkata “Tawakkalnâ 'alallâh”, lalu menunggu.
PERTANYAAN:
Musibah yang menimpa sahabat-sahabat khususmu engkau sebut sebagai bekas tamparan, dan engkau anggap sebagai suatu teguran atas kelesuan mereka dalam khidmah Al-Qur'an. Padahal mereka yang sungguh-sungguh memusuhimu dan memusuhi khidmah Al-Qur'an justru tetap selamat. Mengapa sahabat ditampar, sedangkan musuh tidak diusik?
JAWABAN:
Berdasarkan rahasia اَلظُّلْمُ لاَ يَدُومُ وَالْكُفْرُ يَدُومُ: karena kesalahan para sahabat berkedudukan sebagai semacam kezaliman dalam khidmah kami, maka ia cepat dihukum. Ia menerima tamparan kasih sayang, dan jika berakal, ia sadar. Adapun musuh, permusuhan dan penghalangannya terhadap khidmah Al-Qur'an terhitung atas nama kesesatan. Baik sengaja maupun tidak, serangannya terhadap khidmah kami terhitung atas nama zindiq. Karena kekufuran itu berlangsung terus, maka mereka kebanyakan tidak cepat menerima tamparan. Sebagaimana orang yang melakukan kesalahan-kesalahan kecil dihukum di tingkat kecamatan, sedangkan kesalahan-kesalahan besar dikirim ke mahkamah besar — demikian pula: kesalahan-kesalahan kecil ahli iman dan sahabat khusus, demi cepat membersihkan mereka, sebagian diberikan di dunia dan dengan segera. Adapun kejahatan ahli kesesatan begitu besar sehingga hukumannya tak muat dalam kehidupan dunia yang singkat, maka sebagai tuntutan keadilan ia dilimpahkan ke mahkamah agung di alam kekekalan; karena itu mereka kebanyakan tidak dihukum di sini.
Nah, dalam hadis mulia, اَلدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ pun mengisyaratkan kepada hakikat yang disebutkan itu. Yakni: karena mukmin ini di dunia sebagian menerima hukuman atas kekurangannya, maka dunia baginya adalah sebuah negeri hukuman. Dibandingkan akhirat mereka yang penuh kebahagiaan, dunia adalah sebuah penjara dan Jahanam. Adapun orang-orang kafir, karena mereka takkan keluar dari Jahanam, dan karena sebagian ganjaran kebaikan mereka mereka lihat di dunia sementara keburukan-keburukan besar mereka ditangguhkan, maka dibandingkan akhirat mereka, dunia adalah surga-surga mereka. Kalau tidak demikian, mukmin di dunia ini pun, secara maknawi dan dari sudut pandang hakikat, jauh lebih berbahagia daripada kafir. Seakan-akan iman seorang mukmin berkedudukan sebagai sebuah surga maknawi dalam ruh mukmin; sedangkan kekufuran seorang kafir menyalakan sebuah Jahanam maknawi dalam hakikat kafir.
سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَٓا اِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَٓا اِنَّكَ اَنْتَ الْعَل۪يمُ الْحَك۪يمُ