POIN KEDUA:
Lem'alar · hlm. 249
Tahun ini, tatkala aku dalam uzlah dan menarik diri dari kehidupan sosial, aku memandang dunia demi hati sebagian saudara dan saudariku para pecinta Nur. Dari kebanyakan sahabat yang berjumpa denganku, aku mendengar keluhan tentang kehidupan keluarga mereka. Aku berkata, “Aduh!” Tempat berlindung manusia — khususnya seorang muslim — dan suatu jenis surga serta dunia kecilnya adalah kehidupan keluarga. Apakah ini pun sudah mulai rusak, kataku. Aku mencari sebabnya. Aku mengetahui bahwa: sebagaimana untuk merugikan kehidupan sosial keislaman dan dengan demikian agama Islam, satu-dua komite bekerja untuk menyimpangkan para pemuda dari jalan dan menggiring mereka ke kebejatan dengan hawa nafsu masa muda. Persis demikian pula; aku merasakan bahwa satu-dua komite bekerja secara berpengaruh di balik tabir untuk menggiring pula bagian yang lalai dari kaum wanita yang malang ke jalan-jalan yang keliru. Dan aku mengetahui bahwa: suatu pukulan dahsyat kepada bangsa Islam ini datang dari sisi itu.
Aku pun secara pasti menyatakan kepada kalian saudari-saudariku dan kepada anak-anak muda maknawiku yang merupakan pemuda kalian bahwa: Sebagaimana kebahagiaan ukhrawi wanita, demikian pula kebahagiaan dunia mereka dan karakter luhur dalam fitrah mereka — satu-satunya jalan untuk lolos dari kerusakan adalah tarbiah agama dalam lingkaran keislaman, tak ada yang lain!.. Kalian mendengar keadaan kaum yang malang itu menjadi apa di Rusia. Dalam suatu bagian Risale-i Nur dikatakan bahwa: Seorang yang berakal sehat; tak membangun kecintaan dan kasihnya kepada istrinya di atas kecantikan lahiriah yang fana selama lima sepuluh tahun. Melainkan ia harus membangun kasihnya di atas kasih sayang wanita dan keindahan perangai (husnus-sirah) yang khusus bagi keperempuanan — yang merupakan kecantikan terindah lagi kekal wanita. Agar tatkala si malang itu semakin tua, kecintaan suaminya kepadanya tetap berlanjut. Karena istrinya bukan hanya teman penolong sementara dalam kehidupan dunia, melainkan teman hidup yang abadi lagi tercinta di kehidupan abadinya; maka semakin tua, semakin perlu untuk saling mencintai dengan penghormatan dan belas kasih yang lebih. Adapun kehidupan keluarga yang — setelah suatu pertemanan sementara yang bercorak kehewanan di balik tabir tarbiah peradaban sekarang — terpapar suatu perpisahan abadi, rusak pada asasnya.
Dan dalam suatu bagian Risale-i Nur dikatakan bahwa: Berbahagialah lelaki yang; meniru istrinya yang salehah agar tidak kehilangan teman abadinya, lalu ia pun menjadi saleh. Dan berbahagialah wanita yang; melihat suaminya beragama, lalu untuk tidak kehilangan sahabat serta teman abadinya, ia pun menjadi benar-benar beragama; ia meraih kebahagiaan ukhrawinya di dalam kebahagiaan dunianya. Celakalah lelaki yang; mengikuti istrinya yang telah masuk ke kebejatan; ia tak berupaya menghentikannya, ia sendiri pun ikut serta. Celakalah wanita yang; memandang kefasikan suaminya, lalu menirunya dalam bentuk yang lain. Celaka bagi suami-istri yang; saling menolong dalam melemparkan satu sama lain ke api. Yakni; saling mendorong ke fantasi peradaban.
Nah, makna kalimat-kalimat Risale-i Nur yang bermakna ini adalah bahwa: Pada masa ini, sebab bagi kehidupan keluarga, kebahagiaan dunia dan akhirat, serta berkembangnya karakter luhur pada wanita, hanya dapat terjadi dengan adab-adab keislaman dalam lingkaran syariat.
Sekarang, poin terpenting dalam kehidupan keluarga adalah demikian; jika wanita melihat keburukan dan ketidaksetiaan pada suaminya, lalu ia pun — untuk membangkang suaminya — merusak kesetiaan dan kepercayaan yang merupakan tugas keluarga wanita; maka persis seperti rusaknya ketaatan dalam militer, pabrik kehidupan keluarga itu porak-poranda. Melainkan wanita itu, sedapat mungkin, harus berupaya memperbaiki kekurangan suaminya agar ia menyelamatkan teman abadinya. Kalau tidak, jika ia pun berupaya memperlihatkan dan membuat dirinya dicintai orang lain dengan keterbukaan, ia merugi dari segala sisi. Karena orang yang meninggalkan kesetiaan hakiki, di dunia pun melihat hukumannya. Karena fitrahnya takut, risih, dan menarik diri dari pandangan para nonmahram. Ia merasa risih terhadap pandangan delapan belas dari dua puluh lelaki nonmahram. Adapun lelaki hanya merasa risih terhadap satu dari seratus wanita nonmahram, ia risih oleh pandangannya. Sebagaimana wanita menderita azab dari sisi itu, ia pun masuk ke bawah tuduhan ketidaksetiaan; di samping kelemahannya, ia tak dapat menjaga hak-haknya.
Kesimpulannya: Sebagaimana wanita tak menyerupai lelaki dari sisi kepahlawanan, keikhlasan, dan kasih sayang, dan lelaki pun tak dapat menyusul mereka dalam kepahlawanan itu; demikian pula para wanita yang tak berdosa itu pun tak dapat menyusul lelaki dari sisi mana pun dalam kebejatan. Karena itu, dengan fitrah dan penciptaan mereka yang lemah, mereka sangat takut terhadap para nonmahram dan menganggap diri mereka terpaksa bersembunyi di balik jubah (carsaf). Karena lelaki, jika masuk ke kebejatan demi kelezatan delapan menit, hanya merugi sekitar delapan lira. Namun wanita, sebagai hukuman kelezatan kebejatan delapan menit, di dunia pun memikul beban berat delapan bulan di perutnya, dan masuk pula ke kepayahan mendidik anak tanpa pelindung itu selama delapan tahun; karena itu ia tak dapat menyusul lelaki dalam kebejatan, ia menanggung hukuman seratus derajat lebih banyak. Peristiwa jenis ini yang tak sedikit pun memperlihatkan bahwa; kaum wanita yang mubarak, sebagaimana secara fitri merupakan sumber akhlak yang tinggi, demikian pula dalam kefasikan dan kebejatan berkedudukan seperti tak memiliki kemampuan bagi kelezatan dunia. Artinya, mereka adalah suatu jenis makhluk mubarak yang khusus untuk menjalani kehidupan keluarga yang bahagia di dalam lingkaran tarbiah keislaman. Semoga binasa komite-komite yang merusak orang-orang mubarak ini!.. Semoga Allah menjaga pula saudari-saudariku ini dari keburukan para gelandangan ini, amin.
Saudari-saudariku! Kukatakan perkataanku ini kepada kalian secara rahasia: Untuk derita penghidupan; daripada masuk ke bawah penguasaan seorang suami yang gelandangan, tak berakhlak, lagi bertabiat kebaratan (frank), berupayalah mengelola diri kalian dengan iktisad dan kanaah dalam fitrah kalian — dari jenis para wanita desa yang tak berdosa yang bekerja untuk menghasilkan nafkah mereka sendiri — janganlah berupaya menjual diri kalian. Seandainya seorang lelaki yang tak cocok bagi kalian menjadi kismet (bagian) kalian, ridailah kismet kalian dan berkanaahlah. Insya Allah dengan keridaan dan kanaah kalian, ia pun menjadi baik. Kalau tidak, sebagaimana yang kudengar sekarang, kalian akan merujuk ke pengadilan untuk bercerai. Ini pun tak pantas dengan kemuliaan keislaman dan kehormatan bangsa kita!