Risale-i NurLem'alar

POIN PERTAMA:

Lem'alar · hlm. 247

Karena salah satu asas terpenting Risale-i Nur adalah kasih sayang, dan karena kaum wanita adalah pahlawan-pahlawan kasih sayang, maka dari sisi itu mereka secara fitri lebih berkaitan dengan Risale-i Nur. Dan segala puji bagi Allah, keterkaitan fitri ini dirasakan di banyak tempat. Karena pengorbanan dalam kasih sayang ini menyatakan makna suatu keikhlasan hakiki dan suatu pengorbanan tanpa imbalan, ia sangat penting pada masa ini.

Ya, bahwa seorang ibu mengorbankan ruhnya tanpa meminta upah apa pun untuk menyelamatkan anaknya dari bahaya, dan dengan suatu keikhlasan hakiki mengurbankan dirinya bagi anaknya dari sisi tugas fitrahnya, memperlihatkan bahwa; pada kaum wanita ada suatu kepahlawanan yang sangat tinggi. Dengan berkembangnya kepahlawanan ini; ia dapat menyelamatkan sekaligus kehidupan dunianya dan kehidupan abadinya dengannya. Namun dengan sebagian arus yang buruk, karakter yang kuat lagi berharga itu tak berkembang atau disalahgunakan.

Suatu contoh kecil dari ratusan contohnya adalah demikian: Ibu yang penuh kasih sayang itu memperhatikan setiap pengorbanan agar anaknya tidak masuk ke bahaya dalam kehidupan dunia dan agar memperoleh manfaat serta faedah, ia mendidiknya demikian. Dengan harapan “Semoga anakku menjadi pembesar” ia memberikan seluruh hartanya; ia mengambilnya dari sekolah tahfiz, mengirimnya ke Eropa. Namun ia tak memikirkan bahwa kehidupan abadi anak itu masuk ke bahaya, dan berupaya menyelamatkannya dari penjara dunia, tak memperhatikan kejatuhannya ke penjara Neraka. Sebagai kebalikan penuh dari kasih sayang fitri, padahal seharusnya menjadi pemberi syafaat di akhirat, ia justru menjadikan anaknya yang tak berdosa itu sebagai penuntut. Anak itu akan mengadu, “Mengapa engkau menyebabkan kebinasaanku ini tanpa menguatkan imanku?” Dan karena di dunia pun ia tak menerima tarbiah keislaman secara sempurna, ia tak dapat membalas dengan layak hak kasih sayang luar biasa ibunya, bahkan mungkin berbuat banyak kesalahan.

Seandainya kasih sayang hakiki tak disalahgunakan, dan ia berupaya dengan rahasia kasih sayang itu untuk menyelamatkan anaknya yang malang dari Neraka yang merupakan penjara abadi dan dari mati di dalam kesesatan yang merupakan eksekusi abadi; maka karena semisal seluruh kebaikan yang dilakukan anak itu akan masuk ke buku amal ibunya, sebagaimana setelah wafat ibunya setiap waktu ia menyampaikan cahaya-cahaya ke ruh ibunya dengan kebaikan-kebaikannya, di akhirat pun ia bukan menjadi penuntut, melainkan menjadi pemberi syafaat dengan seluruh ruh dan jiwanya, dan menjadi seorang anak yang mubarak baginya di kehidupan abadi.

Ya, guru pertama dan pengajar yang paling berpengaruh bagi manusia adalah ibunya. Sehubungan dengan ini, aku menjelaskan makna ini yang secara pasti lagi senantiasa kurasakan pada diriku sendiri:

Dalam umur delapan puluh tahunku ini, padahal aku mengambil pelajaran dari delapan puluh ribu tokoh, aku bersumpah bahwa; yang paling asasi, tak tergoyahkan, dan seakan senantiasa memperbarui pelajarannya kepadaku adalah bimbingan dan pelajaran maknawi yang kuterima dari ibuku yang telah wafat; pelajaran-pelajaran itu telah tertanam dalam fitrahku, hampir dalam wujud materiku, berkedudukan sebagai benih-benih. Aku melihat secara nyata bahwa pelajaran-pelajaranku yang lain dibangun di atas benih-benih itu. Artinya, aku menyaksikan pelajaran dan bimbingan ibuku yang telah wafat kepada fitrah dan ruhku pada usia satu tahun, berkedudukan sebagai benih-benih asasi di dalam hakikat-hakikat besar yang kulihat pada usia delapan puluh tahunku ini.

Sebagai contoh; aku melihat secara yakin bahwa berbuat kasih sayang — yang merupakan yang terpenting dari empat asas mazhab dan masyrabku, dan yang merupakan hakikat terbesar Risale-i Nur, yaitu berbelas kasih dan mengasihi — kuperoleh dari perbuatan serta keadaan penuh kasih sayang ibuku dan dari pelajaran-pelajaran maknawinya itu. Ya, menyalahgunakan kasih sayang keibuan yang memikul suatu pengorbanan hakiki dengan keikhlasan hakiki ini — dengan tidak memikirkan akhirat anaknya yang tak berdosa yang berkedudukan sebagai perbendaharaan intan, lalu memalingkan wajah tak berdosa anak itu ke dunia yang berkedudukan sebagai botol-botol fana lagi sementara, dan memperlihatkan kasih sayang kepadanya dalam bentuk ini — adalah menyalahgunakan kasih sayang itu.

Ya, bahwa wanita mengorbankan ruhnya dari sisi kepahlawanan kasih sayang mereka ini tanpa meminta upah dan imbalan apa pun, tanpa faedah pribadi apa pun, tanpa makna pamer apa pun; dibuktikan oleh seekor ayam — yang memikul suatu contoh kecil dari kasih sayang itu — yang menyerang singa dan mengorbankan ruhnya untuk menyelamatkan anaknya.

Sekarang, asas yang paling berharga dan paling diperlukan dari tarbiah keislaman dan amal ukhrawi adalah keikhlasan. Keikhlasan hakiki itu terdapat dalam kepahlawanan pada jenis kasih sayang ini.

Seandainya dua poin ini mulai berkembang pada kaum yang mubarak itu, ia menjadi sumber kebahagiaan yang sangat besar dalam lingkaran keislaman. Padahal kepahlawanan lelaki tak dapat tanpa imbalan; melainkan mereka menginginkan imbalan dari seratus sisi. Setidaknya mereka menginginkan kemasyhuran dan kehormatan. Namun sayangnya, kaum wanita yang malang lagi mubarak, untuk lolos dari keburukan dan penguasaan lelaki mereka yang zalim, masuk ke suatu jenis riya lain yang datang dari kelemahan dan ketidakberdayaan, dalam bentuk yang lain.