POIN PERTAMA:
Lem'alar · hlm. 180
Suatu pertanyaan yang penting lagi dahsyat:
Mengapa ahli dunia, ahli lalai, bahkan ahli kesesatan dan ahli nifak bersatu tanpa persaingan; sedangkan pemeluk agama, ahli ilmu, dan ahli tarekat — yang merupakan ahli kebenaran dan ahli kerukunan — justru berselisih dengan persaingan? Padahal persatuan adalah hak ahli kerukunan dan perselisihan adalah keharusan ahli nifak, mengapa hak ini berpindah ke sana dan ketidakadilan ini datang ke sini?
Jawaban:
Dari sekian banyak sebab peristiwa dahsyat yang menyakitkan, tragis, lagi membuat ahli semangat menangis ini, kami akan menjelaskan tujuh sebab.
YANG PERTAMA:
Sebagaimana perselisihan ahli kebenaran tidak datang dari ketiadaan hakikat, demikian pula persatuan ahli lalai bukan dari kepemilikan hakikat. Melainkan, tugas kelompok, jamaah, dan perkumpulan — yang sibuk dengan suatu tugas tertentu dan khidmat khusus yang berkaitan dengan lapisan-lapisan kehidupan sosial, seperti ahli dunia, ahli politik, dan ahli sekolah — telah tertentu dan terpisah. Dan upah materi dari sisi penghidupan yang akan mereka terima sebagai imbalan tugas-tugas itu, serta upah maknawi dari sisi perhatian manusia (tawajuh manusia) yang akan mereka terima dari sisi cinta kedudukan (hubbul-jâh) serta kemasyhuran dan kehormatan,
{(Catatan): Peringatan: Perhatian manusia tak boleh diminta, melainkan ia diberikan. Kalaupun diberikan, tak boleh disenangi dengannya. Jika disenangi, ia kehilangan ikhlas, masuk ke riya. Adapun perhatian manusia dengan hasrat kemasyhuran dan kehormatan; bukanlah upah dan pahala, melainkan suatu teguran dan hukuman yang datang karena ketidakikhlasan. Ya, karena perhatian manusia serta kemasyhuran dan kehormatan yang merugikan ikhlas — yang merupakan nyawa amal saleh — mengambil suatu bentuk yang tak menyenangkan seperti azab kubur di sisi lain kubur, sebagai imbalan suatu kelezatan parsial yang sementara sampai pintu kubur; maka bukan menginginkan perhatian manusia, melainkan harus takut dan lari darinya. Semoga telinga para pemuja kemasyhuran dan para pengejar kehormatan berdenging.}
telah tertentu dan terpisah. Tak ada perserikatan sampai derajat yang menghasilkan pertikaian, perdebatan, dan persaingan. Karena itu, betapa pun buruknya mazhab yang mereka tempuh, mereka dapat bersatu satu sama lain. Adapun ahli agama, pemilik ilmu, dan pengikut tarekat, karena tugas masing-masing dari mereka memandang seluruh umat, dan karena upah tunai mereka tak tertentu lagi tak terkhususkan, serta karena bagian masing-masing dalam kedudukan sosial, perhatian manusia, dan penerimaan yang baik tak terkhususkan. Banyak orang menjadi calon bagi suatu kedudukan. Banyak tangan dapat terulur ke setiap upah materi dan maknawi. Dari titik itu lahirlah pertikaian dan persaingan; mengubah kerukunan menjadi nifak, persatuan menjadi perselisihan.
Nah, salep dan obat penyakit dahsyat ini adalah ikhlas. Yakni, dengan mengutamakan penyembahan kebenaran (hakperestlik) di atas penyembahan nafsu, dan dengan mengalahkan kepentingan kebenaran atas kepentingan nafsu dan keakuan, seseorang menjadi tempat tertuju rahasia اِنْ اَجْرِىَ اِلاَّ عَلَى اللّٰهِ, lalu dengan merasa cukup (istighna) dari upah materi dan maknawi yang datang dari manusia,
{(Catatan): Menjadikan perangai “itsar” (mengutamakan orang lain) — yang menjadi tempat tertuju pujian Al-Qur'an bagi para sahabat — sebagai pembimbing bagi dirinya. Yakni: dalam menerima hadiah dan sedekah, mengutamakan orang lain di atas dirinya; dan menganggap manfaat materi yang datang sebagai imbalan khidmat agama — tanpa memintanya dan tanpa menghasratkannya dalam kalbu — sebagai semata-mata suatu ihsan Ilahi, tanpa mengambil budi dari manusia, dan tanpa mengambilnya sebagai imbalan khidmat agama. Karena dalam imbalan khidmat agama tak boleh diminta sesuatu pun di dunia, agar ikhlas tak lari. Memang mereka memiliki hak agar umat menjamin penghidupan mereka. Dan mereka pun berhak atas zakat. Namun ini tak diminta, melainkan diberikan. Tatkala diberikan, tak boleh dikatakan “ini adalah upah khidmatku”. Sedapat mungkin, dengan penuh kanaah, mengutamakan nafsu orang lain yang lebih layak dan lebih berhak di atas nafsunya sendiri, dengan menjadi tempat tertuju rahasia وَ يُؤْثِرُونَ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ, seseorang dapat lolos dari bahaya dahsyat ini dan meraih ikhlas.}
menjadi tempat tertuju rahasia وَمَا عَلَى الرَّسُولِ اِلاَّ الْبَلاَغُ.. serta dengan mengetahui bahwa poin-poin meraih penerimaan yang baik, pengaruh yang baik, dan perhatian manusia adalah tugas dan ihsan Allah, dan bahwa itu tak termasuk dalam tugasnya yaitu tablig (menyampaikan), tak diperlukan pula, dan ia tak dibebani dengannya — dengan itulah ia berhasil meraih ikhlas. Kalau tidak, ia kehilangan ikhlas.
SEBAB KEDUA:
Persatuan ahli kesesatan datang dari kehinaan mereka, perselisihan ahli hidayah datang dari kemuliaan mereka. Yakni ahli dunia yang lalai dan ahli kesesatan, karena tak bersandar pada kebenaran dan hakikat, mereka lemah lagi hina. Untuk mengatasi kehinaan, mereka butuh mengambil kekuatan. Dari kebutuhan ini, mereka berpegang secara tulus pada pertolongan dan persatuan orang lain. Bahkan meskipun mazhab mereka adalah kesesatan, mereka tetap menjaga persatuan. Seakan-akan dalam ketidakadilan itu mereka membuat suatu penyembahan kebenaran, dalam kesesatan itu suatu ikhlas, dalam ketidakberagamaan itu suatu fanatisme ala orang tak beragama, dan dalam nifak itu suatu kerukunan, lalu mereka berhasil. Karena suatu ikhlas yang tulus, meskipun dalam keburukan, tak akan tanpa hasil. Ya, dengan ikhlas, siapa pun yang meminta apa pun, Allah memberikannya.
{(Catatan-1): Ya, مَنْ طَلَبَ وَ جَدَّ وَجَدَ adalah suatu dustur hakikat. Keumumannya luas dan keluasannya dapat mencakup mazhab kita pula.}
Adapun ahli hidayah, ahli agama, ahli ilmu, dan ahli tarekat, karena bersandar pada kebenaran dan hakikat, dan karena masing-masing di jalan yang hak berjalan dengan hanya memikirkan Rabb-nya dan bersandar pada taufik-Nya, mereka memiliki kemuliaan maknawi yang datang dari mazhab itu. Tatkala merasakan kelemahan; ia merujuk kepada Rabb-nya sebagai ganti manusia, meminta pertolongan dari-Nya. Dengan perbedaan masyrab (aliran), ia tak sepenuhnya merasakan kebutuhan akan pertolongan terhadap orang yang berbeda masyrab lahiriah dengannya, tak melihat kebutuhan akan persatuan. Bahkan jika ada keegoisan dan keakuan, dengan menyangka dirinya benar dan lawannya salah; sebagai ganti persatuan dan kecintaan, masuklah perselisihan dan persaingan. Ia kehilangan ikhlas, tugasnya porak-poranda.
Nah, satu-satunya cara untuk tidak melihat akibat-akibat mengerikan yang diberikan sebab dahsyat ini adalah “sembilan perintah”.
1 - Bergerak secara positif (musbet); yakni bergerak dengan kecintaan pada mazhabnya sendiri. Janganlah permusuhan terhadap mazhab lain dan celaan terhadap orang lain mencampuri pikiran dan ilmunya; janganlah ia menyibukkan diri dengan mereka.
2 - Melainkan, dengan memikirkan bahwa di dalam lingkaran keislaman — pada masyrab apa pun ia berada — terdapat banyak ikatan persatuan yang menjadi sumber kecintaan, persaudaraan, dan kesatuan, lalu bersatu...
3 - Dan menjadikan dustur keadilan sebagai pembimbing: bahwa hak setiap pemilik mazhab yang benar, dari sisi tak mengganggu mazhab orang lain, adalah ia boleh berkata “Mazhabku benar, atau lebih indah.” Namun ia tak boleh berkata — dengan mengisyaratkan ketidakbenaran atau keburukan mazhab orang lain — “Yang hak hanyalah mazhabku,” atau “Yang indah hanyalah masyrabku.”
4 - Dan dengan memikirkan bahwa persatuan dengan ahli kebenaran adalah salah satu sebab taufik Ilahi dan sumber kemuliaan dalam agama...
5 - Dan tatkala ahli kesesatan dan ahli ketidakadilan menyerang — karena kesetiakawanan (tesanüd) — dengan kejeniusan suatu pribadi maknawi yang kuat dalam bentuk jamaah; dengan memahami bahwa perlawanan individu terkuat sekalipun kalah terhadap pribadi maknawi itu, mengeluarkan suatu pribadi maknawi melalui persatuan di pihak ahli kebenaran, lalu menjaga kebenaran terhadap pribadi maknawi kesesatan yang dahsyat itu.
6 - Dan untuk menyelamatkan kebenaran dari serbuan kebatilan...
7 - Meninggalkan nafsu dan keakuannya,
8 - Kemuliaannya yang ia pikirkan secara keliru,
9 - Serta perasaan penuh persaingan yang tak berarti — dengan itu ia meraih ikhlas dan menunaikan tugasnya sebagaimana mestinya.
{(Catatan): Bahkan dengan hadis sahih, sebagaimana pada akhir zaman kaum Isawi yang benar-benar beragama akan bersatu dengan ahli Al-Qur'an dan bertahan terhadap kaum zindik yang merupakan musuh bersama mereka; demikian pula pada masa ini, ahli agama dan ahli hakikat butuh untuk bersatu — bukan hanya dengan orang yang seagama, semazhab, dan saudaranya secara tulus, melainkan juga dengan para rohaniwan Kristen yang benar-benar beragama, dengan sementara tidak menjadikan poin-poin perselisihan sebagai bahan perdebatan dan pertikaian — menghadapi kaum tak beragama yang melampaui batas, yang merupakan musuh bersama.}
SEBAB KETIGA:
Perselisihan ahli kebenaran bukan dari ketiadaan cita-cita tinggi dan kerendahan, dan persatuan ahli kesesatan bukan dari keluhuran cita-cita. Melainkan perselisihan ahli hidayah datang dari penyalahgunaan keluhuran cita-cita, dan persatuan ahli kesesatan datang dari kelemahan dan ketidakberdayaan yang lahir dari ketiadaan cita-cita. Yang menggiring ahli hidayah pada penyalahgunaan keluhuran cita-cita dan dengan demikian pada perselisihan serta persaingan, datang dari sisi ketamakan akan pahala — yang dari sudut pandang akhirat terhitung suatu perangai terpuji — dan ketidakcukupan (kurangnya kanaah) dalam tugas ukhrawi. Yakni: dengan pikiran “Aku sajalah yang meraih pahala ini, aku sajalah yang membimbing manusia ini, biarlah mereka mendengarkan kata-kataku,” ia mengambil sikap penuh persaingan terhadap saudara hakikinya di hadapannya — seorang tokoh yang sungguh ia butuhkan kecintaan, pertolongan, persaudaraan, dan bantuannya. Dengan pikiran “Mengapa murid-muridku pergi ke sisinya? Mengapa muridku tak sebanyak muridnya?” keakuannya menemukan peluang dari situ, membuatnya condong pada cinta kedudukan (hubbul-jâh) yang merupakan perangai tercela, menghilangkan ikhlas, membuka pintu riya.
Nah, obat kesalahan ini, luka ini, dan penyakit ruhani yang dahsyat ini adalah demikian: Keridaan Allah diraih dengan ikhlas. Bukan dengan banyaknya pengikut dan banyaknya keberhasilan. Karena hal-hal itu, karena berkaitan dengan tugas Ilahi, tak diminta; melainkan kadang diberikan. Ya, kadang satu kata saja menjadi sebab keselamatan dan sumber keridaan. Kepentingan kuantitas tak boleh terlalu menjadi sasaran pandangan. Karena kadang membimbing satu orang saja menjadi sumber keridaan Ilahi sebanyak membimbing seribu orang. Dan ikhlas serta penyembahan kebenaran adalah berpihak pada bermanfaatnya kaum muslimin — dari mana dan dari siapa pun. Kalau tidak, pikiran “Biarlah mereka mengambil pelajaran dariku dan aku membuat mereka meraih pahala” adalah suatu tipu daya nafsu dan keakuan.
Wahai manusia yang tamak akan pahala dan tak berkanaah dalam amal ukhrawi! Sebagian nabi telah datang, yang — padahal tak ada yang mengikuti selain beberapa orang yang terbatas — tetap menerima upah tak terhingga dari tugas suci kenabian itu. Artinya, kepandaian bukan dengan banyaknya pengikut. Melainkan kepandaian adalah dengan meraih keridaan Ilahi. Siapakah engkau sehingga, dengan ketamakan seperti ini, dengan pikiran “Biarlah semua orang mendengarkanku,” engkau melupakan tugasmu dan mencampuri tugas Ilahi? Membuat orang menerima, mengumpulkan orang di sekitarmu, adalah tugas Allah. Jalankanlah tugasmu, jangan campuri tugas Allah. Dan yang mendengarkan kebenaran serta hakikat dan membuat yang mengucapkannya meraih pahala, bukan hanya manusia. Makhluk-makhluk berkesadaran, para rohaniwan (ruhani), dan para malaikat Allah telah memenuhi alam semesta, meramaikan setiap penjuru. Karena engkau menginginkan banyak pahala, jadikanlah ikhlas sebagai asas dan pikirkanlah hanya keridaan Ilahi. Agar individu-individu kata-kata mubarak yang keluar dari mulutmu di udara; dengan ikhlas dan niat yang tulus menjadi hidup, bernyawa, pergi ke telinga makhluk berkesadaran yang tak terhingga, menerangi mereka, dan membuatmu pula meraih pahala. Karena misalnya engkau mengucapkan “Alhamdulillah”; kalimat ini, jutaan kalimat “Alhamdulillah” besar-kecil, ditulis di udara dengan izin Ilahi. Karena Sang Pengukir Yang Mahabijaksana tak berbuat sia-sia dan boros, Dia menciptakan telinga yang tak terhingga banyaknya sampai cukup untuk mendengarkan kalimat-kalimat mubarak yang banyak itu.
Jika dengan ikhlas dan niat yang tulus kata-kata di udara itu menjadi hidup, ia masuk ke telinga para rohaniwan (ruhani) seperti buah-buah yang lezat. Jika keridaan Ilahi dan ikhlas tak memberi kehidupan pada kata-kata di udara itu, ia tak didengarkan; dan pahalanya pun terbatas hanya pada kata di mulut. Semoga telinga para hafiz yang gundah karena suara mereka tak terlalu indah dan karena sedikitnya pendengar, berdenging!..
SEBAB KEEMPAT:
Sebagaimana perselisihan penuh persaingan ahli hidayah bukan dari ketiadaan memikirkan akibat dan dari kepicikan pandangan; demikian pula persatuan tulus ahli kesesatan bukan dari kekhawatiran akan akibat dan dari pandangan yang tinggi. Melainkan ahli hidayah; dengan pengaruh kebenaran dan hakikat, dengan tidak terbawa perasaan buta nafsu; meskipun tunduk pada kecenderungan kalbu dan akal yang berpandangan jauh, karena mereka tak dapat menjaga keistikamahan dan ikhlas, mereka tak dapat menjaga kedudukan yang tinggi itu dan jatuh ke perselisihan. Adapun ahli kesesatan: dengan pengaruh nafsu dan hawa, dengan tuntutan perasaan yang buta, tak melihat akibat, dan mengutamakan kelezatan hadir seberat satu dirham di atas kelezatan seberat satu batman di masa depan, mereka bersatu dengan keras secara tulus satu sama lain demi manfaat yang segera dan kelezatan yang hadir. Ya, di sekitar kelezatan dan manfaat duniawi yang hadir, para penyembah nafsu yang rendah lagi tak berkalbu bersatu dan berpadu secara tulus. Adapun ahli hidayah, karena menghadap dengan dustur-dustur tinggi kalbu dan akal kepada buah-buah ukhrawi dan kesempurnaan yang berkaitan dengan akhirat dan masa depan; padahal seharusnya dapat terjadi suatu keistikamahan yang kukuh, ikhlas yang sempurna, dan persatuan yang sangat penuh pengorbanan; karena mereka tak dapat melepaskan diri dari keakuan, akibat sikap berlebihan (ifrat) dan meremehkan (tefrit), mereka kehilangan persatuan yang merupakan sumber kekuatan yang luhur, ikhlas pun patah, dan tugas ukhrawi pun tercederai. Keridaan Ilahi pun tak mudah diraih.
Salep dan obat penyakit penting ini adalah: dengan rahasia “Al-hubbu fillâh (cinta karena Allah)”, berbangga dengan menemani orang-orang yang berjalan di jalan yang hak, berjalan di belakang mereka, membiarkan kehormatan imamah (memimpin) bagi mereka, dan — dengan kemungkinan bahwa siapa pun di jalan Hak itu lebih baik daripada dirinya — melepaskan keakuannya lalu meraih ikhlas; dan dengan mengetahui bahwa setitik amal dengan ikhlas lebih unggul daripada amal berpikul-pikul tanpa ikhlas; serta dengan mengutamakan menjadi pengikut (tâbi'iyah) di atas menjadi yang diikuti (matbû'iyah) yang menjadi sebab tanggung jawab lagi berbahaya — dengan itu ia lolos dari penyakit itu, meraih ikhlas, dan dapat menunaikan tugas ukhrawinya sebagaimana mestinya.
SEBAB KELIMA:
Sebagaimana perselisihan dan ketiadaan persatuan ahli hidayah bukan dari kelemahan mereka; demikian pula persatuan kuat ahli kesesatan bukan dari kekuatan mereka. Melainkan, ketiadaan persatuan ahli hidayah datang dari titik sandaran yang berasal dari iman yang sempurna dan dari kekuatan yang lahir dari titik sandaran itu; sebagaimana persatuan ahli lalai dan ahli kesesatan datang dari kelemahan dan ketidakberdayaan mereka, karena mereka tak menemukan titik sandaran dalam kalbu. Karena orang-orang lemah butuh persatuan, maka mereka bersatu dengan kuat. Orang-orang kuat, karena tak sepenuhnya merasakan kebutuhan, persatuan mereka lemah. Singa-singa, karena tak butuh persatuan seperti rubah, hidup sendiri-sendiri. Kambing-kambing liar membentuk kawanan untuk berlindung dari serigala. Artinya, sebagaimana perkumpulan dan pribadi maknawi orang-orang lemah adalah kuat,{(Catatan): Bahwa komite Eropa yang paling keras, paling berpengaruh, dan dari satu sisi paling kuat adalah Komite Hak dan Kebebasan Perempuan di Amerika — yang beranggotakan kaum perempuan yang lembut, lemah, lagi halus; dan bahwa komite bangsa Armenia yang sedikit lagi lemah di antara bangsa-bangsa, dengan sikap kuat lagi penuh pengorbanan yang mereka perlihatkan, menegaskan dakwaan kami ini.} perkumpulan dan pribadi maknawi orang-orang kuat justru lemah.
Suatu isyarat halus dan poin Qur'ani yang elok tentang rahasia ini, yang difirmankan: وَ قَالَ نِسْوَةٌ فِى الْمَد۪ينَةِ Bahwa terhadap jamaah perempuan (niswah) — yang berlipat dua keperempuanannya — digunakan verba maskulin قَالَ (qâla); dan dengan berfirman قَالَتِ اْلاَعْرَابُ, terhadap jamaah laki-laki digunakan verba feminin قَالَتْ (qâlat) — dengan itu Dia mengisyaratkan secara elok bahwa: perkumpulan perempuan yang lemah, halim (lembut), lagi lunak menjadi kuat, memperoleh ketegasan dan kekerasan, serta meraih suatu bentuk kejantanan (rujuliyah). Karena ia menuntut verba maskulin, maka ungkapan وَ قَالَ نِسْوَةٌ sangatlah tepat. Adapun laki-laki yang kuat, khususnya jika Arab badui; karena mereka mengandalkan kekuatannya, perkumpulan mereka lemah, dan karena mereka mengambil sikap kehati-hatian serta kelembutan sehingga mengenakan suatu bentuk sifat keperempuanan, ia menuntut verba feminin, maka ungkapan قَالَتِ اْلاَعْرَابُ dengan verba feminin sangatlah tepat pada tempatnya.
Ya, ahli kebenaran, dengan tawakal dan kepasrahan yang datang dari iman kepada Allah yang merupakan titik sandaran yang sangat kuat, tak mengajukan kebutuhan kepada orang lain dan tak meminta pertolongan serta bantuan mereka. Kalaupun meminta, ia tak berpegang secara penuh pengorbanan. Ahli dunia, karena lalai dari titik sandaran hakiki mereka dalam urusan dunia, jatuh ke kelemahan dan ketidakberdayaan, lalu merasakan kebutuhan akan penolong secara kuat; mereka bersatu secara tulus, bahkan penuh pengorbanan.
Nah, ahli kebenaran, karena tak memikirkan dan tak mencari kekuatan hak dalam persatuan, jatuh ke perselisihan yang merupakan akibat yang tak benar lagi merugikan. Adapun ahli kesesatan yang tak benar; karena merasakan kekuatan dalam persatuan melalui perantaraan ketidakberdayaan mereka, mereka meraih persatuan yang merupakan wasilah yang sangat penting bagi tujuan-tujuan mereka.
Nah, salep dan obat penyakit perselisihan yang tak benar dari ahli kebenaran ini adalah: menjadikan larangan Ilahi yang keras dalam ayat وَلاَ تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ ر۪يحُكُمْ, dan perintah Ilahi yang sangat penuh hikmah bagi kehidupan sosial dalam ayat وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰى, sebagai dustur gerak; serta dengan memikirkan betapa merugikannya perselisihan bagi Islam dan betapa ia memudahkan kemenangan ahli kesesatan atas ahli kebenaran, lalu dengan kesempurnaan kelemahan dan ketidakberdayaan, bergabung secara penuh pengorbanan lagi tulus ke kafilah ahli kebenaran itu; dengan melupakan kepribadiannya, lolos dari riya dan kepura-puraan, lalu meraih ikhlas.
SEBAB KEENAM:
Sebagaimana perselisihan ahli kebenaran bukan dari ketidakjantanan, ketiadaan cita-cita, dan ketiadaan semangat mereka; demikian pula persatuan tulus ahli dunia yang lalai dan ahli kesesatan dalam urusan yang berkaitan dengan kehidupan dunia pun bukan dari kejantanan, semangat, dan cita-cita. Melainkan, karena ahli kebenaran pada umumnya memikirkan faedah-faedah yang berkaitan dengan akhirat, maka semangat, cita-cita, dan kejantanannya terbagi-bagi pada masalah-masalah yang penting lagi banyak itu. Karena ia tak mencurahkan waktunya — yang merupakan modal hakiki — pada satu masalah, persatuannya dengan rekan-rekan semazhabnya tak menjadi kukuh. Karena masalahnya banyak, lingkarannya pun luas. Adapun ahli dunia yang lalai, karena hanya memikirkan kehidupan dunia, mereka berpegang dengan keras pada masalah-masalah yang berkaitan dengan kehidupan dunia dengan seluruh perasaan, ruh, dan kalbunya. Dan ia berpegang kuat pada orang yang menolongnya dalam masalah itu. Dan pada masalah-masalah yang dari sudut pandang hakikat tak bernilai lima para dan ahli kebenaran tak memberinya nilai sepuluh para, sebagaimana seorang penjual intan Yahudi yang gila memberi harga lima lira untuk sekerat kaca seharga lima para, ia mencurahkan waktunya yang bernilai lima ratus lira untuk masalah itu. Sudah pasti, memberi harga sebesar ini dan berpegang dengan perasaan yang kuat, meskipun di jalan yang batil, karena merupakan suatu ikhlas yang tulus, ia berhasil dalam masalah itu dan mengalahkan ahli kebenaran. Sebagai akibat kemenangan ini, ahli kebenaran jatuh ke kehinaan, ketertundukan, kepura-puraan, dan riya, lalu kehilangan ikhlas. Ia terpaksa menjilat kepada sebagian ahli dunia yang tak jantan, tak bercita-cita, lagi tak bersemangat itu.
Wahai ahli kebenaran! Wahai ahli syariat, ahli hakikat, dan ahli tarekat yang menyembah kebenaran! Terhadap penyakit perselisihan yang dahsyat ini, dengan tidak melihat kekurangan satu sama lain, pejamkanlah mata kalian terhadap aib sesama kalian! Berakhlaklah dengan adab Furqani وَاِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا! Dan dengan menganggap meninggalkan perdebatan internal pada saat serbuan musuh eksternal, serta menyelamatkan ahli kebenaran dari kejatuhan dan kehinaan, sebagai tugas ukhrawi yang pertama dan terpenting, lakukanlah persaudaraan, kecintaan, dan tolong-menolong yang diperintahkan dengan keras oleh ratusan ayat dan hadis Nabi; bersatulah dengan rekan semazhab dan seagama kalian dengan seluruh perasaan kalian secara lebih kuat daripada ahli dunia.. yakni, janganlah kalian jatuh ke perselisihan.
Janganlah kalian melemahkan persatuan dengan menarik diri sambil berkata, “Daripada mencurahkan waktuku yang berharga untuk masalah-masalah kecil seperti ini, aku akan mencurahkan waktuku yang sangat berharga itu untuk hal-hal berharga seperti zikir dan tafakur.” Karena dalam jihad maknawi ini, masalah yang kalian sangka kecil bisa jadi sangat besar. Sebagaimana giliran jaga seorang prajurit selama satu jam dalam syarat-syarat yang penting lagi khusus kadang berpindah menjadi kedudukan ibadah setahun; demikian pula pada masa kekalahan ahli kebenaran ini, dalam masalah-masalah mujahadah maknawi, satu hari berhargamu yang dicurahkan untuk suatu masalah kecil dapat meraih nilai seribu derajat seperti jam prajurit itu, satu hari dapat menjadi seribu hari. Karena ia adalah karena Allah (li-wajhillâh); tak dipandang kecil-besarnya, bernilai-tak bernilainya pekerjaan itu. Di jalan ikhlas dan keridaan Ilahi, atom menjadi seperti bintang. Tak dipandang hakikat wasilahnya, melainkan dipandang hasilnya. Karena hasilnya adalah keridaan Ilahi dan raginya adalah ikhlas; ia tak kecil, melainkan besar.
SEBAB KETUJUH:
Sebagaimana perselisihan dan persaingan ahli kebenaran dan hakikat bukan dari kedengkian dan ketamakan dunia; demikian pula persatuan ahli dunia dan ahli lalai pun bukan dari kedermawanan dan keluhuran budi. Melainkan ahli hakikat, karena tak dapat sepenuhnya menjaga keluhuran budi, keluhuran cita-cita, dan perlombaan dalam kebaikan yang terpuji di jalan yang hak — yang datang dari hakikat — dan karena mereka menyalahgunakannya sampai suatu derajat akibat masuknya orang-orang yang tak layak; mereka jatuh ke perselisihan penuh persaingan, sehingga menjadi kerugian penting baik bagi diri mereka maupun bagi jamaah Islam. Adapun ahli lalai dan ahli kesesatan, untuk tidak melepaskan manfaat yang mereka gandrungi dan untuk tidak membuat kesal pemimpin serta teman-teman yang mereka sembah demi manfaat, karena kehinaan, ketidakjantanan, dan ketiadaan semangat mereka; mereka bersatu secara tulus dengan teman-teman mereka secara mutlak — bahkan meskipun hina, khianat, lagi berbahaya — dan bersatu secara tulus dengan sekutu-sekutu mereka yang berkumpul di sekitar manfaat dalam bentuk apa pun. Sebagai akibat ketulusan itu, mereka mengambil manfaat.
Nah, wahai ahli kebenaran dan pemilik hakikat yang tertimpa musibah dan jatuh ke perselisihan! Karena kalian kehilangan ikhlas pada masa musibah ini dan tak menjadikan keridaan Ilahi semata-mata sebagai tujuan maksud, kalian menyebabkan kehinaan dan kekalahan ahli kebenaran ini. Dalam urusan agama dan ukhrawi tak boleh ada persaingan, gibtah, hasad, dan kedengkian, dan dari sudut pandang hakikat tak mungkin ada. Karena sebab kedengkian dan hasad; adalah terulurnya banyak tangan ke satu benda, tertujunya banyak mata ke satu kedudukan, dan diinginkannya satu roti oleh banyak lambung — melalui pertikaian, perdebatan, dan perlombaan, mereka jatuh ke gibtah, lalu ke kedengkian. Karena di dunia banyak orang menginginkan satu benda yang sama, dan karena dunia sempit lagi sementara sehingga tak dapat memuaskan hasrat manusia yang tak terhingga, mereka jatuh ke persaingan. Namun, di akhirat, kepada satu orang saja diberikan lima ratus tahun
{(Catatan): Suatu pertanyaan penting dari suatu sisi yang penting: Dalam riwayat disebutkan bahwa; di Surga kepada seseorang diberikan suatu Surga seluas perjalanan lima ratus tahun. Bagaimana hakikat ini dapat masuk ke dalam nalar akal duniawi? Jawaban: Sebagaimana di dunia ini setiap orang memiliki suatu dunia pribadi lagi sementara seluas dunia. Dan tiang dunia itu adalah hidupnya. Dan ia mengambil manfaat dari dunianya itu dengan indra lahiriah dan batiniahnya. Ia berkata Matahari adalah lampuku, bintang-bintang adalah lilin-lilinku. Keberadaan makhluk dan makhluk berruh lain, sebagaimana tak menghalangi kepemilikan orang itu, justru sebaliknya meramaikan dan menghiasi dunia pribadinya.
Persis demikian pula, tetapi ribuan derajat lebih tinggi, setiap mukmin — selain kebun khususnya yang memuat ribuan istana dan bidadari — memiliki suatu Surga pribadi seluas lima ratus tahun dari Surga umum. Dengan perasaan dan indranya yang berkembang sesuai derajatnya, ia mengambil manfaat dengan cara yang layak bagi Surga dan keabadian. Perserikatan orang lain, sebagaimana tak mengurangi kepemilikan dan manfaatnya, justru memberinya kekuatan. Dan mereka menghiasi Surga pribadinya yang luas.
Ya, sebagaimana di dunia ini seseorang mengambil manfaat — dengan mulut, telinga, mata, cita rasa, indra perasa, dan indra-indra lainnya — dari sebuah kebun yang dinikmati satu jam, sebuah taman rekreasi yang dinikmati satu hari, sebuah negeri yang dinikmati satu bulan, dan perjalanan di suatu tempat wisata yang dinikmati satu tahun; persis demikian pula, tetapi indra penciuman dan indra perasa di negeri fana ini yang hanya dapat menikmati sebuah kebun selama satu jam, di negeri kekal itu mengambil manfaat yang sama dari sebuah kebun selama satu tahun. Dan indra penglihatan serta indra pendengaran yang di sini hanya dapat menikmati sebuah tempat wisata selama satu tahun, di sana mengambil manfaat dari perjalanan di tempat wisata selama lima ratus tahun; dengan cara yang layak bagi negeri yang megah lagi terhias dari ujung ke ujung itu. Setiap mukmin mengambil cita rasa, kelezatan, dan manfaat dengan indra-indranya yang melebar dan berkembang sesuai derajatnya serta sesuai pahala dan kebaikan yang ia peroleh di dunia.}
sejauh perjalanan itu suatu Surga dianugerahkan, tujuh puluh ribu istana dan bidadari diberikan, dan setiap orang dari ahli Surga merasa puas dengan bagiannya dengan keridaan yang sempurna — dengan isyarat itu diperlihatkan bahwa: di akhirat tak ada sesuatu pun yang menjadi sumber persaingan, dan persaingan pun tak mungkin ada. Kalau begitu, dalam amal saleh yang berkaitan dengan akhirat pun tak mungkin ada persaingan; ia bukan tempat kedengkian. Orang yang dengki, entah ia seorang riya yang mencari hasil-hasil duniawi dalam bentuk amal saleh, atau ia seorang bodoh yang tulus yang tak mengetahui ke mana amal saleh menatap dan tak menyadari bahwa ruh serta asas amal saleh adalah ikhlas. Dengan memikul suatu bentuk permusuhan terhadap para wali Allah dalam bentuk persaingan, ia menuduh keluasan rahmat Ilahi. Suatu peristiwa yang menegaskan hakikat ini:
Salah seorang dari teman-teman lama kami memiliki permusuhan terhadap seseorang. Di hadapan orang itu, musuhnya dipuji dengan amal saleh, bahkan disifati dengan wilayah (kewalian). Orang itu tak dengki, tak gundah. Kemudian seseorang berkata: “Musuhmu itu pemberani, kuat.” Kami melihat bahwa pada orang itu bangkit suatu kedengkian dan urat persaingan yang keras. Kami berkata kepadanya: “Wilayah dan kesalehan adalah suatu kekuatan dan suatu ketinggian laksana berlian dari suatu kehidupan abadi yang tak terhingga. Engkau tak mendengkinya dari sisi ini. Padahal kekuatan duniawi terdapat pula pada sapi dan keberanian pada binatang buas, sedangkan dibandingkan dengan wilayah dan kesalehan; ia seperti sekerat kaca biasa dibandingkan dengan intan.” Orang itu berkata: “Kami berdua telah menancapkan mata ke suatu titik, suatu kedudukan di dunia ini. Tangga kami untuk naik ke sana adalah hal-hal seperti kekuatan dan keberanian. Karena itu aku dengki. Kedudukan akhirat tak terhingga. Ia yang di sini menjadi musuhku, di sana dapat menjadi saudaraku yang tulus lagi tercinta.”
Wahai ahli hakikat dan tarekat! Khidmat kepada kebenaran adalah laksana memikul dan menjaga suatu perbendaharaan yang besar lagi berat. Betapa pun banyaknya tangan-tangan kuat yang bergegas menolong orang-orang yang memikul perbendaharaan itu di pundak mereka, mereka semakin bergembira dan senang. Padahal, jauh dari mendengki, seharusnya dengan kecintaan yang sangat tulus mereka bertepuk tangan dengan bangga atas kekuatan orang-orang yang datang itu — yang lebih besar daripada mereka — serta pengaruh dan bantuan mereka yang lebih besar; mengapa gerangan saudara-saudara hakiki dan para penolong yang penuh pengorbanan itu justru dipandang dengan penuh persaingan, dan dengan keadaan itu ikhlas pun lari. Kalian dituduh dalam tugas kalian, dan di mata ahli kesesatan, kalian terpapar tuduhan-tuduhan dahsyat yang seratus derajat lebih rendah daripada kalian dan mazhab kalian — seperti mencari dunia dengan agama, menjamin penghidupan dengan ilmu hakikat, dan bersaing di jalan ketamakan serta hirs.
Satu-satunya cara untuk penyakit ini: menuduh nafsunya sendiri, dan senantiasa berpihak — bukan kepada nafsunya — melainkan kepada rekan semazhab di hadapannya. Dustur penyembahan kebenaran dan keadilan di antara para ulama ilmu Adab dan Ilmu Munazarah (debat), yaitu demikian: “Jika dalam perdebatan suatu masalah seseorang berpihak pada terbuktinya perkataannya sendiri sebagai benar, bergembira karena dirinya terbukti benar, dan senang karena lawannya salah dan keliru, maka ia tak berkeadilan.” Dan ia pun merugi. Karena tatkala ia terbukti benar, ia tak mempelajari sesuatu yang belum ia ketahui dalam perdebatan itu, bahkan bisa jadi merugi karena kemungkinan kesombongan. Jika kebenaran keluar dari tangan lawannya; ia — tanpa kerugian — mempelajari suatu masalah yang belum ia ketahui, menjadi beruntung, dan lolos dari kesombongan nafsu. Artinya, penyembah kebenaran yang berkeadilan mematahkan kepentingan nafsu demi kepentingan kebenaran. Jika ia melihat kebenaran ada di tangan lawannya, ia tetap menerimanya dengan rida, berpihak kepadanya, dan senang.
Nah, jika ahli agama, ahli hakikat, ahli tarekat, dan ahli ilmu menjadikan dustur ini sebagai pembimbing bagi diri mereka, mereka meraih ikhlas. Dan mereka berhasil dalam tugas ukhrawi mereka. Dan mereka lolos dari kejatuhan tragis serta musibah masa kini ini dengan rahmat Ilahi. سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَٓا اِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَٓا اِنَّكَ اَنْتَ الْعَل۪يمُ الْحَك۪يمُ