LEM'A KEDUA PULUH SATU
Lem'alar · hlm. 195
Tentang Ikhlas
(Ini sebelumnya merupakan Masalah Keempat dari tujuh masalah Nota Ketujuh Belas pada Lem'a Ketujuh Belas; sehubungan dengan ikhlas, ia menjadi Poin Kedua Lem'a Kedua Puluh. Karena sifatnya yang bercahaya, ia masuk ke dalam Lemaat sebagai Lem'a Kedua Puluh Satu.)
Lem'a ini setidaknya harus dibaca satu kali setiap lima belas hari.
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِوَلاَ تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ ر۪يحُكُمْ ❊ وَ قُومُوا لِلّٰهِ قَانِت۪ينَ ❊ قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰيهَا ❊ وَ قَدْ خَابَ مَنْ دَسّٰيهَا ❊ وَلاَ تَشْتَرُوا بِاٰيَات۪ى ثَمَنًا قَل۪يلاً
Wahai saudara-saudaraku dalam akhirat dan wahai teman-temanku dalam khidmat Al-Qur'an! Kalian mengetahui dan ketahuilah: Di dunia ini, khususnya dalam khidmat-khidmat ukhrawi, suatu asas terpenting, suatu kekuatan terbesar, suatu pemberi syafaat yang paling diterima, suatu titik sandaran yang paling kukuh, suatu jalan hakikat terpendek, suatu doa maknawi yang paling diterima, suatu wasilah tujuan yang paling penuh karamah, suatu perangai tertinggi, dan suatu ubudiah yang paling murni: adalah ikhlas. Karena dalam ikhlas terdapat banyak cahaya seperti sifat-sifat yang disebutkan itu dan banyak kekuatan.. dan karena pada masa yang dahsyat ini, di hadapan musuh-musuh yang mengerikan, di hadapan tekanan yang keras, dan di tengah bidah serta kesesatan yang menyerbu, padahal kami sangat sedikit, lemah, fakir, lagi tak berkekuatan, suatu tugas keimanan dan khidmat Al-Qur'an yang sangat berat, besar, umum, lagi suci telah diletakkan di pundak kami oleh ihsan Ilahi; maka sudah pasti kami — lebih daripada siapa pun — wajib dan terbebani untuk meraih ikhlas dengan seluruh kekuatan kami, dan kami sangat butuh untuk menanamkan rahasia ikhlas dalam diri kami. Kalau tidak, khidmat suci yang telah kami peroleh sampai sekarang akan sebagian sia-sia, tak berlanjut; dan kami pun akan dimintai pertanggungjawaban dengan keras. Dengan menjadi tempat tertuju larangan Ilahi yang penuh ancaman keras dalam ayat وَلاَ تَشْتَرُوا بِاٰيَات۪ى ثَمَنًا قَل۪يلاً, lalu — demi kerugian kebahagiaan abadi — mematahkan ikhlas demi sebagian perasaan rendah yang tak bermakna, tak perlu, merugikan, penuh kesedihan, membanggakan diri, berat, lagi penuh riya, serta demi manfaat-manfaat parsial; maka kami telah melanggar hak seluruh saudara kami dalam khidmat ini, menyerang khidmat Al-Qur'an, dan tidak menghormati kesucian hakikat-hakikat keimanan.
Wahai saudara-saudaraku! Suatu urusan kebaikan yang penting lagi besar memiliki banyak penghalang yang merugikan. Setan-setan banyak bergulat dengan para pelayan khidmat itu. Terhadap penghalang-penghalang dan setan-setan ini, kita harus bersandar pada kekuatan ikhlas. Jauhilah sebab-sebab yang akan mematahkan ikhlas sebagaimana kalian menjauhi ular dan kalajengking. Dengan Hazrat Yusuf 'alaihis-salâm berkata اِنَّ النَّفْسَ َلاَمَّارَةٌ بِالسُّٓوءِ اِلاَّ مَا رَحِمَ رَبّ۪ى, nafsu amarah tak dapat dipercaya. Janganlah keakuan dan nafsu amarah menipu kalian. Untuk meraih dan menjaga ikhlas serta menolak penghalang-penghalang, jadikanlah dustur-dustur berikut sebagai pembimbing kalian.
DUSTUR PERTAMA KALIAN:
Dalam amal kalian haruslah ada keridaan Ilahi. Jika Dia rida, meskipun seluruh dunia kesal, tak ada artinya. Jika Dia menerima, meskipun seluruh orang menolak, tak ada pengaruhnya. Setelah Dia rida dan menerima, jika Dia menghendaki dan hikmah menuntut, Dia akan membuat orang-orang pun menerimanya dan meridainya — padahal kalian tak berada dalam tuntutan meminta. Karena itu, dalam khidmat ini, secara langsung, hanya keridaan Allah-lah yang harus dijadikan maksud pokok.
DUSTUR KEDUA KALIAN:
Adalah tidak mengkritik saudara-saudara kalian yang berada dalam khidmat Al-Qur'an ini dan tidak membangkitkan urat gibtah (iri) dalam bentuk membanggakan keutamaan di atas mereka. Karena sebagaimana satu tangan manusia tak bersaing dengan tangan lainnya, satu mata tak mengkritik mata lainnya, lidah tak membantah telinga, kalbu tak melihat aib ruh.. melainkan masing-masing menyempurnakan kekurangan yang lain, menutupi cacatnya, membantu kebutuhannya, dan menolong tugasnya; kalau tidak, kehidupan tubuh manusia itu padam, ruhnya lari, jasadnya pun terurai. Dan sebagaimana roda-roda sebuah pabrik tak bergulat satu sama lain dengan penuh persaingan, tak saling mendahului dan menguasai, tak melihat cacat satu sama lain lalu mengkritiknya, mematahkan semangat kerja, dan menjatuhkannya ke kemalasan. Melainkan dengan seluruh bakatnya, mereka saling membantu untuk mengarahkan gerak satu sama lain kepada tujuan umum, lalu berjalan menuju tujuan penciptaan mereka dengan suatu kesetiakawanan dan persatuan yang hakiki. Jika bercampur sedikit saja pelanggaran dan penguasaan; ia akan mengacaukan pabrik itu, membuatnya tanpa hasil lagi mandul. Pemilik pabrik pun akan menghancurkan dan membubarkan pabrik itu sama sekali.
Nah, wahai murid-murid Risale-i Nur dan para pelayan Al-Qur'an! Kalian dan kami adalah anggota-anggota suatu pribadi maknawi yang layak menyandang nama insan kamil.. dan kami berkedudukan sebagai roda-roda suatu pabrik yang menghasilkan kebahagiaan abadi di dalam kehidupan abadi.. dan kami adalah para pelayan yang bekerja di suatu bahtera Rabbani yang membawa umat Muhammadiah صلى الله عليه وسلم ke Dârus-Salâm (Negeri Keselamatan) yang merupakan pantai keselamatan. Sudah pasti kami butuh dan terpaksa untuk meraih rahasia ikhlas — yang menjamin kekuatan maknawi seribu seratus sebelas dari empat individu — serta kesetiakawanan dan persatuan hakiki. Ya, jika tiga huruf alif tak bersatu, ia bernilai tiga. Jika bersatu dengan rahasia angka, ia meraih nilai seratus sebelas. Jika empat berdiri sendiri-sendiri, ia bernilai enam belas. Jika dengan rahasia persaudaraan, kesatuan tujuan, dan kesepakatan tugas mereka bersesuaian dan berdiri bahu-membahu di atas satu garis, maka saat itu ia bernilai dan berkekuatan empat ribu empat ratus empat puluh empat.. sebagaimana dengan rahasia ikhlas hakiki, nilai dan kekuatan maknawi enam belas saudara yang penuh pengorbanan melampaui empat ribu, banyak peristiwa sejarah menyaksikannya.
Rahasia dari rahasia ini adalah demikian: Dalam suatu persatuan yang hakiki lagi tulus, setiap individu dapat memandang pula dengan mata saudara-saudaranya yang lain dan mendengar pula dengan telinga mereka. Seakan-akan sepuluh orang yang bersatu secara hakiki, masing-masing memiliki nilai dan kekuatan maknawi dengan cara memandang dengan dua puluh mata, berpikir dengan sepuluh akal, mendengar dengan dua puluh telinga, dan bekerja dengan dua puluh tangan.
{(Catatan): Ya, sebagaimana kesetiakawanan dan persatuan yang tulus dengan rahasia ikhlas menjadi sumber manfaat yang tak terhingga; ia pun merupakan suatu perisai terpenting dan suatu titik sandaran terhadap ketakutan, bahkan terhadap kematian. Karena jika kematian datang, ia mengambil satu ruh. Dengan rahasia persaudaraan hakiki, di jalan keridaan Ilahi, dalam urusan yang berkaitan dengan akhirat, karena ia memiliki ruh sebanyak jumlah saudaranya, jika satu mati, ia berkata, “Biarlah ruh-ruhku yang lain tetap utuh; karena ruh-ruh itu setiap waktu melanggengkan suatu kehidupan maknawi dengan membuatku meraih pahala, maka aku tak mati.” Demikian ia menyambut kematian sambil tersenyum. Ia berkata, “Dan melalui ruh-ruh itu aku hidup dari sisi pahala, aku hanya mati dari sisi dosa,” lalu berbaring dengan tenang.}
DUSTUR KETIGA KALIAN:
Kalian harus mengetahui bahwa seluruh kekuatan kalian ada dalam ikhlas dan kebenaran. Ya, kekuatan ada dalam kebenaran dan dalam ikhlas. Bahkan orang-orang yang tak benar pun memperoleh kekuatan karena ikhlas dan ketulusan yang mereka perlihatkan di dalam ketidakbenaran mereka. Ya, suatu dalil bahwa kekuatan ada dalam kebenaran dan ikhlas adalah khidmat kami ini. Sedikit ikhlas dalam khidmat kami ini membuktikan dakwaan ini dan menjadi dalil bagi dirinya sendiri. Karena sebagai imbalan khidmat ilmiah dan agama yang kami lakukan lebih dari dua puluh tahun di negeriku sendiri dan di Istanbul, di sini bersama kalian dalam tujuh delapan tahun dilakukan seratus derajat lebih banyak. Padahal, di negeriku sendiri dan di Istanbul aku memiliki seratus, bahkan seribu derajat lebih banyak penolong daripada saudara-saudaraku yang bekerja bersamaku di sini, sedangkan di sini aku — seorang diri, tak berkerabat, asing, setengah ummi, di bawah pengintaian dan tekanan para pegawai yang tak berkeadilan — dalam tujuh delapan tahun melakukan khidmat bersama kalian; kekuatan maknawi yang memperlihatkan keberhasilan seratus derajat lebih banyak daripada khidmat lama, tak lagi kuragukan sedikit pun bahwa ia datang dari ikhlas yang ada pada kalian.
Dan aku mengakui bahwa: dengan ketulusan ikhlas kalian, kalian telah menyelamatkanku sampai suatu derajat dari riya yang membelai nafsuku di balik tabir kemasyhuran dan kehormatan. Insya Allah kalian akan berhasil meraih ikhlas yang sempurna, dan kalian pun akan memasukkanku ke ikhlas yang sempurna. Kalian tahu bahwa, Hazrat Ali (r.a.) dengan karamahnya yang penuh mukjizat, dan Hazrat Gaus A'zham (q.s.) dengan karamah gaibnya yang luar biasa, memberi kalian perhatian berdasarkan rahasia ikhlas ini, memberi penghiburan yang penuh perlindungan, dan secara maknawi menepuk-nepuk khidmat kalian dengan bangga. Ya, janganlah kalian ragu sedikit pun bahwa perhatian mereka ini datang berdasarkan ikhlas. Jika kalian mematahkan ikhlas ini secara sengaja, kalian akan menerima tamparan mereka. Ingatlah tamparan-tamparan kasih sayang dalam Lem'a Kesepuluh. Jika kalian ingin menemukan para pahlawan maknawi seperti itu sebagai pendukung di belakang kalian dan guru di atas kepala kalian, raihlah ikhlas yang sempurna dengan rahasia وَ يُؤْثِرُونَ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ. Utamakanlah nafsu saudara-saudara kalian di atas nafsu kalian; dalam kehormatan, kedudukan, perhatian, bahkan dalam hal-hal yang menyenangkan nafsu seperti manfaat materi. Bahkan menyampaikan suatu hakikat keimanan yang paling elok lagi indah kepada seorang mukmin yang membutuhkan; yang merupakan suatu manfaat paling tak berdosa lagi tak merugikan. Jika mungkin, agar tak datang keegoisan pada nafsu kalian, biarlah kalian senang jika ia dilakukan oleh seorang teman yang tak menginginkannya. Jika kalian memiliki hasrat “Biarlah aku meraih pahala, biarlah aku yang mengucapkan masalah yang indah ini,” memang di dalamnya tak ada dosa dan kerugian. Namun, dapat datang kerugian bagi rahasia ikhlas di antara kalian.
DUSTUR KEEMPAT KALIAN:
Adalah membayangkan keistimewaan saudara-saudara kalian ada pada pribadi kalian dan keutamaan mereka ada pada diri kalian, lalu berbangga dengan penuh syukur atas kehormatan mereka. Di antara ahli tasawuf ada istilah “fana fisy-syaikh, fana fir-rasul.” Aku bukan seorang sufi. Namun dustur mereka ini, dalam mazhab kita, adalah suatu dustur yang indah dalam bentuk “fana fil-ikhwan.” Di antara saudara-saudara, ini disebut “tefani.” Yakni, saling melebur satu dalam yang lain. Yakni: melupakan perasaan nafsani sendiri, lalu hidup secara pikiran dengan keistimewaan dan perasaan saudara-saudaranya. Memang asas mazhab kita adalah persaudaraan. Ia bukan hubungan antara ayah dan anak, syaikh dan murid. Melainkan hubungan persaudaraan hakiki. Paling-paling masuklah suatu keguruan di tengah. Karena mazhab kita adalah “Khalîliyah,” masyrab kita adalah “khullah (kekasihan).” Adapun khullah menuntut untuk menjadi sahabat terdekat, teman terkarib yang paling penuh pengorbanan, kawan seperjalanan yang paling indah dalam menghargai, dan saudara yang paling dermawan. Asas dari asas khullah ini adalah ikhlas yang tulus. Orang yang mematahkan ikhlas yang tulus, jatuh dari puncak menara yang sangat tinggi dari khullah ini. Ada kemungkinan jatuh ke suatu lubang yang sangat dalam. Ia tak menemukan tempat berpegang di tengah.
Ya, jalan tampak dua. Orang-orang yang sekarang berpisah dari mazhab kita ini — yang merupakan Jalan Raya Al-Qur'an (Jâddah Kubra Qur'aniyah) — ada kemungkinan menolong kekuatan ketidakberagamaan yang menjadi musuh kita tanpa mereka sadari. Insya Allah orang-orang yang masuk ke lingkaran suci Al-Qur'an yang mukjizat penjelasannya melalui jalan Risale-i Nur; senantiasa akan memberi kekuatan kepada nur, ikhlas, dan iman, dan tak akan jatuh ke lubang-lubang seperti itu.
Wahai teman-temanku dalam khidmat Al-Qur'an! Salah satu sebab yang paling berpengaruh untuk meraih dan menjaga ikhlas adalah rabithah kematian (mengingat kematian). Ya, sebagaimana yang mencederai ikhlas dan menggiring ke riya serta dunia adalah panjang angan-angan (thulul-amal); demikian pula yang membuat benci terhadap riya dan meraih ikhlas adalah rabithah kematian. Yakni: memikirkan kematiannya, merenungkan bahwa dunia itu fana, lalu lolos dari tipu daya nafsu. Ya, ahli tarekat dan ahli hakikat, dengan pelajaran yang mereka ambil dari ayat-ayat Al-Qur'an Al-Hakim seperti كُلُّ نَفْسٍ ذَٓائِقَةُ الْمَوْتِ ❊ اِنَّكَ مَيِّتٌ وَاِنَّهُمْ مَيِّتُونَ, menjadikan rabithah kematian sebagai asas dalam suluk mereka; mereka melenyapkan prasangka keabadian yang merupakan sumber panjang angan-angan itu dengan rabithah tersebut. Mereka membayangkan dan mengkhayalkan diri mereka telah mati secara andaian lagi khayali, mengandaikan diri sedang dimandikan dan diletakkan di kubur; dengan berpikir terus-menerus, nafsu amarah terpengaruh oleh khayalan dan bayangan itu lalu meninggalkan angan-angannya yang panjang sampai suatu derajat. Faedah rabithah ini sangat banyak. Dalam hadis اَكْثِرُوا ذِكْرَ هَادِمِ اللَّذَّاتِ — atau sebagaimana yang beliau sabdakan (au kamâ qâl) — yakni “Perbanyaklah mengingat kematian yang merusak dan memahitkan kelezatan!” — demikian beliau mengajarkan rabithah ini.
Namun karena mazhab kita bukan tarekat, melainkan hakikat, kita tak terpaksa melakukan rabithah ini secara andaian lagi khayali seperti ahli tarekat. Dan ia pun tak sesuai dengan mazhab hakikat. Melainkan dengan cara memikirkan akibat, bukan membawa masa depan ke masa kini, melainkan dari sisi hakikat pergi secara pikiran dari masa kini ke masa depan, memandang dengan pandangan. Ya, tanpa perlu khayal dan andaian sama sekali, ia dapat memandang jenazahnya sendiri yang merupakan satu-satunya buah di puncak pohon umur yang pendek ini.
Dengannya, sebagaimana ia hanya melihat kematian pribadinya sendiri, jika ia pergi sedikit ke sisi lain, ia melihat pula kematian abad (masa)-nya; jika ia pergi sedikit lagi ke sisi lain, ia menyaksikan pula kematian dunia, sehingga membuka jalan bagi ikhlas yang paling sempurna.
Sebab Kedua:
Dengan kekuatan iman tahkiki, dan dengan kilatan yang datang dari tafakur imani pada ciptaan — yang menghasilkan makrifat Sang Pencipta — seseorang memperoleh suatu bentuk kehadiran (huzur), lalu memikirkan bahwa Sang Pencipta Yang Maha Penyayang hadir lagi mengawasi, tak mencari perhatian selain dari-Nya; dengan memikirkan bahwa memandang kepada orang lain dan mencari pertolongan di hadirat-Nya bertentangan dengan adab kehadiran itu, ia lolos dari riya itu dan meraih ikhlas. Bagaimanapun juga.. dalam hal ini ada banyak derajat dan tingkatan. Seberapa pun setiap orang dapat mengambil manfaat sesuai bagiannya, sebanyak itulah keuntungannya. Karena dalam Risale-i Nur telah disebutkan banyak hakikat yang akan menyelamatkan dari riya dan meraih ikhlas, kami serahkan padanya, dan di sini kami persingkat.
Kami akan menjelaskan secara ringkas dua-tiga dari sekian banyak sebab yang mematahkan ikhlas dan menggiring ke riya:
Yang pertama:
Persaingan yang datang dari sisi manfaat materi, perlahan-lahan mematahkan ikhlas. Dan ia mencederai hasil khidmat pula. Dan ia melepaskan manfaat materi itu pula. Ya, bangsa ini senantiasa memelihara pikiran penghormatan dan pertolongan terhadap orang-orang yang bekerja demi hakikat dan akhirat. Dan dengan niat untuk secara nyata ikut serta dari suatu sisi dalam hakikat ikhlas mereka dan khidmat mereka yang tulus, mereka menolong dengan manfaat materi seperti sedekah dan hadiah — agar orang-orang itu tak menyia-nyiakan waktunya dengan menyibukkan diri mengurus kebutuhan materi mereka — dan menghormati mereka. Namun pertolongan dan manfaat ini tak boleh diminta, melainkan diberikan. Dan ia pun tak boleh diminta dengan lisan keadaan melalui hasrat kalbu dan penantian, melainkan diberikan dalam keadaan yang tak diduga. Kalau tidak, ikhlas tercederai. Dan ia mendekati larangan ayat وَلاَ تَشْتَرُوا بِاٰيَات۪ى ثَمَنًا قَل۪يلاً, amalnya sebagian terbakar. Nah, menghasratkan dan menanti manfaat materi ini, kemudian nafsu amarah dari sisi keegoisan — untuk tidak membiarkan manfaat itu direbut orang lain — membangkitkan suatu urat persaingan terhadap saudara hakiki dan teman dalam khidmat khusus itu. Ikhlas tercederai, khidmat kehilangan kesucian. Di mata ahli hakikat ia mengambil kedudukan yang berat (tak sedap). Dan ia kehilangan manfaat materi pula. Bagaimanapun juga.. adonan ini menyerap banyak air, kami persingkat dan hanya akan menyebutkan dua perumpamaan yang akan menguatkan rahasia ikhlas dan persatuan tulus di antara saudara-saudaraku yang hakiki.
Perumpamaan Pertama:
Ahli dunia, untuk memperoleh suatu kekayaan besar dan kekuatan yang dahsyat, bahkan sebagian ahli politik serta faktor-faktor dan komite-komite penting kehidupan sosial manusia, menjadikan dustur kongsi harta (isytirâkul-amwâl) sebagai pembimbing mereka. Bersama seluruh penyalahgunaan dan kerugiannya, mereka memperoleh suatu kekuatan dan manfaat yang luar biasa. Padahal, bersama banyak kerugian kongsi harta, mahiyatnya tak berubah dengan kongsi itu. Masing-masing berkedudukan sebagai pemilik atas keseluruhan — memang dari suatu sisi dan pengawasan — tetapi ia tak dapat mengambil manfaat penuh. Bagaimanapun juga.. jika dustur kongsi harta ini masuk ke dalam amal ukhrawi; ia menjadi sumber manfaat besar tanpa kerugian. Karena seluruh harta itu membawa rahasia sampainya ke tangan setiap individu yang berkongsi itu secara sempurna. Karena sebagaimana empat lima orang, dengan niat berkongsi, satu membawa minyak, satu sumbu, satu lampu, satu kaca, satu korek, lalu menyalakan lampu. Masing-masing menjadi pemilik satu lampu yang utuh. Jika masing-masing dari yang berkongsi itu memiliki sebuah cermin besar di dinding, maka ke dalam cermin masing-masing masuklah satu lampu beserta ruangan, tanpa kekurangan, tanpa terbagi. Persis demikian pula: dalam harta ukhrawi, berkongsi dengan rahasia ikhlas, bersetiakawan dengan rahasia persaudaraan, dan bekerja sama dengan rahasia persatuan.. bahwa seluruh jumlah dan seluruh nur yang dihasilkan dari kongsi amal itu akan masuk ke buku amal masing-masing secara sempurna, adalah terlihat lagi nyata di antara ahli hakikat, dan merupakan tuntutan keluasan rahmat serta kemuliaan Ilahi.
Nah, wahai saudara-saudaraku! Insya Allah manfaat materi tak akan menggiring kalian ke persaingan. Namun sebagaimana sebagian ahli tarekat tertipu dari sisi manfaat ukhrawi, mungkin kalian pun tertipu. Namun di mana suatu pahala pribadi lagi parsial; dan di mana pahala serta nur yang tampak dari sisi kongsi amal yang berkedudukan seperti perumpamaan yang disebutkan itu?
Perumpamaan Kedua:
Ahli seni (pengrajin), untuk memperoleh hasil kerajinan yang lebih banyak, memperoleh kekayaan yang penting dari sisi kongsi kerajinan. Bahkan sepuluh orang yang membuat jarum jahit, berupaya membuatnya sendiri-sendiri. Kerja individu itu hanya menghasilkan tiga jarum sehari sebagai buah kerajinan individu itu. Kemudian, dengan dustur kerja sama (pembagian kerja), sepuluh orang bersatu. Satu membawa besi, satu menyalakan tungku, satu melubangi, satu memasukkan ke tungku, satu meruncingkan ujungnya, dan demikianlah masing-masing hanya sibuk dengan suatu pekerjaan parsial dalam kerajinan membuat jarum; karena khidmat yang ia sibuki sederhana, waktu tak terbuang, dan dengan memperoleh keterampilan dalam khidmat itu, ia mengerjakan pekerjaannya dengan sangat cepat. Kemudian, mereka membagi hasil kerajinan yang dilakukan dengan dustur kerja sama dan pembagian kerja itu. Mereka melihat bahwa masing-masing memperoleh tiga ratus jarum sehari sebagai ganti tiga jarum. Peristiwa ini menjadi legenda di lidah para pengrajin ahli dunia untuk menggiring mereka ke kerja sama.
Nah, wahai saudara-saudaraku! Karena dalam urusan duniawi, pada materi yang kasar, hasil-hasil dengan kesatuan dan kesepakatan seperti ini memberi faedah dengan jumlah yang demikian besar; dapatkah kalian bandingkan betapa besar keuntungan — dalam hal ukhrawi, bercahaya, tanpa perlu terpecah dan terbagi, dan dengan karunia Ilahi seluruh nur terpantul ke cermin masing-masing, serta masing-masing memiliki pahala semisal yang diperoleh keseluruhan! Keuntungan besar ini tak boleh dilepaskan dengan persaingan dan ketiadaan ikhlas.
Penghalang kedua yang mematahkan ikhlas:
Adalah — dengan dorongan pemujaan kemasyhuran yang datang dari cinta kedudukan (hubbul-jâh), dan di balik tabir kemasyhuran serta kehormatan — meraih perhatian umum, membelai keakuan dengan menarik perhatian kepada dirinya, dan memberi suatu kedudukan kepada nafsu amarah; yang merupakan suatu penyakit ruhani terpenting, sekaligus membuka pintu bagi riya dan pembanggaan diri yang disebut “syirik tersembunyi (khafi),” lalu mencederai ikhlas.
Wahai saudara-saudaraku! Karena mazhab kita dalam khidmat Al-Qur'an Al-Hakim adalah hakikat dan persaudaraan, dan karena rahasia persaudaraan adalah; meleburkan kepribadiannya di antara saudara-saudara,{(Catatan): Ya, yang berbahagia adalah orang yang — untuk meraih suatu telaga besar lagi manis yang menetes dari kautsar Qur'ani — melemparkan dan meleburkan kepribadian serta keakuannya yang berupa sekerat es ke dalam telaga itu.} dan mengutamakan nafsu mereka di atas nafsunya sendiri; maka persaingan yang datang dari jenis cinta kedudukan ini tak boleh berpengaruh di antara kita. Karena ia sepenuhnya bertentangan dengan mazhab kita. Karena kehormatan saudara-saudara secara umum dapat menjadi milik setiap individu; aku berharap bahwa mengorbankan kehormatan maknawi yang besar itu demi suatu kehormatan dan kemasyhuran pribadi, membanggakan diri, penuh persaingan, lagi parsial, sejauh seratus derajat dari murid-murid Risale-i Nur.
Ya, kalbu, akal, dan ruh murid-murid Risale-i Nur tak sudi merendah pada hal-hal yang rendah, merugikan, lagi hina seperti itu. Namun pada setiap orang terdapat nafsu amarah. Kadang pula perasaan nafsani mengganggu urat-urat. Ia menjalankan hukumnya sampai suatu derajat, bertentangan dengan kalbu, akal, dan ruh. Aku tak menuduh kalbu, ruh, dan akal kalian. Berdasarkan pengaruh yang diberikan Risale-i Nur, aku memercayainya. Namun nafsu, hawa, perasaan, dan prasangka kadang menipu. Karena itu, kadang kalian diperingatkan dengan keras. Keras ini menatap nafsu, hawa, perasaan, dan prasangka; bersikaplah dengan hati-hati.
Ya, seandainya mazhab kita adalah kesyaikhan, kedudukan akan satu, atau ada kedudukan-kedudukan yang terbatas. Banyak bakat akan menjadi calon bagi kedudukan itu. Bisa jadi ada keegoisan yang penuh gibtah. Namun mazhab kita adalah persaudaraan. Saudara tak dapat menjadi ayah bagi saudara, tak dapat mengambil kedudukan mursyid. Kedudukan dalam persaudaraan itu luas. Ia tak dapat menjadi sumber pertikaian yang penuh gibtah. Paling-paling, saudara menjadi penolong dan pendukung bagi saudara; menyempurnakan khidmatnya. Dalil bahwa dalam mazhab-mazhab yang bercorak keayahan dan kemursyidan lahir akibat-akibat yang sangat merugikan lagi berbahaya dari sisi ketamakan pahala yang penuh gibtah dan keluhuran cita-cita: adalah akibat-akibat mengerikan yang diberikan oleh perselisihan dan persaingan di dalam kesempurnaan serta manfaat ahli tarekat yang demikian penting lagi besar; sehingga kekuatan mereka yang besar lagi suci itu tak dapat bertahan terhadap angin bidah.
Penghalang Ketiga:
Adalah ketakutan dan ketamakan. Karena penghalang ini beserta sebagian penghalang lain telah dijelaskan sepenuhnya dalam Hujûmât Sittah (Enam Serangan), kami serahkan padanya, dan kami bermunajat kepada Allah Yang Maha Penyayang di antara para penyayang — dengan menjadikan seluruh nama-nama-Nya yang indah (asmaul-husna) sebagai pemberi syafaat —: “Semoga Dia menganugerahkan kepada kami ikhlas yang sempurna... Amin...” اَللّٰهُمَّ بِحَقِّ سُورَةِ اْلاِخْلاَصِ اِجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْمُخْلِص۪ينَ الْمُخْلَص۪ينَ اٰم۪ينَ اٰم۪ينَ سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَٓا اِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَٓا اِنَّكَ اَنْتَ الْعَل۪يمُ الْحَك۪يمُ
Sepucuk surat khusus untuk sebagian saudaraku
Kepada saudara-saudaraku yang bosan menulis dan yang mengutamakan wirid-wirid lain — yang terhitung ibadah dari lima sisi{(Catatan): Kami meminta penjelasan langsung dari Guru kami tentang lima jenis ibadah yang beliau isyaratkan dalam surat berharga ini. Penjelasan yang kami terima ditulis di bawah ini. 1 - Berjihad secara maknawi menghadapi ahli kesesatan, yang merupakan suatu mujahadah terpenting. 2 - Berkhidmat kepada Guru dengan cara membantu dalam menyebarkan hakikat. 3 - Berkhidmat kepada kaum muslimin dari sisi iman. 4 - Menuntut ilmu dengan pena. 5 - Melakukan ibadah tafakur yang kadang satu jamnya berpindah menjadi kedudukan ibadah setahun. Rüşdü, Hüsrev, Re'fet} — di atas menulis Risale-i Nur pada tiga bulan mulia (Rajab, Sya'ban, Ramadan) yang merupakan bulan-bulan ibadah, aku akan menyampaikan suatu poin dari dua hadis syarif.
Yang pertama:
يُوزَنُ مِدَادُ الْعُلَمَٓاءِ بِدِمَٓاءِ الشُّهَدَٓاءِ — atau sebagaimana yang beliau sabdakan (au kamâ qâl) — Yakni: “Di padang mahsyar, tinta yang dicurahkan para ulama hakikat ditimbang dengan darah para syuhada; ia bernilai setara dengan itu.”
Yang kedua:
مَنْ تَمَسَّكَ بِسُنَّت۪ى عِنْدَ فَسَادِ اُمَّت۪ى فَلَهُ اَجْرُ مِاَةِ شَه۪يدٍ — atau sebagaimana yang beliau sabdakan (au kamâ qâl) — Yakni: “Pada masa serbuan bidah dan kesesatan, orang yang berpegang pada Sunnah Seniyah dan hakikat Qur'ani lalu berkhidmat, dapat meraih pahala seratus syahid.”
Wahai saudara-saudara yang bosan menulis karena urat kemalasan, dan wahai saudara-saudara yang bertabiat sufi! Keseluruhan dua hadis ini memperlihatkan bahwa: pada masa seperti ini, setitik tinta — yang berkedudukan sebagai nur hitam atau air kehidupan — yang mengalir dari pena-pena mubarak lagi tulus yang berkhidmat kepada hakikat-hakikat keimanan, rahasia syariat, dan Sunnah Seniyah, dapat memberi kalian faedah pada hari mahsyar berkedudukan seperti seratus tetes darah para syuhada. Kalau begitu, berupayalah untuk meraihnya.
Jika kalian berkata:
Dalam hadis ada ungkapan “âlim (ulama),” sebagian kami hanya juru tulis.
Jawaban:
Orang yang selama satu tahun membaca risalah-risalah dan pelajaran-pelajaran ini dengan memahaminya dan menerimanya; dapat menjadi seorang ulama yang penting lagi hakiki pada masa ini. Kalaupun ia tak memahaminya, karena murid-murid Risale-i Nur memiliki suatu pribadi maknawi, tak diragukan lagi pribadi maknawi itu adalah seorang ulama pada masa ini. Adapun pena-pena kalian adalah jari-jari pribadi maknawi itu. Padahal menurut pandanganku sendiri aku tak layak, tetapi baiklah — berdasarkan prasangka baik kalian — karena kalian memberi orang fakir ini kedudukan seorang ulama dari sisi keguruan dan ittiba', kalian telah terikat. Karena aku ummi lagi tak berpena, pena-pena kalian terhitung sebagai penaku, kalian akan mengambil pahala yang diperlihatkan dalam hadis.
Said Nursî